Thursday, 26 March 2026

17 Jam Perjalanan Pulang


Sebenarnya sudah tidak ada jadwal lagi pada pagi ini anak-anak rencanya mau kembali ke jalan braga sedangkan aku sendiri rencananya akan menuju ke loket bus untuk bertanya jadwal keberangkatan, karena setelah beberapa kali di telpon tidak ada yang merespo akhirnya kuputuskan untuk langsung menuju lokasi loket tersebut yang berada di kawasan jalan soekarno hatta tersebut, setelah sarapan pagi mereka langsung berangkat menuju ke jalan beraga, dan aku dengan grab bike menuju ke loket eva star untuk melihat jadwal keberangkatan, pukul masih menunjukan belum jam 8 pagi dan aku sudah berada di loket ini ternyata untuk ke Palembang pada hari ini pada pukul 11 siang nanti dan hanya satu itu yang berangka dari loket eva star, dengan ticket seharga 525k perorang bis yang ku tumpangi ini adalah bis double decker yang di bagian bawah ada sleeper bus, aku pun memilih bagian atas tempat duduk karena jujur belum pernah menggunakan sleeper bus.

Semalam aku sudah diskusi dengan anak-anak tetang kepulangan hari ini seharusnya check out hotel kita pada tanggal 27 Maret 2026 tetapi karena sudah di contac untuk urusan pekerjaa akhirnya aku memuntuskan untuk pulang lebih cepat, setelah selesai melakukan pembayaran akupun memberi kabar kepada anak-anak untuk pulang cepat karena keberangkatan bus tersebut pad pukul 11 siang nanti, aku sendiri sudah kembali lagi ke hotel, dari semalam selurhnya sudah di persiapkan tinggal pergi saja kalau anak-anak pulang, tas dan koper sudah ku turunan semua di bawah begitu juga barang-barang sudah di cek dan tidak ada lagi yang tertinggal.

Sekitar jam 9:30 akhirnya kami berangkat menuju loket bus eva star, lebih baik kami menunggu di sana ketimbang kami telat dan di tinggal bus, kondisi loket lumayan ramai anak-anak pun memesan beberapa makanan termasuk es krim untuk di makan siang ini,  Logistik untuk selama perjalananpun sudah ku persiapkan dengan membeli di mini market dekat hotel tadi agar anak-anak tidak lagi merengek untuk jajan.

Pukul 11 yang sudah di janjikan ternyata bus belum juga datang dan kami terus menunggu hingga pada pukul 12 kurang akhirnya bus double dekker merapat di loket tersebut, setelah kami menaikan barang akhirnya kami menempati kursi kami, kursi yang empuk dan ac yang dingin juha ada foot rest dan terutama ada untuk port charger hp jadi kita tinggal mencolokan kabel kita saja, jujur dengan fasilitas yang seperti ini kami merasa puas naik bus ini.

Bus ini terus bergerak membelah kemacetan bandung dan Jakarta, beberapa kali bus ini tampak berhenti untuk menjemput penumpang, tetapi yang kurasakan bahwa bus ini tidak berisik sama sekali setara dengan harga yang kami bayar 525k per orang, entah sudah berapa kali aku terlelap kulihat adek sudah mengorok dan lelap dalam tidurnya, informasi yang kudapat sekitar 17 jam lagi baru akan sampai ke kota Palembang, dan aku harap itu pada pagi hari sekitar pukul 6 atau 7 pagi.

Bus terus melaju hingga akhirnya berhenti di salah satu rumah makan di kawasan merak yaitu rumah makan angin berhembus ternyata kita mendapat makan dari pihak bus dengan makan yang sudah di siapkan dan kalau lebih untuk menunya kita di haruskan membayar sendiri.

Serluruh penumpangpun turun dan tak lama berselang ada 2 unit bus lainnya yang juga ikut antri di sana mungkin rumah makan ini sudah bekerja sama dengan po eva star sehingga rumah makan ini menjadi ramai.

