Showing posts with label Surakarta. Show all posts
Showing posts with label Surakarta. Show all posts

Tuesday, 25 February 2020

H 6 : Perjalanan Panjang Demak Ke Surakarta, Kami Harus Menunggu Sampai Fajar

Ustad Jamal di depan pintu gerbang masjid Riyadh Solo
Setelah pukul 10 lewat bus pun mulai berangkat dari parkiran kadilangu, sekitar 3 jam ke depan kami bakal sampai di kota Solo tepatnya di Masjid Riyadh tempat makam anak dan cucu sohibul maulid Al-Habsiy, Bus selepas meninggalkan parkiran kadilangu berlari kencang menyusuri asapal di dalam pekatnya malam, banyak para jamaah yang sudah kelelahan tertidur pulas di dalam bus ini.

Sudah 6 hari kami bersama di dalam bus ini, ada kaki yang sampai bengkak karena menggantung dan tidak menapak dengan sempurna, termasuk kaki ku, sehingga agak kurang nyaman saat di bawa untuk sholat, ada juga yang terkena demam, dan ada satu dua jamaah yang kehabisan "logistiknya" padahal perjalanan masih beberapa hari lagi, dan biasanya yang seperti ini menghabiskan banyak uang untuk belanja di makam-makam sunan sebelumnya.

Aku senditi terlelap dalam tidurku, 3 jam lumayan panjang untuk waktu istirahat, jalur Semarang- Solo sendiri bukan jalur asing bagi ku biasanya dari terminal Sukun aku naik patas baik untuk ke Tirtonadi Solo ataupun ke Jombor Yogyakarta.

Aku terbangun saat ku sadar kalau bus sudah berhenti, ku lihat jam di Hp ku baru pukul 2.30 dini hari, sebagian besar jamaah masih tertidur pulas, hanya satu dua orang saja yang bangun dan ikut turun dari bus.

Ustad Jamal dan beberapa orang  yang sedari tadi sudah turun ternyata mengalami kesulitan untuk memangil atau menghubungi marbot masjid yang kemungkinan beliau sudah tertidur pulas, akhirnya ada yang menghubungi Habib Novel Alydrus yang merupakan murid dari Habib Anis Al-Habsiy yang letak majelis dan kediaman beliau tidak terlalu jauh dari masjid Riyadh.

Hanya beberapa orang yang ikut, yang aku sendiri tidak tahu lagi ceritanya karena lebih fokus untuk mencari toilet karena ingin BAB, untungnya ada wc umum yang letaknya tidak terlalu jauh dari pemberhentian bus kami walaupun harus masuk lorong segala, sehingga hajat bisa tertunaikan.


Sekitar pukul 4 pagi pintu samping untuk masuk ke areal masjid dan pemakaman pun di buka, aku pun mengambil wudhu untuk menunggu sholat subuh berjamaah, karena instruksi dari Ustad Jamal bahwa ziarah akan di lakukan setelah sholat subuh.

Para jamaah yang sudah bangun dari tidurnya, banyak yang bebersih di kamar mandi dan toilet masjid ini, bahkan ada yang mandi, tidak menunggu terlalu lama masjid pun penuh oleh jamaah yang akan menunaikan sholat subuh.

Setelah sholat subuh selesai, wirid dan doa-doa di lantunkan, maka para jamaah pun bergeser sedikit kedepan untuk melakukan ziarah, hanya terdapat 3 makam di sini yaitu Habib Alwi, Habib Anis, dan satu lagi masih saudara habib Anis.




Setelah selesai melakukan ziarah, hari masih teralu pagi tetapi perut sudah lapar akhirnya kamipun berkeliling mencari sarapan, setelah bertanya dengan Habib Aman yang duduk di sebelahku katanya makan di ujung jalan tidak terlalu jauh.

Kami ber empat pun mendatangi tempat tersebut yang ternyata sudah ada jamaah yang makan di sana, akhirnya aku memesan nasi pecel dan 2 buah gorengan di tambah air teh hanya seharga 6 ribu saja, wajar kalau Om Usman memesan lagi 2 bungkus untuk bekal makan siang nanti.


Bersama Habib Fuad

Monday, 19 August 2019

Kalijaga 409

Stasiun Solo Balapan
Sudah pukul 4:00 pagi, selanjutnya mandi dan membangunkan bunda, gelap masih menyelimuti kota ini, dingin pun masih mencoba merasuk kedalam tulang, Ayuk & kakak yang tidur di kamar sebelahpun sudah saya bangunkan, subuh di kota ini pukul 4:30 menit jadi masih ada waktu untuk bersiap-siap ke stasiun.

Sarapanpun sudah di siapkan bunda, yaitu mie kemasan yang di beli tadi malam di mini market samping hotel ini, adek yang masih teguling di atas tempat tidur walau sudah mandi tapi masih banyak menguap karena masih ngantuk, adek kami haruskan untuk menghabiskan sarapan paginya biar kejadian seperti di candi Borobudur kemarin tidak terulang kembali.

Keberangkatan kereta pagi ini pada pukul 5:20 yang sudah di beli via KAI Accses, termasuk ticket ayuk juga sudah ada,  karena salah satu kendala dalam pemesanan ticket di KAI Access adalah di satu handphone/aplikasi  hanya bisa pesan untuk 4 tikect KA sehingga jika lebih dari 4 harus menggunakan aplikasi dari hp lainnya.

kalijaga 409 unuk tujuan ke Semarang poncol ini merupakan kereta lokal yang berangkat hanya satu kali setiap hari via stasiun Solo Balapan, jadi kalau sampai ketinggalan bisa kacau semuanya, karena ticket kereta ini di bandrol hanya 10 ribu,  sedangkan bus dari terminal tirtonadi ke Semarang bisa sampai 30 ribuan perticket untuk kelas ekonomi belum lagi jadwal yang sudah di susun akan menjadi berantakan.

Setelah bersiap-siap pukul menunjukan 5 tepat, kamipun bergegas untuk check out kamar, sudah di periksa ulang oleh ayuk agar tidak ada barang yang tertinggal, akhirnya setelah meninggalkan hotel kamipun setengah berlari menuju stasiun karena bunyi klakson kereta sudah terdengar, bunda berlari sambil menuntun adek, ayuk lari bersama dengan kakak, sedangkan ayah berlari sambil membawa ransel, udah mirip kayak tentara mau perang.


