 |
| KM 0 Bandung |
Mobil yang kami tumpangi berjalan tersendat seperti tidak mau maju lagi macetnya lumayan sehingga tarif mobil yang seeharunya hanya 13K di getok menjadi 30K dengan alasan macet, tetapi setelah beberapa saat macet ini tidak kunjung terurai sehingga akupun memutuskan untuk jalan kaki yang kulihat dari google maps tidak terlalu jauh jarak tempuhnya.
 |
| Simpang Braga |
Akhirnya kamipun turun tidak jauh dari tugu KM 0 yang terletak di kantor bina marga provinsi Jawa Barat yang terletak di jalan Asia Afrika Braga Bandung, pada tahun 2016 saat itu di iresmikan Gubernur Jabar Danny Setiawan. Tak hanya tugu, di tempat itu kini dibangun monumen mesin penggilingan (stoomwals ) kuno yang disertai sebuah batu prasasti sejarah. Tugu dan moumen ini didekasikan untuk rakyat priangan yang menjadi korban pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan.
Kami menyempatkan untuk berpose di tempat ini walaupun matahari sore mulai bersinar dengan hangat tidak menyurutkan langkah kami untuk melanjutkan perjalanan ini.
Perjalanan terus kami lanjutkan karena jalan Asia Afrika ini tidak terlalu panjang dan di sepanjang jalan ini juga banyak di temukan hal-hal yang menarik bagi kami di mana memang salah satu tempat tongkrongan anak muda.
Banyak juga para cosplayer yang berdiri sambil berharap sedikit rupiah dari kebaikan para pejalan kaki yang melintasi jalan tersebut, pocong, kuyang, wewe gombel, transformer, spiderman, batman, PUBG dan lain sebagainya. Dan para pengunjuang yang banyak meminta berfoto kepada para cosplayer tersebut dengan membayar sedikit uang.
Tak hanya itu para fotografer dadakan juga banyak bermunculan dengan menawarkan jasa foto kepada para pengunjung baik menggunakan kamera mereka sendiri ataupun menggunakan hp para pengunjung itu sendiri, hari ini lumayan ramain dengan suasana dan cuaca cerah yang sangat mendukung walaupun sore ini matahari sedikt terasa terik.
Perjalanan masih terus kami lanjutkan menyusuri aisa afrika sampai akhirnya kami sampai di alun-alun kota Bandung walaupun kecewa karena lokasinya di tutup untuk umum, sama seperti museum asia afrika yang sudah habis jam bukanya sehingga kami tidak bisa berkunjung di sana.
Terlihar delman yang parkir di jalan samping alun-alun ada juga kegitaan foto menggunakan baju adat yang di sewa sama seperti di Jogja, beberapa jajanan kecilpun sempat kami cicipi sembari berjalan.
Salah satu tempat kami berfose adalah di salah satu huruf yang bertuliskan alun-alun, sayang kami tidak menggunakan kamera DLSR hanya kamera hp biasa jadi hasil yang di hasilkan juga seadanya.
 |
| Di salah satu sisi trowongan Asia Afrika |
Perjalanan pun kami lanjutkan kembali setelah melintasi di trowongan asia-afrika yang tertulis kutipan kata-kata dari M.A.W Brouwer yang merupakan seorang piskolog dan budayawan yang sangat mencintai Bandung dan kutipan kata-katanya yang terukir di trowongan JPO asia afrika ini berbunyi "Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum".
Dan satu lagi yaitu dari salah satu penyair dan sastrawan Indonesia Pidi Baiq yang terlenal dengan buku Dilan nya, kata-kata beliau tertulis di salah satu sisi dinding terowongan tersebut yang berbunyi "Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang berserakan di sana".
Ternyata bukan hanya kami saja yang berpose di sana banyak para pengunjung yang bergantian bergaya dan berfose di spot foto ini. Lalu lalang mobil pun bukan menjadi kendala bagi para pengunjung untuk menikmati senja di kawasan asia afrika ini.
Perjalanan kami lanjutkan lagi akhirnya betemu dengan monumen asia afrika yang juga menjadi salah satu tempat yang ikonik untuk berfoto istilah anak sekarang ini adalah instagramable , akhirnya setelah beberapa saat kami berfoto-foto di sini kamipun melanjukan perjalanan lanjut sampai ke alun-alun kota bandung walaupun kami sedikit kecewa karena alun-alunya tidak di buka untuk umum
 |
| Monumen Asia Afrika |
Kami sempat membeli beberapa makanan kecil untuk di makan sambil menyusuri jalan, anak-anak tanpak senang terutama dengan adek yang selama ini berkutat dengan pelajaran nya di pondok pesantern ini seperti menghiup udara yang berbeda tanpa pelajaran, tanpa hapalan dan tanpa aturan yang ketat.
 |
| Cimol |
Akhirnya mereka merasakan makanan yang suka mereka beli selama ini langsung dari kotanya Cimol, Cireng dan beberapa makanan lainnya mereka beli sebagai cemilan untuk sore ini tidak lupa es jeruk yang ikut menemani.
Akhirnya kami sampai di sampai di Jalan Alun-alun timur yang terletak tepat di samping alun-alun kota Bandung yang banyak terdapat delman dan penyewaan pakaian khas sunda, akhirnya petualangan pun berlanjut delman menjadi sasaran kami tahun 2011 kami pernah menaiki delman di daerah kayu Ambon Lembang dan sekarang kami akan menaiki dari pusat kota Bandung./