Showing posts with label Street Food. Show all posts
Showing posts with label Street Food. Show all posts

Sunday, 6 December 2020

Kembali Ke Selera Asal

Para pemburu penikmat kuliner

Entah mengapa aku selalu merekomendasikan tempat ini apa bila ingin makan selain makanan di mall, kesan murah meriah dan makanan yang lumayan enak merupakan daya jual tinggi tempat ini, seperti saat ini saat senja menjelang , anak-anak sudah selesai melakukan permainanya, maka perutpun menjadi lapar karena dinginya ac yang mendera.

Karena sejujurnya aku lebih berselera dengan makanan-makanan tradisional rumahan seperti ini di bandikan dengan makanan modern seperti fried chiken, burger, pizza, hot dog atau pun yang lainnya karena menurutku makan di warung pecel lele seperti ini lebih mengenyangkan.


Akhirnya kami sepakat untuk mengulangi lagi makan di tempat ini, Warung Bang Eko yang terletak tepat di seberang mall tempat anak-anak bermain, mumpung warung nya masih sepi jadi lebih cepat untuk order makanan.

Untuk seluruh makanan dan minuman yang sudah kami pesan banyak pada hari ini ternyata kami harus membayar kurang dari 300 ribu saja, .... bagaimana murah bukan.

Advertizernya kemplang sebelum main course datang

Menikmati Sarapan Khas Palembang Di Ujung Bukit

Sarapan Pagi Yanto

Pagi-pagi kami sudah keluar rumah dengan tujuan street kuliner yang berada di kawasan bukit yang cukup ramai di kunjungi oleh pembeli terutama di pagi hari, karena warung kuliner ini pada pukul 9:30 sudah tidak bersisa lagi alias sudah tutup karena dagangan mereka yang sudah banyak terjual.

Pertama kali aku mengetahui tempat ini dari om Rafik saat kami sama-sama menjalankan usaha distro jersey bola yang letaknya tidak jauh dari lokasi sarapan pagi ini, dengan rasa yang lumayan nikmat di bandingkan di tempat lain dan harga yang murah-meriah menjadikan kami ketagihan untuk mencicipi makanan yang ada di sini, dari kue-kue dan gorengan dengan harga 1.000 Rupiah ataupun makanan khas Palembang yang di bandrol dengan harga 6.000 per porsi.

Saat ke sini aku paling menyukai makanan lakso atau burgo dengan harga enam ribu perporsi itupun sudah mendapatkan 2 buah burgo atau lakso yang bisa di kombinasikan dan kuahnya bebas memilih, sedangkan untuk laksan atau celimpungan satu porsi berisi 4 buah dengan harga yang sama, cukup mengenyangkan bukan..???.

Adek Sedang menikmati lakso nya

Ini pertama kali bunda dan adek ku ajak kesini untuk menikmati street kuliner dan suasana yang lain, dengan menempati bekas ruko yang sudah tidak di tunggu dan bentangan meja yang berisi banyak makanan yang mengguga selera, dari kue sus, roti goreng, bolu kojo, donat berbagai jenis, risol, martabak, tidak lupa pempek dan otak-otak dan makanan ke favorit ku yaitu ketan punar / ketan kuning yang di tabur dengan serundeng.

Bunda yang sudah dari awal sudah tertarik dengan makanan laksonya langsung memesan untuk 3 porsi, dengan kuah kuning yang khas dan makanan dari tepung beras yang berbentuk mie memang menggugah selera, di tambah dengan paduan ketan kuning atau kue sus kesukaan adik.

Tempat sarapan pagi yang tidak pernah sepi

Saat membayar harga yang di bayar pun tidak terlalu mahal setara dengan kenikmatan kuliner yang kami dapati, tapi itulah kalau mau ke sini harus pagi-pagi apalagi dari rumah yang berjarak 10 kilo, tepat terletak di tikungan jalan ke arah Sri Jaya Negara dan bersebrangan dengan model H. Dowa yang sudah terkenal itu menjadikan salah satu tempat alternatif nongkrong yang murah meriah, apalagi hari Minggu seperti ini banyak dari anak-anak komunitas bersepeda juga ikut nongkrong di sini sekedar beristirahat atau menikmati sepiring makanan khas Palembang.


Aneka kue dan gorengan

Peta Lokasi Sarapan Pagi Yanto :

Sunday, 1 March 2020

Es Cincau Hijau, Kesegaran Yang Berkhasiat


Saat selesai membeli buah untuk nenek sempat terlihat penjual yang satu ini, dengan tulisan di grobaknya cincau hijau, makanan segar yang sudah jarang dan langkah di jual di pasaran biasanya juga yang banyak adalah penjual bubur sumsum.

Grobak dagangan yang nangkring di samping lorong di kawasan perbatasan 10 dan 11 ulu ini, setiap minggunya selelu berjualan di sini itu infromasi yang ku dapat dari pedagangnya, "Kalau setiap hari biasanya keliling mas" dengan khas logat sundanya yang kental.

Dengan mematok harga 3 ribu per porsi, yang makan di tempat ataupun di bungkus, lumayan segar kalau di makan saat hari panas, si penjual pun bilang kalau sekitar tengah hari kalau cuaca panas biasanya cincau hijaunya akan habis di beli para pemburu kesegaran.


Dulu pernah menyantap es cincau hijau ini di salah satu mall di kawasan Jakarta, di mana saat itu lagi bulan puasa sampai 3 mangkok menghabiskan es cincau hijau yang menyegarkan ini. Dulu saat kami masih keci, ibu kami sering membuat cincau hijau ini dari salah satu jenis daun yang di ambil tidak jauh dari tempat kami tinggal, tetapi saat ini sudah susah untuk mencari daun tersebut.

