Kereta api bergerak perlahan menyusuri rel besi yang sudah ada sejak tahun 1911 dengan membawa rangkaian gerbong dengan tujuan tanjung karang, anak-anak yang pada awalnya duduk manis dengan berbekal tablet dan hp yang di hiasi dengan game.
Hari sebelumnya saya sempat menonton film "Kereta Api Terakhir" film lawas tahun 1981, yang mengisahkan tentang Letnan Firman yang mendapat tugas untuk memindahkan kereta api yang terakhir ke Yogyakarta bersama pasukan Siliwangi setelah di langgarnya perjanjian linggar jati. Di bumbui dengan intrik percintaan antara Letnan Firman dan gadis kembar dengan setting perang kemerdekaan tahun 1946. Begitu juga peran Sersan Tobing dengan suaranya yang merdu yang sempat di puji oleh Jenderal. Gatot Subroto.
Yang menarik ternyata banyak pengungsi yang ikut bersama di dalam kereta ini, bahkan sampai ada yang melahirkan, dan banyak juga para pengungsi yang gugur setelah si cocor merah dan menembaki kereta tersebut, perjalanan kerta ini juga sempat terhambat saat jalur kereta yang di bom bardir oleh si cocor merah sebelum mencapai terowongan ijo.
Tetapi dengan sigap para pahlawan kereta api dibawah komando pak Willy tidak ingin kereta api berhenti berjalan, dengan sigap mereka mereka mengganti bantalan dan rel untuk memastikan kereta api agar tetap bisa berjalan.
Akupun hanya terdiam sambil memandang ke arah anak-anak yang sedang bermain, hasil perjuangan para pejuang kemerdekaaan dan pahlawan kereta api yang membuat kereta api sampai saat ini masih bisa berjalan di atas rel, anak-anak yang bermain meloncat di kursi bahkan menaiki sandaran menjadi pemandangan yang membuatku terdiam.
Kalau dulu seandainya para pahlawan kereta api bersama para pejuang kemerdekaan tidak ikut menjaga dan memelihara dan mempertahankan jalur kereta ini, karena saat perang kemerdekaan jalur kereta ini sempat di blokade, di bom bahkan ada jembatan penghubung kereta api yang di rusak.
Terima kasih pada para pahlawan dan pejuang, karena saat ini kami bisa menikmati layanan kereta api yang dari hari ke hari semakin baik, anak-anak bisa bermain seperti di rumah sendiri tanpa ada takut, ada anak yang bejalan mondar mandir, ada yang bergelantungan. Kamipun bisa duduk dengan tenang menikmati perjalanan tanpa rasa khawatir.
Semoga kereta api selalu membenahi pelayanan agar maksimal, di usia ke 74 PT. KAI justru menghadapi tantangan luar biasa dalam memwujudkan pelayanan kereta api yang luar biasa.
Sudah pukul 4:00 pagi, selanjutnya mandi dan membangunkan bunda, gelap masih menyelimuti kota ini, dingin pun masih mencoba merasuk kedalam tulang, Ayuk & kakak yang tidur di kamar sebelahpun sudah saya bangunkan, subuh di kota ini pukul 4:30 menit jadi masih ada waktu untuk bersiap-siap ke stasiun.
Sarapanpun sudah di siapkan bunda, yaitu mie kemasan yang di beli tadi malam di mini market samping hotel ini, adek yang masih teguling di atas tempat tidur walau sudah mandi tapi masih banyak menguap karena masih ngantuk, adek kami haruskan untuk menghabiskan sarapan paginya biar kejadian seperti di candi Borobudur kemarin tidak terulang kembali.
Keberangkatan kereta pagi ini pada pukul 5:20 yang sudah di beli via KAI Accses, termasuk ticket ayuk juga sudah ada, karena salah satu kendala dalam pemesanan ticket di KAI Access adalah di satu handphone/aplikasi hanya bisa pesan untuk 4 tikect KA sehingga jika lebih dari 4 harus menggunakan aplikasi dari hp lainnya.
kalijaga 409 unuk tujuan ke Semarang poncol ini merupakan kereta lokal yang berangkat hanya satu kali setiap hari via stasiun Solo Balapan, jadi kalau sampai ketinggalan bisa kacau semuanya, karena ticket kereta ini di bandrol hanya 10 ribu, sedangkan bus dari terminal tirtonadi ke Semarang bisa sampai 30 ribuan perticket untuk kelas ekonomi belum lagi jadwal yang sudah di susun akan menjadi berantakan.
Setelah bersiap-siap pukul menunjukan 5 tepat, kamipun bergegas untuk check out kamar, sudah di periksa ulang oleh ayuk agar tidak ada barang yang tertinggal, akhirnya setelah meninggalkan hotel kamipun setengah berlari menuju stasiun karena bunyi klakson kereta sudah terdengar, bunda berlari sambil menuntun adek, ayuk lari bersama dengan kakak, sedangkan ayah berlari sambil membawa ransel, udah mirip kayak tentara mau perang.
Dengan ngos-ngosan nggak sampai 5 menit , kamipun sampai di depan pintu check in ticket, petugaspun bingung lihat kami ngos-ngosan seperti itu, sambil melakukan scan dan mencocokan dengan KTP kami, petugas tersebut dengan bingung hanya memperhatikan kami yang berlalu dari hadapannya.
"Kereta kalijaga 409 nya sudah ada atau blm pak ? " tanyaku kepada petugas yang berdiri tidak jauh dari tempat pemerikasaan ticket.
"Sebentar lagi masuk pak, ini lagi langsir " kata petugasnya
Akhirnya kami masuk langsung ke ruang keberangkatan kereta tanpak kereta kuning "spongebob" parameks yang sedang nangkring di stasiun solo balapan.
Stasiun balapan tempo dulu Foto : sharingdisini.com
Stasiun Solo Balapan termasuk salah satu stasiun besar tertua di Indonesia (setelah Samarang NIS). Pembangunan stasiun ini dilakukan oleh jaringan kereta api masa kolonial NIS pada abad ke-19, yaitu pada masa pemerintahan Mangkunegara IV dan berada di wilayah Kadipaten Praja Mangkunagaran. Stasiun besar di Surakarta untuk wilayah Kasunanan Surakarta dan Staatsspoorwegen adalah Stasiun Solo Jebres. Lokasi yang digunakan adalah tanah lapang tempat pacuan kuda milik Mangkunegaran. Sebagai tukarnya, pihak Mangkunegaran mendapat lahan di Manahan dari Kasunanan untuk dibangun sarana pacuan kuda dan aktivitas keolahragaan lainnya. Peletakan batu pertama berlangsung pada tahun 1864, dimeriahkan dengan upacara yang dihadiri Mangkunegara IV dan mengundang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron van de Beele. Pembangunan selesai dan diresmikan pada tanggal 21 Mei 1873.
