Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Monday, 23 March 2026

Jakarta Ke Bandung Bermodal 175K

Setelah sampai ke Cengkareng kamipun menuju ke tempat transportasi berikutnya yaitu Bus Damri yang ternyata keberangkatan ke Bandung pukul 11 siang, saat ini waktu menunjukan pukul 10 kurang sehingga lebih dari 1 jam kami harus menunggu, sehingga akupun mengajak mereka untuk menunggu di cafe solaria yang terletak tepat di seberang terminal bus damri tersebut.

Akhirnya tidak lama berselang makanan kami pun datang dengan lengkap, ada yang pesan nasi goreng dan ada yang pesan steak waktu makan yang sekalian menjadi makan siang karena berdasarkan jadwal di estimasikan akan sampai ke Bandung pada pukul 2 siang.

Pada awalnya kami ingin naik kereta cepat Whoos tapi karena mahalnya harga ticket dari Palembang halim sehingga rencana itu kami batalkan dan mengambil rute Palembang Cengkareng yang ticketnya lebih terjangkau.

Cafe Solaria ini lumaya ramai, memang sepertinya menjadi salah satu tempat transit bagi para penumpang sebelum melanjutkan perjalanan baik yang transit atau pun menggunakan mode kerata api, bus atau travel.

30 menit berlalu hidaangan yang tersaji sudah habis kami santap, akhirnya kami pun menunggu bus damri yang terletak tepat di sebrang dari cafe solaria ini, lumayan ramai penumpang pada hari ini dengan tujuan berbagai tempat.

Stasiun bus ini letaknya di terminal kedtangan 1B sedangkan saat kita turun di termnal 1F jadi berjalan beberapa  saat untuk sampai di lokasi ini, adapun untuk lokasi bus damri sebagi berikut ;

Terminal 1: Shelter berada di area 1B, dekat Kalayang. Setelah keluar dari area kedatangan, ikuti petunjuk menuju transportasi darat/bus.

Terminal 2: Berada di ujung Terminal 2F (arah kedatangan domestik/haji & umrah).

Terminal 3: Berada di area parkir bus/transportasi umum. Ikuti tanda petunjuk "Bus Umum" atau "DAMRI" di area kedatangan

 

Hi Ace Damri foto by https://infoekonomi.id/

Dengan akhirnya kami membeli 4 ticket dengan tujuan kebon kawung atau pemberhentian terakhir di pool damri area Bandung, harga ticketnya Rp.175.000,- per orang sehingga akupun membayar 700k untuk 4 orang.

Akhirnya setelah menunggu +/- 30 menit para penumpang dengan tujuan Bandung pun di panggil dengan pengeras suara, mobil Hi-Ace sudah menunggu di shelter, dengan driver yang berdasi tampak sigap mengatur barang penumpang.

Mobilpun bergerak perlahan menyusuri beberapa tempat untuk mengambil penumpang dari termilan 1 dia bergerak ke terminal 2 selanjutnya ke terminal 3 yang nota bene parkiran sekaligus merupakan jalan keluar kendaraan. Penumpang penuh di mobil ini hanya menyisakan 1 bangku kosong di bagian belakang.

Ayuk dan kakak duduk di kursi di baris ke 3 sedangkan aku dan adek di baris paling belakang, tetapi bangku kosong ini tidak begitu lama sekitar berjalan kurang lebih 30 menit naik lagi penumpang yang terakhir yang mengisi kekosongan bangku tersebut.

Kurang lebih 3 jam mobil melibas aspal menuju ke kota kembang , adek yang sudah beberapa kali tertidur dengan ngorong yang khasnya, di mobil ini ternyata di lingkapi dengan charger yang terletak di pegangan kursi dan sandaran penumpang sehingga tidak perlu takut untuk kehabisan batre selama perjalanan.

Sesampai di kota Bandung terlihat para penumpang satu persatu turun,
"Bapak ... Turun di mana " tanya sopirnya ramah kepada ku
"Kebon Kawung saja pak" jawabku singkat
"Tujuan nya ke mana ?"tanyanya lagi
"Hotel di lengkong besar Pak" jawabku
"Liburan atau acara keluarga pak ?"tanyanya lagi
"Liburan... kebetulan ajak anak-anak lagi liburan" jawabku

Akhirnya setelah berbicara dengan sopir tersebut bersedia mengantarkan kami ke hotel yang akan kami tempati, akupun sangat berterima kasih kepada sopir yang ramah tersebut

"Terima kasih banyak pak atas bantuannya" ucapku sambil memberikan tips kepada beliau
"Sama-sama"pak ucap beliau

Akhrnya kami sampai juga di hotel Asoka, di mana merupaan hotel budget yang memiliki family room dan letaknya strategis dekat dengan mini market, tempar makan, ATM, kampus Unpas, dan cafe Makmur Jaya Coffe Roaster letaknya ada persis di bawak kamar kami, sehingga tidak heran kalau aroma kopi dan pastry tercium wangi hingga ke kamar.

Aku melakukan booking kamar ini melalui aplikasi traveloka dengan rate yang menurutku lumayan untuk 5 hari menginapa dan memanfaatkan point treveloka sebagai diskon pembayaran akhirnya dengan berbagai pertimbangan hotel yang satu ini menjadi pilihan kami, walaupun bukan hotel berbintang tapi lumayan bersih baik dari kamar, kamar mandi dan juga sekitar hotel dan yang serunya jika cafenya sudah mulai buka maka akan terlihat para antrian penikmat kopi baik langsung ataupun melalui jasa ojek online.