Cincau hijau berguna juga untuk kesehatan seperti untuk meredakan demam, baik untuk penderita Diabetes melitus, bisa memperlancar dan memperbaiki pencernaan, juga bagi penderita darah tinggi di anggap bisa menurunkan tensi darah dan masih banyak ragam khasiat lainnya.

Hari ini kami membeli 3 bungkus es cincau hijau, memang harga cukup murah tetapi ada rasa pemanis buatan juga di dalam es ini, tetapi sekali-kali boleh lah, mungkin benar kata orang ada rupa ada harga.



Wednesday, 26 February 2020

4 Jam Tertirah Di Jakarta Bagian 4 : Ketoprak & Kenangan Masa Lalu

Ketoprak Jakarta

Setelah sampai di halte di depan masjid Istiqlal akupun langsung mencari penjual ketoprak diantara para pedagang yang sedang di tertibkan oleh pol-pp DKI Jakarta, akhinya di sebarang aku menemukan penjual ketoprak.

Si penjual ketoprak ini merupakan orang Tegal yang sudah hampir 13 tahun berjualan ketoprak dengan bandrol harga 13 ribu per porsi, akupun mulai menyantap makanan yang penuh kenangan saat aku masih bekerja di ibu kota.

Dulu saat masih di daerah Tomang sekitar 19 tahun yang lalu,  hampir setiap pagi makan ini menjadi teman setia karena tukang ketoprak yang setiap hari mangkal di depan kantor,  setiap pagi juga membuatkan ku ketoprak, walaupun aku lagi berduit atau lagi berdompet tipis, ataupun saat sudah sarapan atau belum, si ketoprak selalu hadir di meja ku terkadang kadang teman sekantor atau ob di kantor yang menyantap makanan tersebut.


Tiap hari tukang ketoprak ini menjadi teman ngobrol ku, karena rasaku ngobrol dengan beliau asik dan kocak, orang asli tegal yang tinggal di Jakarta di kontrakan kecil demi menghidupi anak bininya, terkadang saat pulang kerja pernah sampai malam aku ngobrol bersama si tukang ketoprak ini sampai dia menutup dagangannya.

"Biarlah mas...... biar mas nya ada makanan" jawab si tukang ketoprak saat kutanya mengapa mengirim ketoprak setiap pagi.
"Lah bayarnya nanti gimana ?" tanyaku
"Terserah mas..... ada uang di bayar , kalau nggak ada ya nggak usah di bayar" jawab si tukang ketoprak tomang.

Karena hal ini lah ketorpak makanan khas Jakarta ini sangat berkesan bagiku, karena memiliki kenangan tersendiri di dalam kehidupan ini, hari ini aku makan lagi malahan sampai nambah 2 porsi bercerita kembali dengan tukang ketoprak ini seperti aku sering bercerita dengan tukang ketoprak di tomang 19 tahun yang lalu.

Om Abu, Anaknya dan om Usman juga menyusul ku kesini dan tertarik juga mencoba ketoprak ini, termasuk ada beberapa jamaah lain yang ikut membeli ketoprak ini, semoga hari ini laris ya pak.... biar nggak pulang terlalu malam.


Tuesday, 25 February 2020

Edisi 9 Jam Di Yogyakarta Bagian 5 : Es Dawet hitam, Lunpia Bu Yusuf & Wedang Ronde Malioboro

Es dawet hitam benteng Vredeburg

Setelah dari taman pintar akupun berjalan lagi kembali ke arah pasar Bringharjo tetapi tepat di halaman benteng vredeburg kulihat penjual es dawet hitam yang sebelumnya pernah ku minum juga di dekat masjid biru ( Baca : Segarnya Es Dawet 3 in 1 ( Hitam, Hijau & Putih ) ).

Dengan harga 5 ribu per porsi akupun mencari tempat duduk tepat di depan benteng vredeburg di bawah rindangnya batang pohon beringin, banyak jamaah yang melintas di sana saat ingin ke km 0 atau pulang ke kraton, sempat juga ngobrol lama dengan salah satu jamaah yang ikut duduk bersama ku.

Kesegaran es dawet hitam ini terasa sekali, mungkin karena hari yang menyengat ini, walaupun saat ini awan hitam semankin gelap dan angin bertiup agak kencang, ku habiskan minuman ini sampai sedotan terakhi, dan benar juga akhirnya hujan pun turun.

Sambil menyusuri pasar bringharjo dan membeli beberapa kotak bakpia, yangko dan brem sebagai buah tangan  akupun kembali menyusuri jalan yang di penuhi pedagang ini sampai akhirnya di salah satu sudut jalan aku bertemu dengan penjual lunpia bu Yusuf.


Dengan harga 3 ribu dan 5 ribu dengan tambahan telor, ku beli 3 buah yang biasa saja, dengan isi daging ayam, rebung dan sayuran cukup untuk camilan ku sore ini, berbeda dengan lunpia yang ada di Semarang dengan harga 10 ribuan malahan untuk lunpia gang lombok sampe 25 ribu perbuah. ( baca : Harumnya Es Dawet Durian & Nikmatnya Lunpia Pak Suyat Pandanaran ).

Karena hujan semakin deras akupun mencari tempat berteduh di trotoat jalan Malioboro, tetapi sialnya di sebelahku ada anak lagi pacaran, tanpa peduli dengan mereka kuhabiskan satu persatu lunpia yang sudah ku beli tadi.

Saking nikmatnya tinggal setengah

Setelah selesai semua berbelanja, untuk membeli buah tangan termasuk daster untuk ayuk, baju kaus adek dan kakak, akupun belanja ku sudah cukup tinggal packing dan berangkat menuju ke Jakarta. Setelah bada magrib selesai sholat di antara gerimis hujan yang makin menderas, banyak jemaah yang membeli wedang ronde karena ku tau minuman ini bisa menghanagatkan tubuh.

