Di keluaga besar istri lebaran hari ke 2 memiliki tradisi sendir yaitu kunjungan ke masing-masing anggota keluarga yang di kota Palembang sendiri di kenal dengan nama rumpa-rumpakan atau umpak-umpakan atau sanjo lebaran.
Entah sudah beberapa lebaran tradisi ini kurasa terus ada dari adik-adik istri yang masih berlum bekeluarga sampai saat ini sudah pada memiliki anak, tidak terasa ternyata sudah cukup lama berjalan tradisi ini.
Di hari lebaran ke 2 biasanya sedari pagi kami sudah bersiap, baik mempersiapkan diri dan juga rumah yang akan di kunjungi oleh keluarga. Makanan dan minuman khas lebaran pun di persiapkan semaksimal mungkin biar kunjungan semakin meriah.
Satu persatu rumah dari adik-adik istri pun di datangi, seperti tahun ini dengan titik awal atau titik kumpul di talang betutu dimana sudah 2 tahun ini titik kumpulnya kami tentukan di sana, mulailah kami berkunjung dari rumah ke rumah di sana di mana ada 3 rumah yang di kunjungi di sana.
Setelah selesai di lanjutkan ke tempat kami di talang kelapa yang kebetulan ada 2 tempat yang di kunjungi di sini, selanjutnya kami menuju ke arah kenten laut di mana tempat wawak istri yaitu kakak datuk, rute macet menjadi salah satu hiasan di tempat ini saat lebaran, sepanjang jalan kenten laut kemacetan menjadi suatu yang lumrah. Selanjutnya sungai tawar menjadi tujuan yang merupakan rumah keluarga besar dari nyai, cukup lama juga berdiam di sini karena bukan hanya satu dua orang yang di temui.
Dan titik terakhir kami pun berkumpul di tempat nyai, sembari melepas lelah dan penat karena lumayan capek juga berhari-hari berada di jalan dan berkunjung ke rumah-rumah, semoga tradisi ini bisa selalu kami jaga dan dapat di laksanakan.
Ternyata sudah cukup lama jika di hitung sejak terakhir kali meminum root beer nya khas Palembang ini, mungkin saat zaman masih kuliah di tahun 98-99an, banyak kenangan yang kuingat dari minuman yang satu ini.
Hari ini saat berkunjung di rumah keluarga di kawasan suro tepat di objek wisata kampung mural gudang buncit ternyata minuman yang satu ini sudah tersaji, memang sejak dari bulan puasa tahun ini minuman ini banyak yang menjual secara online dengan harga 35-50 ribu per lusin. Hingga pernah mau coba pesan tetapi pesanannya nggak datang-datang, belum rezeki kali ya.....
Tetapi hari ini minuman ini tersedia banyak, dan gratis... aroma sarsaparila yang khas dan rasa yang khas tidak berubah sedari dulu, dengan di temani batu es mulai ku minum teguk demi teguk minuman legend ini.
Teringat dulu saat nenek yang sudah sakit lumpuh dan beberapa penyakit lainnya yang tinggal di rumah orang tua ku, dan beliau meminta minuman ini saat di beri satu di berkata kurang dan sampai 3 botol, nenek pun berkata kurang, akhirnya akupun membeli sampai 1 lusin minuman berkarbonasi ini yang menyebabkan ayah marah-marah karena nenek terkena diare.
Akupun hanya tersenyum mengenang hal tersebut, di tahun 2016 aku pernah membuat tulisan di sebuah blog mengenai minuman ini, Air Soda, Sugus dan Es Hoya. Dimana dari ke seluruhannya hanya minuman sarsaparila dan air soda ini yang masih bertahan sampai saat ini.
Memang minuman ini sudah sangat jarang di temui karena jalur pemasaran yang lebih banyak ke daerah-daerah di luar kota Palembang, tetapi lebaran tahun ini cukup berbeda minuman yang satu ini yang oleh orang Palembang sering di sebut saparela, bisa tersaji di meja walaupun itu meja saudara.
