Showing posts with label Edisi Ayah. Show all posts
Showing posts with label Edisi Ayah. Show all posts

Tuesday, 13 April 2021

1442 H, Hari Pertama Puasa Tanpa Nenek Anang

Pembacaan surah yasin yang di hadiahkan untuk nenek anang

Seperti tahun-tahun sebelumnya untuk puasa pertama ini kami berkumpul bersama di tempat kediaman orang tua kami, tradisi sahur bersama sejak tahun 2015 selalu seperti itu, tetapi tahun ini sangat berbeda, ayah atau nenek anang sudah tidak bisa berkumpul bersama kami lagi untuk melakukan sahur dan puasa, pada tahun 2020 pun beliau sudah tidak mampu lagi melakukan puasa karena kondisi beliau yang sudah tidak memungkinkan sehingga fidiya lah sebagai penebusnya.

Hanya adek laki-laki ku dan keluarganya yang tidak ikut bersahur bersama karena beliau baru saja pulang dari dinas di kawasan Cilegon setelah 1,5 bulan lebih meninggalkan kota ini. Sejak pukul 10 malam kami meninggalkan rumah bersama Ayuk & kakak iparku yang membawa si kuda, aku sendiri membawa motor karena hari ini tugas negara masih menanti berbeda dengan adik perempuan ku yang berprofesi sebagai guru yang hari ini memang merupakan hari libur dari tempat beliau mengajar, begitu pula kakak iparku juga mengambil cuti dari pekerjaannya untuk bisa berkumpul di rumah orang tua kami.

Seperti biasa menu opor ayam kering atau malbi bebek, sambal kentang, lalapan  dan terkadang pindang tulang merupakan menu yang rutin terlihat saat bersahur bersama, setiap tahun sedari ayah masih sehat menu ini seperti menu wajib yang tersaji saat kami bersahur. Cucu-cucu nenek dengan adanya menu seperti itu menjadi semangat untuk bersantap sahur, tikar yang di gelar di lantai menggantikan meja makan yang sudah tidak bisa lagi menampung keluarga besar ini.

Pusara Nenek Anang Di Awal Romadhon 1442 H

Setelah selesai bershur dan panggilan azan subuh pun sudah berkumandang, para laki-lakipun bergegas ke masjid yang jaraknya lumayan jauh dari kediaman orang tua kami, setelah selesai menunaikan sholat subuh dan kembali ke rumah lagi, kamipun berkumpul untuk membaca surah yasin yang di hadiahkan untuk arwah nenek anang, memang awal rencana sebelumya kami akan membaca surah yasin dan ziarah ke kuburan nenek anang pagi ini.

Alhamdulilah ibu tidak lagi menangis saat berziarah, udara yang masih terasa sejuk dan para peziarahpun terlihat tampak sepi, semoga jumat ini menjadi berkah bagi kami dan keluarga untuk selalu berjalan di jalan Nya.

"Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Romadhon 1442 H"

Friday, 2 April 2021

Ziarah Di Penghujung Sya'ban

Kami dan Pusara Ayah


"Jangan terlalu siang nanti ramai" kata ibu dari ujung telpon
"iya bu... nanti habis dari kandang kawat langsung ke sana" jawabku

Memang sebelumnya ibu sudah pernah menelpon untuk mengajak kami berziarah ke makam ayah pada Jumat nanti, hari ini bertepatan dengan libur nasional sehingga jadwal ziarah ku mulai dari pagi mengingat tidak beberapa lama lagi bulan suci Ramadhan akan segera tiba, TPU Kandang Kawat menjadi tujuan kami pertama kali, setelah sekitar 40 menit bermotor dari rumah kamipun tiba di kawasan TPU yang sudah sedari pagi sudah di padati oleh para peziarah.

Kamipun menunggu sebentar umi yang akan juga melakukan ziarah ke TPU ini, tidak lama berselang umi pun datang bersama Ak wafi, kamipun segera menuju ke pemakaman, terlihat banyak penjual bunga yang menjajakan dagangannya, begitu juga penjual makanan anak-anak yang banyak menjajakan  makanannya sampai masuk ke dalam areal makam.