Pada tahun 1927, dibangun satu bangunan di selatan stasiun dengan arsitektur yang dipengaruhi oleh budaya Jawa dengan atap tajuk tiga. Hal ini juga sejalan dengan pembangunan jalur ganda Staatsspoorwegen yang sejajar dengan jalur kereta api NIS Solo–Yogyakarta. Konstruksi bangunan stasiun sisi selatan dirancang oleh Herman Thomas Karsten, seorang arsitek kenamaan beraliran Indisch. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api kedua di Indonesia yang menggunakan sistem persinyalan elektrik setelah Stasiun Bandung, tepatnya dinyalakan tahun 1972. Sinyal tersebut diproduksi oleh Siemens dan diberi seri DrS60. Namun, sehubungan dengan proyek penyelesaian jalur ganda lintas selatan Jawa, rencananya sistem persinyalan elektrik eksisting tersebut secara bertahap akan segera digantikan dengan sinyal elektrik terbaru produksi PT Len Industri.
Dengan waktu tempuh +\- 2,5 Jam, kamipun berada di rangkaian gerbong ke 7 yang akan mengantar kami sampai ke stasiun Semarang Tawang, tepat pukul 5:20 sembonyan 35 yang berupa peluit panjang berbunyi kereta api mulai bergerak pelan dan makin lama makin bertambah kecepatannya, untuk KA. Kalijaga 409 ini ticket lokalnya memiliki no tempat duduk berbeda dengan KA Parameks atau lokal Merak yang kita bisa duduk dimanapun, karena ticket ayuk saat pemesannya agak terlambat maka mendapat nomor kursi di gerbong 1 dan kami yang lainya ada di gerbong 7, tapi karena kereta cukup sepi pada hari ini akhirnya ayuk bisa duduk di gerbong yang sama.
Suasana di dalam gerbong Kalijaga 409 yang masih sepi.
Kertapun terus melaju melewati beberapa stasiun, adek dak kakak menghabiskan waktunya bermain dengan tabletnya secara bergantian, ayuk dan bunda tertidur seperti penumpang lain, saya sendiri bercakap-cakap dengan ibu dan anaknya yang kebetulan juga mau kembali ke kota Semarang setelah ada acara keluarga di Solo.
Setelah melintasi hamparan sawah dan melewati beberapa stasiun kecil akhirnya hampir pukul 8 kereta memasuki Stasiun Semarang Tawang, dan jurnal barupun di mulai kembali.
Alhamdulilah setelah pukul 8 lewat kereta api Parameks 252 mulai memasuki stasiun purwosari itu yang aku ketahui dari pengeras suara stasiun. Kakak dan adek yang turun langsung lari-lari di pintu keluar stasiun tersebut, setelah formasi lengkap kamipun mengabadikan di depan stasiun tertua ke dua di kota Surakarta tersebut.
Stasiun purwosari saat masih menjadi stasiun pulau Foto : Wikipedia
Stasiun Purwosari merupakan stasiun kereta api tertua kedua di Kota Surakarta. Dalam peta jalur Samarang–Vorstenlanden terbitan 1869, koleksi Universiteit Leiden Belanda, stasiun ini sama sekali tidak disebutkan. Yang disebutkan dalam rencana pembangunan jalur kereta api oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) adalah Stasiun Solo (Stasiun Solo Balapan) dan Stasiun Solo-Rivier yang terletak di lembah Bengawan Solo. Namun, pada peta yang dibuat tahun 1878, nama stasiun ini mulai disebut (tetapi dengan nama yang salah, yaitu Poerwodadie). Diperkirakan penambahan stasiun ini dilakukan bersama dengan finishing jalur kereta api tersebut dan juga dibuka bersama dengan pembukaan resmi jalur pada tanggal 21 Mei 1873. Sejak tahun 1907, stasiun ini menggunakan arsitektur yang mirip dengan Stasiun Kedungjati dan Willem I Ambarawa. Stasiun yang semula berperon sisi kemudian menjadi stasiun pulau. Ukuran bangunan stasiun ini lebih kecil daripada Kedungjati maupun Purwosari karena bentang atapnya hanya 13 meter, sementara Kedungjati 14,65 meter dan Ambarawa 21,75 meter. Bangunan ini terdiri atas kanopi yang memayungi bangunan utama serta jalur yang mengapitnya.
Ruang Tunggu Keberangkatan Stasiun Purwosari
Kamipun duduk di ruang masuk ke ruang tunggu pemberangkatan cukup lama untuk menunggu keberangkatan batara kresna pada pukul 10 nanti, sepatu, kaus kaki dan ikat pinggang pun di keluarkan bunda, segera ku pakai dan merapikan diri. Adek dan kakak sibuk bermain tabletnya, detik terasa berjalan lambat, ayuk sibuk dengan hp nya tinggal bunda dan aku yang saling bertatapan sambil menunggu batara kresna datang.
Rail Bus Batara Kresna Foto : Wikipedia
Batara Kersna yang kami tunggu ini bukanlah batara kresna yang saya tuliskan diatas, yang merupakan salah satu toko pewayangan favorit saya, tetapi batara kresna ini berbentuk kereta api, Batara Kresna adalah layanan bus rel (rail bus) milik PT Kereta Api Indonesia yang beroperasi di rute Solo Purwosari-Wonogiri dan merupakan proyek kerja sama Pemerintah Kota Surakarta dengan PT KAI, pada saat Kota Surakarta dipimpin oleh Joko Widodo. Bus rel ini adalah bus rel kedua di Indonesia setelah bus rel Kertalaya di Sumatra Selatan.
Pada pukul 9:30 panggilan dari pengeras suara untuk penumpang kereta api batara kresna dapat memasukki ruang tunggu keberangkatan, kami bergerak untuk memasuki ruang keberangkatan anak-anak yang dari tadi sibuk bermain tablet dan hp menghentikan sesaat kesibukan mereka.
Ticket Batara Kresna
Ticket yang saya beli pun di scan petugas dan mempersilahkan masuk dan saat masuk di ruang keberangkatan saya tidak melihat kereta batara kresna dengan warna khas merah putihnya ini, mungkin kereta ini belum datang kataku dalam hati.
