Monday, 23 March 2026

Jalan Kaki Kembali Ke Hotel Antara Pelit Dan Hemat

 


Setelah kami berdiskusi bagaimana kembali ke hotel, akhirnya kami sepakat untuk berjalan kaki saja tapi dengan sarat yang dijukan oleh kakak kami harus mampir ke mini market terlebih dahulu untuk membeli makanan dan beberapa perlengkapan yang tidak ada di hotel nanti, maklaum hotel yang kita tinggali bukan hotel berbintang tetapi lumayan karena memiliki family room dan tempatnya strategis.

Akhirnya kami pun mampir di salah satu mini market yang terletak di simpang antara jalan braga dan jalan asia afrika, 2 kantong belanjaan pun akhirnya kami bawa, sambil  bercerita kami menyelusuri jalan sepanjang 1,8 Km tersebut yang akan di tempuh kurang lebih 20 menit, kalau seandainya tidak macet mobil hanya kurang dari 10 menit untuk mengantar kami kembali ke hotel, tetapi mengingat saat pergi tadi macet yang tidak kunjung terurai dan driver taxinya pun meminta tambah uang ongkosnya, jadi mungkin pilihan kali ini tidak salah sekalin untuk mengetahui apa yang ada di sepanjang jalan braga sampai ke hotel dan kamipun tidak harus berlama-lama di kendaraan menunggu macer.

Adek juga menyempatkan berfoto di barang klasik berupa mesin cetak yang berada di Jalan Asia Afrika, Bandung, adalah mesin cetak koran kuno (setter) yang dipajang di depan Kantor Harian Umum Pikiran Rakyat (PR) di Jalan Asia Afrika No. 77. Mesin ini menjadi salah satu ikon cagar budaya dan pengingat sejarah industri media di kawasan tersebut. 

Sepanjang jalan bukan hanya gedung gedung yang kami lihat tetapi juga kreatifnya orang Bandung bagaimana agar bisa menghasilkan uang seperti motor gerobak yang di sulap menjadi kuda, dan bisa di naiki oleh anak-anak dan orang dewasa dengan di kenakan tarif tertentu.


Ternyata sepanjang perjalanan menuju hotel banyak hal menarik yang bisa kami lihat, yang menjadi pelajaran bagi kami, perjalanan terus kami lakukan senja mkin tanpak, rona merah di langit barat makin terlihat jelas dan bernar, azan magrib mulai berkumandang, perjalanan sudah mendekati setengah jalan akhirnya kami memutuskan utuk mengisi perut kami dengan nasi terlebih dahulu sebelum balik kehotel, akhirnya warteg bahari yang menjadi pilihan kami yang kebetulan satu arah dengan hotel yang kami tinggali.

Ternyata tidak banyak lagi makanan yang tersisa, pekerja warteg tersebut juga bilang kalau hari ini merupakan hari pertama mereka buka setelah lama libur lebaran.

Nasi dan ayam serta nasi dan ikam menjadi pilihan kami karena hanya itu yang tersisa, nasi  yang masuk ke dalam perut kami terakhir adalah saat di cafe soralian bandara Sukarno Hatta saat menunggu keberangkatan bus damri ke Bandung.

Lumayan enak dengan rasanya kami makan dengan lahap dan harga yang di bandrol pun juga tidak terlalu mahal jadi wajar kalau warteg seperti ini menjadi pilihan berbagai kalangan karena murah, meriah dan mengenyangkan.

Jadi teringat saat aku bekerja di ibu kota karena kos an ku dekat dengan warteg dan selalu beli makanan di sana sampai akhirnya akupun boleh berhutang sama pemilik wartegnya dan di bayar pada saat gajian.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju hotel dengan perut kenyang dan beberapa kantong makanan kecil dan tidak lupa mampi ke martabak pecenongan yang letaknya tidak jauh dari hotel, akhirnya kami sudahi perjalanan hari ini yang cukup melelahkan, jurnalnya kita lanjut besok dengan perjalanan di kawasan Lembang Bandung.