Dengan ngos-ngosan nggak sampai 5 menit , kamipun sampai di depan pintu check in ticket, petugaspun bingung lihat kami ngos-ngosan seperti itu, sambil melakukan scan dan mencocokan dengan KTP kami, petugas tersebut dengan bingung hanya memperhatikan kami yang berlalu dari hadapannya.

"Kereta kalijaga 409 nya sudah ada atau blm pak ? " tanyaku kepada petugas yang berdiri  tidak jauh dari tempat pemerikasaan ticket.
"Sebentar lagi masuk pak, ini lagi langsir " kata petugasnya

Akhirnya kami masuk langsung ke ruang keberangkatan kereta tanpak kereta kuning "spongebob" parameks yang sedang nangkring di stasiun solo balapan.

Stasiun balapan tempo dulu Foto : sharingdisini.com
Stasiun Solo Balapan termasuk salah satu stasiun besar tertua di Indonesia (setelah Samarang NIS). Pembangunan stasiun ini dilakukan oleh jaringan kereta api masa kolonial NIS pada abad ke-19, yaitu pada masa pemerintahan Mangkunegara IV dan berada di wilayah Kadipaten Praja Mangkunagaran. Stasiun besar di Surakarta untuk wilayah Kasunanan Surakarta dan Staatsspoorwegen adalah Stasiun Solo Jebres. Lokasi yang digunakan adalah tanah lapang tempat pacuan kuda milik Mangkunegaran. Sebagai tukarnya, pihak Mangkunegaran mendapat lahan di Manahan dari Kasunanan untuk dibangun sarana pacuan kuda dan aktivitas keolahragaan lainnya. Peletakan batu pertama berlangsung pada tahun 1864, dimeriahkan dengan upacara yang dihadiri Mangkunegara IV dan mengundang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron van de Beele. Pembangunan selesai dan diresmikan pada tanggal 21 Mei 1873.

Pada tahun 1927, dibangun satu bangunan di selatan stasiun dengan arsitektur yang dipengaruhi oleh budaya Jawa dengan atap tajuk tiga. Hal ini juga sejalan dengan pembangunan jalur ganda Staatsspoorwegen yang sejajar dengan jalur kereta api NIS Solo–Yogyakarta. Konstruksi bangunan stasiun sisi selatan dirancang oleh Herman Thomas Karsten, seorang arsitek kenamaan beraliran Indisch. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api kedua di Indonesia yang menggunakan sistem persinyalan elektrik setelah Stasiun Bandung, tepatnya dinyalakan tahun 1972. Sinyal tersebut diproduksi oleh Siemens dan diberi seri DrS60. Namun, sehubungan dengan proyek penyelesaian jalur ganda lintas selatan Jawa, rencananya sistem persinyalan elektrik eksisting tersebut secara bertahap akan segera digantikan dengan sinyal elektrik terbaru produksi PT Len Industri.


Dengan waktu tempuh +\- 2,5 Jam, kamipun berada di rangkaian gerbong ke 7 yang  akan mengantar kami sampai ke stasiun Semarang Tawang, tepat pukul 5:20 sembonyan 35 yang berupa peluit panjang berbunyi kereta api mulai bergerak pelan dan makin lama makin bertambah kecepatannya, untuk KA. Kalijaga 409 ini ticket lokalnya memiliki no tempat duduk berbeda dengan KA Parameks atau lokal Merak yang kita bisa duduk dimanapun, karena ticket ayuk saat pemesannya agak terlambat maka mendapat nomor kursi di gerbong 1 dan kami yang lainya ada di gerbong 7, tapi karena kereta cukup sepi pada hari ini akhirnya ayuk bisa duduk di gerbong yang sama.

Suasana di dalam gerbong Kalijaga 409 yang masih sepi.
Kertapun terus melaju melewati beberapa stasiun, adek dak kakak menghabiskan waktunya  bermain dengan tabletnya secara bergantian, ayuk dan bunda tertidur seperti penumpang lain, saya sendiri bercakap-cakap dengan ibu dan anaknya yang kebetulan juga mau kembali ke kota Semarang setelah ada acara keluarga di Solo.

Setelah melintasi hamparan sawah dan melewati beberapa stasiun kecil akhirnya hampir pukul 8 kereta memasuki Stasiun Semarang Tawang, dan jurnal barupun di mulai kembali.

Sunday, 18 August 2019

Pose In Hotel & Menikmati Solo Di Waktu Malam


Setelah selesai menikmati sate ayam ponorogo pak Mangun, kamipun langsung menuju hotel yang berjarak +\- 350 meter, kamipun langsung check in untuk menginap malam ini, alasan kami memilih hotel ini karena jaraknya sangat dekat dengan stasiun balapan Solo, di mana besok pagi kami akan ke semarang tawang dari stasiun ini pada pukul 5: 20 pagi.

Ternyata fasilitas di hotel yang kami pesan melalui traveloka ini lumayuan lengkap, dengan kamar yang bersih, AC, wifi, tv kabel dan kolam renang walaupun tanpa sarapan dengan harga yang lumayan terjangkau.

Kamipun menempati kamar 325 & 326, di lantai tiga, saat akan menaiki kamar anak-anak melihat kolam renang yang terletak di lantai 2 hotel ini,  

"Yah... itu ada kolam renang, boleh berenang kan ? " tanya kakak
"Iya yah berenang, gerah ini"adek juga ikut merengek
"Sebentar lagi ini kan baru saja masuk kamar,... istirahatlah sebentar"kata bunda menenangkan mereka berdua.

Akhirnya bunda mempersiapkan pakaian ganti adek & kakak termasuk handuknya, ayuk sepertinya enggan untuk berenang mungkin karena malu, akhirnya hanya duduk saja di kursi di pinggir kolam renang tersebut.

Lumayan lama juga adek dan kakak berenang, teriakan mereka sampai ke lantai 3 karena saking senangnya, karena selama ini adek & kakak kalau nginap di hotel selalu yang ada kolam renangnya, itu lah saat di Yogyakarta kemarin request mereka sebenarnya yang ada kolam renangnya tetapi itu semua di batalkan karena terkait dengan biayanya.

Hotel yang terletak di Jl. Monginsidi No.125, Kestalan, Kec. Banjarsari ini sangat cocok untuk wisatawan yang ingin berpergian menggunakan kereta api karena sangat dekat dengan stasiun solo balapan, dan hanya 5 menit ke terminal tirtonadi Solo, selain itu banyak terdapat tempat makan, mini market dan juga ATM.