Kami sempat istirahat dan juga sholat di sini, sambil meluruskan kaki untuk melanjutkan perjalanan kembali, menjelang magrib akhirnya bus mulai bergerak menuju ke pelabuhan merak untuk melakukan penyeberangan menggunakan kapal ferry ke pulau sumatera.

Tidak terlalu lama menunggu di parkiran akhirnya kami pun segera masuk ke dalam kapal, aku segera menuju ke ruang VIP biar enak untuk istirahat karena kalau di luar susah untuk duduk dan kasihan anak-anak terkena angin, dengan membayar perorang 15k akhirnya kami duduk di sana sembari bergantian untuk sholat dan menikmati mei yang merupakan bonus saat berbelanja di mini market depan hotel tadi.


KM Sagita 8 seperti itu yang tertulis di karcis yang di tagih petugas di dalam ruangan vip ini, yang penting kami bisa beristirahat selain penjualan makanan di sini juga di sediakan charging hp secara gratis, sehigga adek yang kehabisan battre pun bisa melakukan pengecasan hpnya di sini.

Sekitar 2 jam pelayaran kapal ini akhirnya mendarat di pelabuhan bakahuni, dan bus langsung berlari kembali aku sudah tidak sadar lagi rebah di dalam kantukku setelah bus ini meninggalkan pelabuhan bakahuni, aku terbangun saat kulihat maps ku kalau sudah masuk di wilayah OKI dan kami berada di dalam tol , berarti tidak lama lagi akan merapat.

Perkiraan ku sekitar jam 6 atau jam 7 pagi meleset ternyata bus sampai ke Palembang pada pukul 03:30 lebih cepat dari dugaan ku, yang bingung harus membangunkan tetangga karena kunci rumah kami titip ke mereka, akhirnya taxi online mengantar kami pulang kerumah dengan senyuman dan sejuta kenangan, sampai berjumpa dengan perjalanan berikutnya.

Didalam bus eva star

Wednesday, 25 March 2026

Dari Situ Patenggang Ke Chiampelas

Golesat di Situ Patenggang

Setelah bertemu di parkiran akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya yaitu situ patenggang sekitar 16 menit dari lokasi kawah rengganis ini atau kurang lebih 6 km, ternyata untuk wahana permainan di kawasan wisata ini lebih banyak ketimbang di kawah rengganis hampir sebagian besar berada di sini, kami di sarankan untuk mencoba golesat kendaraan seperti gocart tetapi tanpa mesin yang mengandalkan turunan sebagai sarana kecepatan seru dan juga menantang, ada juga spot foto perahu finisi, rumah kelinci dan lainnya, tetapi tidak semua bisa kami mainkan karena mengingat waktu yang singkat

Perahu Phinisi
Akhirnya sesuai dengan saran dari driver kamipun menuju wahana golesat untuk melakukan balapan tanpa mesin, kulihat seru juga sepertinya banyak juga bule asing yang mencoba permainan tersebut, akhirnya setelah antri giliran kami untuk menaiki golesat tersebut aku juga ngeri-ngeri cemas walaupun sudah di pakai alat-alat safety seperti helm dan juga kendaraan yang tahan benturan ternyata cara mengerem kendaraan ini adalah memajukan stangnya ke depan tidak seperti motor atau mobil jadi jujur saja aku yang biasa membawa kendaraan juga sempat binggung untuk mengoperasikan kendaraan ini, akhirnya kendaraan pun di dorong satu persatu dan berjalan melalui turunan, entah kenapa kendaraan ku tiba-tiba berhenti mungkin karena aku menggerakan stang atau duduk ku yang kurang kebelakang sehingga benturan pun terjadi mobil ayuk, kakak dan adek saling tabrakan beruntun setelah menabrak mobil ku, akupun turun untuk mendorong golesat tersebut karena ternyata di ujung landasannya ada fotografer yang mengambil saat kami menaiki golesat tersebut.