Baraga, Wisata Terkenal Dari Tempo Dulu

Jalan Braga yang legendariis

Karena kemacetan yang cukup panjang akhirnya kami memberi tahu kusir delmanya untuk turun di simpang jalan Braga ini, akhirnya kamipun turun di jalan legendaris yang sudah di kenal di seluruh penjuru negeri, memang benar kata orang "Belum lengkap ke Bandung Kalu belum ke braga", kata-kata yang sudah saya dengan dari era tahun 90 an pada saat saya pertama kali ke kota ini saat masih berstatus pelajar, jalan ini masih sama seperti dulu masih jadi legenda seperti dulu walau banyak perubah tempat tetapi gaya bangunan kolonialnya yang bergaya art deco klasik tapi indah, 

Banyak para pengunjung yang menjadikan tempat ini sebagai spot foto baik sendirian atau pun beramai-ramai, salah satu spot foto yang tidak pernah sepi adalah tiang nama Braga yang menjadi penampilan utama di setiap orang yang mampir ke sini.

Jalan yang tidak terlalu panjang yang juga terhubung dengan jalan Asia Afrika ini menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung dari dalam dan luar kota. Jalan ini dulunya merupakan tempat nongkrong favorit orang Belanda dan sering dijuluki kawasan "Bergaya" (Ngabraga) karena banyaknya butik mode pada masa lalu.

Di sisi kanan kiri Jalan Braga terdapat komplek toko yang memiliki arsitektur dan tata kota yang tetap mempertahankan ciri arsitektur kuno pada masa Hindia Belanda. Tata letak pertokoan tersebut mengikuti model yang ada di Eropa sesuai dengan perkembangan kota Bandung pada masa itu (1920-1940an) sebagai kota mode yang cukup termasyhur seperti halnya kota Paris pada saat itu. Di antara pertokoan tersebut yang masih mempertahankan ciri arsitektur lama adalah pertokoan Sarinah , Apotek Kimia Farma dan Gedung Merdeka (Gedung Asia Afrika yang dulunya adalah gedung Societeit Concordia). Model tata letak jalan dan gedung gedung pertokoan dan perkantoran yang berada di Jalan Braga juga terlihat pada model jalan-jalan lain di sekitar Jalan Braga seperti Jalan Suniaraja (dulu dikenal sebagai Jalan Parapatan Pompa) dan Jalan Pos Besar (Postweg)('sekarang Jalan Asia-Afrika') yang dibangun oleh Gubernur Jendral Herman Wiliam Daendles  pada tahun 1811, di depan Gedung Merdeka. (Sumber : Wikipedia).

Sepanjang jalan yang kami lalui, braga masih seperti dulu tidak berubah sama sekali walaupun masa dan waktu terus berjalan saat pertama kali menginjakan kaki ke kawasan ini aku masih bersataus sebagai pelajar, sekarang aku membawa anak-anak yang juga sebagai pelajar entah sudah berapa lama kawasan akan bertahan di deru kerasnya perubahan zaman.

Tapi suasana  sore ini membuat ku menjadi sadar bahwa usia kita berjalan terus dan kan terus berkurang walaupun tujuan kita masih akan ada, terbukti dengan Braga dengan segala sejarah nya masih tidak lekang di geus oleh zaman.

Senja semakin merayapi bumi kamipun berniat untuk kembali  ke hotel sekalian untuk beristirahat dan mempersiapkan untuk tujuan perjalanan berikutnya tetapi ternyata di jam segini taxi online susah untuk di order mungkin di sini termasuk kawasan macer, dan kulihat map jarak ke hotel kami tidak lebih dri 15 menit, aku lihat ayuk, kakak dan dan adek untuk kelanjutan cerita ini.


