![]() |
| Pembacaan surah yasin yang di hadiahkan untuk nenek anang |
![]() |
| Pusara Nenek Anang Di Awal Romadhon 1442 H |
![]() |
| Pembacaan surah yasin yang di hadiahkan untuk nenek anang |
![]() |
| Pusara Nenek Anang Di Awal Romadhon 1442 H |
![]() |
| Kami dan Pusara Ayah |
"Jangan terlalu siang nanti ramai" kata ibu dari ujung telpon
"iya bu... nanti habis dari kandang kawat langsung ke sana" jawabku
Memang sebelumnya ibu sudah pernah menelpon untuk mengajak kami berziarah ke makam ayah pada Jumat nanti, hari ini bertepatan dengan libur nasional sehingga jadwal ziarah ku mulai dari pagi mengingat tidak beberapa lama lagi bulan suci Ramadhan akan segera tiba, TPU Kandang Kawat menjadi tujuan kami pertama kali, setelah sekitar 40 menit bermotor dari rumah kamipun tiba di kawasan TPU yang sudah sedari pagi sudah di padati oleh para peziarah.
Kamipun menunggu sebentar umi yang akan juga melakukan ziarah ke TPU ini, tidak lama berselang umi pun datang bersama Ak wafi, kamipun segera menuju ke pemakaman, terlihat banyak penjual bunga yang menjajakan dagangannya, begitu juga penjual makanan anak-anak yang banyak menjajakan makanannya sampai masuk ke dalam areal makam.
![]() |
| Sang Panutan |
Ada beberapa makam yang kami datangi di TPU kandang kawat ini, lantunan doa teruntuk bagi ahli kubur, semoga di tempatkan di sisi terbaik Allah, beberapa anak kecil yang mencoba peruntungan ikut membersihkan makam, beberapa lembaran uang 2 ribuan pun di terima mereka dengan muka tersenyum.
Setelah selesai dengan TPU kandang kawat kamipun melanjutkan , ke tujuan kami selanjutnya yaitu ke tempat nenek dan TPU Telaga Swidak, cuaca semakin memanas lebih kurang 30 menit akhirnya kami pun sampai di tempat nenek. TPU.
Saat melintasi TPU Telaga Swidak tadi kemacetan juga terjadi karena banyaknya para peziarah yang memarkirkan kedaraannya, di tambah para penjual bunga yang juga semakin banyak.
"Pecak Pasar" kata adek
"Makin siang makin ramai dek" jawabku sambil tersenyum
![]() |
| Tante & Bunda |
Pada saat ke TPU ternyata kamipun terkena macet, karena adanya mobil yang parkir sehingga kendaraan yang bisa berjalan hanya menggunakan 1 jalur, hampir 20 menitan kami terjebak di macet tersebut, maju tidak bisa bergerak dan mundurpun sudah tidak bisa lagi karena sudah tertutup kendaraan lain.
Hingga akhirnya kemacetan pun terurai, kamipun langsung memarkirkan kendaraan kami, bunga yang kami beli tadi kami taburkan di makam ayah, doa pun ku lantun kan semoga ayah mendapat tempat terbaik di sisi Allah, terdengar isak ibu yang mengelap air matanya, mungkin ini ramadhan pertama ibu tanpa sosok ayah yang membuat ibu sangat sedih, di tambah lagi cerita mimpi dari Ayuk kami yang membuat kerinduan ibu dengan ayah.
Kami terdiam, akupun merenung memang salah satu nasihat kehidupan yang paling efektif adalah kematian, semakin banyak kita mengingat kematian maka semakin lembut juga hati kita, matahari semakin terik akupun menuntun tangan ibu menyelusuri jalan di antara sela kuburan yang sudah sangat rapat, kamipun melanjutkan ke makam lainnya yaitu adik perempuan yang nomor 4, karena sakitnya umur 1,3 bulan beliau dipanggil kembali menghadap ilahi. Letak makam pun tidak terlalu jauh dari makam ayah. Semoga ziarah hari ini menjadi berkah kami semua,.
![]() |
| Ibu & Makam Adek Tika (Almh) |
![]() |
| Pusara ayah |
Hari yang di lalui terasa begitu cepat, hari ini tidak terasa kalau ayah sudah 40 hari meninggalkan kami semua, dengan segala kenangan manis dan pahit yang terukir di jalan hidupnya tinggal menjadi kenangan manis bagi kami.
Semalam peringatan 40 hari ayah pun berlangsung dengan mengundang tetangga dan keluarga, acara sederhana yang sangat berarti bagi kami, paginya kamipun menuju ke makam ayah untuk berziarah, makam ayah yang sudah di pasangi pedapuran / kijing sejak beberapa hari yang lalu.
Doa kami untaikan di sini dari istri, anak, mantu dan cucu berharap agar engkau mendapat tempat yang layak dan terbaik di sisinya.