Wedang ronde malioboro

Akupun memesan satu porsi kulihat ustad Jamal bersama keluarga juga sudah menikmati wedang rondenya, harga yang di patok bapalk ini adalah 10 ribu per porsi cukup sesuai menurutku dengan rasa yang di tawarkan.

Setelah ini akupun bersiap untuk mengepak ulang barang-barangku dengan kardus yang kuminta dari rumah makan taman sari siang tadi, biar beres semua nya.

Wedang rondenya sudah mau habis

Saturday, 22 February 2020

Sate Madura Yang Tidak Ada Maduranya, Dan Pisau 3 Sepuluh Ribu


Karena ada sedikit waktu luang aku pun mencoba makanan yang ada di parkiran bus, sekalian sebagai mengganjal perut sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya, yang kucoba kali ini adalah sate, sate yang terkenal yang bukan hanya di Indonesia saja tetapi sudah mendunia, dan salah satu yang terkenal adalah sate madura.

Tetapi hal tersebut berbalik 180 derajat saat aku mencoba makanan sate di pulau Madura langsung, yang biasanya di gerobaknya ada tulisan sate Madura  seperti biasa yang aku temui di kota Palembang, tetapi hal itu tidak terlihat hanya tertulis sate ayam dan sate kambing.



Sempat aku tanya ke pedagangnya langsung mengapa tidak ada tulisan "Madura" nya, mereka berkata  sambil guyon "Makan satenya kan langsung di sini, (pulau Madura).. jadi nggak perlu di tulis lagi". 

Dengan memasang tarif 15 ribu untuk sate ayam dan 25 ribu untuk sate kambing, lumayan untuk mengganjal perut ini sampai sarapan pagi nanti, tidak sedikit yang mengantri untuk menikmati kuliner khas ini, jemaah dari Bandung, Indramayu dan Jakarta pun ikut menikmati kelezatan makanan berbumbu kacang ini. Walaupun jemaah banyak berdatangan ke kawasan ini tetapi gerobak sate yang tersebar di area parkiran bus ini lumayan cukup banyak sehingga tidak perlu mengantri panjang untuk menikmati kuliner yang satu ini.


Selain penjual sate, pedagang yang banyak dan menarik perhatian adalah penjual senjata tajam dan sejenisnya yang merupakan hasil kerajinan dari penduduk setempat, dari pisau, celurit, arit, parang sampai samurai pun tersedia di pedagang ini. Mereka menggunakan gerobak dan meja yang di buat sedemikian rupa biar bisa memperlihatkan hasil  dagangan mereka.

Banyak jemaah yang membeli pisau dapur yang di patok dengan harga 3 buah 10 ribu, tetapi ada juga yang membeli senjata khas pulau Madura yaitu celurit yang di hargai 100-150 ribu tergantung jenis. Aku pun hanya melihat-lihat saja sudah terlalu banyak koleksi senjata ku, celurit saja di dapat dari Madura tahun 1999 sampai sekarang masih ada dan sering ku bawa saat berlatih silat.

Kali ini aku hanya membeli pakaian khas madura kaos yang berwarna merah putih yang di sebut Pesa'an, tetapi ini ku beli untuk adek satu setel baju dan celana yang ku bayar seharga 40 ribu saja. Koordinator bus pun sudah memerintahkan kami naik untuk menuju tujuan kami selanjutnya yaitu makam Sunan Ampel di Surabaya.


Sunday, 19 January 2020

Rinai Hujan & Harumnya Durian Tebing Tinggi 4 Lawang


Hujan yang mengguyur kota ini sedari pagi tadi membuat suasana menjadi dingin, sempat hujan terhenti sejenak, tetapi setelah menjemput ayuk dan kakak dari kediaman nyai hujan pun turun dengan derasnya, beruntungnya kami sudah memasuki jalan Sukarno Hatta yang berarti tidak terlalu jauh dari rumah kami.

Kamipun berteduh di tempat penjual durian, bau harum durian menyeruak ke rongga pernapasan kami, bunyi lebah madu yang berburu manisnya durian ini tampak banyak terlihat di keranjang kulit durian yang terletak tidak jauh dari tempat kami berdiri.

"Mau durian nggak ?" tanyaku ke ayuk dan kakak pelan
"Mau yah.." jawab mereka serentak

Bau harum dari durian ini, yang dari tadi menggelitik keinginanku untuk mencicipinya,
"Durian dari mana kak ? tanyayu kepada penjualnya
"Ada dari tebing, ada dari Linggau" jawab penjual dengan logat khas linggaunya.
"Berapa satu " tanyaku lagi
"Tergantung besaran, yang ini 50 ribu, kalau yang ini 40 ribu, ini ada 30 ribu dan 25 ribu" jawab penjual durian itu lagi.
"Di jamin manis ya ?" tanyaku
"kalau ada yang busuk, hambar, dan mentah tinggal tukar saja"kata penjualnya


Akhirnya kami membeli durian dengan harga 25 ribuan, 3 buah langsung di pilih dan di makan di tempat, harum semerbak saat  kulit durian tersebut terbuka dan menampakan isinya yang harum dan legit, ayuk dan kakak yang sedari tadi memang ingin makan durian menjadi yang pertama yang mengambil dan merasakan buah durian tersebut.

Memang tidak salah, rasa durian ini bener-bener nikmat, berbeda dengan durian seharga 10 ribu yang pernah kita beli beberapa hari yang lalu, banyak yang mentah, busuk dan hambar. Tidak salah kalau penjual bilang ini merupakan durian berasal dari kawasan Tebing Tinggi ataupun Lubuk linggau, rasa manis dan harumnya sangat terasa sekali, sekali duduk saja sudah 3 buah durian yang habis kami santap bertiga. 