Sang Panutan

Ada beberapa makam yang kami datangi di TPU kandang kawat ini, lantunan doa teruntuk bagi ahli kubur, semoga di tempatkan di sisi terbaik Allah, beberapa anak kecil yang mencoba peruntungan ikut membersihkan makam, beberapa lembaran uang 2 ribuan pun di terima mereka dengan muka tersenyum.

Setelah selesai dengan TPU kandang kawat kamipun melanjutkan , ke tujuan kami selanjutnya yaitu ke tempat nenek dan TPU Telaga Swidak, cuaca semakin memanas lebih kurang 30 menit akhirnya kami pun sampai di tempat nenek. TPU.

Saat melintasi TPU Telaga Swidak tadi kemacetan juga terjadi karena banyaknya para peziarah yang memarkirkan kedaraannya, di tambah para penjual bunga yang juga semakin banyak.

"Pecak Pasar" kata adek
"Makin siang makin ramai dek" jawabku sambil tersenyum

Tante & Bunda

Pada saat ke TPU ternyata kamipun terkena macet, karena adanya mobil yang parkir sehingga kendaraan yang bisa berjalan hanya menggunakan 1 jalur, hampir 20 menitan kami terjebak di macet tersebut, maju tidak bisa bergerak dan mundurpun sudah tidak bisa lagi karena sudah tertutup kendaraan lain.

Hingga akhirnya kemacetan pun terurai, kamipun langsung memarkirkan kendaraan kami,  bunga yang kami beli tadi kami taburkan di makam ayah, doa pun ku lantun kan semoga ayah mendapat tempat terbaik di sisi Allah, terdengar isak ibu yang mengelap air matanya, mungkin ini ramadhan pertama ibu tanpa sosok ayah yang membuat ibu sangat sedih, di tambah lagi cerita mimpi dari Ayuk kami yang membuat kerinduan ibu dengan ayah.

Kami terdiam, akupun merenung memang salah satu nasihat kehidupan yang paling efektif adalah kematian, semakin banyak kita mengingat kematian maka semakin lembut juga hati kita, matahari semakin terik akupun menuntun tangan ibu menyelusuri jalan di antara sela kuburan yang sudah sangat rapat, kamipun melanjutkan ke makam lainnya yaitu adik perempuan yang nomor 4, karena sakitnya umur 1,3 bulan beliau dipanggil kembali menghadap ilahi. Letak makam pun tidak terlalu jauh dari makam ayah. Semoga ziarah hari ini menjadi berkah kami semua,.

Ibu & Makam Adek Tika (Almh)

Rasulullah bersabda, “Dahulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, tapi saat ini berziarahlah kalian karena itu mengingatkan kalian kepada kematian (HR Muslim).

Sunday, 13 December 2020

TIdak Terasa 40 Hari Sudah Berlalu

Pusara ayah

Hari yang di lalui terasa begitu cepat, hari ini tidak terasa kalau ayah sudah 40 hari meninggalkan kami semua, dengan segala kenangan manis dan pahit yang terukir di jalan hidupnya tinggal menjadi kenangan manis bagi kami.

Semalam peringatan 40 hari ayah pun berlangsung dengan mengundang tetangga dan keluarga, acara sederhana yang sangat berarti bagi kami, paginya kamipun menuju ke makam ayah untuk berziarah, makam ayah yang sudah di pasangi pedapuran / kijing sejak beberapa hari yang lalu.

Doa kami untaikan di sini dari istri, anak, mantu dan cucu berharap agar engkau mendapat tempat yang layak dan terbaik di sisinya.