Toko oleh-oleh  di jalan Gajah Mada
Pada saat malam hari kakak & adek sudah kecapekan renang tadi mereka sudah tertidur setelah sholat magrib, bersama bunda, ayah turun untuk membeli makan malam, di mana kawasan ini untuk makan malam tidak terlalu susah, ada rumah makan sate buntel pak H.kasidi yang tepat di seberang stasiun solo balapan,  di sampingnya ada rumah makan padang pak Haji, saya dan bunda menyelusuri sampai ke perempatan Jalan tarakan tetapi malam itu hampir semua tutup, hanya rumah makan padang pak Haji dan beberapa angkringan yang masih buka.

Akhirnya kami pun putar balik ke arah jalan Gajah Mada yang juga merupakan kawasan kuliner, mata bunda tertuju ke salah satu toko yang ada di pangkal jalan Gajah mada sebagai toko oleh-oleh,'
"Yah.. kita mampir ke toko itu dulu yok "kata bunda

Akupun hanya mengangguk sambil mengikuti bunda menyebrang jalan ke arah toko tersebut, di toko tersebut banyak di jual makanan khas baik dari Solo atau luar kota solo seperti dari brem khas solo yang berbentuk bundar, wedang kuwuh, keripik bayam, bakpia, dan beberapa makanan khas lainnya.

Akhirnya bunda membeli beberapa jenis makanan khas yaitu keripik bayam, brem khas solo, dan wedang kuwuh, selepas itu kamipun melanjutkan pencarian makan malam hari ini, ada rumah makan padang mentari pagi, Rumah makan bandeng mbak mar, Gudeg ayu, Dapur mpok duren solo balapan dan bakso alex.

Nongki di stasiun juice
Bunda yang sudah merasa berjalan kejahuan dan masakan yang di tawarkanpun cendrung memiliki rasa manis akhirnya kembali ke Rumah Makan Padang mentari pagi dan membeli nasi bungkus,  untuk malam ini, menu nasi ikan tenggir dan ayam gule yang menjadi santap malam kami.

Saat jalan balik ke hotel kami sempat nongkrong di sebuah kedai juice yang tidak jauh dari hotel tempat kami menginap untuk memesan juice biar anak-anak tambah sehat & bersemangat, karen besok hari perjalanan ini akan berlanjut di kota Semarang.

Nikmatnya Sate Ayam Ponorogo Pak Mangun


Setelah selesai berkeliling pura mangkunegaran saya pun berencana ke bunker lama di komplek balaikota tepatnya di kantor Disdukcapil.

"Mas kalau, mau ke balai kota kayaknya nggak bisa karena sekarang lagi ada karnaval" jelas pak Guyub
"Iya kah pak "kata ku agak kecewa

Saat browsing dan memang siang itu ada pawai pembangunan/karnaval dan opera berjudul 'Adeging Nageri Republik Indonesia yang di mualai pukul 13:00 di mulai di stadion sriwedari hingga Bundaran Gladag dan berakhir di Jalan Jenderal Sudirman.

"Kita cari makan saja pak"kataku
"Mau apa... sate, tim lo, soto atau apa ?"tanya pak Guyub"
"Sate saja pak" jawab ayuk

Akhirnya mobil pun mengarah ke stasiun solo balapan, ini terlihar dari map yang ku buka, tak lama kemudian kamipun mampir di sebuah warung sate yang ramai, dengan asap sate mengebul sampai keluar. Untain lagu pengamen yang duduk di dekat pintu masuk tidak putus-putus menyenandungkan lagu-lagu yang lagi hits kekinian. 


Waraung sate tersebut adalah warung Sate Ayam Ponorogo Pak Mangun, yang menurut informasi pak Guyub di kenal nikmat, walaupun ada lokasi lain seperti di  kawasan nonongan tetapi warung sate ini lebih dekat dengan stasiun solo balapan dan hotel tempat kami menginap.

Sate Ayam Ponorogo Pak Mangun Sibun, Awalnya pemilik rumah makan sate ayam ini mengawali usahanya dengan berkeliling namun para konsumennya mengeluh karena susah untuk mencari sate ini karena harus mencari berkeliling dulu, maka dari itu akhirnya ia berjualan di emper toko timur Stasiun Balapan.

Para pengunjung ramai, kamipun sempat antri menunggu pembeli lain selesai menyantap satenya baru kami gantian untuk duduk, 4 es teh manis. 2 es hangat & 2 sate pake lontong dan 4 sate pake nasi menjadi pesanan kami.

Lumayan lama kami menunggu +/- 15 menit, hingga pesanan datang, ternyata rekomendasi dari pak Guyub tidak salah, bumbu kacang yang nikmat, sate yang lumayan besar membuat anak-anak makan dengan lahap, jarang-jarang lihat kakak makan sampai habis.

Dan yang uniknya di warung sate ini untuk urusan kerupuk tidak jadi hitungan alias free atau gratis. Warung Sate Ayam Ponorogo Pak Mangun buka mulai pukul 10.00-19.00 WIB. Banyak artis luar kota singgah disani, Harga seporsi sate ayam 20ribu berisi 10 tusuk sate dan lontong atau nasi.

Untuk alamat warung sate ayang Ponorogo pak Mangun ada di Jalan. Monginsidi No.91, Kestalan . Kec Banjarsari , Kota Surakarta, Jawa Tengah tidak terlalu jauh dari stasiun solo balapan.


Pura Mangkunegaran & Keindahan Gaya Tempo Dulu



Setelah selesai dari Masjid Agung Kraton Surakarta, kamipun melanjutkan perjalanan kembali ke Pura Mangkunegaran yang jaraknya 1,6 Km atau sekitar 7 menit perjalanan, mobil pun berjalan pelan, banyak yang pak Guyub ceritakan tentang kota kecil ini terutama sejak reformasi sampai dengan saat ini, yang katanya sempat stag saat kejadian reformasi 1998.

Mobilpun memasuki parkiran kami pun, yang  melewati sebuah gapura hijau. Selanjutnya akan tampak pamedan, yaitu lapangan hijau tempat latihan prajurit pasukan Mangkunegaran. Di sebelah timurnya terdapat bangunan Kavallerie Artillerie.


Setelah selelai berfoto di bangunan Kavallerie Artillerie, kamipun langsung memasuki pintu masuk untuk membeli ticket, ticket yang di kenakan cukup murah yaitu 10 ribu/ orang, tetapi di pura mangkunegaran ini kita di haruskan menggunakan guide (pemandu) selama di dalam kawasan pura mangkunegaran ini.