Memang salah satu kota yang terkenal di Sumatera Selatan sebagai sentra penghasil durian terbaik adalah kota 4 lawang, selain hujan mas karena di kota tebing tinggi saat ini lahan penghasil buah durian sudah banyak berkurang sangat berbeda dengan era tahun 1990 an.

"Kak... yang 3 lagi tolong di ikat saja" kataku ke penjual durian tersebut 
karena di rumah masih ada adek, abang zaki dan bunda yang belum menikmati manisnya durian ini.

Saturday, 18 January 2020

Malam Minggu Bersama Pecel Lele Ibu Wana (Special Sambalnya)

Sudah beberapa hari ini bunda mengalamai sakit flu yang lumayan parah, sudah beberapa hari hanya beristirahat dan berbaring di tempat tidur, musim hujan yang sudah melanda seluruh kawasan kota Palembang dan sekitarnya di tambah dengan "banjir"nya buah-buahan dengan beragam jenisnya menjadi pasangan yang serasi untuk kondisi saat ini.

Malam ini abang Zaki yang di antar oleh bundanya untuk menginap di rumah karena sudah sedari lama si abang ingin menginap di rumah untuk tidur bersama adek  tetapi belum ada kesempatan, jarak rumah kami dengan rumah abang tidak telalu jauh karena jika siang hari terkadang abang bersama adik-adiknya bermain ke rumah atapun adek yang bermain ke tempat abang.

Bunda yang bisa setiap malam menyantap santapan malam yang berkuah dan hangat untuk memulihkan staminanya, tetapi malam ini bunda inginya makan pecel lele, dan berangkat kami ber empat menuju pecel lele ibu wana yang terletak di pelataran ruko spring hill.

Abang pesanya pasti ini "petok....petok....petok" kata adek menirukan gaya ayam
Kami pun memesan 3 lele goreng dan 1 ayam goreng dan tidak lupa es teh manis untuk abang dan es tawar untuk adek, ini kali pertama kami makan di pecel lele ini yang kata tetangga sambelnya yang mantab.

Makanan yang kami pesan tidak lama pun sudah mendarat ke meja kami, kebetulan saat itu warung pecel lele ini tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pengunjung yang juga sudah menyantap makanannya.

Pertama kali yang di rasa bunda adalah kuah yang ada di dalam mangkok yang menurutku seperti rasa mie kuah kari ayam,  kuah yang hangat tersebut membuat bunda lumyan menikmati makanan ini, dengan ikan lele yang di goreng crispy, di padu dengan sambal yang sudah ku beri kecap manis,  serta potongan lalapan menjadikan makan malam ini lumayan nikmat.

Gurih ikan lele terasa sampai ke tulang, abang pun sepertinya begitu sangat menikmati ayam goreng yang ada di piringnya, adek tampak lahap menghabiskan nasi dan ikannya, walaupun makan malam ini sederhana tetapi cukup membuat bunda melahap di antara pahitnya tenggorokannya.

Tuesday, 1 October 2019

Paduan Model Gendum & Mie Goreng Instan, Makanan di Segala Waktu

Model Gendum + Mie Goreng

Indonesia yang memiliki keragaman kuliner khas di tiap daerah, ada kuliner yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, tetapi ada juga yang hampir mirip makanan khas tersebut antara daerah satu dengan yang lainnya.

Salah satunya yaitu makanan khas Palembang selain pempek adalah model, yang ada hampir di setiap sudut kota ini baik dari toko yang mewah atau dengan grobak sederhana, dan biasanya penjual model (Palembang ; tukang model) gerobak ini menjual tiga jenis makanan yaitu model ikan, model gendum dan tekwan.

Model ikan dan tekwan sendiri merupakan makanan olahan dari ikan sama seperti pempek yang di beri kuah yang juga dari olahan ikan, berbeda dengan model gendum yang bukan merupakan olahan ikan tetapi merupakan olahan dari tepung terigu yang diolah hingga berbentuk adonan roti dan di goreng.

Salah satu penjualn model gendum di Jalan Kapten Anwar Sastro

Model gendum merupakan salah satu makanan "wajib" di kota ini karena bisa di makan setiap saat baik saat sarapan pagi, makan siang ataupun makan malam. Malahan untuk masyarakat Palembang sendiri apabila porsi model gendum tersbut  di anggap kurang bisa di tambah lagi dengan mie goreng instan ataupun di campur dengan nasi.

Mengapa harus menggunakan mie goreng instan yang terkenal tersebut karena hanya dengan mie goreng instan inilah jika bumbu mie goreng instan tersbut di campur ke kuah model akan menjadi semakin nikmat, karena cerita si penjual sebelumny pernah di coba dengan merek lainnya seperti mie kuah dan lainnya, setelah bumbunya di campir ada yang menjadi keasinan dan lain sebagainnya.

Pernah saat mengajak teman dari luar kota memakan makanan khas ini muncul komentar " Kok makan karbo dengan karbo", tetapi itulah makanan yang berkaitan dengan keseharian masyarakat Palembang.

Dengan penyajian yang sederhana dengan hanya memotong model Gendum yang berbentuk roti yang sudah di goreng kemudian di beri kuah serta di tambahi dengan potongan kecil daun sledri dan bawang goreng, tetapi jika ingin di tambah dengan mie goreng instam maka tukang model ini pun akan menambahakan dengan mie instan yang di celupkan ke dalam panci yang berisi kuah panas. Setelah mie nya melunak maka akan di tambahkan ke dalam piring yang berisi irisan model gendum tersebut baru di beri kuah.

Kalau untuk rasa bisa kita atur, mau masam pedas, atau asin pedas atau masam manis, karena bisanya di meja kita makan tersedia kecap manis, kecap asin, jeruk kunci dan juga sambelnya, sehingga tergantung selera kita ingin rasanya seperti apa.