Keluarga besar Nurdin Syahri

Thursday, 5 November 2020

Surga Yang Tersenyum Part.4

SANJUNGAN KESEDIHAN

Almarhum Ayah & Ibu

"Ayah mu itu adalah orang yang hebat, dan pandai bergaul dan tidak ada orang tidak mengetahui itu"kata salah satu teman ayah saat selesai takziah
"Di kampung ini siapa yang tidak mengenal beliau, terutama kalau ada urusan hajatan atau sedekaahan beliau berada di barisan paling depan untuk mengatur distribusi konsumsi biar dapat berjalan dengan lancar" kata salah satu teman sejawat ayah lainnya\
"Tidak bisa di cari lagi yang seperti beliau saat ini" ujarnya lagi

Banyak pujian yang di ceritakan oleh teman -teman beliau menganai perbuatan beliau selama hidup di tempat ayah tinggal, serasa sesak dada ini menahan cairan panas yang seakan tidak terbendung lagi, padahal saat melihat jenazah ayah siang tadi tidak ada rasa sedih yang begitu haru seperti malam ini saat mendengan cerita kebaikan beliau.

Sudah sedari sejak tahun 1970-an beliau tinggal di sana, yang awalnya rumah panggung di atas rawa dengan jalan dari papan jembatan dari papan, tetapi itu tidak membuat beliau menjadi surut dari kehidupan, pandainya beliau bergaul dengan tetangga sehingga memang tidak mengherankan jika banyak yang mengenal beliau walapun jarak itu sudah ku anggap jauh dari rumah tempat ayah tinggal.


Aku mohon permisi kepada teman-teman ayah karena aku juga malu kalau sampai menangis di depan mereka, rasanya ingin ku pecahkan air mata ku tapi masih banyak tamu, akhirnya akupun menuju kamar mandi untuk mengusap mukaku yang sudah di linangi oleh air mata.

Rumah ini kembali terasa sunyi, hanya beberapa orang keluarga dan tetangga masih bercakap-cakap di bawah tenda, kursi-kursi yang di pakai para pentakziah tadipun sudah di rapikan, tidak terasa engkau meninggalkan kami begitu cepat, padahal baru seperti kemarin engkau banyak memberikan petuah bijakmu mengenai kehidupan kepada anakmu ini.

Aku hanya bisa menatap pijar bola lampu yang tergantung di atas tenda, kulepaskan napas panjang....."semoga engkau di surganya Allah".

Surga Yang Tersenyum Part.3

PUSARA

Ibu di pusara adik Tika

"Tidak terlalu jauh kak dari kuburan adik Tika" jelas adik lelakiku
"Kondisinya kering ya ?" tanya ku
"Kering kak.... bagus"jelas adik ku lagi
Berarti sudah tidak ada kendala guma ku dalam hati, kayu untuk kacapuri juga sudah di pesan dan lain-lain juga sudah tersedia semua.

Akupun tegak berdiri sebagai imam sholat jenazah di depan keranda yang berisi jenazah ayahku, takbir ku kumandangkan sebagai kewajibanku kepada orang yang paling ku hormati selama ini, terbayang semasa hidup beliau banyak sekali pengajaran hidup yang ku dapatkan dari beliau, beliau yang tidak pernah marah baik kepada kami anak- anaknya ataupun adik-adik beliau, hal inilah yang menjadi magnet tersendiri bagi beliau, sehingga adik-adik beliau pun sangat kehilangan sosok beliau sebagai kakak ataupun Bapak.

Bagi kami sendiri anak-anak beliau ayah merupakan sosok yang sangat mengayomi, berbeda dengan yang aku rasa sekarang dengan anak-anak ku, tetapi ayah pernah berpesan bahwa jadilah dirimu sendiri jangan jadi ayah karena kita berbeda jaman. Ku akhiri sholat ini dengan salam dan ku lantunkan do'a, semoga doa ini bisa di kabulkan oleh Allah, beberapa patah kata sambutan di sampaikan oleh paman sebagai permintaan maaf atas kesalahandan kehilafan ayah.

