Showing posts with label Semarang. Show all posts
Showing posts with label Semarang. Show all posts

Monday, 19 August 2019

Bus Patas, Mie Ayam Bakso & Bak Pao Terminal Sukun


"Kita langsung saja ke terminal sukun pak, mumpung masih siang" kataku ke pak Ratno
"Siap Mas, mau lewat jalan biasa atau via tol saja mas ?" tanya Pak Ratno balik
"Via tol juga boleh pak"kataku singkat

Kalau di lihat dari google map jarak antara Masjid Agung Jawa Tengah dan terminal sukun kurang lebih di tempuh 23 menit via tol, saat memasuki tol Gayamsari yang bertarif 5 ribu itu, mobil melaju kencang.

Akhirnya rasa kantuk datang mendera, dan mungkin di pertengahan jalan akupun tertidur dan saat terbangun kulihat jam di tangan ku menunjukan pukul 13:15, berati tidak lama lagi kami sampai di terminal sukun, dan benar pak di depan terlihat jajaran bis yang berwarna-warni dengan orang yang berteriak-teriak memberi tahu tujuan bis tersebut.


Setelah sampai ku bangunkan anak-anak yang juga sudah pada tidur, setelah semua turun dan mengucapkan terima kasih kepada pak Ratno, kamipun menuju loket bus yang berlogo pemanah dengan warna ungu.

"ke Yogyakarta harganya ticket 50 ribu perorang mas" kata mbak yang jaga di loket bus patas ramayana tersebut. Aku pun membeli 5 ticket bus ini untuk kepulangan kami.

"Mbak, bisa titip barang, mau makan dulu ?" tanyaku
"Silahkan Mas, di taruh saja" kata mbak penjaga loketnya

Kulepaskan ransel yang lumayan berat dan beberapa belanjaan dari Solo ataupun Semarang yang masih di kantong kresek. Ransel yang selama 2 hari ini dengan setia berada di punggung ku terus sebagai tempat perlengkapan kami.

Kondisi dalam bus patas AC Ramayana Semarang - Yogyakarta
Akhirnya kami bergeser sekitar 2 blok  dari tempat pembelian ticket tadi ada warung makan yang menjual bakso, mie ayam dan nasi, saat penjual baksonya bertanya.

"Mau makan apa ?" tanyaku kepada semua

Masih pada bingung, mungkin masih "carlag" saat perjalanan dari Masjid Agung Jawa Tengah  ke terminal sukun ini.

"Saya pesen bakso saja mbak, minumnya es tawar saja" kataku

Akhirnya bunda mulai berbicara, di ikuti lainnya
"Mie ayam 3, bakso 1 dan es teh manis 3, es tawarnya 1 "kata bunda
"Nggih mbak" kata penjual bakso tersebut

Tidak terlalu lama bakso dan mie ayam tersebut sudah tersaji di meja kami, karena memang makan siangnya sudah kesiangan akhirnya bakso dan mie ayam tersebut habis dengan cepat, hanya kakak makannya masih bersisa.

Selesai makan, bersiap-siap ada yang ke toilet umum, ada yang masih minum esnya. Panggilan dari petugas loket agar penumpang bus patas Ramayana ini segera menaiki bus, segera membuat kami bergegas untuk naik, setelah ransel dan beberapa barang yang kumasukan ke bagasi, maka kami pun segera naik ke atas, ternyata untuk bus patas ini untuk memilih tempat duduk bebas alias tanpa nomor tempat duduk.

Bunda & adek duduk berdua di sebelah kanan. kakak & ayuk berdua di sebelah kiri sedangkan ayah sendirian, tepat pukul 14:00 mobil berangkat walaupun penumpang tidak penuh, sekitar 5 menit berjalan dan bus stop lagi , beberapa penumpang naik, dan naik juga para pedagang asongan, salah satunya penjual bak pao.


"Beli yah , bak pao kayaknya enak yah"kata ayuk
"Lah.. kan barusan sudah makan yuk"kata ku
"Untuk cemilan di jalan"katanya lagi
"hhahha..... perut sudah kenyang masih saja minta makan" gerutu ku dalam hati.

Akhirnya kami membeli 3 buah bak pao, 2 yang isi daging ayam dan 1 yang rasa coklat, dengan harga 5 ribu per biji, tetapi setelah di cicip yang rasa ayam justru nggak suka karena manis seperti rasa selai.

Bus terus berjalan, di beberapa terminal bus berhenti sejenak sekedar untuk laporan, sopir bus membawa bus dengan rapi sehingga kami penumpang di dalam ini merasa nyaman dan aman tidak merasa kalau bus tersebut terlalu ngebut atau tidak.

Akan butuh waktu 3 jam untuk akhirnya bus akan sampai ke terminal Jombor, Yogyakarta. Anak-anak dan bunda pun tertidur selama perjalanan, membuat suasana tanpa hening, akupun ikut tertidur, dan saat terbangun kulihat tulisan di papan nama tersebut "Sleman", ternyata lama juga aku dan keluarga tertidur di bus ini, semuanya ku bangunkan karena tidak lama lagi terminal Jombor akan menyambut kami.