Ternyata hal tersebut lumayan memacu adrenalin saat foto-foto di ambil oleh kakak aku sempat tertawa melihat gaya kami di atas golesat, beragam macam gaya. Seanjutnya kami menuju ke kapal finishi yang merupakan resto dan cafe di mana tempat spot foto yang bagus salah satunya di sini serasa menjadi bajak laut topi jerami adek sambil bersendung lagu one piece, banyak spot foto di sini dan di sini juga kami bertemu pengunjung yang sama-sama berasal dari Palembang. Sekitar 30 menit di lokasi ini akhirnya kami kembali ke tempat pintu masuk untuk menukarkan ticket dengan secangkir teh hangat, tidak terasa jam di tanganku menunjukan pukul 13:00, akhirnya kami meninggalkan lokasi ini untuk istirahat siang.


Mobilpun bergerak di iringi hujan yang mulai turun kembali akhirnya kami pun berhenti di Cafe dan Resto Bukit Senyum yang berjarak sekitar 4 km dari situ patenggan atau kurang lebih 10 menit kami sudah sampai di tempat ini, kami bersantap siang, istirahat dan dan sholat di sini. Makanan yang di sajikan lumayan menggugah selera, mungkin karena kami memang lapar dan mungkin juga suasana dingin ini membuat makan menjadi nikmat.

Setelah hampir 30 menit hujan juga tidak kunjung reda air wudhu di musolah resto ini seperti air es yang di usap kemukaku, tetapi tidak ada pilihan lain karena waktu sholat zuhur sudah lewat beberapa saat, akhirnya setelah semuanya selesai kami kembali lagi kearah kota bandung tetapi tujuan kami adalah ke ciwalk perjalanan sama seperti tadi kurang lebih 1,5 jam dengan melalui jalan tol, sekitar pukul 5 sore di tenga kemacetan kami akhirnya tiba di kawasan chiampelas dengan khas kemacetanya tanpak pilar besi yang di sebut dengan teras chiampelas , “Teras Cihampelas atau Cihampelas Skywalk diresmikan pada tahun 2017. Teras Cihampelas dibangun dengan tujuan untuk merelokasi para pedagang kaki lima di area Cihampelas sehingga mengurangi kepadatan dan kemacetan di jalan Cihampelas. Sempat menjadi tempat favorit, Teras Cihampelas mengalami "mati suri" saat pandemik terjadi. Sempat dibuka kembali dengan acara seremoni dan dibukanya area tahap dua, sampai saat ini Teras Cihampelas belum mengalami lagi kepadatan pengunjung seperti saat pertama kali dibuka”. (Sumber : indonesiavirtualtour.com).


Sempat di kabarkan bahwa teras chiampelas ini akan di bongkar oleh pemerintah kota Bandung, yang akan merelokasi usaha UMKM yang ada, padahal dahulu kawasan ini sangat terkenal dengan barang-barang yang murah dan begitu juga jeans nya, teringat zaman dahulu ada ikonik superman, spiderman, rambo yang muncul dari balik dinding toko dan ada iklan-iklan 3D lainya yang banyak terlihat di sepanjang jalan chiampelas ini, tetapi saat ini semua sudah menghilang di gantikan dengan pilar besi di sepanjang jalan chiampeas sehingga jalan yang ikonik dulu menjadi hambar. Akhirnya kami turun di depan pintu masuk Ciwalk, Ciwalk sendiri merupakan singkatan dari Cihampelas Walk (Ciwalk) merupakan pusat perbelanjaan mewah di Bandung. Mall ini dibangun pada tahun 2004 dan merupakan salah satu mall yang unik, bersih dan nyaman. Berjalan-jalan di siang dan malam hari akan menjadi sangat berbeda karena lampu di setiap stall dan gedung utama yang memberika suasana yang berbeda.