Saat ayah bertandang di rumah ayuk 

Sirine mobil ambulance yang membawa jenazah ayah berbunyi nyaring memecah jalan kendaraan lain, jarak yang di tempuh pun tidak terlalu jauh hanya beberapa kilo saja, pada awalnya tetangga-tetangga yang tinggal di seputaran rumah ayah ingin agar ayah di gotong saja kerandanya ke pemakaman sebagai penghormatan terakhir tetapi setelah di pertimbangkan kembali akhirnya kami lebih memilih menggunakan ambulance.

Bacaan tahlil, tahmid dan takbir berkumandang saat keranda menuju ke lubang kuburan yang sudah di persiapkan, rasa miris di dalam hati melihat orang yang tersayang akan di pendam di dalam bumi, tetapi kenyataan tidak bisa di tentang karena semua merupakan takdir nya.

Kondisi tanah makam yang kering membuat pemakaman mudah untuk di lakukan, biasanya di TPU Telaga Swidak ini harus menggunakan kotak karena derasnya air yang masuk ke dalam liang makam, mungkin karena jarak pemakaman ini tidak jauh dari sungai musi menyebabkan hal ini.

Aku dan kakak iparku pun masih terdiam di pusara ayah, adik ku berusaha untuk membersihkan tanah yang menempel di bajunya saat masuk ke dalam makam ayah tadi, tidak terasa hanya kami bertiga yang tertinggal di makam, kendaraan yang kami tumpangi tadi semuanya sudah pada berjalan pulang, akhirnya kamipun melangkah perlahan menuju rumah, karena TPU ini memang tidak terlalu jauh dari rumah tinggal orang tua kami.

Beberapa hari setelah pemakaman ayah... dan tanah itu pun masih merah

Surga Yang Tersenyum Part.2

MENUJU PERISTIRAHATAN TERAKHIR

Sambutan dari paman ku saat acara takziah

"Ayah... sudah tiada, sekarang kewajiban kita untuk melaksanakan pengurusan segalanya sebagia muslim" jelas pamanku
"Apakah ayah meninggalkan wasiat ataupun pesan khusus ?"tanya paman ku
"Tidak ada mang (mang singkatan dari mamang dalam bahasa Palembang = Paman)" jawabku yang di iyakan oleh ibu dan adik-adiku

"Jadi ayah mau di kubur jam berapa ?"tanya paman ku lagi 
"Mamang di Bogor lagi di jalan, Bibi dari lahat juga sudah di jalan begitu juga mamang yang dari Linggau, atau dusun ..menurut kami biar tidak lama menunggu bagai mana jika sehabis bada zuhur ?" jelasku ke pamannku

"Tidak masalah kalau begitu, berarti pukul 9:30 nanti kita mandikan dan kafankan dan sebelum zuhur kita bawa kemasjid untuk di sholatkan" terang pamanku.
"Nanti yang jadi imanya sholat jenazah ya" kata pamanku sambil menepuk bahuku
"Iya mang" jawabku

Aku yang beradu pandang dengan adiku laki-lakiku yang hanya tersenyum, teringat pagi tadi saat bertemu beliau;
"kapan datang dek ?" tanyaku
"Barusan kak.... habis dari Telaga Swidak ( TPU di dekat rumah) pesan makam untuk ayah" jawab adekku
"Jadi berangkat naik pesawat apa pagi tadi ?" tanyaku lagi
"Tidak kak... saat kakak telpon adek sudah ada di Palembang baru sampe semalam, 2 hari dapat firasat tidak enak "jawabnya
"Kirain masih di Dumai" jawabku merasa bodoh

Di masjid tempat ayah di sholatkan

Tenda sudah di pesan, begitu juga pemakaman, perlengkapan untuk kain kafan pun sudah ada, bilal sendiri merupakan pengurus dari persatuan amal kematian yang salah satu pendirinya adalah ayah. Tepat pukul 9:30 kamipun memandikan ayah paman, aku, adiku, keponakan dan kakak iparku menjadi bagian yang memandikan jenazah, badan ayah begitu bersih, tidak ada kotoran yang mengalir, mungkin karena makanan yang di makan sudah tidak banyak lagi, banyak keharuan di sini adek azam dan sepupunya hafiz menangis terisak-isak melihat nenek anang nya di mandikan, begitu juga yang lain saat menyiram kan air untuk terakhir kali di badan nenek.