Aslinya model gendum seperti ini dengan kuah khas campuran antara kentang dan daging tetelan
Model gendum ini sebenarnya sangat berbeda dengan model ikan dan tekwan, karena jika kuah model ikan dan tekwan terbuat dari kuah bening yang di kasih kaldu ikan atau kaldu udang, tetapi kalau model gendum sendiri kuahnya agak sedikit kental yang terdiri dari campuran kentang dan cincangan daging sehingga berwarna kuning.


Kesaktian Pancasila, 2019

Tuesday, 17 September 2019

Saus Manis Pedas Sang Tahu Krispi & Manisnya Pisang Goreng Pasir

Gerobak Pisang Goreng Pasir & Tahu Krispi

Saat melintasi jalan talang jambe terutama di kawasan simpang 4 menuju jalan karantina dan jalan Pesanteren SMB II, saat sore menjelang kuliner satu ini bisa di temukan tepat di simpang empat ini, Pisang Goreng Pasir & Tahu Krispi.

Kekuatan street kuliner yang satu ini ada di rasa dan tampilan dari makanan itu sendiri, pisang goreng yang di buat dari pisang kepok yang di balur penuh dengan tepung roti membuat perpaduan antara manis dan krispi yang menyatu di lidah.

Tetapi untuk olahan pisang sendiri sudah beberapa bulan ini sangat jarang di temui dengan alasan penjual adalah pisang kepok kuning jarang di temui jikapun ada harganya lumayan mahal tidak bisa mendukung harga jual yang hanya 2 ribu per biji.

Penjual

Ternyata setelah kutelusuri tentang pisang kepok ini memang ada dua jenis pisang kepok, yaitu pisang kepok putih dan pisang kepok kuning. Pisang kepok putih lebih kecil, kulitnya tipis, isinya empuk, tapi kurang enak. Sementara, pisang kepok kuning (biasa disebut merah) lebih besar. Kulitnya lebih tebal, isinya lebih padat, dan rasanya lebih enak.

Jika di gunakan menggunakan pisang kepok yang putih akan membuat rasanya menjadi asam, atau jika di ganti menggunakan pisang lilin akan membuat pisang pasir ini terlalu lembut dan mudah rusak, padahal cemilan satu ini sangat cocok untuk teman teh atu kopi di sore hari.

Tahu krispi & Sausnya
Cemilan yang tidak kalah menggugah selera di adalah tahu krispi & saus manis pedasnya, kalau kebetulan lagi ke kawasan talang jambe ini kami pasti menyempatkan untuk membeli camilan yang satu ini, terbuat dari tahu yang rongga tengahnya kosong yang di goreng menggunakan bumbu krispi sehingga membentuk tahu krispi yang bercita rasa gurih, kalau di lihat sih mirip seperti tahu pong yang merupakan jajanan khas Semarang, tetapi ini lebih krispi.

Yang menjadi tahu krispi ini nikmat adalah saus manis pedas yang menjadi teman saat memakannya, perpaduan antara kecap manis dan olahan cabe rawit dan beberapa bumbu lain yang menjadi satu di dalam saus manis pedas tersebut, sehingga kekuatan rasa dari sausnya inilah yang menyebabkan pembeli menjadi "ketagihan" merasakan sensasi memakan tahu ini.

Dengan harga hanya seribu perbiji menjadikan tahu krispi ini tidak bisa bertahan lama di gerobak karena para pelintas yang melintasi kawasan tersebut penasaran akan rasanya apalagi yang sudah pernah menicipinya akan makin ketagihan.

Monday, 2 September 2019

Nikmatnya Martabak Telor Albar Pak De KM 12


Sepulang dari klinik di kawasan km 12, bunda sepulang dari Yogya kena batuk dan panas dalam, mungkin kecapean kali. 

"Yah kita makan Martabak yok" Ajak bunda
"Makan dimana? " Tanya ku
"Dekat dari sini kok, di pinggir jalan ini saja" Jawab Bunda
Akhirnya akupun memacu motorku dengan perlahan meninggalkan klinik, adek yang duduk di depan dengan segala ceritanya membuat aku terlena. "Yah udah kelewatan warung martabak nya" Kata bunda 

"Kelewatan ya" Kataku sambil menepikan motor 
"Iya.. Itu warung nya" Kata bunda sambil menunjuk arah warungnya

Akhirnya aku berbelok, untung masih belum terlalu jauh. 

"Pesan martabaknya 3 pak" Kata bunda 
"Yang telor ayam atau telor bebek? " Tanya bapak penjual nya.
"Kalau telor ayam berapa?" Tanya bunda balik
"12 ribu untuk telor ayam & 15 ribu telor bebek" Jawab bapak penjual nya lagi
"Telor ayam saja pak 3 piring" Kata bunda
"Minumnya pak 2 es tawar & 1 air putih hangat" Kata bunda lagi



Sembari duduk dan membersihkan meja nya beliau pun mulai membuat martabak nya, saat di lihat cara membuat martabak telornya sama seperti penjual martabak telor lain yang ada di kota ini, setelah selesai di goreng dan di sajikan diatas piring ternyata rasa kuah nya lumayan enak, tidak kalah dengan jenis martabak yang sangat terkenal di kota ini. 


Dengan martabak ukuran standar untuk martabak dengan 2 butir telor, kuah kari yang kental dengan perpaduan antara kentang dan cincangan daging salah satu hal yang kekuatan rasa, di tambah irisan cabai dan kecap menambah nikmat martabak ini. 