Ayah & Ayuk

Lokasi Terminal Sukun :

Masjid Agung Jawa Tengah & Kemegahannya


"Maaf, pak lagi di mana?'Telpon ku ke pak Ratno
"Iya mas, ini baru selesai.."jawabnya

 Kulihat  pak Ratno segera keluar dari warung makan yang ada di depan kelenteng.

"Maaf mas, .." Sambil membuka pintu mobil
"Habis makan ya pak ?"tanyaku
"Iya mas, sebab tadi nggak sempat sarapan pagi" Jawab pak Ratno
"Nggak apa pak..... kita ke masjid agung Jawa Tengah saja" kata ku

Kendaraan pun melaju menuju ke masjid agung Jawa Tengah, sekitar 20 menit berlalu sampailah kami ke pelataran parkir di masjid Agung Jawa Tengah yang terkenal dengan payung seperti di masjid Madinah.


Kamipun langsung ke pelataran masjid yang di hiasi ornamen lengkung berwarna ungu dan payung-payung elektrik yang bisa membuka dan menutup sendiri, tapi saat menuju batas suci alas kaki pun kami buka, tetapi ampun...., panas lantai keramik terkena sinar matahari meresap sampai ke dalam kaki, bisa melepuh kalau berlama-lama di sini.

Para pengunjung pun banyak yang berlari sambil berjinjit mengindari panas, ataupun melalui dari sisi samping masjid yang panasnya terhalang tembok pembatas, inilah kesan kami yang pertama kali ke masjid ini.


"Inilah yah.... panas dunia yang terasa hanya di telapak kaki tetapi sudah pada blingsatan"Kata bunda
"Siksa neraka yang paling ringan adalah batu kerikil dari neraka yang di injak di telapak kaki yang mengakibatkan otaknya mendidih" kata bunda lagi.

Benar juga kata bunda ini, melihat pengunjung yang lari-larian ini seperti menggambarkan ketakutan mahluk nanti saat di padang mahsyar.

Saat di dalam masjid suasana sejuk terasa  seluruh karpet yang di selimuti warna hijau, termasuk langit yang di padu warna coklat pada tiang dan mimbarnya.


Kami menunaikan sholat zuhur di sini dan beristirahat sejenak sebelum kembali ke Yogyakarta via terminal sukun, terdapat juga mushaf Al-Quran Besar di sini yang di tulis tangan oleh Drs. Hayat dari Universitas Sain Alquran Wonosobo Jawa Tengah dengan ukuran 145 X 95 cm.

Damai dan tenang di sini jauh dari kebisingan, sebagian jemaah ada yang teridur di karpet masjid, sebagian lagi ada yang membaca Al-Quran.

Dan akhirnya waktupun terus bergerak kamipun harus meninggalkan masjid ini dengan segala kemgahannya untuk kembali ke Yogyakarta.


Keberadaan bangunan masjid ini tak lepas dari Masjid Besar Kauman Semarang. Pembangunan MAJT berawal dari kembalinya tanah banda (harta) wakaf milik Masjid Besar Kauman Semarang yang telah sekian lama tak tentu rimbanya. Raibnya banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang berawal dari proses tukar guling tanah wakaf Masjid Kauman seluas 119.127 ha yang dikelola oleh BKM (Badan Kesejahteraan Masjid) bentukan Bidang Urusan Agama Depag Jawa Tengah. Dengan alasan tanah itu tidak produktif, oleh BKM tanah itu di tukar guling dengan tanah seluas 250 ha di Demak lewat PT. Sambirejo. Kemudian berpindah tangan ke PT. Tensindo milik Tjipto Siswoyo.

Hasil perjuangan banyak pihak untuk mengembalikan banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang itu ahirnya berbuah manis setelah melalui perjuangan panjang. MAJT sendiri dibangun di atas salah satu petak tanah banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang yang telah kembali tersebut.

Pada tanggal 6 Juni 2001, Gubernur Jawa Tengah membentuk Tim Koordinasi Pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah untuk menangani masalah-masalah baik yang mendasar maupun teknis. Berkat niat yang luhur dan silaturahmi yang erat, dalam waktu kerja yang amat singkat keputusan-keputusan pokok sudah dapat ditentukan: status tanah, persetujuan pembiayaan dari APBD oleh DPRD Jawa Tengah, serta pemiilhan lahan tapak dan program ruang.

Kemudian pembangunan masjid tersebut dimulai pada hari Jumat, 6 September 2002 yang ditandai dengan pemasangan tiang pancang perdana yang dilakukan Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Said Agil Husen al-Munawar, KH. MA Sahal Mahfudz dan Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyanto. Pemasangan tiang pancang pertama tersebut juga dihadiri oleh tujuh duta besar dari negara-negara sahabat, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Mesir, Palestina, dan Abu Dhabi. Dengan demikian mata dan perhatian dunia internasional pun mendukung dibangunnya Masjid Agung Jawa Tengah tersebut.

MAJT diresmikan pada tanggal 14 November 2006 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono. Masjid dengan luas areal tanah 10 Hektar dan luas bangunan induk untuk salat 7.669 meter persegi secara keseluruhan pembangunan Masjid ini menelan biaya sebesar Rp 198.692.340.000.-.