Setelah meletakan barang-barang kami dan melepas lelah sebentar akhirnya kamipun menuju destinasi pertama kami.

Hotel Asoka Bandung Jl.Lengkong Besar

Wednesday, 26 February 2020

Tanjung Priok Tempat Ziarah Terakhir Sebelum Pulang


Akhirnya kamipun meninggalkan masjid Istiqlal, setelah bada ashar, bus bergerak menuju utara Jakarta, tepatnya di kawasan tanjung priok, karena di sini terdapat pemakaman yang banyak di ziarahi oleh para peziarah baik dari dalam ataupun luar negeri.

Gubah Al Haddad atau Makam Keramat Mbah Priok tempat ini di sebut terletak di lokasi pelabuhan tanjung priok, kami tiba di tempat ini saat matahari sudah memasuki peraduan, azan magrib bakal berkumandang, kamipun bersiap-siap untuk sholat terlebih dahulu sebelum melakukan ziarah.

Kawasan yang pernah heboh di tahun 2010, lantaran kerusuhan besar antara ahli waris dan pengurus serta POl-PP dan Brimob saat rencana pengambilan alih lahan oleh PT. Pelindo II yang memang berada di dalam kawasan terminal peti kemas Tanjung Priok,


Kami tiba di makam ini sekitar pukul 5.30 sore, saat matahari mulai meredup ke barat, para peziarah mulai turun satu persatu dari bus, akupun mengambil perlengkapan mandi ku, kemudian mandi di pemandian umum yang merangkap wc di sisi kanan kawasan ini. insturksi dari ustad Jamal sendiri bahwa ziarah akan di lakukan setelah sholat magrib.

Saat menunggu azan magrib untuk sholat beramaah
Masih banyak waktu yang bisa di lakukan, setelah mandi terus merapikan selurh pakaian dan barang-barang kedalam tas biar bisa di masukan ke dalam bagasi, karena setelah dari sini tujuan selanjutnya adalah penyebrangan ferry merak yang artinya besok kami bakal sampai di Palembang.

Setelah selesai dengan semua itu, akupun kemudian kembali ke dalam gubah untuk menunggu saat sholat magrib di mulai, di sini ternyata juga sudah ada terlebih dahulu Ustad Abul Umar Toyib yang sudah datang dan berziarah terlebih dahulu dari rombongan kami sehingga merekapun merencanakan pulang setelah magrib.

Magrib pun tiba, azan di kumandangkan dan sholat pun di tunaikan , setelah melakukan doa dan wirid kamipun bergerak menuju makam Habib Hasan Muhammad AlHaddad, untuk melakukan ziarah, tahlil dan doa pun terlantun.



Selelah melakukan ziarah kami di informasikan bahwa keberangkatan menuju ke pelabuhan Merak  pada pukul 8 malam nanti, jadi masih lumayan banyak waktu, ku ganjal perut ini dengan makan malam bersama pop-mie dan kali ini makan bersama Abu dan anaknya yang juga makan pop mie.

Semoga perjalanan pulang ini tiada menemukan halangan, sudah hari ke 7 aku berjalan, sudah banyak yang kurindukan di rumah, semoga Allah melindungi perjalanan ini.

4 Jam Tertirah Di Jakarta Bagian 4 : Ketoprak & Kenangan Masa Lalu

Ketoprak Jakarta

Setelah sampai di halte di depan masjid Istiqlal akupun langsung mencari penjual ketoprak diantara para pedagang yang sedang di tertibkan oleh pol-pp DKI Jakarta, akhinya di sebarang aku menemukan penjual ketoprak.

Si penjual ketoprak ini merupakan orang Tegal yang sudah hampir 13 tahun berjualan ketoprak dengan bandrol harga 13 ribu per porsi, akupun mulai menyantap makanan yang penuh kenangan saat aku masih bekerja di ibu kota.

Dulu saat masih di daerah Tomang sekitar 19 tahun yang lalu,  hampir setiap pagi makan ini menjadi teman setia karena tukang ketoprak yang setiap hari mangkal di depan kantor,  setiap pagi juga membuatkan ku ketoprak, walaupun aku lagi berduit atau lagi berdompet tipis, ataupun saat sudah sarapan atau belum, si ketoprak selalu hadir di meja ku terkadang kadang teman sekantor atau ob di kantor yang menyantap makanan tersebut.


Tiap hari tukang ketoprak ini menjadi teman ngobrol ku, karena rasaku ngobrol dengan beliau asik dan kocak, orang asli tegal yang tinggal di Jakarta di kontrakan kecil demi menghidupi anak bininya, terkadang saat pulang kerja pernah sampai malam aku ngobrol bersama si tukang ketoprak ini sampai dia menutup dagangannya.

"Biarlah mas...... biar mas nya ada makanan" jawab si tukang ketoprak saat kutanya mengapa mengirim ketoprak setiap pagi.
"Lah bayarnya nanti gimana ?" tanyaku
"Terserah mas..... ada uang di bayar , kalau nggak ada ya nggak usah di bayar" jawab si tukang ketoprak tomang.

Karena hal ini lah ketorpak makanan khas Jakarta ini sangat berkesan bagiku, karena memiliki kenangan tersendiri di dalam kehidupan ini, hari ini aku makan lagi malahan sampai nambah 2 porsi bercerita kembali dengan tukang ketoprak ini seperti aku sering bercerita dengan tukang ketoprak di tomang 19 tahun yang lalu.