Tidak ada nama yang tertulis di lemari kaca tempat bapak ini berjualan hanya bertuliskan martabak telor Albar dan harga saja yang terletak tepat di seberang agen bus Arya Prima di kawasan KM 12 Palembang, tetapi para penjual banyak memanggil bapak ini "Pak De", mungkin lebih cocok di sebut martabak telor Albar pak de. Kalau mau kesini jangan pada saat sholat karena pasti tidak ada yang melayani karena pasti di tinggal untuk ke mesjid yang dekat dengan tempat ia berdagang.


Monday, 19 August 2019

Harumnya Es Dawet Durian & Nikmatnya Lunpia Pak Suyat Pandanaran


Setelah selesai dari lawang sewu kamipun berjalan kearah Jalan Pandanaran yang terletak tepat di sebelah bangunan lawang sewu ini, karena pandanaran ini terkenal sebagai pusat oleh-oleh khas di kota Semarang.

Jalan Pandanaran (Ki Ageng Pandan Arang  sendiri di ambil dari seorang salah satu tokoh penyebar agama Islam di Semarang yang juga merupakan bupati pertama Semarang yang di angkat oleh bupati Demak Bintara, Konon nama Semarang diberikan olehnya, karena di tempat ia tinggal ditumbuhi oleh pohon asam yang jarang-jarang (bahasa Jawa: asem arang). Berdasarkan arsip De Gouverneur Van Java, dia pun dikenal sebagai sultan bajat atau kiyai gede semarang.

Saat menyusuri jalan saya pun melihat penjual es dawet durian yang ada pas di tikungan jalan Pandanaran
"Ada yang mau es dawet nggak ? "Tanya ku
"Mau yah.." anak-anak menjawab hampir serempak

3 Gelas es dawet pun di buat oleh penjualnya, hanya 1 yang pakai durian sedangkan yang lain es dawet biasa, tetapi durian yang di berikan cukup banyak jadi bisa buat bertiga. Unik juga mencicipi rasa es dawet durian selama ini paling-paling minum  kopi durian. Untuk harga es dawet durian hanya 10 ribu pergelas dan es dawet biasa 7 ribu pergelas, cukuplah untuk memulihkan stamina kami setelah berkeliling lawang sewu tadi, setelah selesai kamipun menyelusuri lagi jalan pandanaran.

Tepat di depan rumah sakit hermina ada jembatan penyebrangan. kamipun menyebrang melalui jembatan penyebrangan tersebut, karena letak bandeng juwana dan pusat oleh-oleh khas Semarang ini berada  di seberang rumah sakit hermina tersebut, saat turun dari jembatan penyebrang kita sudah di sambut para penjual oleh-oleh khas Semarang dari lunpia, wingko babat, tahu Baxo, dan lain sebagainya.

Akhirnya kami memasuki salah satu toko oleh-oleh di jalan Pandanaran ini, rame tokonya dari bandeng presto tulang lunak, wingko babat, lunpia, moaci wijen, tahu baxo. Setelah berkeliling saya dan bunda membeli beberapa jenis makanan dari toko tersebut sebagai kudapan kami, setelah itu kamipun keluar, untuk membeli cemilan perjalanan selanjutnya.

Sesaat setelah menelpon pak Ratno untuk di jemput di Jalan Pandanaran, di bawah jembatan penyebrangan di seberang rumah sakit hermina saat menunggu mobil datang, mataku pun tertuju  kepada lunpia yang masih di goreng oleh penjualnya, yang ternyata bernama pak Suyat.

Karena tampa enak, kamipun membeli 10 buah yang berisi rebung dan cacahan ayam, yang selanjutnya di bungkus dengan besek yang di lapisi dengan kertas roti, informasi pak Suyat si penjual kalau lunpia ini bisa betahan sampai 3-4 hari untuk yang di goreng.

Dan ukuruan lunpian yang lumayan besar ini cepat membuat kenyang hanya 2 saja sudah membuat perut kenyang, tetapi bunda tidak menyukai saus nya yang manis seperti gula merah yang di kasih bawang dan bumbu lainnya, maklum lidah sumatera. Tetapi solusinya sih bisa di ganti dengan saus sambal atau yang lainnya.

Setelah pak Ratno datang kamipun langsung menaiki mobil untuk ke tujuan berikutnya yaitu bangunan merah kelenteng Sam Po Kong.




Saturday, 17 August 2019

Kopi Joss Mbak Siska & Ramainya Malioboro

Ramainya malioboro pada Malam Minggu (17/8/2019)
Setelah melepaskan lelah setelah perjalanan dari pagi tadi, malam ini merupakan malam minggu merupakan malam yang paling ramai di kawasan malioboro, terlihat dari sore para pengunjung yang menginap di kawasan sosrowijayan sudah pada bersiap-siap untuk ke kawasan malioboro.

Kamipun masih malas keluar kamar, makan malam yang telah selesai kami santap yang kami beli dari salah satu rumah makan padang di jalan Pasar Kembang, sholat isya pun selesai kami kerjakan, tapi saat melihat ke arah jalan di depan penginapan banyak pengunjung yang pada berkumpul ada yang berseragam kelompoknya dan  ada juga yang tidak, rata-rata penginapan malam ini di sosrowijayan sudah full book, hanya ada 1-2 penginapan yang masih tersedia kamar.

"Kita, ngopi joss saja yah di tempat kemaren " kata bunda
 Sambil senyum ku berkata dalam hati, "heeheh sudah mulai ketagihan ya"
"Udah, siap-siap saja, nanti kita turun" kataku

Setelah semua siap kami turun dari penginapan walaupun kakak sepertinya ngantuk berat tetapi dia tidak mau tinggal di penginapan, bener sekali jalan malioboro penuh menyemut, seperti tiada tempat lagi untuk berdiri, kami pun berjalan kearah sebaliknya yaitu ke arah stasiun tugu dimana pada malam sebelumnya angkirngan kopi joss lik Man menjadi tempat persinggahan kami, tetapi malam ini terlihat lebih ramai dari pada malam sebelumnya, termasuk lesehan di depan cagar budaya hotel tugu pun ramai, akhirnya setelah masuk di kawasan angkringan kopi jos ternyata masih ada tempat di salah satu angkringan kopi joss mbak siska itupun duduk  bersama pengunjung lain di satu meja.