Saat jenazah di bawa kedalam dan di kafankan terlihat adek azam terus terisak di depan pintu masuk sambil bersandar di kusen melihat kursi yang biasa di duduki oleh nenek anang sambil memakan es krim yang biasanya kami beli saat bertandang ke sana, ku sambut tangan beliau dan ku dudukan dekat jenazah.

Adik-adik kandung ayah

Adik-adik ayah baik dari Kota Bogor, Lahat, Linggau dan Tebing tinggi sudah hadir semua, isak tangis pecah kembali terutama pada saat paman yang dari Bogor melihat jenazah ayah, kupandu untuk membaca surah yasin sebelum jenazah ayah akan di bawa ke masjid untuk di sholatkan untuk terakhir kali.

Doa  yang terlantun juga tidak mengurungkan rinai air mata yang jauth ke pipi, adik perempuanku  sempat di tegur karena beliau menangis dengan keras mungkin wajar karena beliaulah yang paling intens dan paling dekat dengan ayah, yang paling mengajak ayah bermain, setiap pulang mengajar beliau pasti membawakan makanan bagi ayah sehingga ini menjadi pukulan besar bagi adik ku ini.

Sebelum zuhur keranda ayah sudah di berangkat kan ke masjid Al-Mukminin, di mana dimasjid ini beliau pernah menjadi pengurus sebelum beliau sakit, derai air mata  masih mengiringi kepergian ayah, aku harus berjalan tegar karena kedapan masih banyak yang harus di jalani, saat ini yang terpenting adalah menyolatkan dan mengantarkan ayah ke peristirahatannya yang terakhir.

Surga Yang Tersenyum Part.1

HUJAN DI AWAL HARI


"Kak, ayah sudah tiada" saat suara adik perempuanku yang merupakan anak bungsuku menggetarkan telinga ku
"Inalilahiwainailahi rojiun" jawabku sepontan
"Pastiin lagi dek, coba panggil tetangga untuk bantu mengecek keadaan ayah.

Hujan deras yang mendera kota ini sedari tengah malam membuat suasana dingin semakin dingin.
"Sudah... ambil wudhu dulu ... sholatlah dulu ?" kata bunda

Akupun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan berwudhu yang tidak lama ada telpon yang berdering yang sudah di angkat bunda, ternyata telpon dari kakak kami. 
"Te, nanti sebentar lagi kami jemput... bersiaplah kita ke tempat Ayah" kata bunda kepada ku saat menerima telpon dari kakak iparku yang memang tinggal tidak jauh dari rumahku.

Ku sujudkan kepala ku dalam-dalam di atas sajadah sambil meminta ampunan atas dosa-dosa ayah dan ibu, tidak terasa bulir panas mulai menetes dari mata ini, berharap semoga ayah khusnul khotimah.

Ibu dan adek perempuanku di bantu oleh para tetangga ternyata sudah beberes rumah dari mengeluarkan kursi dan meja, membentang kasur untuk jenazah ayah dan lain sebagianya, hujan yang kelihatannya tidak kunjung berhenti membuat beberapa titik jalan di kota ini menjadi tergenang.

Adiku sepulang dari kuburan ayah

Saat si kuda membelah malam menerjang aspal yang mengkilat di terpa hujan, akupun menghubungi adik laki-lakiku yang nomor 3 yang saat terakhir aku kontak dengan beliau mengatakan sedang tugas di kota Dumai.
"Assalamualaikum, dek sudah dapat kabar kalau ayah sudah tiada ?' tanya ku kepada dia
"Sudah kak" jawabnya
"Baguslah, kalau mau balik cari penerbangan paling pagi ,,,tidak usah terburu-buru" saranku kepada adik ku tersebut yang ku kira masih di kota Dumai.