Meskipun baru diresmikan pada tanggal 14 November 2006, namun masjid ini telah difungsikan untuk ibadah jauh sebelum tanggal tersebut. Masjid megah ini telah digunakan ibadah Salat Jumat untuk pertama kalinya pada tanggal 19 Maret 2004 dengan Khatib Drs. H. M. Chabib Thoha, MA, (Kakanwil Depag Jawa Tengah)".


Kelenteng Sam Po Kong, Bangunan Merah Yang Mengandung Sejarah


Selanjutnya kamipun menuju ke arah kelenteng Sam Po Kong, yang hanya berjarak sekitar 3 Km dari jalan pandanaran, sepanjang jalan akupun banyak bertanya tentang pak Suratno, ternyata pak Suratno ini sudah berumur 63 tahun, dan jadi driver dari travel ini pun hanya sebagai pengisi waktu luang setelah pensiun dari perusahaan swasta di kota Semarang ini.

Hanya sekitar 10 menit perjalanan kamipun sampai di kawasan kelenteng Sam Po Kong ini, warna merah dari gerbang menyambut kami ramah. Kelenteng Sam Po Kong yang memiliki nama lain yaitu Klenteng Gedung Batu, merupakan tempat persinggahan dan peristirahatan Laksamana Cheng Ho, seorang Laksamana asal China yang berlabuh di perairan Semarang untuk beristirahat. Sakit yang diderita awak kapal bernama Wang Jinghong atau Kiai Juru Mudi Dampo Awang, membuat empati Laksamana Cheng Ho untuk tinggal lebih lama disana.

Di depan gerbang kelenteng Sam Po Kong , tetapi pintu masuknya di sebelah kirinya
Setelah sampai di lokasi pembelian ticket kami di tanya untuk membeli ticket biasa atau terusan, kamipun membeli ticket biasa dimana dewasa di kenakan harga 7 ribu perorang dan anak-anak 5 ribu perorang. Kalau terusan itu maksudnya sampai areal sembahyang.

Matahari semakin bersinar terik,saat masuk kedalam ada 4 bangunan kelenteng besar yang merupakan bangunan tempat ibadah. Kelenteng tersebuta adalah kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Juru Mudi, Kelenteng Sam Poo Tay Djien, dan Kelenteng Kyai Jangkar.

Tak sekedar menjadi tempat wisata bersejarah, Sam Poo Kong juga menjadi tempat peribadatan bagi kaum beragama Budha, Kong Hu Cu, dan Taoisme. Terdapat pula bangunan masjid di kawasan Sam Poo Kong karena laksamana Cheng Ho merupakan laksamana muslim yang dijuluki Haji Mahmud Shams.

Kami hanya mengambil foto dari halaman saja selain terbatasnya waktu dan juga jangan sampai mengganggu ibadah umat lain. 


Matahari yang semakin terik dan jarum jam terus bergerak akhirnya kamipun harus mengakhiri kunjungan kami ke kelenteng Sam Po Kong ini.

Cita-cita kakak foto di sini terwujud, setelah baca komik 3 manula jalan-jalan ke pantura


Harumnya Es Dawet Durian & Nikmatnya Lunpia Pak Suyat Pandanaran


Setelah selesai dari lawang sewu kamipun berjalan kearah Jalan Pandanaran yang terletak tepat di sebelah bangunan lawang sewu ini, karena pandanaran ini terkenal sebagai pusat oleh-oleh khas di kota Semarang.

Jalan Pandanaran (Ki Ageng Pandan Arang  sendiri di ambil dari seorang salah satu tokoh penyebar agama Islam di Semarang yang juga merupakan bupati pertama Semarang yang di angkat oleh bupati Demak Bintara, Konon nama Semarang diberikan olehnya, karena di tempat ia tinggal ditumbuhi oleh pohon asam yang jarang-jarang (bahasa Jawa: asem arang). Berdasarkan arsip De Gouverneur Van Java, dia pun dikenal sebagai sultan bajat atau kiyai gede semarang.

Saat menyusuri jalan saya pun melihat penjual es dawet durian yang ada pas di tikungan jalan Pandanaran
"Ada yang mau es dawet nggak ? "Tanya ku
"Mau yah.." anak-anak menjawab hampir serempak

3 Gelas es dawet pun di buat oleh penjualnya, hanya 1 yang pakai durian sedangkan yang lain es dawet biasa, tetapi durian yang di berikan cukup banyak jadi bisa buat bertiga. Unik juga mencicipi rasa es dawet durian selama ini paling-paling minum  kopi durian. Untuk harga es dawet durian hanya 10 ribu pergelas dan es dawet biasa 7 ribu pergelas, cukuplah untuk memulihkan stamina kami setelah berkeliling lawang sewu tadi, setelah selesai kamipun menyelusuri lagi jalan pandanaran.

Tepat di depan rumah sakit hermina ada jembatan penyebrangan. kamipun menyebrang melalui jembatan penyebrangan tersebut, karena letak bandeng juwana dan pusat oleh-oleh khas Semarang ini berada  di seberang rumah sakit hermina tersebut, saat turun dari jembatan penyebrang kita sudah di sambut para penjual oleh-oleh khas Semarang dari lunpia, wingko babat, tahu Baxo, dan lain sebagainya.