Tujuan kami naik Batara Kresna hanya ke stasiun solo kota (Sangkrah) sekitar 30 menit dari stasiun purwosari, tetapi banyak artikel menarik mengenai sensasi menaiki batara kresna ini terutama saat melintas di kawasan jalan Slamet Riyadi, dimana kereta tersebut bisa berdamipingan dengan mobil ,motor atau pejalan kaki.
Di dalam gerbong batara kresna
Setelah kutanya petugas ternyata batara kresna sudah ada di spur 6 yang terhalang oleh salah satu kereta yang masih nangkring di spur 5, dan akhirnya kami pun di persilakan menaiki batara kresna ini oleh petugas, tepat pukul 10:00 kereta bergerak perlahan menuju ke stasiun pertama yaitu ke stasiun solo kota yang sekaligus menjadi termpat pemberhentian kami.
Pada saat batara kresna ini mulai memasuki jalan Selamet Riyadi, ada kegembiraan tersendiri, kebetulan saat ini hari Minggu sehingga lagi di berlakukan car free day di jalan ini, kereta berjalan pelan di sisi kanan jalan banyak para pedagang yang mulai membereskan dagangannya, bangunan-bangunan eksotik yang terletak di jalan Selamet Riyadi ini juga menjadi nilai tambah saat menaiki batara kresna ini.
Pintu sambungan antara gerbong.
Kereta ini berjalan pelan sekali, mungkin lebih cepat orang yang mengayuh sepedah ketimbang kereta ini, tapi karena keunikan ini lah banyak kesan yang melekat dari batara kresna ini. Saya menemukan keunikan lain, saat di persimpangan jalan tanpa palang kereta api yang kami lewati. Kendaraan seperti tanpa komando berjajar rapi menunggu kereta yang sedang melintas meski mereka melewati jalan raya yang tak berpalang.
Jalan Slamet Riyadi yang juga menjadi pembatas wilayah Kasunanan Surakarta dengan Kadipaten Mangkunegaran pun selesai kami lewati. Kini, kami menuju daerah Benteng yang akan bermuara ke Stasiun Solo Kota untuk menaik turunkan penumpang. Tepat pukul 10:30 kami pun sampai di stasiun solo kota sebagai pemberhentian pertama yang mengakhiri kebersamaan kami bersama KA.Batara Kresna.
Alarm hp ku hidupkan pada pukul 4 pagi, karena rencana hari ini mau ke pintu selatan stasiun tugu untuk membeli ticket kereta api parameks tujuan stasiun purwosari, Solo, karena kemarin sudah ke stasiun ini tetapi kata petugas bilang ticketnya bisa di beli besok pagi.
Setelah sholat subuh pukul 04:50 akupun meninggalkan kamar, pintu kamar ku kunci ku tinggalkan dengan adek yang masih tertidur di atas ranjang , bergegas aku menuju ke arah stasiun tanpa menghiraukan sapaan penjual gudeg yang ada di pertigaan penginapanku.
"Mas, untuk parameks 252, tiketnya masih ?" tanyaku kepada petugas ticket
"Maaf pak sudah habis, orang pada antri dari pukul 3 pagi tadi" jawab petugas ticket
Jeger..... kepala seperti di timpa kelapa mendengar penjelasan seperti itu,
"Tikect ke solo yang masih pukul berapa mas ?"tanyaku kembali
"Ada parameks 250 pukul 5.30 pagi ini, tinggal 20 menit lagi, Mau ?" jawab petugas loket tersebut
"Aku beli satu mas" kataku sambil memberikan uang sejumlah 8 ribu Rupiah ke petugasnya.
Aku langsung lari kembali ke penginapa, adek langsung aku bangunkan dan bunda pun ku telpon.
" Bunda, ticket untuk jam 7:12 habis, jadi ayah berangkat duluan ke Solo pukul 5:30 ini, nanti bunda dan anak-anak nyusul pakek parameks 252" telpon ku cepat
"Untuk ransel biar ayah yang bawa"kataku lagi
"Suruh ayuk saja ketemuan di simpang jalan penginapan ini, sekalian jemput adek"kataku
Jarak penginapan kami tidak terlalu jauh hanya sekitar 100 meter tetapi karena di kejar waktu ini akupun, terasa jarak ini sangat jauh, masih menggunakan sendal jepit dan celana tanpa ikat pinggang akhirnya ayuk datang membawa ransel yang langsung ku ambil, dan hp ku kutinggalkan ke ayuk.
"Itu tiket ayuk, bunda, kakak dan adek ada di aplikasi KAI Accses tinggal di buka saja dan di scan" kataku ke ayuk.
Adek yang masih bingung pun ikut ayuk, dengan setengah berlari akupun menuju stasiun tugu mengejar parameks 250 yang sudah mulai terdengar klaksonya di kejauhan, akhirnya setelah sampai di stasiun aku langsung menuju pintu masuk pemeriksaan ticket dan selang semenit kemudiat kereta pun datang kamipun langsung naik.
Tepat pukul 5:30 si parameks mulai meyelusuri rel besinya, aku duduk bersama anak-anak yang masih ABG yang katanya pada mau liburan ke Solo. ku perhatikan diriku tanpa ganti baju, celana tanpa ikat pinggang, menggunakan sendal jepit terasa kayak gembel keusir. Doa ku semoga bunda membawa sepatuku dan kaus kaki ku serta ikat pinggangku agar celana ini tidak turun terus.
Setelah melintasi beberapa stasiun pada pukul 6.30 kereta api mulai merapat ke stasiun purwosari, akupun turun dengan satu tujuan yaitu ingin berpose dengan kereta api legendaris Klutuk Jaladara, tetapi kereta tersebut kayaknya harus di batalkan karena kereta tersebut di tutupi dengan sarung penutup mungkin biar si hitam ini catnya. tidak cepat rusak
Kereta Api Legendaris Klutuk Jaladara Foto : https://pesona.travel
Kereta api uap Jaladara adalah kereta tua buatan Jerman pada tahun 1896 yang oleh Pemerintah Hindia Belanda digunakan sebagai alat transportasi jarak pendek. Nama kereta ini diambil dari nama kereta pusaka yang dihadiahkan para dewa kepada Prabu Kresna untuk membasmi kejahatan. Kereta uap ini melintasi jalur legendaris yang membelah Surakarta, yakni dari Stasiun Purworasi menuju Stasiun Sangkrah yang berjarak sekitar 5 km menggunakan lokomotifnya bernomor C1218, tergolong lokomotif kecil yang digunakan untuk rute datar.