Suasananya masih seperti dulu sudah beberapa kali aku mengijakan kaki ke mall ini tetapi masih saja tersesat karena bingung antara jalan naik dan jalan turun sehingga yang aku ingat melalui lift kotak / elevator, beberapa saat kami keliling di sana sampai azan magrib berkumandang, kakak pun berbeanja beberapa kebutuhan kosmetiknya, selanjutnya kami melanjutkan perjalanan menyelusri jalan chiampelas yang sudah tertutup pilar-pilar besi, di situ aku membeli dodol dengan 100k bisa mendapatkan 2,5 kg dan topi kareakter yang di jual di TWA Tangkuban Perahu hanya 25k perbuahnya dan gantungan kunci yang katanya batu di jual di sana 65k disini hanya seharga 5k saja. Setelah puas berkeliling dan berbelanja akhirnya kami kembali ke hotel setelah beristirahat sebentar melepaskan penat dan juga sholat kamipun makan malam di warung pecel lele yang berada tepat di seberang hotel, dengan rasa yang enak dan tidak perlu jauh-jauh untuk makan akhirnya hari ini kami tutup dengan senyuman syukur.

Dari Ciwalk Ke Chiampelas

Akumulasi Capek Di Kawah Rengganis

Jembatan Gantung Kawah Rengganis

Setelah berjalan kurang lebih 30 menit akhirnya kami sampai di kawasan yang juga berbau belerang walaupun tidak sepekat dan sedingin di kawah putih, nama tempatnya adalah kawah rengganis, seperti nama seorang putri tapi entah kaitannya dengan nama putri. Sesampainya di lokasi kawah rengganis ini kami pun ternyata bisa membayar untuk 2 tempat yaitu kawah rengganis dan situ patenggang dengan harga 405k yang merupakan ticket untuk seluruh wahana yang berbentuk seperti gelang tetapi tidak di pakai, tenyata informasi yang kudapat kalau lokasi wisata ini di kelola oleh manajemen yang sama seperti halnya floating market, De Ranch, Farm House Susu Lembang Dan The Great Asia Afrika yang juga berada di bawah satu manajemen.

Setelah masuk kami di sambut dengan jembatan gantung yang lumayan panjang yaitu sekitar 370 meter. Jembatan ini diklaim sebagai salah satu jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara, dengan ketinggian mencapai 70-75 meter di atas pernukaan tanah. Terlihat di sini kalau kakak mulai takut dengan ketinggian apalagi saat adek menggoyang-goyangkan jembatan tersebut, beberapa kali terlihat kakak berpegangan erat dengan tali jembatan, jembatan yang ku nilai aman ini karena kiri kanannya di pakai jaring yang lumayan tinggi untuk mencegah barang atau orang terjatuh.
On action in Sultan Basket
Drivernya tadi di parkiran tadi sempat bilang;
“Di sini tidak terlalu extrim pak mendingan di banding dengan kawah putih” jelasnya

Tapi kenyataan yang kuhadapi berbeda 180 derajat jalanan yang licin menajak dan menurun seperti jalanan di desa orang tua ku 4 lawang jika ingin mandi kesungai, rimbun pepohonan dan kicauan burung dan bunyi binatang juga menyambut kami di kawasan kawah rengganis itu tetapi yang membedakan bau belerang yang ternyata di kawasan ini ada pemandian air hangat berbelerang yang di percaya sebagai salah satu obat untuk penyakit, banyak terlihat para pengunjung yang mandi bahkan mengoleskan lumpurnya di seluruh badan, bau belerang di sini masih bisa di terima di hidungku adek juga tidak terlalu mengalami kedinginan lagi.