Akhirnya kami memasuki salah satu toko oleh-oleh di jalan Pandanaran ini, rame tokonya dari bandeng presto tulang lunak, wingko babat, lunpia, moaci wijen, tahu baxo. Setelah berkeliling saya dan bunda membeli beberapa jenis makanan dari toko tersebut sebagai kudapan kami, setelah itu kamipun keluar, untuk membeli cemilan perjalanan selanjutnya.

Sesaat setelah menelpon pak Ratno untuk di jemput di Jalan Pandanaran, di bawah jembatan penyebrangan di seberang rumah sakit hermina saat menunggu mobil datang, mataku pun tertuju  kepada lunpia yang masih di goreng oleh penjualnya, yang ternyata bernama pak Suyat.

Karena tampa enak, kamipun membeli 10 buah yang berisi rebung dan cacahan ayam, yang selanjutnya di bungkus dengan besek yang di lapisi dengan kertas roti, informasi pak Suyat si penjual kalau lunpia ini bisa betahan sampai 3-4 hari untuk yang di goreng.

Dan ukuruan lunpian yang lumayan besar ini cepat membuat kenyang hanya 2 saja sudah membuat perut kenyang, tetapi bunda tidak menyukai saus nya yang manis seperti gula merah yang di kasih bawang dan bumbu lainnya, maklum lidah sumatera. Tetapi solusinya sih bisa di ganti dengan saus sambal atau yang lainnya.

Setelah pak Ratno datang kamipun langsung menaiki mobil untuk ke tujuan berikutnya yaitu bangunan merah kelenteng Sam Po Kong.




Video Perjalanan Ke Lawang Sewu


Lawang Sewu Dengan Segala Misterinya


"Pak .. kami sudah selesai, jemput di seberang bank mandiri saja "Kataku ke Pak Ratno
"Baik Mas" Jawab beliau

Tak lama beliau pun menjemput kami,
"Sekarang mau ke mana mas ?"Tanya Pak Ratno
"Ke Lunpia Gang Lombok saja pak" Jawab ku
"Kalau jam segini masih tutup mas, baru buka jam 9 pagi
"Tempat wisata yang sudah buka di mana pak ya?"tanyaku balik
"Ke Lawang Sewu saja mas"jawab pak Ratno

Sebenarnya kakak yang paling protes untuk tidak ke lawang sewu karena saat melihat di tv banyak penampakan yang terlihat, sedangkan ayuk sangat tertarik karena dia sudah pernah membaca buku tentang lawang sewu.


Jarak tempuh ke lawang sewu ini dari kota lama Semarang tadi tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2,5 km dengan waktu tempuh sekitar 10 menitan, tetapi di lawang sewu sendiri tidak menyediakan tempat parkiran sehingga pak Ratno pun , menurunkan kami dan mencari tempat parkiran.

Ticket yang di kenakan saat memasuki kawasan ini pun cukup murah yaitu dewasa 10 ribu, dan anak-anak dan pelajar 5 ribu Rupiah per orang, tetapi untuk menggunakan jasa guide di sini tarifnya 75 ribu, berbeda dengan tempat wisata lain yang tarif guidenya masih lumayan murah.

Kamipun memasuki halaman dari lawang sewu ini, banguan bersitektur eropa di zaman nya ini begitu menarik, banyak sudut-sudut di bangunan ini bisa menjadi spot foto yang bagus, memang untuk hari ini pengunjung lumayan sepi mungkin kalau pada weekend akan lebih ramai dari saat ini.


Setelah ticket di scan, kamipun mulai memasuki ruangan di lawang sewu, hologram yang menceritakan sejarah lawang sewu yang bentuk piramid menyambut kami, pintu yang memang banyak di ruangan ini yang berjejer rapi menyimpan misteri keabadiannya.

Kamipun terus melanjutkan perjalanan dari menyelusuri lantai satu dengan segala informasi mengenai gedung ini, banyak yang kami lihat di gedung ini sebagai penambah wawasan pengetahuan bagi anak-anak.


Ada tempat-tempat unik yang sempat kami datangi seperti kaca Patri besar yang terpampang di atas tangga, tetapi untuk ke lantai berikutnya tidak di berikan akses karena ditutup oleh pengelolah, sehingga kamipun hanya berfoto di bagian tangganya saja, atau saluran air yang sudah mengering yang banyak di lempari koin oleh pengunjung... mungkin biar hajat mereka terkabul ya.

Kakak juga sering berlari saat kita melewati tempat atau ruangan di lawang sewu ini, ayah tahu mungkin ada yang tidak enak di pandang oleh kakak, yang terkadang kakak tidak mau ikut berfoto, dan saya pun memang sengaja tidak membawa keluarga ke tempat-tempat yang di kata orang "Angker" di kawasan ini,  seperti pintu penjara bawah tanah dengan aura yang khas atau beberapa tempat lainnya di Lawang sewu ini biar nggak bermasalah sama mahluk Allah lainnya yang ada di tempat ini.