Kecepatannya pun hanya 50 km/jam. Jaladara memiliki 2 gerbong yang dibuat dari kayu jati pilihan dengan kapasitas penumpang 70 orang. Kedua gerbong kayu jati asli tersebut dibuat pada 1920 dengan kode CR 16 dan CR 144. Biaya operasional kereta ini terhitung mahal, karena menggunakan bahan bakar kayu jati! Selain itu lokomotif ini juga membutuhkan air dalam jumlah banyak untuk menghasilkan uap guna menggerakkan lokomotifnya. Setidaknya butuh 4 meter kubik air dan 5 meter kubik kayu untuk jarak tempuh dari Stasiun Purwosari sampai Stasiun Sangkrah yang jauhnya berkisar 4 km saja. Pengalaman istimewa memang mahal harganya.
Dari pukul 6:30 sampai pukul 8 lewat harus menunggu di stasiun purwosari sampai bunda dan anak-anak tiba, kopi pun sempat aku beli di mini market depan stasiun, beberapa kali sempat di tolak untuk beli ticket kereta api Batara Kresna karena belum waktunya kata embak loketnya.
Nasib...nasib... akhirnya kuputuskan untuk duduk di ruang tunggu pintu masuk stasiun purwosari, pada pukul 7:45 hati ini galau juga, bisa atau tidak bunda naik kereta ini kuputuskan untuk meminjam telpon pada orang yang ada di sebelah ku.
"Mas, bisa minta bantu, bisa pinjam telponya nggak untuk telpon isteri di kereta yang baru berangkat ini, karena hp saya di bawa istri yang berisi ticket kereta api ke purwosari ini ?"harapku kepada orang yang duduk di sampingku.
"Silakan mas"katanya
Akhirnya kuhubungi hp bunda ternyata tidak bisa di teruskan dan kutelpon lagi telponku baru di angkat dan bunda berkata kalau dia sudah di atas kereta, hati ini menjadi sedikit lega.
"Terima kasih banyak mas"Kataku
"Iya sama-sama"kata orang itu
Yang ternyata merupakan penumpang salah satu kereta dengan yang akan berangkat pada puku 8, untung saja ada orang itu yang Allah kirim agar bisa berkomunikasi dengan bunda. Thanks God
Terdengar panggilan melalui pengeras suara stasiun bahwa untuk penumpang kereta api Gaya Baru Malam selatan 174 agar dapat memasuki ruang keberangkatan, kamipun segera bergegas sambil mempersiapkan ticket yang sudah di print dan KTP, jam di ruang keberangkatan masih menunjukan pukul 09:30.
"Masih 45 menit lagi,..." kataku dalam hati
"Yah... masih lama kah keretanya datang ?" tanya adek
"Sebentar lagi" jawabku singkat
Para penumpang yang duduk di kursi keberangkatan di panggil melalui pengeras suara untuk masuk kedalam kereta, kamipun mulai duduk di kursi ruang keberangkatan yang beberapa menit lalu hanya bisa berdiri.
Pose adek sesaat sebelum berangkat dari stasiun pasar senen
"Sudah makan dulu...." kata bunda sambil mengeluarkan makanan yang ayuk beli di mini market tadi, ada roti, ada es krim dan permen.
Merekapun mengambil satu-satu makanan yang rencananya mau di makan di atas kereta tetapi sembari menunggu kereta datang, mereka menjadikan makanan tadi sebagai menu pembuka.
Tepat pukul 10:00 kereta api pun datang, melalui pengeras suara stasiun penumpangpun di persilahkan untuk naik, sambil membawa koper dan ransel kami langsung menaiki kereta yang kebetulan gerbongnya tidak terlalu jauh dari tempat kami menunggu. Kami memang mengambil kursi untuk 5 orang yang terletak dekat dengan pintu dan toilet, anak-anak bisa bertiga sedangkan bunda dan ayah bisa di kursi yang berdua.
Ayuk, kakak & Adek di dalam kereta Gaya Baru Malam Selatan 174
Tepat pada pukul 10:15 kereta mulai berangkat setelah sesaat semboyan 41 berbunyi panjang yang di susul dengan klakson kereta yang meraung keras, kereta melalu perlahan di rel besi yang akhirnya bertambah cepat, dengan bunyi kereta yang khas, si ular besi ini meliuk-liuk tanpa rintangan sampai memasuki daerah Jawa barat pun kecepatannya pun tidak berkurang.
Ayuk, kakak & adek masih tetap dengan kesibukan nya masing-masing, bermain hp ataupun tabletnya, dengan adanya colokan charger membuat mereka tidak takut untuk kehabisan battrey.
"Yah... kalau ada popmie, beli ya ?"celetuk adek
"Iya.. yah, beli" sahut kakak juga,
"Perasaan baru juga makanin roti"gumaku dalam hati sambil melirik bunda yang hanya tersenyum
"iya.. nanti kalu ada yang lewat kita beli 3" jawab ku
Sekitar 15 menit kemudian pelayanan dari restorasi datang menawarkan bantal, kami pun menyewa 2 buah dengan harga 7 ribu/ buah.
"Om.... kalau ada popmie, adek mau beli" kata adek azam ke om pelayanan restorasi, yang di sambut senyum oleh om tersebut.
Tidak lama berselang, datanglah petugas restorasi yang membawa makanan dan minuman, dan akhirnya 3 popmie pun di beli dan 2 cangkir kopi , padahal bunda sudah menyiapkan nasi putih yang di beli dari salah satu rumah makan padang saat di stasiun pasar senen tadi, dengan bungkusan lauk pauk yang terpisah.
Saat pertama kali tiba di stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Keratapun terus melaju dengan gagah di atas rel besi, di beberapa stasiun si ular besi ini pun berhenti untuk sekedar menaikan turun penumpang. Beberapa kali kami turun sejenak dari kereta sekedar untuk menghilangkan penat.
Pada pukul 15:00, tragedi popmie terulang kembali
"Yah... laper.. beli popmie lagi yah " kata adek pelan
"Popmie lagi......" kataku sambil melotot
"Iya.... yah lapar" kata adek lagi
"Adek Itu kan ada kue, ada snack, ada kacang" kata bunda
"Nggak mau.... mau popmie" jawab adek, Kulihat ayuk dan kakak senyum-senyum bakal ikut ketiban popmie lagi.
Saat petugas restorasi nya datang adek dengan semangat,
"Om ... popmie 3"serunya
"Maaf ... dik popmienya lagi belum di buat"kata petugasnya
"belum di buat dek..." kataku sambil senyum-senyum lihat muka adek yang manyun.