Delman Kota Bandung


Sebenarnya bukan hal yang baru bagi kami dan anak-anak untuk menaiki delma sudah di berapa kota kami pernah menaiki moda transportasi yang satu ini kereta yang di tarik oleh kuda baik di Yogyakarta ataupun di Bandung sediri , tahun 2011 kami pernah menaiki delman seperti ini di kawasan desa kayu Ambon Lembang sampai ke pasar Lembang, yang sekarang pasar tersebut sudah menjadi pasar modern.

"Berapa ongkosya kang ?" tanyaku ke salahsatu kusir kahar/kretek (delman bahasa sunda)
"Untuk jarak jauh 200k dan jarak pendek 150K"jawab sang kusir , sambil beliau menjelaskan rute yang akan di tempuh.

Aku sendiri kurang mengerti rute yang di jelaskannya hanya mengangguk saja, akhirnya kutawar untuk rute panjang sebesar 125k  dan beliau setuju, entah rute mana yang di maksudnya tetapi ia menyebut akan melintasi jalanan braga, akhirnya kami berempat menaiki delman tersebut, kusir yang masih cukup muda mengendalikan delman dengan sigap di antara lalu lalang kendaraan bermotor roda 2 dan roda 4.

Untuk jalan sepi sepertinya enak mengendalikan kuda yang menearik kereta seperti ini, tetapi saat sedang ramai ternyata di situ di butuhkan keahlian extra untuk mengendalikan hewan yang satu ini.

Beberapa kali kuda ini kulihat tepat berada di belakang mobil dan hendak melaju terus , kalau seandainya tidak di kendalikan kemungkinan kuda ini akan menabrak belakang mobil atau bus yang ramai di jalan kota Bandung.

Perlahan ruas jalan dari asia afrika di telusuri hingga sampai ke kawasan braga yang cukup macet di mana delman ini tidak bisa bergerak, ada beberapa kali kepala kuda sampai menyentuh para pengendara motor, dan sepertinya mereka memaklumi kondisi yang seperti ini.

Beberapa saak jalan ke arah braga yang legendaris  masih macet akhirnya kami memutuskan untuk turun dan melanjutkan dengan berjalan kaki, sepertinya berjalan kaki akan lebih cepat ketimbang menggunakan kendaraan di tengah kemacetan seperti ini.



KM 0 sampai ke Alun-Alun Kota Bandung

KM 0 Bandung

Mobil yang kami tumpangi berjalan tersendat seperti tidak mau maju lagi macetnya lumayan sehingga tarif mobil yang seeharunya hanya 13K di getok menjadi 30K dengan alasan macet, tetapi setelah beberapa saat macet ini tidak kunjung terurai sehingga akupun memutuskan untuk jalan kaki yang kulihat dari google maps tidak terlalu jauh jarak tempuhnya.

Simpang Braga
Akhirnya kamipun turun tidak jauh dari tugu KM 0 yang terletak di kantor bina marga provinsi Jawa Barat yang terletak di jalan Asia Afrika Braga Bandung, pada tahun 2016 saat itu di iresmikan Gubernur Jabar Danny Setiawan. Tak hanya tugu, di tempat itu kini dibangun monumen mesin penggilingan (stoomwals ) kuno yang disertai sebuah batu prasasti sejarah. Tugu dan moumen ini didekasikan untuk rakyat priangan yang menjadi korban pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan.

Kami menyempatkan untuk berpose di tempat ini walaupun matahari sore mulai bersinar dengan hangat  tidak menyurutkan langkah kami untuk melanjutkan perjalanan ini.

Perjalanan terus kami lanjutkan karena jalan Asia Afrika ini tidak terlalu panjang dan di sepanjang jalan ini juga banyak di temukan hal-hal yang menarik bagi kami di mana memang salah satu tempat tongkrongan anak muda.