"Dari mana mas ?"tanya petugas yang melakukan cek ticketnya
"Dari Palembang" jawabku
"Tunggu sebentar mas, di panggilkan pemandunya dahulu"kata petuganya

Mbak Lia, yang memandu kami di Pura Mangkunegaran
Melalui pengeras suara di petugas memanggil pemandu pura mangkunegaran yang masih merupakan anak muda.
"Selamat siang pak, bu... nama saya lia, yang akan memandu Bapak & Ibu Sekalian"Kata mbak Lia ini sambil menggengam plastik putih di tangannya.

Pintu gerbang kedua menuju halaman dalam berdiri Pendopo Ageng yang berukuran 3.500 meter persegi. Bangunan ini berbentuk joglo. Pendopo ini dapat menampung kurang lebih lima sampai sepuluh ribu orang, pendopo terbesar di Indonesia. Tiang-tiang kayu berbentuk persegi yang menyangga atap joglo diambil dari pepohonan yang tumbuh di hutan Donoloyo di perbukitan Wonogiri. Seluruh bangunan ini didirikan tanpa menggunakan paku.

Kamipun di jelaskan satu persatu tempat-tempat yang ada di pura mangkunegaran ini dari singa perunggu buatan berlin sebagai hadiah dan lain-lain. Sampai di Pendopo Ageng kami harus melepas alas kaki kami yang di masukan ke kantong kresek putih yang dari tadi di pegang oleh Mbak Lia, saat menpak di atas kramik yang agak kecoklat-coklatan ini yang informasi dari mbak Lia karena terendam akibat banjir yang pernah menggenangi pura mangkunegaran ini beberapa tahun yang lalu.

Ayuk di depan patung singa prunggu buatan Berlin yang merupakan hadiah kepada pura mangkunegaran
Di atas pendopo ageng ini ada beberapa set gamelan yang di memiliki fungsi dan kegunaan masing- masing, seperti ayuk yang berfoto dengan background kyai Lipur Sari yang merupakan gamelan terbaru. Gamelan ini ditabuh setiap hari Rabu untuk mengiringi latihan tari dan seni pertunjukan bagi wisatawan. Dan ada mitos yang di jelaskan oleh mbak Lia, siapa yang bisa memeluk soko guru (Tiang dari pendopo ageng) ini maka hajatnya bisa kabul. Akhirnya kakak dan adek berusaha memeluk tiang tersebut walaupun tidak berhasil.

Kami pun melanjutkan ker ruangan selanjutnya, tetapi ada ketentuan di ruangan ini tidak boleh di lakukan pengambilan foto apa pun, di mana ruangan ini di sebut Ndalem Ageng, sebuah bangunan berbentuk limasan yang memiliki luas kurang lebih 1.000 meter persegi yang saat ini beerfungsi sebagai museum, Selain memamerkan petanen (tempat persemayaman Dewi Sri) berlapiskan tenunan sutera yang menjadi pusat perhatian pengunjung, museum ini juga memamerkan perhiasan, senjata-senjata, pakaian-pakaian, medali-medali, perlengkapan wayang, uang logam, gambar adipati-adipati Mangkunegaran serta berbagai benda-benda seni dan pusaka. yang mengandung nilai estetik yang tinggi.

Ruang Paracimoyasa, ruang segi delapan yang di gunakan untuk rapat
Di belakang Dalem Ageng, terdapat keputren yakni tempat kediaman keluarga Mangkunegaran. Di dalamnya terdapat taman yang ditumbuhi pohon, bunga, semak hias, sangkar berisi burung, patung-patung klasik bergaya Eropa, serta kolam air mancur.

Disini dapat dilihat foto-foto anak-anak dari keluarga Mangkunegara ini, termasuk salah satunya yang menjadi artis di ibukota saat ini.

Menghadap ke taman terbuka, terdapat Pracimoyasa, sebuah ruang keluarga berbentuk segi delapan yang digunakan untuk rapat. Di dalam bangunan terdapat perabotan dari Eropa. Kaca-kaca berbingkai emas terpasang berjejer di dinding.

Foto Di kaputren
Ayuk berfoto di air mancur & kolam ikan kaputern

Masjid Agung Kraton Surakarta Dengan Segala Ke Eksotikannya

Masjid Agung Kraton Surakarta
Setelah tadi berputar-putar di pasar klewer tadi kaki lumayan pegal, akhirnya kamipun menuju ke masjid agung kraton Surakarta yang terletak di depan pasar klewer, Masjid ini pada tulisannya tersebut Masjid Ageng tetapi karena penyebutan sering di sebut Masjid Agung , Masjid yang dibangun oleh Sunan Pakubuwono III tahun 1763 dan kemudian disempurnakan oleh Sunan Pakubuwana IV yang memerintah tahun 1788-1820, memiliki nilai tersendiri terutama bagi masyakat Solo.

Kamipun kesini untuk melaksanakan sholat zuhur dan sekaligus beristirahat sejenak karena pada saat ini matahari sedang bersinar dengan teriknya. Damai dan tenang terasa di serambi masjid ini, banyak juga pengunjung masjid ini yang beristirahat disini bahkan ada sampai tertidur mungkin karena kelelahan.


Sentuhan air wudhu di bagian depan masjid, membuat raga ini kembali segar, saat melangkah di serambi masjid tampak ke khasan tempo dulu masih tetap di pertahankan sampai saat kini, saat melangkah di di bagian dalampun, sama seperti yang saya lihat di masjid gede mataram, hampir ada kemiripan, mungkin masih sama menggunakan arstektur jawa kuno. 

Setelah selesai melakukan sholat zuhur kami pun, bersantai senjenak melepaskan lelah, duduk di serambi masjid yang berwarna biru dengan lantai yang bercorak tradisional, membuat hilang capek ini.

Gerbang masuk Masjid Agung Kraton Surakarta
Masjid ini merupakan masjid dengan katagori masjid jami', yaitu masjid yang digunakan untuk salat berjamaah dengan ukuran makmum besar (misalnya salat Jumat dan salat Ied). Dengan status sebagai masjid kerajaan, masjid ini juga berfungsi mendukung segala keperluan kerajaan yang terkait dengan keagamaan, seperti Grebeg dan festival Sekaten. Raja (Sunan) Surakarta berfungsi sebagai panatagama (pengatur urusan agama) dan masjid ini menjadi pelaksana dari fungsi ini. Semua pegawai masjid diangkat menjadi abdi dalem kraton, dengan gelar seperti Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom (untuk penghulu) dan Lurah Muadzin untuk juru adzan. Masjid Agung menempati lahan seluas 19.180 meter persegi yang dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter. Bangunan Masjid Agung Surakarta merupakan bangunan bergaya tajug yang beratap tumpang tiga dan berpuncak mustaka (mahkota). Gaya bangunan tradisional Jawa ini adalah khusus untuk bangunan masjid. Di dalam kompleks Masjid Agung dapat dijumpai berbagai bangunan dengan fungsi kultural khas Jawa-Islam. Juga terdapat maksura, yang merupakan kelengkapan umum bagi masjid kerajaan.