Kurang lebih pukul 16:00 petugas restorasi tersebut membawa popmie
"Itu yah ada popmienya...." kata adek dengan penuh kemenangan
"Dari mana pula petugas ini dapat popmie"rutuk ku dalam hati
Sebentar saja popmie itu sudah habis di makan oleh "three musketeers", raut lelah sudah membias di muka ke tiganya yang akhirnya pada jatuh tertidur, adek tidur di pangkuan bunda, ayuk bersandar dengan bantal di arah jendela sedangkan kakak tidur di pangkuan ayuk dan kakinya di pangkuan ku.
Kereta terus melaju membelah malam yang sudah mulai menyelimuti bumi, tinggal beberapa stasiun lagi kereta api ini akan sampai di stasiun lempuyangan Yogyakarta, kereta api terus merayap yang saat ini sudah mencapai stasiun Wates, berarti kurang lebih 15 menit lagi kereta akan sampai.
Koper, ransel dan barang-barang lainnya ku turunkan dari rak barang di dalam gerbong kereta. Ayuk, kakak dan Adek yang sudah dari tadi bangun sepertinya sudah mulai nggak sabar untuk turun, karena waktu 9 jam 45 menit bukannya waktu yang sebentar di dalam sebuah perjalanan.
Dan akhirnya tepat pukul 19:15 kereta api merapat di stasiun lempuyangan Yogyakarta. Kami datang wahai Yogyakarta.
Ayuk, Kakak & Adek di pelataran parkir stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Stasiun Lempuyangan yang saat itu merupakan stasiun sebagai titik akhir jalur kereta api rute Semarang–Solo–Yogyakarta, diresmikan pada tanggal 2 Maret 1872 oleh perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).
Dengan maraknya industri gula pada saat itu di pulau jawa pada dekade 1870-an yang di kelola oleh pihak belanda, sehingga menuntut pemerintah kolonial berfikir untuk menggunakan mode angkutan masal yang murah,berkapasitas besar dan aman. Sehingga inilah yang mendasari pembangunan stasiun lempuyangan ini,
Stasiun tertua dan pertama di daerah Yogyakarta ini, menjadi salah satu angkutan rakyat karena dari awal stasiun ini melayani untuk kereta api ekonomi, walaupun saat ini kereta api lokal dan angkutan barangpun ikut singgaj di sini.
Bunda & "Three Musketeers" lagi berpose di pintu keberangkatan stasiun
Selasa, 13 Agustsus 2019 (Hari ke -1)
"Cepat yah.... Cepat bunda nanti terlambat" Teriak adek ketika wawak depan rumah sudah mengeluarkan mobil untuk memanaskan mesin, karena pada malam sebelumnya memang kami yang meminta wawak (tetangga di depan rumah), untuk mengantar kami ke stasiun Kertapati.
Semalam bunda tidur hampir pukul 2 pagi karena masih mempersiapkan barang-barang yang akan di bawa di acara keluarga di Yogyakarta, dari packing pakaian, perlengkapan mandi, obat-obatan dan lainnya, apalagi "three Musketeers", dalam formasi lengkap " Ayuk+kakak+adek".
Pukul 6:30 kami berpamitan kepada tetangga sekalian titip-titip termasuk "belly- si anggora" Yang lagi hamil tua, yang mungkin tidak akan lama lagi akan melahirkan ( semoga saja dia tidak melahirkan saat kami ada di Jawa).
Jalan yang cukup lengang karena sebagian sekolah masih diliburkan karena lebaran Idul Adha, tidak perlu memakan waktu lama akhirnya kami sampai ke stasiun Kertapati, Untuk perjalanan kali ini kami menggunakan angkutan publik kereta api Ekonomi Rajabasa S7 tujuan Palembang- Tanjung Karang, dengan waktu tempuh +/- 9 jam 45 menit, yang akan berangkat pada pukul 8:30 dan estimasi kedatangan pada pukul 18.15 sore harinya.
Suasana di Stasiun Kertapati
Untuk keberangkatan menggunakan kereta api Rajabasa ini sudah sangat familiar bagi keluarga kami karena sudah lumayan sering digunakan jika akan ke Lampung atau Jawa, di karenakan harga ticket yang ekonomis, layanan kereta lebih baik, ketepatan waktu, keamanan yang baik , safety yang memadai dan beberapa nilai plus lainnya pada si ular besi. . Untuk keberangkatan kali ini kami memesan 6 tempat duduk selain biar lebih nyaman untuk adek dan kakak yang tidak bisa diam.
Setelah melakukan boarding, kamipun memasuki ruang tunggu ternyata banyak juga perubahan pada ruang tunggu di stasiun Kertapati ini, ada khusus "spot selfie" Bagi penumpang seperti foto presiden Jokowi, berfoto di lokomotif kereta ataupun di maskot Asian Games 2018, ada juga ruang permainan anak-anak bagi penumpang yang memiliki anak kecil.
Berdasarkan sejarah yang saya baca bahwa stasiun Kertapati ini ada sejak di bukanya jalur kereta api Prabumulih-Kertapati oleh Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS), divisi dari Staatsspoorwegen (SS) yang diresmikan pada tanggal 1 November 1915, di mana sebelumnya daerah Lampung sudah di bangun telebih dahulu jalur kereta sejak tahun 1911 sampai dengan peresmian di tahun 1914, dan jalur ini akhirnya dapat tersembung penuh dengan rel jalur Palembang pada tanggal 22 Februari 1927 dengan di tandai peresmian segmen ke arah Balambangan Umpuh oleh pejabat taatsspoorwegen (SS). Dengan membangun Lebar sepur 1.067 mm yang di gunakan untuk jalur Palembang-Lampung ini, ZSS berhasil membangun jalur kereta api ini sejauh 529 kilometer. Karena kesuksesan inilah menginspirasi perusahaan ini untuk menyusun rencana agar seluruh wilayah Sumatra dapat terhubung dengan rel kereta api, tetapi hal ini mengalami kegagalan karena adanya depresi besar ekonomi yang terjadi di akhir dekade 1920-an.
Kakak & Kopernya
Tepat pukul 08:30 kereta Rajabasa di spur 10 ini bergerak meninggalkan kota ini, semboyan 41 sudah di tiup oleh PPKA yang di susul oleh semboyan 35 oleh si Rajabasa S7 ini, terkadang membayangkan kalau saja ada kereta api yang terhubung langsung ke seluruh tempat di Indonesia baik ke Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan tempat-tempat lainnya yang ada di Indonesia mungkin kami salah satu orang yang pertama kali mencoba sarana transportasi tersebut, yang tidak perlu lagi susah-sudah untuk berpindah ke angkutan lainnya, tinggal duduk manis dan sampai ke tujuan.