Angkringan Kopi Joss Mbak Siska
Akhirnya kami memesan 1 kopi joss hitam dan 3 kopi joss susu, kakak tanpak ngantuk sekali tanpa menyentuh sate dan gorengan yang sudah di pesan, bunda minum dengan nikmat kopi joss nya sedangkan ayuk tidak mau terulang lagi kejadian yang sama  di angkringan kopi jos lik man akhirnya bara yang masih panas itu ayuk ambil dan letakan di dalam piring gorengan yang membuat adek melotot.

Tidak berbeda dengan kopi jos lik man, kopi Jos mbak siska ini juga memiliki cara pembuatan yang sama begitupun saat bara api di letakan, baik itu kopi hitam ataupun kopi susu, dan kenikmatan kopi yang di temani dengan beberapa gorengan dan  beberapa tusuk sate yang membuat mata menjadi melek kembali.

Angkringan kopi joss mbak siska yang terletak Jl.Wongsodirjan,Sosromenduran, tidak berjauhan dari angkringan kopi joss lik man, kalau angkringan kopi joss lik Man agak ke dalam posisinya, Angkiringan kopi joss mbak Siska ini dekat sekali dengan jalan masuk..


Setelah selesai dengan urusan kopi joss kamipun kembali menuju ke malioboro sekalian melihat keramaian yang ada, tetapi saat dekat dengan PJL geser kakak pun meminta agar di belikan wedang ronde yang baunya lumayan harum, dengan harga 10 ribu permangkok, itupun tidak membuat kakak menghabiskan wedang ronde tersebut tampaknya rasa kantuk kakak telah mengalahkan segalanya.

Wedang ronde di dekat taman PJL Geser
Kamipun melanjutkan perjalanan ke arah malioboro, dan duduk di bangku yang ada di sepanjang trotoar malioboro, kakak yang sudah ngantuk berat tertidur di pangkuan ayuk. Malam ini mereka ber tiga  tidur di losmen, sedangkan Ayah & adek tidur di Red Palm Hotel karena losmen yang kami tempati kemarin untuk malam ini family room tidak tersedia.

"Besok, habis subuh saja ayah ke stasiun untuk beli ticket parameks nya" kataku kepada bunda
"Mudah-mudahan masih ada yah ya" kata bunda
"Amin.... semoga saja bunda" jawabku
"Kita jangan terlalu lama nongkrong di sini besok bisa ke siangan"kataku

Pukul 10 malam kami meningalkan kawasan malioboro dengan hingar bingarnya, suara alunan lagu pengamen masih ramai terdengar, 
Adek tidur besama ayah di red palm hotel

Segarnya Es Dawet 3 in 1 ( Hitam, Hijau & Putih )

Es dawet 3 in 1 ( kesisa dawet hitamnya )
Setelah keluar dari taman pintar kamipun menyusuri jalan kembali melalui titik 0, melalui benteng Vredeberg dan gedung agung yang lagi sibuk mempersiapkan acara untuk upacara penururnan bendera, selanjutnya kami terus berjalan menuju ke arah pasar bringharjo dan menyebrang kearah masjid siti djrizanah untuk melakukan sholat ashar, tetapi di antara teriknya matahari terlihat penjual es dawet 3 in 1, awalnya tidak tahu kirain sama seperti es dawet yang ada di Palembang yang hanya berwarna hijau, tetapi ini juga ada yang berwarna hitam juga sama seperti yang kami lihat di depan benteng Vredeburg.

Ternyata komposisi 3 in 1 itu adalah dawet hitam di campur dengan dawet hijau, setelah di kasih es baru  di siram dengan air santan, segar dan nikmat, kalau berdasarkan refrensi yang saya baca bahwa dawet ireng  (hitam) ini adalah cendol yang berasal dari daerah Butuh, Purworejo, Jawa Tengah. Kata ireng dari bahasa Jawa berarti hitam. Butiran dawet berwarna hitam, karena diperoleh dari abu bakar jerami yang dicampur dengan air sehingga menghasilkan air berwarna hitam. Air ini kemudian digunakan sebagai pewarna dawet. Dawet ini memiliki keunikan yaitu penyajian dawet yang jumlah dawetnya jauh lebih banyak dibanding kuahnya (santan ditambah air gula). Hal unik lainya, santan biasa diperas langsung dari bungkusan serabut kelapa.

Penjual es dawet 3 in 1 di seberang pasar bringharjo depan masjid biru
Tapi mungkin saat ini untuk pembuatan warna dari dawet ireng ini tidak lagi menggunakan merang bakar yang lumayan rumit tetapi sudah tergantikan dengan pewarna makanan yang berwarna hitam. Harga pergelas untuk dawet 3 in 1 ini adalah 5 ribu Rupiah cukuplah untuk penghilang dahaga dan pengganjal lapar sementara untuk mengantar kami kembali ke penginapan setelah sholat ashar.

Nasi Pecel Pasar Bringharjo, Barisan Makanan Khas Di Depan Pasar


Setelah keluar dari benteng kami pun langsung ke titik awal tempat kami berpisah dengan bunda tadi, kakak yang masih cengar-cengir lihat kami dari jauh mungkin sudah mencium bau gulali yang kami bawa.

"Kita makan dulu saja ya, kemudian sholat ... baru jalan lagi" kata bunda
"oke mau makan dimana ?" tanya ku yang sebenarnya bukan pertanyaan penting karena di trotoar pasar bringharjo ini dari ujung ke ujung merupakan pasar kuliner.