Om Abu, Anaknya dan om Usman juga menyusul ku kesini dan tertarik juga mencoba ketoprak ini, termasuk ada beberapa jamaah lain yang ikut membeli ketoprak ini, semoga hari ini laris ya pak.... biar nggak pulang terlalu malam.


4 Jam Tertirah Di Jakarta Bagian 3 : Monas Masih Seperti Yang Dulu


Sebenarnya ada rasa malas saat mau di ajak ke monas, karena setiap kali ke Jakarta pasti ke sini, tetapi om Usman yang memaksa biar ikut biar bisa nunjuki jalan katanya, 'Emang Guide" kataku dalam hati. Karena keinginan ku dalam hati adalah makan siang dengan ketoprak tapi mereka ini mau atau tidak juga belum ku tanyakan.

Setelah di desak akhirnya aku ikut juga, dengan menggunakan bus trans Jakarta gratis , kamipun langsung menuju halte monas I, jarak yang di tempuh memang tidak terlalu jauh jarak antar haltenya, memasuki pintu gerbang monas di dekat patung kuda ada taman an baru yang di sebut taman "Ragam" karena tertulis ragam yang bisa berubah-ubah karana merupakan susunan karakter 3 dimensi.


Melangkah menuju ke taman monas , posko kodim jaya berdiri di sini , "Indonesia Maju" menjadi objek foto kami, beberapa kali sampai selfie di sini, setelah sampai di dekat tugu monas dan memuaskan hasrat Om Usman & Om Abu beserta Azam untuk berfoto , saat di tawarkan apakah mereka akan naik keatas, ternyata mereka tidak mau akhirnya kamipun kembali menuju halte monas I untuk menunggu bus gratis trans Jakarta yang akan mengantar kami kembali ke halte istiqlal, saat di perjalanan pulang sempat terlihat proyek revitalisasi kawasan monas yang selama ini di ributkan.

Di depan posko kodim Jaya
Proyek Revitalisasi Kawasan Monas

Ingin menggapai puncak monas... tapi malu sama perut.. wwkkkwkk

4 Jam Tertirah Di Jakarta Bagian 2 : Bus Gratis Keliling Jakarta


Baru pertama kali naik moda transportasi yang satu ini, walaupun sudah sering mendengar dan membaca tetapi baru kesampaian kali ini, bus ini di berlakukan sejak di hapuskannya jalur "3 in 1" di mana pemprov DKI menyediakan bus gratis ini sebanyak 10 unit dengan rute yaitu dari Bundaran Senanyan Menuju ke Harmoni.

Bus yang berjenis double decker ini memiliki 2 tingkat, di bawah di prioritaskan untuk lansia, ibu hamil, penyandang distabilita dan anak-anak dan untuk yang lainnya bisa naik ke lantai 2 bus, selain model double decker seperti ini, bus gratis ini juga ada seperti bus gandeng trans jakarta pada umumnya.


Kursi di bagian atas lumayan banyak, kamipun duduk di lantai atas, kondektur bus dengan ramah memandu kami dan menjelaskan satu persatu tempat bersejarah atau penting yang bus ini lalui, dengan menggunakan pengeras suara menjadikan perjalanan ini menjadi wisata edukasi bagi kami yang menjajal layanan bus ini.


Di lantai 2 bus

Tangga untuk ke lantai 2
Awalnya kami mencoba hanya untuk ke monas, setelah naik dari halte istiqlal maka kamipun turun di halte monas 1 , setelah selesai dengan foto-foto di monas kamipun kembali lagi menggunakan bus ini hingga memutar balik sampai titik awal kami di angkut di halte istiqlal.

Menjadi pengalaman baru bagi kami sebagai sebuah solusi untuk mengatasi kemacetan sekaligun edukasi sejarah, perlu di contoh provinsi lain. 

Untuk koridor lain sebenarnya juga suda adah yaitu stasiun tanah abang sampai tanah abang auri dengan jam operasonal 08:00 -15:00, tetapi untuk koridor kedua ini tidak kami jalani karena keterbatasan waktu.

Antri bersama om Usman


Rute Bundaran Senayan - Harmoni
Foto by : tansjakarta.co.id

4 Jam Tertirah Di Jakarta Bagian 1 : Banjir "Macetnya" Jakarta Mengantarkan Ku ke Istiqlal


Setelah istirahat bus pun bergerak menuju tol Jakarta - Cikampek bus melaju cepat, sekitar 2 jam lagi akan bakal sampai ke masjid Istiqlal, itupun jika tidak mengalami kemacetan di jalan.karena saat lepas dari tol, kemacetan sudah membayangi perjalanan di Ibu kota ini.

Bus bergerak perlahat di antara kemacetan, tak terasa jam di tanganku menunjukan pukul 10 pagi, bisa-bisa sampai pukul 12 ujarku di dalam hati, ternyata dugaan ku salah bus merapat di pinggir jalan masjid Istiqlal pada pukul 12.30 lebih lama dari dugaan ku.

Kamipun segera turun, memasuki masjid yang bagian depannya sedang mengalami renovasi tersebut, yang informasinya akan di buat towongan ke gereja katedral di seberangnya, entah untuk apa terowongan itu aku pun tak tahu.