Pernikahan Wawan dari 3 kota jadi 1 ( Palembang, Lampung & Anyer )
20 Februari 2011 (Hari Ke - 3 )
Pagi hari kami semua dari Anyer sudah bersiap-siap. Mobil om Anto pun sudah dibersihkan dan dipanaskan, untuk hari ini tujuan kami ke Bandung kawasan Cibiru, Ujung Berung. Mobil om Anto akan di isi oleh Datuk, Nyai, Bunda, Kakak, Ayuk, Umi, Mama, Acik Mimin, Cicik, Om Masa dan anaknya. Yang rencananya akan berangkat sekitar pukul 9 dari Anyer dengan waktu tempuh +/- 4-5 jam, sedangkan untuk rombongan ke dua akan menggunakan bus tujuan Bandung.
Pukul 8 kami ber 5 langsung menaiki angkot berwarna putih ke arah Cilegon, setelah sampai di suatu tempat di Cilegon kamipun berdiri menunggu bus dengan tujuan Bandung, sekitar 30 menit bus pun datang, bus berwarna biru dengan merk Arya Prima sehingga kami berlima langsung naik, dengan ticket 50 ribu perorang, bus ini berjalan memasuki tol cipularang kemudian akan berakhir di terminal luwi panjang.
Ternyata bus yang kami naiki ini lumayan sepi jadi kami berlima bebas untuk memilih kursi, bus ini lumayan nyaman dengan AC, TV yang besar , tempat duduk dengan reclining makin menambah kenyamanan di dalam bus ini, mobil pun bergerak memasuki tol Cilegon Jakarta hanya barisan gedung-gesung tinggi yang tampak, berbeda saat memasuki tol Cipularang dengan suasana hijau di sisi kiri dan kanannya.
Sekitar pukul 1.30 siang bus pun memasuki terminal luwi panjang, kesibukan di terminal terasa, beberapa calo berusaha menawarkan jasa untuk mengantar kami ke kawasan Cibiru. Jarak yang di tempuh untuk ke lokasi acara sekitar 30 menit dari terminal luwi panjang, akhirnya kami menyewa angkot sebagai sarana transportasi kami untuk ke Cibiru.
Setelah sampai di sana ternyata mobil om Anto juga sudah terlebih dahulu ada di sana sekitar 15 menit yang lalu. Kamipun melepaskan lelah di rumah calon mempelai wanita, makan siang dan bercengkrama dengan keluarga dan tuan rumah.
Setelah hari menginjak senja mengingat rumah calon mempelai wanita tidak memungkinkan untuk tempat kami menginap semua, maka kamipun di arah kan untuk menginap di daerah Cicalengka tempat nenek dari calin mempelai wanita, tempat nya lumayan jauh sekitar 45 menit dari Cibiru, 2 mobil angkot di siapkan untuk kami, sedangkan om Anto tidak bisa ikut karena ketempat saudaranya.
Angkot berlari lumayan cepat didalam pekat malam, di pinggir jalan banyak terdapat penjual tahu sumedang, saya tidak tahu dimana lokasi tempat kami menginap, yang tahu kami ada di daerah Cicalengka.
Rumah tempat kami menginap malam ini lumayan besar, ruang tamunya pun lebar tetapi hanya di diami beberapa orang. Uniknya rumah ini terletak di tengah-tengah lahan sawah, angin malam yang dingin mulai menusuk tulang, bunyi jangkrik dan kodok pun seperti irama alat musik di atur sang alam.
21 Februari 2011 (Hari Ke - 4 )
Sesaat sebelum berangkat ke Cibiru
Pukul 5 pagi saat udara di Cicalengka sedang dingin-dinginnya, sebagian dari kami sudah bersiap-siap, ada yang mandi dengan air yang rasanya sedingin es. Karena hari ini pada pukul 7 kami akan meluncur ke Cibiru, untuk acara akad nikah dan resepsi.