Ku perhatikan kakak ipar ku yang fokus mengendarai mobil di tengah lebatnya hujan malam ini yang di iringi syahdu lantunan mahalul qiyam maulid simtud durror, sebentar lagi kami sampai semoga selamat sampai di tujuan. Hujan yang tidak bertanda untuk reda membuat kami sedikit berlari ke rumah ayah, sesampai di rumah sudah banyak tetangga yang berkumpul di sana termasuk paman (adik dari ayah) pun sudah tiba di sana bersama istrinya, ayah sudah di baringkan di atas kasur di ruang tamu, muka bersih nya bertabur senyum.

Pembacaan surah yasin melantun dari rumah ayah, sembari menunggu subuh.. hilang sudah penderitaan mu selama ini, hilang juga sakit yang engkau derita, alam baru yang engkau tuju menjadi kebahagiaan baru bagimu.

Ambulan yang mengantarkan ayah ke peristirahatan terakhirnya

Kutatap lekat-lekat muka ayah  seperti orang tidur biasa sama seperti kemarin-kemarin, ibu kulihat tidak lagi menangis hanya adik perempuanku yang masih terisak, teringat kemari bahwa ayah sudah menunjukan tanda-tanda yang tidak biasa di mana sepulang kerja aku langsung mampir ke rumah ayah untuk melihat kondisi nya.

"Ayah jangan di tinggal lagi bu.... di lihat terus kondisinya" kataku kepada ibu dan adik perempuanku ku yang baru saja pulang dari mengajar.

Memang sudah hampir 3 minggu ini stamina ayah terus menurun hal ini di sebabkan beliau tidak mau makan lagi hanya minum yang melewati tenggorokannya itupun tidak banyak, setiap hari ibu menyuapi makanan tersebut tetapi seperti enggan untuk di telan , apakah beliau sakit gigi atau tenggorokan atau ada hal yang di rasakannya juga tidak tahu karena sudah sulit berkomunikasi dengan beliau.

"Kasih kabar saja dek kalu ada apa-apa dengan ayah " pesan ku kepada adek perempuan ku sebelum aku pamit pulang dari rumah ayah.
"iya kak" jawabnya

Hal ini lah membuatku tidak menyangka kalau kemarin adalah hari terakhir bertemu ayah, sebelum pulang sempat ku cium pipi dan kepalanya, badan yang renta tergolek di atas ranjang tidak bisa banyak bergerak hanya mata dan erangan kata yang tidak terucap yang sempat terdengar dan terlihat. Ada penyesalan menyeryuak di dalam hati, kemarin yang seharusnya merupakan jadwal kami berkunjung ke rumah ayah bersama istri dan anak-anakku tidak bisa terlaksana, tetapi takdir berkata lain apa hendak di kata.

Takziah

Wednesday, 14 October 2020

Mentari Di Penghujung Senja Part.3

RUQIYAH & TIDUR


Tempramen ayah semakin menjadi-jadi, entah di picu dengan hal-hal yang terkadang tidak kita mengerti secara nalar, ada yang memasuki rumah, ada orang lain di dalam kamar, ada anak kecil di kamar mandi, cemburu ke ibu dan lain sebaginya, yang sempat membuat ku bingung dengan segala prilaku ayah.

Bukan aku saja yang di buat bingung, tetapi adik perempuanku dan ibuku justru merasa ketakutan dengan perilaku ayah yang seperti itu, terkadang beliau bermain dengan senjata tajam, atau benda tumpul yang di arahkan ke ibu atau adik perempuanku yang semua itu di lakukan di luar kesadarnya sama sekali, beberapa malam akhirnya aku harus tidur di rumah ayah karena untuk mengendalikan kondisi ayah yang emosinya terus meledak-ledak, senjata tajam dan barang-barang berbahaya ku suruh agar ibu menyimpan rapat-rapat dari jangkauan beliau begitu juga benda-benda lain yang dapat membahayakan juga di simpan. Tetapi saat aku ada di rumah beliau justru bicara dengan ibuku bahwa ayah takut kepada ku karena aku bisa silat, tetapi dia sendiri tidak bisa menjelaskan aku itu siapa.