Dengan Pak Haji Adil, Toke Pempek
Kamipun mengambil wudhu yang sekarang tampak serba darurat, untuk wc harus berjalan jauh di ujung sana sudut lainnya dari masjid Istiqlal ini, kamipun menunaikan kewajiban kami sebagi musafir sekalian beristirahat di masjid di ibu kota ini.

Setelah cukup lama beristirahat, saat membaca WA bahwa rombongan jemaah bus 3 sudah meluncur ke monas menggunakan transportasi gratis dari trans Jakarta yang ada di halte istiqlal di depan halte juanda, membaca hal tersebut akhirnya kamipun menuju ke halte yang ada.


Sedang ada renovasi

Wednesday, 14 August 2019

9 Jam Ke Arah Selatan

Perjalanan panjang ayuk kali ini
Terdengar panggilan melalui pengeras suara stasiun bahwa untuk penumpang kereta api Gaya Baru Malam selatan 174 agar dapat memasuki ruang keberangkatan, kamipun segera bergegas sambil mempersiapkan ticket yang sudah di print dan KTP, jam di ruang keberangkatan masih menunjukan pukul 09:30.

"Masih 45 menit lagi,..." kataku dalam hati
"Yah... masih lama kah keretanya datang ?" tanya adek
"Sebentar lagi" jawabku singkat

Para penumpang yang duduk di kursi keberangkatan di panggil melalui pengeras suara untuk masuk kedalam kereta, kamipun mulai duduk di kursi ruang keberangkatan yang beberapa menit lalu hanya bisa berdiri.

Pose adek sesaat sebelum berangkat dari stasiun pasar senen 
"Sudah makan dulu...." kata bunda sambil mengeluarkan makanan yang ayuk beli di mini market tadi, ada roti, ada es krim dan permen.

Merekapun mengambil satu-satu makanan yang rencananya mau di makan di atas kereta tetapi sembari menunggu kereta datang, mereka menjadikan makanan tadi sebagai menu pembuka.

Tepat pukul 10:00 kereta api pun datang, melalui pengeras suara stasiun penumpangpun di persilahkan untuk naik, sambil membawa koper dan ransel kami langsung menaiki kereta yang kebetulan gerbongnya tidak terlalu jauh dari tempat kami menunggu. Kami memang mengambil kursi untuk 5 orang yang terletak dekat dengan pintu dan toilet, anak-anak bisa bertiga sedangkan bunda dan ayah bisa di kursi yang berdua.

Ayuk, kakak & Adek di dalam kereta Gaya Baru Malam Selatan 174

Tepat pada pukul 10:15 kereta mulai berangkat setelah sesaat semboyan 41 berbunyi panjang yang di susul dengan klakson kereta yang meraung keras, kereta melalu perlahan di rel besi yang akhirnya bertambah cepat, dengan bunyi kereta yang khas, si ular besi ini meliuk-liuk tanpa rintangan sampai memasuki daerah Jawa barat pun kecepatannya pun tidak berkurang.

Ayuk, kakak & adek masih tetap dengan kesibukan nya masing-masing, bermain hp ataupun tabletnya, dengan adanya colokan charger membuat mereka tidak takut untuk kehabisan battrey.

"Yah... kalau ada popmie, beli ya ?"celetuk adek
"Iya.. yah, beli" sahut kakak juga, 

"Perasaan baru juga makanin roti"gumaku dalam hati sambil melirik bunda yang hanya tersenyum
"iya.. nanti kalu ada yang lewat kita beli 3" jawab ku

Sekitar 15 menit kemudian pelayanan dari restorasi datang menawarkan bantal, kami pun menyewa 2 buah dengan harga 7 ribu/ buah.

"Om.... kalau ada popmie, adek mau beli" kata adek azam ke om pelayanan restorasi, yang di sambut senyum oleh om tersebut.

Tidak lama berselang, datanglah petugas restorasi yang membawa makanan dan minuman, dan akhirnya 3 popmie pun di beli dan 2 cangkir kopi , padahal bunda sudah menyiapkan nasi putih yang di beli dari salah satu rumah makan padang saat di stasiun pasar senen tadi, dengan bungkusan lauk pauk yang terpisah.

Saat pertama kali tiba di stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Keratapun terus melaju dengan gagah di atas rel besi, di beberapa stasiun si ular besi ini pun berhenti untuk sekedar menaikan turun penumpang. Beberapa kali kami turun sejenak dari kereta sekedar untuk menghilangkan penat. 

Pada pukul 15:00, tragedi popmie terulang kembali

"Yah... laper.. beli popmie lagi yah " kata adek pelan
"Popmie lagi......" kataku sambil melotot
"Iya.... yah lapar" kata adek lagi
"Adek Itu kan ada kue, ada snack, ada kacang" kata bunda
"Nggak mau.... mau popmie" jawab adek, Kulihat ayuk dan kakak senyum-senyum bakal ikut ketiban popmie lagi.

Saat petugas restorasi nya datang adek dengan semangat,
"Om ... popmie 3"serunya
"Maaf ... dik popmienya lagi belum di buat"kata petugasnya
"belum di buat dek..." kataku sambil senyum-senyum lihat muka adek yang manyun.

Kurang lebih pukul 16:00 petugas restorasi tersebut membawa popmie
"Itu yah ada popmienya...." kata adek dengan penuh kemenangan
"Dari mana pula petugas ini dapat popmie"rutuk ku dalam hati

Sebentar saja popmie itu sudah habis di makan oleh "three musketeers", raut lelah sudah membias di muka ke tiganya yang akhirnya pada jatuh tertidur, adek tidur di pangkuan bunda, ayuk bersandar dengan bantal di arah jendela sedangkan kakak tidur di pangkuan ayuk dan kakinya di pangkuan ku.