Ayah, Kakak & Bunda
Dan untuk keberangkatan esok hari dari Jakarta (Stasiun Senen) menuju ke Yogyakarta ( Stasiun Lempuyangan) kami juga akan menggunakan kereta api Gaya Baru Malam Selatan 174, yang berangkat pada 10.15 melalui Stasiun Pasar Senen.
Walaupun saat ini kami masih terkendala di angkutan damri karena permasalah pada aplikasi damri apss menyebabkan kami tidak bisa melakukan booking online, mudah-mudahan masih ada ticket tersisa untuk kami di loket damri Tanjung karang nanti.
Penjual asongan berjualan di dalam gerbong kereta Foto : Kaskus
Mudik menggunakan kereta api pada era tahun 1990 s.d tahun 2010 bisa di bilang merupakan masa yang mengharukan, di mana mode transpotasi kereta api ini benar-benar manjadi angkutan masal yang asal-asalan.
Saat itu mudik bagi kami adalah kembali ke daerah orang tua kami di kawasan tebing tinggi, kabupaten Lahat saat ini sudah menjadi kabupaten 4 lawang yang di resmikan sejak tanggal 20 April 2007.
Contoh ticket Edmonson Kereta Api Foto : Google
Tradisi mudik sudah ada sebelum zaman Majapahit. Zaman dulu, mudik biasanya dilakukan menjelang musim panen. Kata Mudik, konon berakar dari bahasa Jawa ngoko (Jawa Kasar), mulih dilik yang berarti pulang sebentar. Pada masa sebelum kedatangan Bangsa Eropa, masih sedikit orang-orang Indonesia yang merantau. Hanya beberapa suku seperti Bugis, Makassar atau Padang yang dikenal sebagai perantau pada era sebelum abad XIX. Tak semua perantau akan mudik ke kampung halamannya jelang lebaran. Apalagi di masa prakolonial.
Saat dulu kami masih kecil, saat menjelang lebaran tradisi mudik juga berlaku di keluarga kami, koper besar yang di siapkan untuk membawa pakaian kami sekeluarga selama mudik di tebing tinggi, Lahat yang sekarang sudah berubah menjadi kabupaten 4 lawang.
Salah satu moda transportasi yang bisa di pakai ke sana selain mobil adalah menggunakan kereta api, apalagi ibu kami termasuk yang tidak bisa naik mobil untuk jarak jauh karena "mabuk perjalanan" yang selalu dialaminya.
Kalau untuk kereta malam pemandangan seperti ini tidak asing lagi foto : kaskus
Berangkat dari rumah saat menjelang magrib, dengan 2 kali berpindah angkot. Setiba di stasiun kereta api koper besar tersebut menjadi "mobil-mobilan" bagi saya dan adik lelaki saya" karena ayah membiarkan kami duduk di atasnya dan beliau menarik koper tersebut. Sate di depan stasiun kertapati yang menggunggah selera terkadang ikut mampir mengisi sela kosong perut kami sebelum kereta berangkat, stasiun yang masih di bilang semerawut di penuhi pedagang, calo, bahkan tukang copet.
Saat itu ayah kami selalu menggunakan kereta api pada malam hari, dengan 4 ticket "edmonson" di saku ayah, kamipun duduk berhadapan ibu dan ayah duduk di satu dan bangku kami ber 3 di bangku hadapannya, penumpang mulai sesak memenuhi gerbong kereta. Bukan merupakan pemandangan yang asing jika kursi di dalam gerbong di claim oleh 2 sampai 3 orang yang sama-sama memiliki ticket edmonson sehingga menimbulkan keributan, karena pengaturan tempat duduk yang masih manual.
"Bongkol... Telok Asin (Telor Asin)...Bongkol... Telok Asin (Telor Asin)" dari ujung rangkaian suaranya mulai terdengar, ini biasanya yang menjadi rengekan kami untuk minta di belikan bongkol dan telur asin. Tak lama berselang penjual kacang rebus pun melintas, di susul lagi dengan tukang koran dan beberapa penjual makanan lainnya, terdengar juga ribut-ribut di sambungan kereta api ternyata ada penumpang yang membawa kambing dan keranjang sayuran yang di letakan di dalam toilet kereta dan bordesnya.
Pembatas kursi merupakan tempat paling nyaman bagi penumpang yang tidak memiliki ticket foto : Kaskus
Penumpang makin padat sebagian penumpang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk, ada juga sebagian penumpang yang duduk di antara jok kursi penumpang yang mungkin merupakan tempat tenyaman untuk sekedar duduk di lantai, tidak semuanya yang berdiri adalah laki-laki ada juga ibu-ibu bahkan beserta anaknya tujuan mereka satu yaitu bisa kembali ke daerah kelahiran mereka walaupun dengan modal sedikit nekat yang penting hemat. Yang lebih extreme lagi malahan ada yang duduk di atas atap bahkan sambil berdiri seperti film action yang ada di layar tv.
Tak lama berselang pengumuman dari stasiun bahwa keberangkatan kereta api sindang marga tujuan Lubuk Linggau akan segera di berangkatkan, para penjual dagangan dan pengamen pada berhamburan turun, peluit panjang kereta api sebagai simbol semboyan 35 sudah berbunyi dan PPKA mulai mengangkat papan signal yang menandakan kereta akan segera berangkat.
Jarak tempuh kereta api sindang marga saat itu ke stasiun tebing tinggi +/- 8 jam, biasanya pada pukul 3 atau 4 pagi keesokan harinya kami baru tiba di stasiun tebing tinggi dari stasiun kertapati, itupun kalau seandainya tidak ada kendala di perjalanan seperti rel yang anjlok ataupun kendala di mesin kereta.
Bahkan tidur di bawah kursi dan tempat pijakan kita pun tidak masalah bagi penumpang foto : Kaskus
Dengan jarak tempuh yang lumayan jauh membuat para penumpang yang tidak mendapatkan ticket atau "penumpang tembak" ini pun selalu kucing-kucingan dari petugas kondektur biar tidak perlu membeli ticket ataupun ada yang langsung nego di atas gerbong kereta yang merupakan penghias perjalanan kereta api saat itu setiap harinya. para penumpang inipun mencari cara untuk beristirahat mereka tidur di lantai kereta tanpa memperdulikan penumpang yang lain, terkadang juga ada yang tidur di tempat injakan kaki penumpang sehingga membuat kesal penumpang yang duduk karena kakinya tidak bisa turun ke lantai.