Banyak juga para cosplayer yang berdiri sambil berharap sedikit rupiah dari kebaikan para pejalan kaki yang melintasi jalan tersebut, pocong, kuyang, wewe gombel, transformer, spiderman, batman, PUBG dan lain sebagainya. Dan para pengunjuang yang banyak meminta berfoto kepada para cosplayer tersebut dengan membayar sedikit uang.

Tak hanya itu para fotografer dadakan juga banyak bermunculan dengan menawarkan jasa foto kepada para pengunjung baik menggunakan kamera mereka sendiri ataupun menggunakan hp para pengunjung itu sendiri, hari ini lumayan ramain dengan suasana dan cuaca cerah yang sangat mendukung walaupun sore ini matahari sedikt terasa terik.

Perjalanan masih terus kami lanjutkan menyusuri aisa afrika sampai akhirnya kami sampai di alun-alun kota Bandung walaupun kecewa karena lokasinya di tutup untuk umum, sama seperti museum asia afrika  yang sudah habis jam bukanya sehingga kami tidak bisa berkunjung di sana.

Terlihar delman yang parkir di jalan samping alun-alun ada juga kegitaan foto menggunakan baju adat yang di sewa sama seperti di Jogja, beberapa jajanan kecilpun sempat kami cicipi sembari berjalan. 

Salah satu tempat kami berfose adalah di salah satu huruf yang bertuliskan alun-alun, sayang kami tidak menggunakan kamera DLSR hanya kamera hp biasa jadi hasil yang di hasilkan juga seadanya.

Di salah satu sisi trowongan Asia Afrika

Perjalanan pun kami lanjutkan kembali setelah melintasi di trowongan asia-afrika yang tertulis kutipan kata-kata dari M.A.W Brouwer yang merupakan seorang piskolog dan budayawan yang sangat mencintai Bandung dan kutipan kata-katanya yang terukir di trowongan JPO asia afrika ini berbunyi "Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum".

Dan satu lagi yaitu dari salah satu penyair dan sastrawan Indonesia Pidi Baiq yang terlenal dengan buku Dilan nya, kata-kata beliau tertulis di salah satu sisi dinding terowongan tersebut yang berbunyi "Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang berserakan di sana".

Ternyata bukan hanya kami saja yang berpose di sana banyak para pengunjung yang bergantian bergaya dan berfose di spot foto ini. Lalu lalang mobil pun bukan menjadi kendala bagi para pengunjung untuk menikmati senja di kawasan asia afrika ini.

Perjalanan kami lanjutkan lagi akhirnya betemu dengan monumen asia afrika yang juga menjadi salah satu tempat yang ikonik untuk berfoto istilah anak sekarang ini adalah instagramable , akhirnya setelah beberapa saat kami berfoto-foto di sini kamipun melanjukan perjalanan lanjut sampai ke alun-alun kota bandung walaupun kami sedikit kecewa karena alun-alunya tidak di buka untuk umum

Monumen Asia Afrika

Kami sempat membeli beberapa makanan kecil untuk di makan sambil menyusuri jalan, anak-anak tanpak senang terutama dengan adek yang selama ini berkutat dengan pelajaran nya di pondok pesantern ini seperti menghiup udara yang berbeda tanpa pelajaran, tanpa hapalan dan tanpa aturan yang ketat.

Cimol
Akhirnya mereka merasakan makanan yang suka mereka beli selama ini langsung dari kotanya Cimol, Cireng dan beberapa makanan lainnya mereka beli sebagai cemilan untuk sore ini tidak lupa es jeruk yang ikut menemani.

Akhirnya kami sampai di sampai di Jalan Alun-alun timur yang terletak tepat di samping alun-alun kota Bandung yang banyak terdapat delman dan penyewaan pakaian khas sunda, akhirnya petualangan pun berlanjut delman menjadi sasaran kami tahun 2011 kami pernah menaiki delman di daerah kayu Ambon Lembang dan sekarang kami akan menaiki dari pusat kota Bandung./