Kereta terus melaju membelah malam yang sudah mulai menyelimuti bumi, tinggal beberapa stasiun lagi kereta api ini akan sampai di stasiun lempuyangan Yogyakarta, kereta api terus merayap yang saat ini sudah mencapai stasiun Wates, berarti kurang lebih 15 menit lagi kereta akan sampai.

Koper, ransel dan barang-barang lainnya ku turunkan dari rak barang di dalam gerbong kereta. Ayuk, kakak dan Adek yang sudah dari tadi bangun sepertinya sudah mulai nggak sabar untuk turun, karena waktu 9 jam 45 menit bukannya waktu yang sebentar di dalam sebuah perjalanan.

Dan akhirnya tepat pukul 19:15 kereta api merapat di stasiun lempuyangan Yogyakarta. Kami datang wahai Yogyakarta.

Ayuk, Kakak & Adek di pelataran parkir stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Stasiun Lempuyangan yang saat itu merupakan stasiun sebagai titik akhir jalur kereta api rute Semarang–Solo–Yogyakarta, diresmikan pada tanggal 2 Maret 1872 oleh perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Dengan maraknya industri gula pada saat itu di pulau jawa pada dekade 1870-an yang di kelola oleh pihak belanda, sehingga menuntut pemerintah kolonial berfikir untuk menggunakan  mode angkutan masal yang murah,berkapasitas besar dan aman. Sehingga inilah yang mendasari pembangunan stasiun lempuyangan ini, 

Stasiun tertua dan pertama di daerah Yogyakarta ini, menjadi salah satu angkutan rakyat karena dari awal stasiun ini melayani untuk kereta api ekonomi, walaupun saat ini kereta api lokal dan angkutan barangpun ikut singgaj di sini.



Stasiun Pasar Senen, Sangat Berbeda Dari Yang Dulu

Pintu masuk menuju ruang tunggu kereta di stasiun pasar senen
Taxi blue bird bergerak perlahan menyusuri jalan di Jakarta yang masih sepi, tak lama kemudian mulai memasuki kawasan senin terlihat gedung atrium senin yang megah, pikiran kembali ke 20 tahun yang lalu saat pernah bekerja di kawasan ini tepat di seberang atrium senen, banyak perubahan yang saya lihat, pasar tradisional yang dulu menjadi tempat kami membeli kue tampah, sekarang sudah di rombak menjadi pasar senen yang lebih modern.

Taxi pun mulai memasuki kawasan parkiran stasiun pasar senen, tepat berhenti di drop off area, setelah seluruh barang di turunkan dan di pastikan tidak ada yang tertinggal, kamipun mencari tempat untuk duduk karena untuk menunggu kereta datang lumayan lama, sekarang saja belum pukul 7 pagi.

Kamipun mencari tempat duduk yang tidak berjahuan dengan tempat keberangkatan sehingga bisa menyaksikan orang yang lalu lalang untuk menaiki kereta api ke berbagai tujuan. Aku pun menuju tempat  check in counter untuk mencetak ticket kereta nya, menyusuri teras stasiun yang sudah banyak berubah di banding dengan 19 tahun yang lalu, karena dulu saat masih bekerja di kawasan senen, stasiun ini merupakan salah satu tempat kami nongkrong ataupun tempat makan kami di kawasan kaki lima di luar pagar stasiun , karena stasiun ini tidak jauh dari tempat kos kami.

Perubahan ruang tunggu, ataupun tenant yang terus bertambah begitu juga kondisi pelayanan yang semakin baik, padahal stasiun ini termasuk stasiun tua yang ada di Jakarta. Tetapi walau stasiun tua  perubahan yang ada tetap mempertahankan bentuk klasiknya, terlihat di pintu masuk ke ruang tunggu kereta tetap dengan pintu lengkungnya yang khas, begitu juga beberapa pintu dan jendela yang masih menjadi ciri era kolonial zaman dulu. 

Foto stasiun pasar senen tahun 1924  Sumber : Wikipedia
Jika di lihat dari sejarah nama stasiun kereta api ini berasal dari sebuah pasar  yang hanya di buka pada hari senen yang terletak tidak jauh dari stasiun ini. Pihak kolonial yang mendirikan pasar ini pada tahun 1733 bertujuan agar perekonomian di kawasan senen dan Weltevreden yang saat ini menjadi gambir bisa hidup dan menjadi ramai. Hingga saat kepemimpinan Gubernur Jenderal Van der Parra, Pasar Senen semakin ramai baik dari pedagang pribumi atau enis sehingga pasar ini di buka setiap hari.

Awal mulanya stasiun pasar senen ini  merupakan stasiun yang dioperasikan oleh Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij pada sekitar tahun 1894 sebagai stasiun perhentian kecil yang. Sama seperti yang terjadi pada stasiun gambir setelah pengambil alihan pengelolaan jalur oleh Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1913, maka pada tahun 1916 pembangunan stasiun ini menjadi stasiun besar dengan segala fasilitasnya di lakukan dan selesai pada tanggal 19 Maret 1925.

Lokasi Check in counter di stasiun pasar senen Jakarta
Setelah sampai di lokasi check in counter terdapat 14 PC yang bisa di gunakan oleh penumpang untuk mencetak ticket mereka, kode booking yang sudah kumasukan berganti dengan ticket yang ada di tangan, kembali akupun menyelusuri teras stasiun ini sambil melihat-melihat perubahan yang banyak terjadi di stasiun ini.