Yang lucunya lagi kepada Ibu yang merupakan istrinya sendiri, ayah memanggil semaunya terkadang mbak, terkadang mbok, bibi, ataupun bunda , suka-suka beliaulah, begitu juga dengan waktu tidur beliau yang bisanya sebelum sakit tidak terganggu saat ini hanya sebentar sekali beliau bisa tertidur palingan hanya 5-15 menit itupun sudah terbangun lagi, yang biasanya jika sudah terbangun sudah sangat susah untuk tertidur kembali.

Di dalam kondisi ayah yang seperti ini kami pun rembukan untuk membawa beliau ke pengobatan alternatif yaitu di Ruqiyah untuk menjaga kemungkinan kalau ayah terkena ganggunan mahluk halus, karena sedari kecil tidak pernah aku melihat sifat ayah yang menjadi aneh seperti ini.

Tempat ruqiyah di kawasan sekip ujung pun menjadi tujuan kami, bada asar merupakan waktu di masa sesi ruqiyah akan di lakukan, kami sudah datang sebelum ashar sehingga ayah bisa di lakukan bekam dulu untuk membuang darah kotor di dalam tubuhnya, tepat bada asar ruqiyah pun dilakukan ada sekitar 7 peserta termasuk ayah, ada wanita dan juga anak-anak, selang berjarak 5 menit dari pembacaan ayat -ayat ruqiyah kudengan dengkuran halus dari ayah, sedari awal aku yangduduk di atas kepala beliau karena menang posisi ruqiyahnya berbaring di kasur, ternyata setelah ku perhatiakan beliau tertidur, akupun hanya tersenyum sambil menyimak pembacaan ayat ruqiyah terus belanjut.

Saat ruqiyah sudah selesai, ayah belum ku bangunkan, ku temui pe ruquyah ayah tadi, sembari beertanya, 
"Bagaimana pak kondisi ayah saya ?" tanyaku
"Sepertinya bagus pak tidak ada gangguan mungkin hanya kurang istirahat dan kecapekan saja, itu buktinya masih tidur" jawab peruqiyah
"Bukan gangguan mahluk pak ?" tanyaku lagi
"Bukan pak" jawab peruqiyah itu lagi

Perlahan ku bangunkan ayahku, karena tak lama lagi juga tempat ini akan tutup, ayah tampak lumayan segar dengan kondisi dia tertidut tadi walaupun tidak terlalu lama, hari ini sudah di lakukan bekam dan ruqiyah dan hasilnya baik, tetapi mungkin ke depan ada alternatif pengobatan lain juga yang juga tidak salah untuk di jalani demi kesembuhan ayah. 

Taxi yang mengangkut kamipun segera menyusuri macetnya jalan kota ini, senja yang sudah mulai beranjak tidur tampak indah di lihat dari atas jembatan yang merupakan icon kota ini.

Mentari Di Penghujung Senja Part.1

Dimensia Oh Dimensia

Aku dan ayah,.. (Foto terakhir yang di ambil bersama ayahku 14/10/20)

Ini merupakan sedikit tulisan pendek bergaya dhinisa journey tentang edisi ayah yang di posting dalam beberapa bagian, beberapa waktu lalu beliau sudah kembali kepadanya membebaskan segala sakit dan deritanya, kerinduan ini hanya bisa tergores di sini dengan segala kemampuan memahaminya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dia hanya tersenyum pada saat ku suapi es krim yang dari tadi di tunggunya, dari tadi terlihat lirikan matanya yang terus mengikuti kemana gerak es krim di tangannku, sekali-kali ku ajak bercanda walaupun tanpa ada respon tertawa dari beliau.