Kabut putih yang dingin terlihat jelas di atas sawah-sawah yang selesai di panen di depan rumah tempat kami menginap ini. Kamipun sempat beberapa kali berfoto di depan rumah tempat kami menginap, sebelum berangkat ke Cibiru.
Angkot yang sudah di siapkan berjalan menembus jalan yang mulai tersendat, sekitar pukul 9 pagi kami sampai di Cibiru.
Kami di sambut secara adat Sunda dengan pagar ayu dan pagar bagus yang sudah berdiri menyambut, rangkaian bunga melati juga di kalungkan sebagai bentuk penghormatan kepada calon pengantin laki-laki dan seluruh keluarga dari Palembang.
Pagi ini akan di langsungkan 2 acara sekaligus yaitu akad nikah dan resepsi penikahan termasuk di dalamnya acara adat khas Sunda, akad nikapun berlangsung dengan lancar tanpa adanya halangan apapun. Pengantinpun di bawah ke pelaminan untuk melaksanakan acara sungkeman, sama seperti di daerah lain sungkeman ini merupakan bentuk penghormatan/tanda bakti dan terima kasih kepada kedua orang tua yang selama ini sudah mengurus mereka dari kecil hingga mengantarkan ke jenjang rumah tangga, biasanya acara sungkeman ini di warnai dengan haru biru, tangisan pengantin dan orang tua biasanya tidak bisa terbendung.
Prosesi sungkeman
Berdasarkan literasi yang saya baca adat perkawinan sunda ini meliputi beberapa tahapan. seperti saweran adalah salah satu dari rangkaian upacara perkawinan adat Sunda. Adapun tahapan adat yang hingga saat ini masih sering digunakan, mulai dari Sungkeman, Saweran, Meuleum harupat, Nincak endog, Ngaleupas japati. Seluruh tahapan di atas dilaksanakan setelah proses akad nikah, dimana kedua mempelai telah resmi menjadi suami istri.
Dan didudukan di kursi tepat di depan pelaminan Setelah upacara sungkeman, prosesi dilanjutkan dengan acara saweran. Saweran disini adalah mendudukkan kedua mempelai berdampingan, didampingi oleh kedua orang tua masing-masing. Kedua mempelai dipayungi, lalu sembari diiringi oleh nyanyian sunda yang berisi petuah, mereka akan melemparkan kepada hadirin berbagai barang sebagai symbol. (Lihat di video).
Barang-barang itu disediakan dalam sebuah bokor. Isinya terdiri dari uang receh, beras, irisan kunyit, permen, dan lipatan daun sirih. Masing-masing mempunyai makna, uang sebagai symbol kemakmuran, beras adalah symbol kesejahteraan, permen menandakan sepahit apapun kehidupan harus selalu diselesaikan dengan manis. Irisan kunyit dianalogikan bahwa kunyit itu bermanfaat bisa untuk makanan, bisa untuk obat. Istri harus berperan seperti itu, bisa memasak dan menjadi obat untuk suaminya kelak. Lipatan daun sirih diharapkan menjadi symbol agar dalam membina tetaplah harum dan bermanfaat seperti daun sirih.
sebelum acara saweran
Saat rebutan ayam
Sebenarnya masih banyak prosesi lainnya yang tidak kalah unik dan menarik. Semua tahapan ini selain dapat menghibur juga dapat diambil hikmahnya baik oleh kedua mempelai maupun tamu-tamu yang menghadiri perhelatan tersebut.
Tetabuhan khas sunda
Acara akad nikah dan resepsipun berlangsung hingga sore, om Anto mengajak kami ke Lembang ketempat rumah orang tuanya untuk menginap di sana barang sehari dua hari, sebelum kembali lagi ke Anyer. Nyai, datuk, acik mimin, mama, bunda dan kakak masih tinggal di lokasi acara, acek sore ini juga langsung pulang kembali ke Anyer.
Aku dan ayuk berangkat bersama om Anto menuju Lembang, bersama kerabat lainnya, karena malam ini kami seluruhnya akan menginap di Lembang.