"Yah.... jalan yok.... bosen di sini terus "kata ayuk yang dari tadi hanya bermain dengan hp nya
Jam tangan kulirik, pukul 08:00 pagi, " Jalan kemana yuk.... kalau jam segini belum ada yang buka" jawabku
"Kemana... kek, bosen ini yah" jawab ayuk lagi
"Sudah beli makanan saja di mini market yang ada di ujung pintu masuk, sekalian ayuk bisa lihat-lihat suasana stasiun" kataku
" Ikut "kata kakak menyahut.

Mereka berdua segera berjalan menuju mini market yang terletak didekat pintu masuk stasiun ini, tinggal bunda yang masih di dera rasa kantuk dan adek yang dari tadi sibuk bermain dengan tabletnya. Masih kurang lebih 2 jam lagi kami harus menunggu di stasiun ini sampai jadwal pemberangkatan kereta kami tiba, lalu lalang penumpang semakin ramai, dan matahari pun semakin meninggi.

Di ruang tunggu stasiun pasar senen
Lokasi Stasiun Pasar Senen :

Nge-gembel di Stasiun Gambir.

Lagi gantian jaga barang saat sholat subuh
Rabu, 14 Agustus 2019 ( Hari Ke-2 ).

Bus damri yang merapat berbarengan dengan waktu fajar yang di tandai dengan alunan azan subuh, sesaat kami turun dari bus kami pun segera menuju stasiun gambir dengan tujuan mencari toilet untuk bebersih dan melakukan sholat subuh atau bahkan sekalian mandi biar badan segar.

Tetapi saat sampai di toilet di barisan toko-toko yang masih tutup tetera tulisan "Dilarang Mandi", sehingga kita bebersih seadanya dan melakukan sholat di musolah stasiun gambir tersebut.

" Yah... lapar.... mau makan" kata Adek
" Mau makan apa .???? , toko makanan masih pada tutup" jawabku
" Itu sudah buka "kata adek kembali sambil menunjuk salah satu toko ayam goreng cepat saji.
" Iya ... yah , yang itu saja" kakak menimpali
Akhirnya kamipun beranjak setelah menunggu bunda dan ayuk selesai keluar dari musolah tersebut. 

Sarapan Pagi

" Mas,... untuk paket keluarganya masih ? " Tanyaku kepada kasir toko cepat sajinya.
"Masih pak, ini ada 5 ayam 5 nasi " jawab masnya
" Ambil satu paket Mas + Susu Coklatnya 3" Kata ku kembali
"Susu coklatnya habis pak" jawab masnya
"Ganti sama teh dingin saja mas" kataku

Setelah melakukan pembayaran anak-anak yang sudah mengambil tempat yang berhadapan dengan dinding kaca sehingga bisa melihat orang yang melintas di stasiun gambir, kamipun mulai memakan sarapan pagi kami, ayuk, kakak dan adek terlihat lahap makannya mungkin karena efek perjalanan jauh.

Kakak bergaya di depan backdrop Hut KAI ke 73

Setelah menyudahi sarapan ku, akupun menuju mini market yang terletak di seberang tempat kami makan, membeli tisue basah dan alat cukur yang kelupaan di bawa oleh bunda, tisue basah ini biasanya merupakan barang wajib dimana bunda tidak pernah absen membawanya karena barang yang satu ini sangat serba guna, bisa sebagai lap tangan seusai makan atau sebelum makan, sebagai pengganti kain lap untuk mengelap badan yang belum mandi dan berbagai kegunaan lainnya.

Kakak yang melintas di backdrop HUT PT.KAI ke 73, tertulis tentang sejarah dari awal berdirinya PT. KAI sampai dengan saat ini, begitu juga tentang beberapa stasiun yang tertulis di situ, salah satunya tentang lawang sewu yang juga menjadi tujuan kami di kota Semarang nanti. Di backdrop itupun membahas tentang sejarah stasiun gambir sampai peralihan dari perusahaan kereta api zaman Belanda, Jepang , era kemerdekaan sampai saat ini, ternyata seru juga membacanya.


Stasiun Gambir tahun 1939, dengan arsitektur art deco foto diambil dari halaman Gereja Immanuel. 
Foto : Wikipedia

Stasiun Gambir awalnya hanya berupa halte kereta api yang terdapat beberapa ratus meter di arah selatan stasiun gambir saat ini dengan bangunannya yang berbentuk kecil dan sederhana. pada tahun 1871 merupakan Halte Koningsplein (Halte Lapangan Raja). Halte ini dikelola Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij sampai tahun 1884.
 
Halte itu kemudian digantikan oleh Stasiun , Pada tanggal 4 Oktober 1884 di remsikanlah stasiun Weltevreden yang menggantikan halte Halte Koningsplein tersebut yang terletak tepat di Stasiun Gambir saat ini berdiri. Dengan gedung mempunyai konstruksi atap yang bertumpu pada bantalan besi cor yang mengacu pada rancangan Staatsspoorwegen pada tahun 1881. Berbeda dengan NIS yang tidak menempatkan atap-atap seperti SS, sedangkan SS sendiri telah menempatkan konstruksinya untuk di beberapa tempat.