Naik ke lantai 3 angin berhembus lumayan kencang sehingga udara pun semakin sejuk, saat kami berfoto di jendela (ada di video), angin berhenti bertiup,  saat kami berbalik dan berjalan beberapa langkah, maka jendela tersebut tertutup sendiri,.."Baarrrr", semua pada berteriak, bunda, adek, ayuk dan kakak yang paling kencang teriakannya.

"Jendela ini tidak ada pengaitnya, jadi saat di tiup angin tertutup sendiri" kata ku berusaha menenangkan semuanya

Akhirnya kami justru duduk-duduk di tempat jendela tertutup tadi, sambil istirahat sebentar, dan jendela itu pun tidak pernah tertutup walaupun angin bertiup agak kencang. Kakak yang dari tadi hanya tersenyum-senyum sendiri ke arah jendela tersebut.
"Mahluk Allah di sini mungkin mau mengperkenalkan diri " guma ku dalam hati

Lumyan lama kami duduk di lantai 3 ini, sekalian melepaskan lelah dan menikmati hembuasan anging yang lumayan kencang dari atas sini. Sekitar hampir 15 menitan, akhirnya kamipun turun menuju museum yang terletah di samping bangunan untama ini ini, replika dari blue print  lawang sewu bisa di lihat di sini, termasuk timbangan lama dan berapa perlengakapan yang berkaitan dengan kereta api dan ruangan terakhir di museum ini adalah perpustakaan yang berisikan buku-buku dan majalah tentang kereta api dengan nuansa meja dan kursi lama tempo dulu.

Dengan Backgorund Lokomotif C 23
Sebelum mengakhiri perjalanan di lawang sewu ini, kamipun menyempatkan melihat kereta api yang ada di jalur pintu keluar, jenis Lokomotif kereta api uap C23 yang hanya diimpor satu unit dari pabrik Hartmann, Jerman, bersama dengan pengimporan satu unit lokomotif C 18. Mulai operasi tahun 1908, lokomotif ini didatangkan untuk menggantikan keberadaan trem kuda di Kota Solo. Dengan demikian keberadaan lokomotif uap sangat mengubah moda transportasi yang awalnya tradisional menjadi modern. Banyaknya penumpang yang mempergunakan kereta api mengakibatkan perekonomian Kota Solo terus berkembang dan meningkat. Meskipun lokomotif C 23 dan C 18 memiliki bentuk yang mirip, namun C 23 masih menggunakan uap basah (tidak memakai superheater). Lokomotif ini dapat menggunakan bahan bakar kayu jati maupun batu bara.Kini C 23 sejak awal beroperasinya hanya satu unit yakni C 2301. Pada tahun 1969, C2301 dialokasikan di depo lokomotif Gundih. Kini, C 2301 dipajang di depan Lawang Sewu, Kota Semarang.


Bangunan Lawang Sewu dibangun pada 27 Februari 1904 dengan nama lain Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (Kantor Pusat NIS). Awalnya kegiatan administrasi perkantoran dilakukan di Stasiun Semarang Gudang (Samarang NIS), namun dengan berkembangnya jalur jaringan kereta yang sangat pesat, mengakibatkan bertambahnya personil teknis dan tenaga administrasi yang tidak sedikit seiring berkembangnya administrasi perkantoran.

Pada akibatnya kantor NIS di stasiun Samarang NIS tidak lagi memadai. Berbagai solusi dilakukan NIS antara lain menyewa beberapa bangunan milik perseorangan sebagai solusi sementara yang justru menambah tidak efisien. Apalagi letak stasiun Samarang NIS berada di dekat rawa sehingga urusan sanitasi dan kesehatan pun menjadi pertimbangan penting. Maka, diusulkanlah alternatif lain: membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh ke lahan yang pada masa itu berada di pinggir kota berdekatan dengan kediaman Residen. Letaknya di ujung Bodjongweg Semarang (sekarang Jalan Pemuda), di sudut pertemuan Bodjongweg dan Samarang naar Kendalweg (jalan raya menuju Kendal).

NIS mempercayakan rancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke Kota Semarang. Melihat dari cetak biru Lawang Sewu tertulis bahwa site plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903. Begitu pula kelengkapan gambar kerjanya dibuat dan ditandatangani di Amsterdam tahun 1903.


Kota Lama Semarang, Eropanya Semarang

Ini Bukan Di Eropa Om
Setelah puas di taman sri gunting dan gereja belenduk, maka kami pun berjalan kaki di seputar kawasan kota lama dalam berbagai artikel kawasan ini di sebut sebagai little Netherland yang memang berisi bangunan-bangunan dari zaman kolonial Belanda.

Tetapi saya pribadi lebih senang kalu menyebut kawasan ini sebagai Eropanya Semarang, karana setelah banyak di lakukan perbaikan dan pembenahaan di kawasan ini memang benar-benar berasa di luar negeri.

Sepanjang perjalanan yang kami telusuri di  jalan conbloc dan pagar besi hijau berantai sebagai pembatas jalan, terlihat bangunan-bangunan kuno  dengan arsitektur tempo dulu yang memiliki nilai sejarah tinggi dan tetap terawat hingga kini di kawasan ini.


Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan di benua Eropa sekitar tahun 1700-an. Hal ini bisa dilihat dari detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah. Hal ini tentunya bisa dibilang wajar karena faktanya wilayah ini dibangun saat Belanda datang. Tentunya mereka membawa sebuah konsep dari negara asal mereka untuk dibangun di Semarang yang merupakan tempat baru mereka. 