Saat singgah di stasiun Prabumulih mulai para pedagang berebut untuk masuk kedalam gerbong untuk menawarkan dagangannya. "angin surgo..... angin surgo.... angin surgo " (baca : angin surga) , jualan apa lagi ini batinku di dalam hati, ternyata setelah lewat adalah penjual kipas dari bambu seperti kipas untuk tukang sate, termasuk penjual karduspun sebagai alas tempat duduk dan tidurpun bagi penumpang yang tidak memiliki tempat duduk.
Pengamen yang beraksi di setiap gerbong foto : kaskus
Suasana di dalam kereta tidak ubahnya berada di tengah pasar ikan dari aroma yang beraneka ragam bau, kesemerawutan penumpang yang terjadi, pengamen yang bernyanyi, pedagang yang sibuk menawarkan dagangannya, termasuk pencopet yang berbaur menjadi penumpang membuat kita harus extra waspada di dalam gerbong kereta.
Saat itu kereta api merupakan angkutan masal yang tidak nyaman, sering terjadi penjualan kursi yang sama pada 2 orang yang berbeda sehingga menimbulkan ribut sampai perkelahian di atas kereta yang "notabene" merupakan kesalahan petugas penjualan ticket yang menerbitkan ticket tanpa koordinasi. Di tunjang dengan fasilitas seadanya dengan kipas angin yang sudah tidak berfungsi sehingga menyebabkan hawa di gerbong tersebut lumayan panas atau adanya bagasi penumpang yang hilang saat mau turun ini juga menjadikan tingkat kenyamanan penggunaa kereta terutama bagi keluarga terus menurun. Apalagi jika mau ke toliet sepert masuk ke kancah perang, dengan bau yang semerbak dari berbagai aroma urine, sampai "ampas manusia" yang masih ada karena tidak ada air untuk menyiram, Tau sendiri bagai mana rasanya jika menahan pipis atau bab jika sampai 8 jam perjalanan.
Di tambah lagi masih maraknya pelemparan kereta api yang di lakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab bahkan tidak jarang batu yang di lempar tersebut sampai mengenai kaca kereta api hingga pecah dan penumpangpun terluka.
Sesampai di stasiun tebing tinggi sekitar pukul 3 - 4 pagi hari, kelegaan pun menghampiri, tapi jangan berharap kalau badan ini akan tetap wangi dan harum seperti bayi, bau kita pasti akan menjadi seperti ikan yang sudah 3 hari tidak ketemu air, biasanya kami menunggu pagi di stasiun sebelum melanjutkan perjalanan kembali menggunakan angkutan desa agar bisa sampai ke tempat nenek, tetapi saat bagi mulai merebak mi kocok di pasar tebing tinggi yang tidak jauh dari stasiun akan menjadi sarapan pagi kami.
Tahun 2011 bersama keluarga masih sempat merasakan sensasi naik kereta era sebelum di reformasi seperti saat ini, kereta api tujuan Stasiun Tanah Abang yang kami naiki dari stasiun krenceng dengan ticket seharga 5 ribu Rupiah. ( baca : Antara Kereta Api Ekonomi, Knalpot Bajaj & Puncak Tugu Monas ).
Untunglah management kereta api saat ini sudah "mereformasi" total sistem angkutan penumpang masal ini saat di bawah kepemimpinan Bapak Ignasius Jonan, dari tahun 2009 .s.d tahun 2012 tangan dingin pak Jonan berhasil mengubah wajah perkereta apian Indonesia menjadi lebih "customer oriented" tanpa terlalu banyak prosedur, tanpa calo, tanpa adanya pedagang asongan, tanpa adanya orang yang tidur di lantai kereta, tanpa tukang copet ataupun pengamen.
Hal ini kami buktikan saat penulis berangkat bersama orang tua saatmudik kembali ke Tebing Tinggi, 4 lawang karena adanya keluarga yang meninggal pada Desember 2017 yang lalu, baik kereta api malam ataupun kereta api ekonomi pagi di setiap gerbong di lengkapi dengan pendingin Udara, colokan listrik untuk melakukan "charge" terhadap Hp atau tablet, toilet pun sudah jauh kebersihannya di banding yang dulu dengan air yang terus tersedia, tisu bahkan cairan handsoap, petugas restorasi yang menawarkan makanan atau bantal, petugas kebersihan yang sigap, dan yang paling penting tidak ada lagi penumpang yang tidak kebagian tempat duduk, terutama sejak di berlakukannya reservasi online jadi jumlah penumpang harus sama dengan jumlah kursi. Sehingga tingkat keamanan dan kenyamanan penumpang pun bertambah, jarak tempu stasiun kertapati ke stasiun Tebing Tinggi saat ini bisa di tempuh dalam waktu 6 jam 15 menit, lumayan menghemat waktu kan. (Baca : Mudik Ke Tebing Tinggi 4 Lawang, Menjalin Silaturahmi Ke Keluarga Besar ).
Bulan Februari 2019 yang lalu, beberapa kali kami menggunakan kereta lokal di provinsi Banten ini karena tingkat kenyamanan dan keamanannya begitu juga saat kami melintasi kota Rangkasbitung menggunakan KA Lokal Merak dengan ticket hanya seharga 3 ribu Rupiah perorang, atapun saat melanjutkan perjalanan dengan commuter line ke stasiun Tanah Abang hanya dengan ticket seharga 8 ribu Rupiah perorang.( Baca : Kembali Ke Rangkasbitung Dengan Sejuta Koper)
Ticket kereta api lokal Merak
Walaupun seperti itu masih ada yang sama di dunia kereta api ini dari dulu ataupun sekarang saat pemeriksaan karcis oleh kondektur pasti membawa alat pembolong karcis (control nippers) yang selalu sama, tapi begitulah keseruannya bunyi "klick" pada pembolong karcis tersebut pertanda kalau para pejuang kereta api masih terus berkomitment untuk berbenah.
Selamat mudik 1440 H / 2019 M
Majulah terus Kereta Api Indonesia
"Di dedikasikan untuk para pejuang kereta api yang tidak bisa libur lebaran saat penumpang libur mudik ke kampung halaman"
KA Lokal St. Kenceng - St.Rangkasbitung & KRL. St. Rangkasbitung - St. Tanahabang
Mobil ku kebut dengan kecepatan 60km/jam karena harus mengejar kereta pukul 10: 36 di stasiun kernceng, jangan sampai seperti kejadian "pacar ketinggalan kereta" lagi.