Ruang utama Masjid Agung Surakarta tahun 1910-1930 Foto : Wikipedia
Setelah bunda dan anak-anak selesai kami pun kembali ke arah parkiran pasar Klewer karena mobil pak Guyub terparkir di sana, saat keluar gerbang masjid sempatlah anak-anak membeli es potong yang di jual tepat di pintu gerbang masjid agung Surakarta ini sebagai pengobat panas.


Malu Bertanya, Tersesat Di Pasar Klewer

Berfoto di pasar klewer
Taklama pun kami menuju parkiran basement pasar Klewer.
"Mas, nanti naik saja lift nya sampai atas, dan ada pintu keluar pasar tepat di depannya ada masjid kraton Surakarta" Jelas Pak Guyub
"Pak Guyub, nggak sekalian ikut sholat ?"Tanyaku
"Nggak mas, saya nasrani" jawab pak Guyub
"Maaf pak"kata ku lagi

Pasar Klewer Tahun 2012 Foto : https://soloraya.solopos.com/
Pasar Klewer adalah pasar tekstil terbesar di Kota Surakarta. Pasar yang letaknya bersebelahan dengan Keraton Surakarta ini juga merupakan pusat perbelanjaan kain batik yang menjadi rujukan para pedagang dari Yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan kota-kota lain di Pulau Jawa. Bangunan pasar dua lantai ini menampung 1.467 pedagang dengan jumlah kios sekitar 2.064 unit. Pasar Klewer tidak hanya sebagai pusat perekonomian, tetapi juga tujuan wisata dan simbol Kota Surakarta. Pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, kawasan di Pasar Klewer merupakan tempat pemberhentian kereta api yang digunakan sebagai tempat berjualan para pedagang pribumi. Oleh karena digunakan sebagai tempat berjualan, kawasan tersebut terkenal dengan sebutan Pasar Slompretan. 

Kata slompretan diambil dari suara kereta api ketika akan berangkat yang mirip dengan tiupan terompet (slompret). Pasar Slompretan ini merupakan tempat para pedagang kecil yang menawarkan barang dagangan berupa kain batik yang diletakkan dipundaknya sehingga tampak menjuntai tidak beraturan atau berkleweran jika dilihat dari kejauhan. Dari barang dagangan kain batik yang berkleweran itu, pasar ini terkenal dengan nama Pasar Klewer. Pedagang di Pasar Klewer pada awalnya adalah para pedagang yang berjualan di daerah Banjarsari dan Supit Urang. Pasar Klewer mulai berkembang pada tahun 1942-1945 dan semakin berkembang hingga tahun 1968. Kemudian dibangunlah bangunan pasar bertingkat permanen pada 9 Juni 1970 untuk menampung para pedagang yang diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Bunda sambil melihatl-lihat batik
Setelah keluar dari lift di lantai 2  dan langsung berjalan saja , tidak adanya papan petunjuk atau peta bangunan, kami pun terus berjalan menyusuri pertokoan di pasar klewer ini dan hal ini di manfaatkan bunda untuk melihat-lihat batik yang informasinya bahwa batik dari sinilah yang menjadi rujukan para pedagang di kota Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan kota-kota di pulau jawa lainnya.

Hampir 15 menit kami keliling-keliling tanpa menemukan pintu keluar, akhirnya kuberanikan untuk bertanya ,
"Mbak .. maaf kalau pintu utamanya yang ke arah masjid di mana ya ?"tanya ku 
"Lurus saja mas, kemudian mentok belok ke kanan langsung ketemu pintu masuk utamanya"Jawab mbak tersebut
"Terima kasih mbak" kata ku lagi

Akhirnya kami coba mengikuti petunjuk dari mbak tersebut dan akhirnya bertemulah dengan pintu masuk utama dari pasar klewer ini, ini lah efek dari malu bertanya tersesat di pasar klewer.

Bergaya di pasar klewer

Kiyai Slamet, Kerbau Bule Dan 4 Ikat Kangkung


Setelah selesai kunjungan ke Kraton Kasususnan Surakarta maka saya meminta pak Guyub untuk mengarahkan kendaraan yang di kemudikannya ke arah alun-alun kidul Surakarta, sebenernya ingin melakukan foto di pohon beringin kembarnya tetapi berdasarkan informasi yang ku terima kalau semalam ada keramaian pasar malam di alun-alun ini, sehingga alun-alun kidul tampak semerawut.

Tapi akupun teringat itenerary ku mengenai kerbau bule  yang ada di alun-alun kidul ini.
"Pak, ke kandang kiyai Slamet saja " kata ku ke Pak Guyub
"Nggih, Mas

Di alun-alun terlihat ada kubangan untuk kerbau di sisi alun-alun tetapi tidak ada kerbaunya  dan saat memasuki alun-alun kidul kesemerawutan pasar malam terlihat jelas, dan akhirnya kamipun sampai di kandang Kiyai Slamet, saat adek untuk pertama kali lihat kerbau bule ini adekpun langsung komentar,

"Warna kerbau nya seperti warna binatang ****  " Celetuk adek
"Inilah kerbau bule dek, kalau di toraja harganya bisa sampai ratusan juta untuk upacara adat" jelasku
"Kalu di sini merupakan salah satu peliharaan yang di keramatkan di kawasan kraton ini" jelas ku kembali

Entah mengerti atau tidak adek hanya menggangguk-angguk saja,  sebenarnya setelah berfoto-foto kami pun ingin menyudahi kunjungan kami ke kandang kiyai Slamet ini, selain kami ada pula  rombongan lain pula yang  datang menggunaakan andong ikut berfoto di kandang kiyai slamet ini.

Saat mau menaiki mobil, pak Guyub buru-buru mendatangi kami.
"Maaf mas, ini biasanya ... kalau mau berfoto atau kekandang kiyai slamet ini, biasanya harus kasih makan kerbaunya "jelas pak Slamet sambil menunjuk tempat membeli makanan kerbaunya.