Kota Lama Semarang (bahasa Jawa: Kutha Lama Semarang) adalah suatu kawasan di Semarang yang menjadi pusat perdagangan pada abad 19-20. Pada masa itu, untuk mengamankan warga dan wilayahnya, maka kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng Vijhoek. Dan untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang dibenteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai: Heeren Straat. Saat ini bernama Jl. Let Jen Soeprapto. Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok, yang disebut De Zuider Por.

Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga Outstadt. Luas kawasan ini sekitar 31 hektare. Dilihat dari kondisi geografi, tampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga tampak seperti kota tersendiri dengan julukan "Little Netherland". Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi. Di tempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kukuh dan mempunyai sejarah kolonialisme di Semarang. Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan di benua Eropa sekitar tahun 1700-an. Hal ini bisa dilihat dari detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa, seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah. 

Seperti kota-kota lainnya yang berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda, dibangun pula benteng sebagai pusat militer. Benteng ini berbentuk segi lima dan pertama kali dibangun di sisi barat kota lama Semarang saat ini. Benteng ini hanya memiliki satu gerbang di sisi selatannya dan lima menara pengawas. Masing-masing menara diberinama: Zeeland, Amsterdam, Utrecht, Raamsdonk dan Bunschoten. Pemerintah Belanda memindahkan permukiman Cina pada tahun 1731 di dekat permukiman Belanda, untuk memudahkan pengawasan terhadap segala aktivitas orang Cina. Oleh sebab itu, Benteng tidak hanya sebagai pusat militer, tetapi juga sebagai menara pengawas bagi segala aktivitas kegiatan orang Cina. 


Kamipun menapaki jalan yang berbatas besi dengan rantainya dan sekali kali berhenti untuk swafoto,  akhirnya perjalanan kamipun tepat di seberang bank mandiri, kayaknya anak-anak pun sudah kepanasan karena matahari sudah mulai menyengat kulit.


Antara Semarang Tawang & Gereja Belenduk

Sesaat setelah turun dari KA. Kalijaga 409
Akhirnya sampai juga kami di kota Semarang, kota yang terkenal akan banyaknya bangunan berasitektur eropa tempoe doeloe, kamipun turun di teras stasiun Semarang Tawang dambil menelusuri teras dan beberapa kali melakukan swa foto di stasiun ini.

Stasiun semarang tawang yang masih mempertahankan arsitektur kolonialnya
Pada tahun 1911, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij mulai menyusun masterplan baru terhadap sistem perkeretaapian di jalur kereta api segmen Semarang–Solo–Yogyakarta yang sebelumnya diresmikan pada tahun 1873. Hal ini dikarenakan Stasiun Samarang NIS—stasiun pertama di Indonesia—yang pada enam tahun sebelumnya ditutup, sudah tak memungkinkan lagi dioperasikan sebagai stasiun sentral NIS apabila Semarang dilanda banjir rob. Sebagai akhir masterplan tersebut, NIS mulai membangun stasiun kereta api baru di Tawang, yang mulai dibangun pada tanggal 29 April 1911. Bangunan stasiun ini selesai dan diresmikan pada 1 Juni 1914 dan segera digunakan untuk menggantikan Stasiun Samarang NIS yang selalu terendam air jika Laut Jawa mengalami pasang. Meskipun demikian, pada tahun-tahun selanjutnya stasiun ini hampir selalu terendam air rob sehingga ketinggian stasiun turun menjadi 0 m. Hal ini karena Laut Jawa yang pasang bercampur dengan air hujan dan air limbah yang berasal dari saluran-saluran air di Kota Semarang. Oleh karena itulah, Pemerintah Kota Semarang pada tahun 1998-2000 mendirikan polder berupa kolam raksasa yang dilengkapi dengan pompa. Letaknya persis di depan stasiun ini.

Stasiun Semarang tawang dari samping dengan kubah mirip dengan gereja beledug
kamipun duduk sebentar di ruang keberangkatan, karena bunda dan kakak ingin ke toilet, sambil duduk kami melihat kereta api yang lalu lalang, dan sempat juga melihat keberangkatan satu kereta kereta api di mana petugas berbaris rapi dan menundukan kepala sebagai penghormatan kepada penumpang  dan kereta yang berangkat tersebut.

Di Semarang ini kami telah memesan kendaraan rental via Traveloka pada hari Minggu yang lalu dengan menggunakan ok rent, dimana saat di kereta tadi pak Ratno nama driver yang di tugaskan untuk menjemput kami menginformasikan kalau dia sudah menunggu di pintu kedatangan.

Saat di pintu keluar terlihat bapak-bapak yang sudah berumur dengan name tag tertulis Suratno, dengan menggunakan pakaian setelan berwarna hitam-hitam.