Tapi yang membuatku terasa capek adalah jalannya yang menajak turun dan naik tetapi itu salah satunya untuk mencapai wahana keranjang sultan, di mana permainan ini kita duduk di keranjang tersebut dengan ketinggian sekitar 50 meter dan perlahan bergerak menuju ke seberang dan kembali lagi ketempat semula, akhirnya hanya mereka ber tiga yang menaiki keranjang sultan tersebut, dan untuk bermain ini gelang yang ku pegang akhirnya di bolongin sam seperti saat memasuki area jembatan gantung.

Aku rasa aku sudah tidak sanggup lagi, aku hanya duduk sambil melihat mereka tertawa di atas keranjang sultan, tetapi ini belum menjadi tantangan yang sesungguhnya ternyata untuk kembali ke atas ada 2 alternatif yaitu menggunakan ojek sebesar 25k per orang atau berjalan kami melewati tangga-tangga yang ada.

Akupun akhirnya memilih alternatif yang ke 2 karena anak-anak sendiri terlanjur senang dengan suasana petualangan sehingga tangga yang lumayan panjang keatas harus aku lalui, beberapa kali aku harus berhenti untuk beristirahan dengan detak jantung yang semakin cepat, mungkin 3 atau 4 kali aku duduk beristirahat untuk mengumpulkan tenaga sekedar untuk melangkahkan kaki, jujur di sini lebih capek ketimbang di The Great Asia Afrika mungkin karena sudah akumulasi capeknya di tambah dengan kawah putih, akhirnya akupun sampai di atas dan menghirup nafas panjang karena akhirnya jalan sudah datar tidak menajak naik atau turun.

Capeknya poll

Mengisap Aroma Belerang Berbalut dingin Di Ketinggian 2.400 mdpl

Gerbang Masuk TWA Kawah Putih

Hari ke 3 kami berada di Bandung hari ini awal para pekerja masuk lagi di pekerjaanya setelah cuti bersama hari raya Idul Fitri 1447 H tidak heran kalau pagi ini lalu lalang di depan hotel banyak karyawan dengan seragamnya sedang menuju ke tempat kerja, pagi ini kami sarapan di tempat gerobak bubur bandung yang kemarin tetapi hari ini pesanan pada berubah menjadi nasi uduk semua karena kemari ayuk sempat berkomentar kalau jam 10 sudah mulai lapar lagi karena paginya hanya memakan bubur, dari pihak rental kemarin akupun sudah di kasih tau kalau hari ini nama drivernya A** dan akan membawa mobil new avanza.

Setelah selesai sarapan kamipun kembali ke hotel dan ternyata driver kendaraan rentalnya juga sudah menunggu, karena belum jam 8 akhirnya drivernya sembari menunggu pesanan pastry dan kopi dari cafe yang ada di bahwa hotel selesai, setelah selesai akhirnya kami berjalan menuju ke arah bandung selatan tepatnya untuk hari ini kami akan menuju ke kawasan kawah putih, setelah berdiskusi dengan drivernya maka ranca upas kami hapus dari list itenerary kami karena alasannya hanya sebatas memberi rusa makan saja tidak ada kegiatan lain kecuali kalau mau kegiatan berkemah.

Belerang + Dingin
Akhirnya kami menyelusuri jalan kembali lebih dari satu jam dan untuk ke arah ciwedey ini haru melalui tol pasir koja perajalanan kurang lebih 1,5 jam tanpa ada macet sama sekali karena mungkin libur sudah usai, berbeda dengan hari kemarin saat ke lembang masih terdapat titik macet di hari lburan terakhir para pekerja, setelah kurang lebih 1,5 jam akhirnya kami sampai di gerbang masuk kawah putih tempat mobil akan parkir, dan di sini ketentuannya harus menggunakan otang-anting atau angkutan angkot khusus untuk ke kawasan kawah putih, dengan membayar 270k untuk tiket masuk kami di sergap hujan kecil untung saja ayuk selalu membawa payung di ranselnya.