Dialah ayahku, yang sudah beberapa tahun ini mengalami sakit yang dari pihak dokter sendiri memvonis sebagai dimensia (kepikunan), di mulai pada tahun 2018 penyakit ini mulai menimpa ayah yang ternyata merupakan effek dari kecelakaan yang pernah beliau alami pada tahun 2010 yang lalu, awalnya dokter syaraf mengatakan bahwa syaraf halus ayah yang sudah kena efek benturan  dan temasuk tulang di bagian tangan ayah ada yang retak, itupun berdasarkan hasil dari scan yang di lakukan pihak rumah sakit   

"Dementia atau demensia adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Kondisi ini berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktivitas sehari-hari penderitanya." https://www.alodokter.com/

Sejak saat itulah daya pikir dan daya ingat ayah terus menurun, baik untuk mengingat istrinya atau ibu kami ataupun anak-anaknya apalagi keluarga yang lain, terkadang ingat dan terkadang lupa membuat kami awalnya sangat sedih, seolah-olah beliau adalah orang asing yang baru datang di rumah kami tersebut.

Tetapi seiring berjalan waktu kamipun bisa untuk menyesuaikan diri dengan prilaku baru ayah, dengan telaten ibu yang mengurus ayah karena memang yang tinggal di rumah beliau saat ini adalah ibu dan adik perempuanku yang berprofesi sebagai guru, sedangkan saudaraku yang lain semuanya sudah memiliki rumah sendiri yang letaknya cukup jauh dari rumah orang tua kami sendiri. Aku sendiri sekeluarga paling sedikit seminggu sekali selalu bertandang ke tempat orang tua kami, untuk sekedar bercngkerama tentang beliau ataupun mendengarkan curhat dari ibu kami.

Tetapi seperti itulah ayah, beliau yang dulunya sangat tegas dan tidak macam-macam menjadi tidak berdaya saat sakitnya, aktivitas terakhirnya sebagai pengurus masjid  pun harus di tinggalkan karena ketidak berdayaan beliau, awalnya aku sempat meneteskan air mata saat melihat prilaku ayah untuk pertama kali, kaku, tempramental, tidak mengenali siapa-siap. Beberapa kali mengalami tersesat saat hendak pulang kerumah sehingga membuat kami menjadi khawatir tetapi untunglah ada tetangga yang bertemu dan mengantarkan beliau pulang.

Sehingga akhirnya aktivitas ayah hanya banyak berdiam di rumah saja, kecuali jika ada jadwal kontrol ke dokter ataupun memang sengaja di ajak untuk mengunjungi anak-anaknya, biasanya kami bergantian untuk mengantar ayah tersebut.

"Selamat bu ya...tapi ibu  yang sabar........ karena saat ini ibu mendapatakan bayi besar...." kata dokter  yang menangani pengobatan ayahku setelah di voinis demensia.
Aku sedikit mengerenyitkan kening, "Apa maksudnya dok ?" tanya ku

Akhirnya dokter tersebut menjelaskan mengenai apa dimensia itu dan juga segala perubahan prilaku  yang akan di alami oleh ayah, termasuk fungsi obat yang harus di makan ayah, tetapi ada satuhal yang ku ingat dengan baik perkataan dokter tersebut, 
"Dik, kasus seperti bapak ini tidak akan pernah pulih seperti sedia kalah, beliau pasti akan mengalami penurunan baik dari pola pikir dan juga fisik seperti yang adik lihat saat dilakukan observasi tadi semuanya tidak bisa di lakukan dengan tuntas, obat-obatan yang di berikan hanya sebatas mengurangi dari kadar penyakitnya bukan menghilangkan penyakit, sehingga harus di rawat dengan benar dan butuh ketelatenan sampai akhirnya hari itu tiba".

Akupun sadar bahwa ayah tidak akan bisa lagi kembali seperti semula,  sudah untuk mengenali kami, menyukai kembali makanan anak-anak kecil, ataupun berbuat yang aneh lainnya, tetapi kami bertekad bahwa ayah harus tetap sehat dan segar walaupun dia harus diam di dalam kesunyian.