"Pak Ratno ya " Tegurku langsung ke bapak itu
"Iya mas, saya mas" jawab beliau lembut

Sambil saling memperkenalkan diri dan bersalaman beliau langsung mengajak ke kendaraan yang di pakai untuk keliling di kota lumpia ini.
"Ini mau di anter kemana mas nya ?" tanya pak Ratno

Kerjaan kakak sebelum mencapai taman kota
Akhirnya aku paparkan sama seperti yang ku WA ke adminya ok rent , Folder Tawang, Kota Lama Semarang, Gereja Belenduk. Lumpia Gang Lombok, Kelenteng Tek Kay, Lawang Sewu, Bandeng Juwana Jl. Pandanaran , Masjid Agung Semarang, Kelenteng Sam po kong.

Setelah berdiskusi sebentar bersama pak Ratno akhirnya kami sepakat tujuan pertama kami ke kota Lama Semarang, saat keluar dari parkiran terlihat folder tawang berupa waduk besar yang menjadi kolam retensi pengendali banjir di kawasan Semarang Tawang ini, tidak lama kemudian kendaraan pun memasuki parkiran di kawasan taman kota.

Kakak di Taman Kota
"Mas, nanti saya parkir di sini, kalau sudah selesai telpon saja " kata pak Ratno
"Iya pak" Jawabku

Akhirnya kami menyelusuri jalanan di kota lama Semarang, kawasan ini patut di acung jempol karena perubahan atas perbaikan jalan ataupun penambahan fasilitas di kawasan ini, sehingga kawasan ini sangat berbeda dengan dulu saat pernah saya lihat beberapa tahun yang lalau , bisa di bilang benar-benar menjelma menjadi Eropanya Semarang.

Tidak lama kemudian kami pun sampai di taman tepat di samping gereja belenduk yaitu taman Sri Gunting, tempat yang teduh di penuhi dengan bunga-bunga dan pohon-pohon besar yang rindang dan juga sepeda-sepeda hias yang sengaja di pajang seperti di kawasan kota tua Jakarta, dan bagi yang ingin foto di sepeda-sepeda tersebut bisa memasukan uang seikhlasnya ke dalam kotak yang sudah di sediakan.


Bebeberapa kali anak-anak melakuan selfie di sepeda hias tersebut secara berganti-ganti, karena sepeda yang ada di situ ada 4 buah dengan bentuk yang berbeda-beda begitupun di depan gereja belenduk juga ada 2 buah, yang membuat anak-anak mencobanya satu persatu.

Tepat di depan taman sri gunting ini ada juga sepeda & scooter yang tersususn berwarna merah mencolok entah apakah ini bisa di pakai oleh wisatawan secara gratis atau sewa, karena pagi ini  belum ada yang menjaga jadi tidak bisa mendapatkan informasinya.

Di sini juga sudah terlihat banyak bangunan-bangunan bergaya eropa yang masih di manfaatkan oleh pemilik sebagai tempat usaha seperti cafe, kantor ataupun sebagai tempat tinggal. Tepat di sebelah taman ini terdapat gereja belenduk yang terkenal itu yang merupakan salah satu landmark kota Semarang, Berbeda dari bangunan lain di Kota Lama yang pada umumnya tidak memagari jalan dan tidak menonjolkan bentuk, gedung yang bergaya neo-klasik ini justru tampil kontras, dengan bentuknya yang lebih menonjol .

GPIB Immanuel Semarang (populer dengan nama Gereja Blenduk, kadang-kadang dieja Gereja Blendug, dan seringkali dilafazkan sebagai mblendhug) adalah Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda yang tinggal di kota itu pada 1753, dengan bentuk oktagonal (persegi delapan). Gereja ini sesungguhnya bernama Gereja GPIB Immanuel, di Jl. Letjend. Suprapto 32. Kubahnya besar, dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur di dalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani. Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini. Nama Blenduk adalah julukan dari masyarakat setempat yang berarti kubah. Gereja ini hingga sekarang masih dipergunakan setiap hari Minggu. Di sekitar gereja ini juga terdapat sejumlah bangunan lain dari masa kolonial Belanda. 



Kalijaga 409

Stasiun Solo Balapan
Sudah pukul 4:00 pagi, selanjutnya mandi dan membangunkan bunda, gelap masih menyelimuti kota ini, dingin pun masih mencoba merasuk kedalam tulang, Ayuk & kakak yang tidur di kamar sebelahpun sudah saya bangunkan, subuh di kota ini pukul 4:30 menit jadi masih ada waktu untuk bersiap-siap ke stasiun.

Sarapanpun sudah di siapkan bunda, yaitu mie kemasan yang di beli tadi malam di mini market samping hotel ini, adek yang masih teguling di atas tempat tidur walau sudah mandi tapi masih banyak menguap karena masih ngantuk, adek kami haruskan untuk menghabiskan sarapan paginya biar kejadian seperti di candi Borobudur kemarin tidak terulang kembali.

Keberangkatan kereta pagi ini pada pukul 5:20 yang sudah di beli via KAI Accses, termasuk ticket ayuk juga sudah ada,  karena salah satu kendala dalam pemesanan ticket di KAI Access adalah di satu handphone/aplikasi  hanya bisa pesan untuk 4 tikect KA sehingga jika lebih dari 4 harus menggunakan aplikasi dari hp lainnya.

kalijaga 409 unuk tujuan ke Semarang poncol ini merupakan kereta lokal yang berangkat hanya satu kali setiap hari via stasiun Solo Balapan, jadi kalau sampai ketinggalan bisa kacau semuanya, karena ticket kereta ini di bandrol hanya 10 ribu,  sedangkan bus dari terminal tirtonadi ke Semarang bisa sampai 30 ribuan perticket untuk kelas ekonomi belum lagi jadwal yang sudah di susun akan menjadi berantakan.