"Makan nasi pecel atau gudeg ?'tanyaku, yang pasti jawaban bunda bukan nasi gudeg karena dia kurang suka yang terlalu manis.

Akhirnya kamipun duduk di salah satu warung nasi pecel yang ada di depan pasar beringharjo, setelah beberapa saat antri kamipun akhirnya bisa duduk, ayah me.memesan nasi gudeg, bunda dan kakak memesan nasi pecel, sedangkan ayuk yang anti sayur memesan nasi dan bakmi sama seperti adek.


Ternyata pecelnya yang di buat di sini bercampur pucuk daun pepaya yang masih muda sehingga menimbulkan rasa yang cukup pahit, untuk bunda si oke, tapi untuk kakak mana mau dia, akhirnya kakak minta tukar nasi gudeg punya ku dengan nasi pecel miliknya. Lumayan enak juga makan di sini dengan harga yang masih terjangkau, murah meriah dan nikmat.

Untuk sarapan pagi atau siang tempat ini juga menjadi rekomendasi bagi wisatawan lokal, dengan posisi tepat di depan pasar Bringharjo yang mudah di capai dari manapun.


Thursday, 15 August 2019

Titik 0 Yogyakarta Yang Tidak Pernah Sepi

Titik 0 yang tidak pernah sepi
Kamipun turun dari andong tidak beberapa jauh dari titik 0, karena kalau mau turun tepat di lampu merah nanti mengganggu pengguna jalan yang lain.

Titik 0 ini walaupun malam sudah beranjank larut tapi seperti memiliki magnet sendiri sehingga tempat ini tidak pernah sepi, Nol Kilometer bukan hanya sekedar pusat keramaian di Yogyakarta. Terdapat sejarah yang terselip di dalamnya. Nol Kilometer sebagai denyut nadi Kota Yogyakarta mempunyai mitos garis sumbu imajiner yang menghubungkan antara pantai Laut Selatan, Keraton hingga Gunung Merapi. Selain garis imajiner, Yogyakarta juga memiliki sumbu filosofis yakni Tugu, Keraton, dan Panggung Krapyak, yang dihubungankan secara nyata berupa jalan. Panggung Krapyak ke utara menuju ke Kraton melambangkan perjalanan manusia dari bayi lahir hingga dewasa, sedangkan dari Tugu ke Kraton melambangkan perjalanan manusia kembali ke sang Pencipta.


Titik Nol Kilometer bisa disebut sebagai Eropanya Jogja. Alasannya karena kawasan ini dikelilingi oleh bangunan kuno yang menjadi cagar budaya. Setidaknya ada enam bangunan, yaitu Benteng Vredeburg, Bank BNI, Kantor pos, Pasar Beringharjo, Monumen Serangan Umum 1 Maret, dan Mirota Batik. Cagar budaya tersebut menjadi saksi bisu sejarah panjang keraton Yogyakarta. Pesona Mini Eropa di Jogja ini makin terlihat ketika malam hari.


Sebenarnya kami ingin menghabiskan waktu lebih lama di sini, karena hanya baru dari 1 sisi km 0 yang kita injak, belum dari sisi lainnya tetapi besok harus berangkat pagi lagi untuk tujuan wisata lainnya.

Untuk kembali ke penginapan kami harus berjalan kaki yang lumayan jauh sekitar 1,5 Km, tetapi karena jalan nya selalu ramai tidak berasa sudah berapa jarak yang kita tempuh, sekitar setengah perjalanan,




"Yah.. mampir dulu ke angkringa situ, kita minum wedang ronde dulu"kata bunda
"Sego kucing lagi "kata anak-anak gembira

akhirnya kamipun makan di salah satu angkringan di kawasan jalan malioboro ini, walau tidak dapat tempat lesehan, duduk di kursi trotoarpun tidak menjadi masalah, anak-anak memesan nasi kucing dan beberapa tusuk sate di sertai gorengan, sedangkan bunda memesan wedang ronde hangat.

Saturday, 13 July 2019

Dragon Snack, camilan yang membuat mulut berasap.


Dragon Snack
Konsep molecular gastronomy atau teknik membuat makanan yang menggabungkan ilmu fisika dan kimia. Teknik gastronomi dengan nitrogen cair kerap dilakukan restoran mewah. Sebut saja es krim, yang dibekukan menggunakan nitrogen cair, yang menjadi salah satu panganan camilan ini menawarkan sensasi unik “dragon breath”, yang membuat asap dari es akan menyembur keluar mulut saat menyantapnya. Di kawasan pedestarian sudirman pun terlihat penjual snack dengan tehnik gastronomi nitrogen cair ini dengan mengusung merek dragon_snack.

Adek lagi melihat proses pembuatan Dragon Snack
Kakak & adek yang sudah lama penasaran dengan camilan yang satu ini, akhirnya bisa merasakan nya juga dengan harga 25 ribu per porsi, kita bisa menyaksikan uap dingin yang keluar dari selang nitrogen cair dengan suhu -197°.

Untuk rasa nya sama seperti snack biasanya tetapi sensasi uap yang keluar dari mulut itu membuat unik, tetapi ada juga snack tersebut yang menempel di lidah, Langit-langir mulut atau di pipi karena saking dingin nya.

Berdasarkan informasi yang saya baca makanan yang mengandung nitrogen cair ini tidak di anjurkan terutama orang yang ada asma, atau gangguan pernafasan.

Untuk camilan yang satu ini bisa di dapatkan di kawasan pedestrian Sudirman pada saat malam Minggu tepat di depan JM Plaza atau di kawasan Kambang Iwak Besak saat Minggu pagi.
Keluar asap dari mulut saat memakan scank nya