Suasana dingin sudah terasa sejak di parkiran mobi tadi informasi yang kudapatkan dari sopir otang-anting bahwa ke area kawah putih kurang lebih 6 km, dan ternyata benar semakin ke atas semakin dingin mulai menusuk tulang jalan yang berliku menambah ke heningan kawasan ini, sekitar kurang lebih 10 menitan akhirnya kami sampai di tempat pemberhentian ontang-anting di ke tinggian 2.400 mdpl hujan semakin deras para penyedia payung untuk di sewakan berebut menemui pengunjung untuk menawarkan payung dan jas hujan sekali pakainya, kamipun berhenti sebentar untuk berteduh sampai ayuk mengeluarkan payungnya yang setia menemaninya selama kuliah di mana benda tersebut selalu berada di dalam tasnya.

Tak lama hujan tidak sederas tadi tapi uniknya gerimisnya ini aku rasaan seperti butiran es yang jatuh dari ketinggian walaupun tidak seperti salju, dingin semakin mendekapku erat ternyata bukan aku saja tetapi adek juga sudah mulai menggigil tidak nyaman dengan kondisi dingin seperti itu sedangkan ayuk dan kakak tampaknya tidak ada masalah, bau belerang yang menyengat memberi tahu kami kalau lokasi kawah tersebut sangat dekat, beberapa kali aku bersin dan meminta ayuk untuk membeli masker padahal di hotel kami membawa masker tetapi kelupaan untuk di bawa, dengan harga 5k permasker akhirnya kami pun mulai memasuki kawasan kawah.



Gerbang yang eksotik dengan tangga yang menurun membuat dadaku sedikit sesak walaupun sudah menggunakan masker, dengan kaki yang belum hilang capeknya sejak kejadian di the great asia afrika kemaren membuat ku memaksakan untuk berjalan dan kaki yang kurasakan semakin capek padahal hanya beberpa anak tangga saja yang ku turuni tetapi rasanya seperti banyak beban.

Sesampai di bawah kabut masih menyelimuti kawasan kawah putih, gerimis tiada berhenti malahan semakin menjadi tiupan angin juga membuat dingin semakin menjadi dingin, kami menyempatkan untuk mengambil beberapa foto di lokasi wisatayang viral ini, banyak pengunjung lain juga melakukan hal yang sama , malahan ada yang sambil live.


Kawah Putih adalah sebuah tempat wisata di Jawa Barat yang terletak di Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang terletak di kaki Gunung Patuha. Kawah putih merupakan sebuah danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Tanah yang bercampur belerang di sekitar kawah ini berwarna putih, lalu warna air yang berada di kawah ini berwarna putih kehijauan, yang unik dari kawah ini adalah airnya kadang berubah warna. Danau Kawah Putih sendiri berada pada ketinggian 2194 m tapi luas total Danau Kawah Putih 25 ha yang dipakai wisata 5 ha dan lokasi kawah sendiri 3 ha. Perairannya yang berwarna biru kristal berubah dengan kondisi cuaca, dan dilapisi dengan pasir putih halus, memberikan pengunjung pengalaman dunia lain. Bahkan vegetasi di sekitar area ini sangat berbeda dengan yang di bawah. (Sumber : wikipedia).

Tidak terlalu lama kami berada di sini karena udara yang tidak mendukung serasa sesak nafas ini, untuk panoramanya sendiri si sangat oke dan menarik, adik yang kulihat dari tadi menggigil menggunakan sweeter kepunyaan ayuk yang sudah di tutupkan di kepalanya biar tidak dingin gerimis pun sepertinya tidak mau pamit juga sampai kami menaiki ontang-anting kamipun masih di temani sang gerimis, sesampai di parkiran di bawah susana sudah berubah sedikit hangat bandros panas juga menjadi pilihan anak-anak untuk di makan di suasana yang dingin seperti ini, mungkin kurang dari jam 10 kami sudah meninggalkan kawah putih untuk menuju destinasi berikutnya.

Bandros Khas Jabar