Mobil lumayan padat isi 9 orang termasuk juga koper ransel dan bawaan lainnya. Memotong beberapa trailer dan mobil pembawa peti kemas, pas pukul 10: 20 kami tiba di stasiun krenceng.
"Bun, langsung beli ticket untuk 6 orang" Seruku ke bunda sambil mencari posisi parkir untuk mobilnya.
"Siap ya" Jawab bunda sampai setengah berlari menuju loket, dan Alhamdulillah akhirnya kami masih bisa mendapatkan ticket KA ekonomi tersebut.
Gerbong tidak terlalu ramai banyak anak-anak TK yg naik juga satu gerbong dengan kami. Musibah yang tak ku sangkapun terjadi, saat menuju ke stasiun krenceng pegangan troli koper kami patah tersangkut batu saat mau naik kereta terpaksa koper itu di tenteng juga, mana resleting nya juga mulai bermasalah. Kalau di lihat umur memang sudah lumayan lama koper ini mengikuti kami liburan kami atau perjalanan dinas saya.
Pukul 10: 36 peluit panjang kepala stasiun sudah di buniyikan, kereta mulai berangkat menuju 8 stasiun berikutnya sebelum menuju ke stasiun akhir yaitu stasiun besar Rangkasbitung.
Sesaat sebelum keberangkatan ke Rangkasbitung, Tante Ana pun ikut mengantar
Di perjalanan di sisi kiri dan kanan banyak di hiasi dengan hamparan sawah dan tampak rombongan burung bangau putih yang terbang dan hinggap secara bergerombol juga, juga sebagian petani lagi bekerja disawah merupakan pemandangan yang sangat langkah untuk orang yang tinggal di perkotaan.
Dengan waktu tempuh yang +/- 2 Jam tidak terasa kalau kereta sudah memasuki stasiun besar Rangkas bitung.
Di peron 3 & 17 stasiun
"Ibu belum pernah naik kereta ya? " Tanya petugas kereta api di stasiun Rangkasbitung.
"Bukan belum pernah naik pak tapi belum pernah beli ticket" Jawab bunda
Cerita bunda ke ayah pada saat bunda selesai membeli ticket, sesaat ayah baru keluar dari musholah stasiun.
Kartu Commuter Line
"Kalau beli ticket KRL beda dengan ticket lokal, ada deposit/jaminan dan harga ticket jadi sperti distasiun ini (Rangkasbitung) kita kena 18 ribu per orang tapi 10 ribunya di kasih dalam bentuk ticket dan bisa di Reffund di stasiun Tanahabang" Jelasku kepada bunda. Tapi biarlah hal ini akan menjadi pengalaman bunda untuk memberli ticket commuter ini.
Masih sekitar 20 menitan lagi KRL tujuan tanah abang masih belum nampak justru kereta pengangkut barang yang masuk ke peron 1.
"Bun, lapar? kata Kakak
" Mau, makan nasi atau roti? Tanya bunda, Karena di stasiun rangkas bitung sudah dilengkapi dengan tenant CFC dan roti O,.
"Nasi" Jawab kakak dan adek serentak
Maka masuklah ke gerai CFC, kebetulan ada SMS promo dari CFC yg masuk ke HP istri. Saat KRL memasuki peron 3 penumpang sudah pada berdiri untuk mencari tempat duduk, lumayan kan kalau berdirinya sampai 2,5 jam sampai stasiun tanah abang.
Kondisi di dalam gerbong commuter
Saat di kerta mulailah paket cfc, mereka berdua mulai makan sampai selesai, kita saat itu nggak tau kalau ada larangan makan di KRL, itu pun tau saat pintu KRLnya tertutup.
"Yah, tadi petugas KRLngasih kode nggak boleh makan?
" Kata bunda, saat Safira dan azam makan paket CFC nya tadi. "Biar sajalah dari mereka rewel, kalau sudah makan kan bisa tidur " Kataku.
Pukul 13.15 kerta melaju menuju 17 stasiun seblum sampai ke stasiun tanah abang.
"Yah, mau pipis? " Bisik kakak
ditahan nggak kak, tinggal 5 stasiun lagi, krn di KRL nggak ada toiletnya" Jawab ku
yah" Jawab kakak sambil mukanya ditekuk
Dan tepat pukul 15: 09 kereta sampai di stasiun tanah abang, dan sempat ketemu te Vivi dan suaminya yang akan berbulan madu ke malang dan Jogja. Welcome to Jakarta, petualangan akan di mulai kembali.
Surga belanja & starbuk keliling
Pose nyai di tanah abang
Sambil menenteng koper yang patah pegangannya dan ransel yang beratnya lumayan termasuk kulit kerang dan karang, yang di ambil dari pantai berok, menjadikan ujian tersendiri.....sabar....sabar...sabar, yang masalah si beratnya bukan sabarnya.....hahahha.
menyelusuri selasar stasiun tanah abang lumayan panjang tetapi untungnya ada escalator yang mempermudah perjalanan, setelah di pintu keluar stasiun dan menukar kartu deposit commuter line kamipun memesan taxi online untuk menuju ke penginapan. dan alhamdulliah tidak terlalu lama taxi online pun datang di antara macetnya jalan yang di penuhi pedagang dan kerdaraan.
Pukul 16: 00 kami sampai di penginapan di kawasan kampung bali, tanah abang, rencana awal yaitu wisata belanja ke tanah abang.
Setelah makan siang, sholat makan kami keluar dengan berjalan kaki ke kawasan tanah abang karena jaraknya +/- 400m dari penginapan kami, ini alasan saya memilih penginapan di sini via aplikasi online airy.
Bunda saat mencoba starbak keliling (Starling)
Pasar Tanah Abang yang dulu dikenal dengan Pasar Sabtu berdiri sejak tahun 1735. Yustinus Vinck adalah sosok yang dikenal sebagai pendiri pasar perdagangan ini atas izin dari Gubernur Jenderal Abraham Patramini.
Tak hanya dikenal dengan Pasar Sabtu, kabarnya orang-orang Belanda saat itu juga memanggilnya De Nabang. Sebab, di sana konon terdapat banyak pohon nabang atau pohon palem yang tertanam di sekitar kawasan itu. Kemudian, masyarakat Batavia mulai merubah panggilan pasar tersebut menjadi Tenabang.
Bunda dan nyai langsung menyelusuri pasar tanah abang di mulai dari blok A samapai blok F, sejujurnya saya malas jika acara belanja dengan emak-emak, taulah sendiri.