Ternyata makakan untuk kerbau ini sudah di siapkan oleh pengurus kerbau kraton ini berupa sayuran kangkung yang sudah di ikat dengan harga dua ribu lima ratus per ikat, setelah memanggil pengurus kamipun membeli 2 ikat kangkung, dan langsung memberikan ke kerbau bule tersebut.

Pertama kali yang datang adalah kerbau betina yang sepertinya lagi bunting, Ayuk, kakak,  Adek serta bunda pun mulai memberikan sayuran kangkung tersebut kepada kerbau-kerbau bule tersebut, ternyata setelah satu di kasih makan maka kerbau-kerbau bule lainya sepertinya mencium makanan enak mereka pun pada keluar dari kandang dan mendekati kami yang sedang memegang sayuran kangkung tersebut.


Ada sekitar 5 kerbau yang mendekati pagar dan kami kasih makan satu persatu, akhirnya sayuran kangkung nya pun habis dengan cepat, kamipun membeli 2 ikat lagi sayur kangkung tersebut untuk di berikan ke kawanan kerbau bule tersebut.

Jujur saja ada rasa geli, senang  dan gembira apa lagi anak-anak yang memang belum pernah memberi makan kerbau merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan,  Maha suci Allah yang telah menciptakan segala mahluk yang ada di atas bumi ini dengan kesempurnaan masing-masing.


Sesampai di mobil saat menuju ke pak Guyub banyak cerita mengenai kerbau bule ini, karena masa kecil beliau di habiskan di kawasan kraton ini, kebetulan rumah orang tua beliau tidak berjauhan dari alun-alun kidul Surakarta ini.

Dari cerita beliau kalau dulu kerbau bule ini tidak di kandang jadi bebas berkeliaran kemanapun mereka suka, terkadang memakan tanaman atau dagangan orang tapi di anggap biasa dan bukan masalah, ada cerita dari pak Guyub mengenai seseorang yang hancur usahanya, padahal usahanya tersebut lumayan besar karena lantaran marah-masah saat kerbau bule memakan tanaman ubi beliau yang siap di panen dan ada juga pedagang sayuran kecil yang menjadi pedagang besar gara-gara dagangannya di makan kerbau ini dan pedagang tersebut diam saja.

Dan katanya lagi  tahun ini tadi kerbau bule ada yang mati, kerbau tersebut di mandikan, di kafankan dan di kuburkan layaknya manusia, setelah kulakukan penelusuran di internet  ternyata benar, salah satu keturunan kiayi slamet yaitu kiyai Joko mati karena sakit pada Januari 2019 yang lalu.

"Tanggal 1 suro nanti mas (1 September 2019), kerbau ini bakal di lepasin (di kirab) yang belakangnya di ikuti oleh pusaka-pusaka kraton... bakal rame, kalau ada waktu bolehlah untuk melihat"Jelas pak Guyub


"Terkait mitos atau pun fakta jika merunut dari sejarah bahwa tradisi Kirab Kebo Bule di Keraton Kasunanan Solo. Tradisi ini bermula ketika Kyai Hasan Besari Tegalsari dari Ponorogo memberikan hadiah sepasang kerbau dengan warna kulit yang khas, yaitu bule (putih agak kemerah-merahan/bule) kepada Sinuhun Paku Buwono II. Kerbau (kebo bule) itu diperuntukkan sebagai cucuk lampah (pengawal) dari sebuah pusaka keraton yang bernama Kyai Slamet saat beliau pulang dari mengungsi di Pondok Tegalsari ketika terjadi pemberontakan pecinan yang membakar Istana Keraton Mataram Islam di Kartasura. 

Sekadar catatan, sampai sekarang pihak keraton tidak pernah bersedia menjelaskan apa bentuk pusaka Kyai Slamet ini. Karena bertugas menjaga dan mengawal pusaka Kyai Slamet, maka masyarakat menjadi salah kaprah menyebut kebo bule ini sebagai pusaka Kebo Kyai Slamet.

Kamipun melucur meninggalkan alun-alun kidul Surakarta untuk melaksanakan sholat zuhur di masjid kraton Surakarta yang tepat di depan pasar klewer.

Benteng Vastenburg & Kraton Kasusunan Surakarta Bukti Sejarah Tempo Dulu


Setelah KA. Batara Kresna berhenti sempurna kamipun turun di stasiun solo kota atau sering di sebut sangkrah yang merupakan stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Sangkrah, Pasar Kliwon, Surakarta. Karena letaknya itulah, stasiun ini juga disebut sebagai Stasiun Sangkrah. Stasiun ini dibangun pada tahun 1922 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Stasiun yang terletak pada ketinggian +97 m ini terletak di Daerah Operasi VI Yogyakarta. Stasiun ini terletak di wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta. Stasiun ini memiliki tiga jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Saat ini stasiun ini menjadi terminal untuk kereta api uap Jaladara yang ditarik lokomotif C1218 dan juga melayani rail bus Bathara Kresna. Ke arah Sukoharjo, terdapat dua halte non aktif, yakni Kronelan dan Kalisamin.


Kendaraan yang sudah kami pesan via traveloka untuk menjemput kami sudah ada di stasiun sangkrah ini. Pak Guyub beliau yang di tugaskan oleh Persada Transport untuk mengantar kami keliling kota Solo, dan tanpa sadar saat kami mengambil foto dengan background stasiun solo kota beliau ikut terfoto, bapak yang berbaju batik dan pake topi.

"Awalnya bingung kok di jemput di sangkrah bukan solo balapan atau purwosari"kata pak Guyub sambil menyetir mobil.
"Iya, pak karena memang sengaja minta di jemput disini kita naik KA. Batara Kresna yang pukul 10"Jawabku

Di Depan Benteng Vastenburg
Tujuan pertama kita adalah benteng Vastenburg yang jaraknya hanya +\- 5 menit dari stasiun solo kota , tetapi saat sampai di sana benteng Vastebburg ini tidak buka, dan menurut keterangan dari orang yang ada di sana di buka hanya khusus untuk ada event saja.

Benteng Vastenburg Surakarta Tahun 1910 Foto: Wikipedia
Benteng Vastenburg adalah benteng peninggalan Belandayang terletak di kawasan Gladak, Surakarta. Benteng ini dibangun tahun 1745 atas perintah Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff. Sebagai bagian dari pengawasan Belanda terhadap penguasa Surakarta, khususnya terhadap keraton Surakarta, benteng ini dibangun, sekaligus sebagai pusat garnisun. Di seberangnya terletak kediaman gubernur Belanda (sekarang kantor Balai Kota Surakarta) di kawasan Gladak. 