Setelah bersiap-siap pukul menunjukan 5 tepat, kamipun bergegas untuk check out kamar, sudah di periksa ulang oleh ayuk agar tidak ada barang yang tertinggal, akhirnya setelah meninggalkan hotel kamipun setengah berlari menuju stasiun karena bunyi klakson kereta sudah terdengar, bunda berlari sambil menuntun adek, ayuk lari bersama dengan kakak, sedangkan ayah berlari sambil membawa ransel, udah mirip kayak tentara mau perang.


Dengan ngos-ngosan nggak sampai 5 menit , kamipun sampai di depan pintu check in ticket, petugaspun bingung lihat kami ngos-ngosan seperti itu, sambil melakukan scan dan mencocokan dengan KTP kami, petugas tersebut dengan bingung hanya memperhatikan kami yang berlalu dari hadapannya.

"Kereta kalijaga 409 nya sudah ada atau blm pak ? " tanyaku kepada petugas yang berdiri  tidak jauh dari tempat pemerikasaan ticket.
"Sebentar lagi masuk pak, ini lagi langsir " kata petugasnya

Akhirnya kami masuk langsung ke ruang keberangkatan kereta tanpak kereta kuning "spongebob" parameks yang sedang nangkring di stasiun solo balapan.

Stasiun balapan tempo dulu Foto : sharingdisini.com
Stasiun Solo Balapan termasuk salah satu stasiun besar tertua di Indonesia (setelah Samarang NIS). Pembangunan stasiun ini dilakukan oleh jaringan kereta api masa kolonial NIS pada abad ke-19, yaitu pada masa pemerintahan Mangkunegara IV dan berada di wilayah Kadipaten Praja Mangkunagaran. Stasiun besar di Surakarta untuk wilayah Kasunanan Surakarta dan Staatsspoorwegen adalah Stasiun Solo Jebres. Lokasi yang digunakan adalah tanah lapang tempat pacuan kuda milik Mangkunegaran. Sebagai tukarnya, pihak Mangkunegaran mendapat lahan di Manahan dari Kasunanan untuk dibangun sarana pacuan kuda dan aktivitas keolahragaan lainnya. Peletakan batu pertama berlangsung pada tahun 1864, dimeriahkan dengan upacara yang dihadiri Mangkunegara IV dan mengundang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron van de Beele. Pembangunan selesai dan diresmikan pada tanggal 21 Mei 1873.

Pada tahun 1927, dibangun satu bangunan di selatan stasiun dengan arsitektur yang dipengaruhi oleh budaya Jawa dengan atap tajuk tiga. Hal ini juga sejalan dengan pembangunan jalur ganda Staatsspoorwegen yang sejajar dengan jalur kereta api NIS Solo–Yogyakarta. Konstruksi bangunan stasiun sisi selatan dirancang oleh Herman Thomas Karsten, seorang arsitek kenamaan beraliran Indisch. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api kedua di Indonesia yang menggunakan sistem persinyalan elektrik setelah Stasiun Bandung, tepatnya dinyalakan tahun 1972. Sinyal tersebut diproduksi oleh Siemens dan diberi seri DrS60. Namun, sehubungan dengan proyek penyelesaian jalur ganda lintas selatan Jawa, rencananya sistem persinyalan elektrik eksisting tersebut secara bertahap akan segera digantikan dengan sinyal elektrik terbaru produksi PT Len Industri.


Dengan waktu tempuh +\- 2,5 Jam, kamipun berada di rangkaian gerbong ke 7 yang  akan mengantar kami sampai ke stasiun Semarang Tawang, tepat pukul 5:20 sembonyan 35 yang berupa peluit panjang berbunyi kereta api mulai bergerak pelan dan makin lama makin bertambah kecepatannya, untuk KA. Kalijaga 409 ini ticket lokalnya memiliki no tempat duduk berbeda dengan KA Parameks atau lokal Merak yang kita bisa duduk dimanapun, karena ticket ayuk saat pemesannya agak terlambat maka mendapat nomor kursi di gerbong 1 dan kami yang lainya ada di gerbong 7, tapi karena kereta cukup sepi pada hari ini akhirnya ayuk bisa duduk di gerbong yang sama.

Suasana di dalam gerbong Kalijaga 409 yang masih sepi.
Kertapun terus melaju melewati beberapa stasiun, adek dak kakak menghabiskan waktunya  bermain dengan tabletnya secara bergantian, ayuk dan bunda tertidur seperti penumpang lain, saya sendiri bercakap-cakap dengan ibu dan anaknya yang kebetulan juga mau kembali ke kota Semarang setelah ada acara keluarga di Solo.

Setelah melintasi hamparan sawah dan melewati beberapa stasiun kecil akhirnya hampir pukul 8 kereta memasuki Stasiun Semarang Tawang, dan jurnal barupun di mulai kembali.