Stasiun ini di gunakan sebagai stasiun pemberangkatan untuk tujuan Bandung dan Surabaya sampai tahun 1906, setelah pengambilalihan pengelolaan jalur kereta api oleh Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1913, pembenahan dan perbaikan juga di lakukan seperti pada tahun 1928, stasiun Weltevreden itu di lakukan perluasan dan di perbesar termasuk bagian atap yang di perpanjang sampai 55 meter ke arah utara. Dan satu tahun kemudian mengalami renovasi besar-besaran yang mana gaya art deco di pilih. Stasiun itu diresmikan sebagai Stasiun Batavia Weltevreden SS pada tahun 1937 yang saat ini menjadi stasiun Gambir yang merupakan salah satu stasiun tersibuk di Indonesia.

Berpose di Stasiun Gambir

Pada pukul 06:30 kamipun menuju ke stasiun pasar senen menggunakan taxi blue bird yang tepat di seberang pool damri Gambir, karena pada pukul 10:15 nanti kereta gaya baru malam selatan akan membawa kami menuju ke stasiun lempuyangan Yogyakarta. Taxi pun berangkat menuju stasiun pasar senen, yang berisikan kami sekeluarga tanpa satupun ada yang mandi.





Saturday, 9 February 2019

Gudeg Pengobat Rindu & Perjalanan Ke Sumatera Yang Menyiksaku

Di kantin stasiun gambir
Sabtu, 09 Februari 2019 (Hari ke-7)

Setelah check out dari hotel maka kami order Taxi online untuk menuju pool damri di stasiun Gambir. jalan pun tidak terlalu macet mungkin karena hari Sabtu dimana sebagian dari pekerja sudah pada libur semua.

Sesampai di kawasan pool damri gambir tak lama kemudian kami menuju ke kantin, datuk lebih fokus kepada kepulan asap rokoknya dan Nyai bilang sudah sarapan saat di hotel tadi, kantin yang terletak di ujung ruang stasiun gambir lumayan nyaman untuk tempat makan, banyak variasi makanan yang bisa di pesan di sini. 

Kakak pesan batagor, Adek pesan mie ayam berdua dengan bunda dan saya sendiri pesan nasi gudeg. lama tidak merasa masakan khas kota pelajar ini, nasi yang di campur dengan gudeg, telur dan juga krecek, serta  sambal tempe menjadi sarapan kita hari ini.

"Manis ... ya" kata bunda saat mencoba nasi gudeg tersebut, karena bunda memang bukan penyuka makanan manis maklum masih ori lidah sumatera. 
"iya,... seperti inilah nasi gudeg" jawabku

Sambil menyuap nasi gudeg kedalam mulut, terbersit di hati next time Jogja menjadi tujuan liburan keluarga kecil ku saat Ayuk sudah selesai belajarnya dari pondok pesantren. 

It's Economy Trip

Bus Damri Bisnis class tujuan tanjung karang
Tepat pukul 10 pagi bus damri bergerak menuju merak, bus yang memiliki seat 40 di ruangan ber-AC dan 3 di ruang merokok, dan di lengkapi dengan toilet ini. Jarak kursi yang lumayan sempit membuat posisi duduk harus benar di atur biar tidak mengganggu penumpang yang lain, mungkin sesuai dengan harga 160 ribu bisa sampai ke tanjung karang. 

Dengan waktu tempuh 2 jam lebih bus sudah mencapai pelabuhan Merak, dan setengah jam berikutnya bus sudah berada di atas ferry catylin. 

"Naik ke ruang ekonomi saja " Datuk bilang

Kamipun bergerak ke lantai 3, ternyata di ruang ekonomi ini lebih nyaman ketimbang kapal yang kami tumpangi saat keberangkatan kemarin. terdapat musolah, kemu musolah dan juga ada orgen tunggal yang bermain di kelas ekonomi. Kamipun makan siang di sini, memang bukan kelas pake AC tapi keluarga cukup menikmati, apalagi Adek bisa berlari kesana kemari. datuk pun sempat menyuanyikan lagu di iringi tabuhan orgen tunggal tersebut. 

Sekitar 30 menit lagi kapal akan bersandar ke pelabuhan Bakauheni terasa badanku tidak enak. "Bun.... Badan ayah rasa mau demam" Kataku kepada bunda

"Pakai jaket nya yah" Setelah bunda selesai mengoleskan freshcare ke kepala dan badanku. 

Bersin semakin menjadi begitupun batuk yang saling sahut bersahutan, membuat badan semakin meriang. 

Sepanjang perjalan di bus Damri batuk ini terus menyiksa sampai terasa sakit di rongga dada ini, kurang lebih 3 jam perjalanan akhirnya kamipun minta berhenti di central Plaza/matahari karena lebih dekat dengan penginapan kami di Jl. Raden Intan.

Friday, 8 February 2019

Jakcard Monas & Kota Tua, Wisata Beraroma Sejarah



Formasi lengkap saat di monas
Jakcard Monas

Adek berteriak " Tinggi yah.... Tinggi sekali"
Sedangkan kakak justru ketakutan pada saat naik lift ke puncak monas.

Cukup lama saya dengan keluarga tidak berkunjung apalagi ke puncak monas, terakhir 2011 saat itu kakak masih berumur 3 tahun dan Ayuk baru kelas 1 SD. Saat ini Ayuk tidak bisa ikut karena masih belajar di salah satu pondok pesantren di kota Palembang, itulah rasanya ada yg kurang saat membuat jurnal liburan ini. Sedangkan kalau lagi ada urusan pekerjaan di Jakarta juga nggak pernah naik tugu monas.