Bentuk tembok benteng berupa bujur sangkar yang ujung-ujungnya terdapat penonjolan ruang yang disebut selekoh (bastion). Di sekeliling tembok benteng terdapat parit yang berfungsi sebagai perlindungan dengan jembatan di pintu depan dan belakang. Bangunan terdiri dari beberapa barak yang terpisah dengan fungsi masing-masing dalam militer. Di tengahnya terdapat lahan terbuka untuk persiapan pasukan atau apel bendera. Setelah kemerdekaan, benteng ini digunakan sebagai markas TNI untuk mempertahankan kemerdekaan. 

Pada masa 1970-1980 pembangunan ini digunakan sebagai tempat pelatihan keprajuritan dan pusat Brigade Infanteri 6/Trisakti Baladaya Kostrad untuk wilayah Karesidenan Surakarta dan sekitarnya. Setelah lama tidak terpakai sejak 1980-an, benteng ini penuh semak belukar dan tak terawat.Sejak kepemimpinan Joko Widodo, perubahan dan restorasi mulai terlihat. Pada tahun 2014, restorasi terhadap Benteng Vastenburg sangat terlihat dari cat yang mengelupas dicat ulang dengan warna putih.

Karena sebelumnya itenerary perjalanan sudah saya WA ke pak Guyub sebelum kedatangan kami ke solo, "Mas, Kalau usul saya lebih baik ke keraton kasusunan saja dahulu karena kalau hari Minggu ini kraton tutupnya agak cepat sekitar pukul 2 siang" kata pak Guyub.

Aku pun berfikir bener juga karena saat ini juga hampir merapat ke tengah hari "Ok Pak" jawab ku

Kamipun langsung meluncur ke kawasan kraton kasusunan Surakarta, yang hanya berjarak 1 km-an, memasuki kawasan berpagar putih di kanan dan kiri jalan yang merupakan tembok kraton kasusuanan Surakarta.


Setelah memasuki bagian depan kraton kamipun melihat banyak orang antri berfoto dengan prajurit kraton yang berseragam hijau, kamipun ikut mengantri dan akhirnya berfoto, bahkan adek ingin berfoto sendiri dengan prajurit kratonnya, dengan memberikan uang secara sukarela kepada salah satu prajurit sebagai koordinatornya.

Tetapi ada juga yang memfoto kami menggunakan kamera DLSR nya, sehingga saat pulang foto yang sudah di cetak  ukutan 12R sebanyak 3 lembar tersebut kami bayar seharga 50 ribu Rupiah.

Kami pun langsung menyusuri sisi kanan kraton menuju loket pembelian ticket, tanpa terlihat andong yang berjejer dan juga penjual mainan anak-anak & akar wangi pun ada di jalan menuju loket pembelian ticket tersebut.

Karena menghindari panas begini jadi fotonya.
Dengan tiket masuk 10 ribu perorang kamipun langsung mengunjungi bagian museum kraton kasusunan Surakarta.  Banyak yang dapat kami lihat di bagian museum ini dari perlengkapan kraton, kereta kencana, diorama perang, pusaka, pakaian kebesaran dan lain sebagainya.

Ayuk di samping salah satu kereta kencana
Karaton Surakarta Hadiningrat) adalah istana resmi Kasunanan Surakarta yang terletak di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwana II pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743.

Walaupun Kasunanan Surakarta tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia sejak tahun 1945, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal Sri Sunan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kerajaan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata utama di Kota Surakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kasunanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan contoh arsitektur istana Jawa tradisional yang terbaik.

Adapun sejarah berdirinya kraton kasusunan di rangkum sebagai berikut ; Saat kesultanan Mataram yang kacau akibat pemberontakan Trunajaya tahun 1677 ibu kotanya oleh Susuhunan Amangkurat II dipindahkan di Kartasura. Pada masa Susuhunan Pakubuwana II memegang tampuk pemerintahan, Mataram mendapat serbuan dari pemberontakan orang-orang Tionghoa yang mendapat dukungan dari orang-orang Jawa anti VOC tahun 1742, dan Mataram yang berpusat di Kartasurasaat itu mengalami keruntuhannya. Kota Kartasura berhasil direbut kembali berkat bantuan Adipati Cakraningrat IV, penguasa Madura Barat yang merupakan sekutu VOC, namun keadaannya sudah rusak parah. Susuhunan Pakubuwana II yang menyingkir ke Ponorogo, kemudian memutuskan untuk membangun istana baru di Desa Sala sebagai ibu kota Mataram yang baru.


Bangunan Keraton Kartasura yang sudah hancur dan dianggap "tercemar". Susuhunan Pakubuwana II lalu memerintahkan Tumenggung Hanggawangsa bersama Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, untuk mencari lokasi ibu kota/keraton yang baru. Untuk itu dibangunlah keraton baru berjarak 20 km ke arah tenggara dari Kartasura, tepatnya di Desa Sala, tidak jauh dari Bengawan Solo. Untuk pembangunan keraton ini, Susuhunan Pakubuwana II membeli tanah seharga selaksa keping emas yang diberikan kepada akuwu (lurah) Desa Sala yang dikenal sebagai Ki Gede Sala. Saat keraton dibangun, Ki Gede Sala meninggal dan dimakamkan di area keraton.

Setelah istana kerajaan selesai dibangun, nama Desa Sala kemudian diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kesultanan Mataram oleh Susuhunan Pakubuwana II kepada VOC pada tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta.


Keraton (Istana) Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini adalah Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwana I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum. Keraton Surakarta sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada 1744-1745, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya. Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran terakhir dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwana X yang bertahta 1893-1939. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya campuran Jawa-Eropa.

Secara umum pembagian keraton meliputi: Kompleks Alun-alun Lor/Utara, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Siti Hinggil Lor/Utara, Kompleks Kamandungan Lor/Utara, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedaton, Kompleks Kamagangan, Kompleks Sri Manganti Kidul/Selatan (?) dan Kamandungan Kidul/Selatan, serta Kompleks Siti Hinggil Kidul/Selatan dan Alun-alun Kidul/Selatan. Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan baluwarti, sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima meter dan tebal sekitar satu meter tanpa anjungan. Dinding ini melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang. Daerah itu berukuran lebar sekitar lima ratus meter dan panjang sekitar tujuh ratus meter. Kompleks keraton yang berada di dalam dinding adalah dari Kamandungan Lor/Utara sampai Kamandungan Kidul/Selatan.