![]() |
| Keluarga besar Nurdin Syahri |
![]() |
| Almarhum Ayah & Ibu |
![]() |
| Ibu di pusara adik Tika |
![]() |
| Saat ayah bertandang di rumah ayuk |
![]() |
| Beberapa hari setelah pemakaman ayah... dan tanah itu pun masih merah |
![]() |
| Sambutan dari paman ku saat acara takziah |
![]() |
| Di masjid tempat ayah di sholatkan |
![]() |
| Adik-adik kandung ayah |

![]() |
| Adiku sepulang dari kuburan ayah |
![]() |
| Ambulan yang mengantarkan ayah ke peristirahatan terakhirnya |
![]() |
| Takziah |
Bukan aku saja yang di buat bingung, tetapi adik perempuanku dan ibuku justru merasa ketakutan dengan perilaku ayah yang seperti itu, terkadang beliau bermain dengan senjata tajam, atau benda tumpul yang di arahkan ke ibu atau adik perempuanku yang semua itu di lakukan di luar kesadarnya sama sekali, beberapa malam akhirnya aku harus tidur di rumah ayah karena untuk mengendalikan kondisi ayah yang emosinya terus meledak-ledak, senjata tajam dan barang-barang berbahaya ku suruh agar ibu menyimpan rapat-rapat dari jangkauan beliau begitu juga benda-benda lain yang dapat membahayakan juga di simpan. Tetapi saat aku ada di rumah beliau justru bicara dengan ibuku bahwa ayah takut kepada ku karena aku bisa silat, tetapi dia sendiri tidak bisa menjelaskan aku itu siapa.
Yang lucunya lagi kepada Ibu yang merupakan istrinya sendiri, ayah memanggil semaunya terkadang mbak, terkadang mbok, bibi, ataupun bunda , suka-suka beliaulah, begitu juga dengan waktu tidur beliau yang bisanya sebelum sakit tidak terganggu saat ini hanya sebentar sekali beliau bisa tertidur palingan hanya 5-15 menit itupun sudah terbangun lagi, yang biasanya jika sudah terbangun sudah sangat susah untuk tertidur kembali.
Di dalam kondisi ayah yang seperti ini kami pun rembukan untuk membawa beliau ke pengobatan alternatif yaitu di Ruqiyah untuk menjaga kemungkinan kalau ayah terkena ganggunan mahluk halus, karena sedari kecil tidak pernah aku melihat sifat ayah yang menjadi aneh seperti ini.
Tempat ruqiyah di kawasan sekip ujung pun menjadi tujuan kami, bada asar merupakan waktu di masa sesi ruqiyah akan di lakukan, kami sudah datang sebelum ashar sehingga ayah bisa di lakukan bekam dulu untuk membuang darah kotor di dalam tubuhnya, tepat bada asar ruqiyah pun dilakukan ada sekitar 7 peserta termasuk ayah, ada wanita dan juga anak-anak, selang berjarak 5 menit dari pembacaan ayat -ayat ruqiyah kudengan dengkuran halus dari ayah, sedari awal aku yangduduk di atas kepala beliau karena menang posisi ruqiyahnya berbaring di kasur, ternyata setelah ku perhatiakan beliau tertidur, akupun hanya tersenyum sambil menyimak pembacaan ayat ruqiyah terus belanjut.
![]() |
| Aku dan ayah,.. (Foto terakhir yang di ambil bersama ayahku 14/10/20) |
Ini merupakan sedikit tulisan pendek bergaya dhinisa journey tentang edisi ayah yang di posting dalam beberapa bagian, beberapa waktu lalu beliau sudah kembali kepadanya membebaskan segala sakit dan deritanya, kerinduan ini hanya bisa tergores di sini dengan segala kemampuan memahaminya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dia hanya tersenyum pada saat ku suapi es krim yang dari tadi di tunggunya, dari tadi terlihat lirikan matanya yang terus mengikuti kemana gerak es krim di tangannku, sekali-kali ku ajak bercanda walaupun tanpa ada respon tertawa dari beliau.
Dialah ayahku, yang sudah beberapa tahun ini mengalami sakit yang dari pihak dokter sendiri memvonis sebagai dimensia (kepikunan), di mulai pada tahun 2018 penyakit ini mulai menimpa ayah yang ternyata merupakan effek dari kecelakaan yang pernah beliau alami pada tahun 2010 yang lalu, awalnya dokter syaraf mengatakan bahwa syaraf halus ayah yang sudah kena efek benturan dan temasuk tulang di bagian tangan ayah ada yang retak, itupun berdasarkan hasil dari scan yang di lakukan pihak rumah sakit
"Dementia atau demensia adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Kondisi ini berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktivitas sehari-hari penderitanya." https://www.alodokter.com/
Sejak saat itulah daya pikir dan daya ingat ayah terus menurun, baik untuk mengingat istrinya atau ibu kami ataupun anak-anaknya apalagi keluarga yang lain, terkadang ingat dan terkadang lupa membuat kami awalnya sangat sedih, seolah-olah beliau adalah orang asing yang baru datang di rumah kami tersebut.
Tetapi seiring berjalan waktu kamipun bisa untuk menyesuaikan diri dengan prilaku baru ayah, dengan telaten ibu yang mengurus ayah karena memang yang tinggal di rumah beliau saat ini adalah ibu dan adik perempuanku yang berprofesi sebagai guru, sedangkan saudaraku yang lain semuanya sudah memiliki rumah sendiri yang letaknya cukup jauh dari rumah orang tua kami sendiri. Aku sendiri sekeluarga paling sedikit seminggu sekali selalu bertandang ke tempat orang tua kami, untuk sekedar bercngkerama tentang beliau ataupun mendengarkan curhat dari ibu kami.
Tetapi seperti itulah ayah, beliau yang dulunya sangat tegas dan tidak macam-macam menjadi tidak berdaya saat sakitnya, aktivitas terakhirnya sebagai pengurus masjid pun harus di tinggalkan karena ketidak berdayaan beliau, awalnya aku sempat meneteskan air mata saat melihat prilaku ayah untuk pertama kali, kaku, tempramental, tidak mengenali siapa-siap. Beberapa kali mengalami tersesat saat hendak pulang kerumah sehingga membuat kami menjadi khawatir tetapi untunglah ada tetangga yang bertemu dan mengantarkan beliau pulang.