Bada sholat jumat, kami menuju ke monas Cita-cita Adek untuk naik bajaj terwujud dengan tarif 25 ribu bajaj meluncur ke monas dg 4 penumpang: Adek, bunda kakak dan nyai, krn nggak ada kapasitas bajaj untuk 6 orang.

Angkutan wisata di kawasan monas "Gratis"
"Berangkatlah duluan nanti kami menyusul " Kataku

Akhirnya kami (saya dan datuk) menyusul dengan taxi Bluebird, setelah beberapa menit sampailah ke lokasi pintu masuk depan stasiun Gambir, ternyata sekarang kawasan souvenir, kuliner, permainan anak-anak dan musolah letak nya sudah terpisah.

Ada angkutan gratis yang mengangkut dari pos pemberhentian di lapangan monas sampai ke pintu masuk. Inilah yg tidak ku tahui akhirnya saya dan datuk berjalan mengitari MONAS yg saat itu matahari sedang panas-panas nya. Kami bertemu di pintu masuk dengan keringat yg bercucuran. Sampai di pintu masuk menuju lokasi pembelian ticket sdh bisa mendinginkan tubuh yg tadi panas.

Jakcard
Sistem pembelian sekarang tidak lagi menggunakan uang tunai tetapi sudah bekerjasama dengan bank DKI. Dalam bentuk jakcard yang bukan saja bisa di pakai untuk ke tempat wisata juga terintegrasi dengan modal angkutan di Jakarta. Bunda pun beli untuk 6 ticket ke cawan 4 ribu ke puncak 10 ribu dan untuk anak-anak separuh harga.,

Kartu ini merupakan bentuk elektronifikasi informasi dan transaksi sistem pembayaran. Kartu ini juga mengintegrasikan kartu-kartu yang sudah ada di Jakarta seperti, Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat.

Jakcard ini tidak hanya bisa digunakan di TMR saja. Melainkan, dapat juga digunakan masuk objek wisata lainnya seperti monumen nasional, museum-museum yang ada di Jakarta termasuk untuk naik bus transjakarta.

Adek menggunakan teropong untuk melihat Jakarta
Tidak sampai 15 menit kita menunggu giliran kita naik ke puncak, Adek yg sangat histeris saat ke puncak monas yg selama ini hanya mendengar cerita dari kakak dan ayuk nya. Setelah beberapa kali swa foto maka kamipun turun untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Ke museum fatahillah atau ke kota tua.



Kota tua Jakarta sejuta sejarah

Formasi di kota tua Jakarta, ada yang aneh dengan ekspresi adek ????
Dulu saat masih bekerja di sini sebulan bisa 3-4 kali, baru sekarang lagi bisa ke kota tua ini. Dari Monas kami bergerak ke museum fatahillah pukul 5 lewat untung driver gocar nyari jalan pintas biar tidak kejebak macet. Pukul 17: 30 lewat kami sampai saat sunset akan menerpa kawasan ini.

Kota Tua Jakarta, daerahnya berbatasan sebelah utara dengan Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kalapa dan Laut Jawa, sebelah Selatan berbatasan dengan jalan Jembatan Batu dan jalan Asemka, sebelah Barat berbatasan dengan Kali Krukut dan sebelah Timur berbatasan dengan Kali Ciliwung.


Lokasi Kota Tua yang strategis tersebut dulunya pernah menimbulkan perebutan kekuasaan wilayah. Mulai dari Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Tarumanegara, Kesultanan Banten, VOC, hingga Jepang dulu turut memperebutkannya. Kota Tua Jakarta dikenal pula dengan sebutan lamanya yaitu “Oud Batavia” atau Batavia lama. Seperti yang kita ketahui bahwa Batavia dulu juga merupakan nama untuk kota Jakarta sekarang. Wilayah Kota Tua yang luasnya sekitar 1,3 km2 ini dulunya sempat disebut sebagai “ Permata Asia” serta “Ratu Dari Timur’’. Wilayah ini merupakan pusat perdagangan yang sangat strategis di Asia, apalagi begitu banyak hasil yang melimpah di tempat ini. Wajar saja, banyak pemimpin yang tidak rela melepaskan kekuasaannya di wilayah ini.

Adek, datuk dan nyai berpose dengan patung karakter
Di kiri kanan kawasan ini masih seperti dahulu saat masih sering kesana tapi lebih cantik karena sudah banyak perbaikan dan renovasi untuk mempercaktik kawasan ini, baik itu museum wayang, cafe batavia, museum seni rupa dan lain sebagainya.

Dan banyak seniman yang unjuk kebolehan di sini dari manusia patung, band, tukang tatto dan lain sebagainya, dan sore saat matahari tenggelam ternyata kawasan ini makin ramai terutama oleh anak-anak muda yang menjadikan kawasan ini menjadi tempat tongkrongannya. Kakak dan Adek azam sempat berfoto dengan beberapa karakter, begitu juga nyai dan Datuk.

Adek yg rewel saat masuk ke kawasan wisata ini karena dari monas sudah tertidur, karena jarak yang tidak terlalu jauh dan tidur kurang nyenyak itu yg menyebalkan ia rewel.Akhirnya setelah di bujuk-bujuk maka maulah di menurut setelah di belikan mainan pelontar. 

Haripun mulai gelap jam di tangan pun sudah menunjukan pukul 19:00, saat taxi online menjemput kami maka petualangan hari ke 6 ini pun berakhir.