Kami pun menyudahi kunjungan kami ke kraton kasusunan Surakarta pukul 12 kurang, yang selanjutnya ingin melihat alun-alun kidul yang ada beringin kembarnya, sama seperti alun-alun kidul Yogyakarta. Ada cerita saat pohon beringin di alun-alun kidul Surakarta ini roboh yang di alun-alun kidul Yogyakarta pun ikut roboh.


Batara Kresna , Kereta Api Berasa Trem Luar Negeri


Alhamdulilah setelah pukul 8 lewat kereta api Parameks 252 mulai memasuki stasiun purwosari itu yang aku ketahui dari pengeras suara stasiun. Kakak dan adek yang turun langsung lari-lari di pintu keluar stasiun tersebut, setelah formasi lengkap kamipun mengabadikan di depan stasiun tertua ke dua di kota Surakarta tersebut.

Stasiun purwosari saat masih menjadi stasiun pulau Foto : Wikipedia
Stasiun Purwosari merupakan stasiun kereta api tertua kedua di Kota Surakarta. Dalam peta jalur Samarang–Vorstenlanden terbitan 1869, koleksi Universiteit Leiden Belanda, stasiun ini sama sekali tidak disebutkan. Yang disebutkan dalam rencana pembangunan jalur kereta api oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) adalah Stasiun Solo (Stasiun Solo Balapan) dan Stasiun Solo-Rivier yang terletak di lembah Bengawan Solo. Namun, pada peta yang dibuat tahun 1878, nama stasiun ini mulai disebut (tetapi dengan nama yang salah, yaitu Poerwodadie). Diperkirakan penambahan stasiun ini dilakukan bersama dengan finishing jalur kereta api tersebut dan juga dibuka bersama dengan pembukaan resmi jalur pada tanggal 21 Mei 1873. Sejak tahun 1907, stasiun ini menggunakan arsitektur yang mirip dengan Stasiun Kedungjati dan Willem I Ambarawa. Stasiun yang semula berperon sisi kemudian menjadi stasiun pulau. Ukuran bangunan stasiun ini lebih kecil daripada Kedungjati maupun Purwosari karena bentang atapnya hanya 13 meter, sementara Kedungjati 14,65 meter dan Ambarawa 21,75 meter. Bangunan ini terdiri atas kanopi yang memayungi bangunan utama serta jalur yang mengapitnya.

Ruang Tunggu Keberangkatan Stasiun Purwosari
Kamipun duduk di ruang masuk ke ruang tunggu pemberangkatan cukup lama untuk menunggu keberangkatan batara kresna pada pukul 10 nanti, sepatu, kaus kaki dan ikat pinggang pun di keluarkan bunda, segera ku pakai dan merapikan diri. Adek dan kakak sibuk bermain tabletnya, detik terasa berjalan lambat, ayuk sibuk dengan hp nya tinggal bunda dan aku yang saling bertatapan sambil menunggu batara kresna datang.

Rail Bus Batara Kresna Foto : Wikipedia
Batara Kersna yang kami tunggu ini bukanlah batara kresna yang saya tuliskan diatas,  yang merupakan salah satu toko pewayangan favorit saya, tetapi batara kresna ini berbentuk kereta api, Batara Kresna adalah layanan bus rel (rail bus) milik PT Kereta Api Indonesia yang beroperasi di rute Solo Purwosari-Wonogiri dan merupakan proyek kerja sama Pemerintah Kota Surakarta dengan PT KAI, pada saat Kota Surakarta dipimpin oleh Joko Widodo. Bus rel ini adalah bus rel kedua di Indonesia setelah bus rel Kertalaya di Sumatra Selatan.

Pada pukul 9:30 panggilan dari pengeras suara untuk penumpang kereta api batara kresna dapat memasukki ruang tunggu keberangkatan, kami bergerak untuk memasuki ruang keberangkatan anak-anak yang dari tadi sibuk bermain tablet dan hp menghentikan sesaat kesibukan mereka.

Ticket Batara Kresna
Ticket yang saya beli pun di scan petugas dan mempersilahkan masuk dan saat masuk di ruang keberangkatan saya tidak melihat kereta batara kresna dengan warna khas merah putihnya ini, mungkin kereta ini belum datang kataku dalam hati.

Tujuan kami naik Batara Kresna hanya ke stasiun solo kota (Sangkrah) sekitar 30 menit dari stasiun purwosari, tetapi banyak artikel menarik mengenai sensasi menaiki batara kresna ini terutama saat melintas di kawasan jalan Slamet Riyadi, dimana kereta tersebut bisa berdamipingan  dengan mobil ,motor  atau pejalan kaki.

Di dalam gerbong batara kresna
Setelah kutanya petugas ternyata batara kresna sudah ada di spur 6 yang terhalang oleh salah satu kereta yang masih nangkring di spur 5,  dan akhirnya kami pun  di persilakan menaiki batara kresna ini oleh petugas, tepat pukul 10:00 kereta bergerak perlahan menuju ke stasiun pertama yaitu ke stasiun solo kota yang sekaligus menjadi termpat pemberhentian kami.

Pada saat batara kresna ini mulai memasuki jalan Selamet Riyadi, ada kegembiraan tersendiri, kebetulan saat ini hari Minggu sehingga lagi di berlakukan car free day di jalan ini, kereta berjalan pelan di sisi kanan jalan banyak para pedagang yang mulai membereskan dagangannya, bangunan-bangunan eksotik yang terletak di jalan Selamet Riyadi ini juga menjadi nilai tambah saat menaiki batara kresna ini.

Pintu sambungan antara gerbong.
Kereta ini berjalan pelan sekali, mungkin lebih cepat orang yang mengayuh sepedah ketimbang kereta ini, tapi karena keunikan ini lah banyak kesan yang melekat dari batara kresna ini. Saya menemukan keunikan lain, saat di  persimpangan jalan tanpa palang kereta api yang kami lewati. Kendaraan seperti tanpa komando berjajar rapi menunggu kereta yang sedang melintas meski mereka melewati jalan raya yang tak berpalang.

Jalan Slamet Riyadi yang juga menjadi pembatas wilayah Kasunanan Surakarta dengan Kadipaten Mangkunegaran pun selesai kami lewati. Kini, kami menuju daerah Benteng yang akan bermuara ke Stasiun Solo Kota untuk menaik turunkan penumpang. Tepat pukul 10:30 kami pun sampai di stasiun solo kota sebagai pemberhentian pertama yang mengakhiri kebersamaan kami bersama KA.Batara Kresna.

Peta Jaringan Perjalanan KA. Batara Kresna