Monday, 3 January 2022
Nomor HP Expire Di Kartu Vaksin
Tuesday, 2 November 2021
Vaksinya Rombongan
Ku baca pesan di aplikasi WA, ternyata dari adek iparku yang menayakan lokasi tempat vaksin le 1 karena ternyata di puskesmas tempat mereka tinggal sudah tidak menggadakan lagi vaksin ke-1, akupun merekomendaskan di puskesmas alang-alang lebar tempat aku melaksanakan vaksin ke-1 (baca : Setelah Sekian Lama Akhirnya Vaksin Juga ) walaupun saat ini serum vaksin menggunakan Pfizer yang ku bilang sangat bagus, lebih bagus dari serum vaksin sinovac yang sudah masuk ke dalam badan ku ini.
Akupun meminta KTP mereka di kirim via wa biar aku bisa mendaftarkan secara online di vaksinonline.com, pendaftaran vaksin via online tidak terlalu sulit cukup memasukan NIK dan bebrapa data lainnya yang sesuai dengan KTP maka kita sudah bisa terdaftar sebagai peserta vaksin., itulah salah satu kemudahan yang di berikan oleh pemerintah saat ini untuk memperluas jangkauan vaksin, sehingga penduduk dari manapun bisa melakukan vaksin di manapun berbekal dengan e-KTP, akhirnya pendaftaran online pun selesai dan ku WA masing-masing barcode mereka dan ku berikan cara untuk membuka aplikasi vaksinonline.com tersebut biar tidak keliru.
Bagi pekerja yang memerlukan akses untuk memasuki instansi lain maka salah satu syaratnya adalah vaksinasi dan harus juga melakukan instalasi aplikasi peduli lindungi seperti pengalaman ku beberapa hari yang lalu ( Baca : Peduli Lindungi Kartu Akses Publik ).Pada bulan sebelumnya di tempat bekerja adek ipar inipun sudah melaksanakan vaksin bagi karyawannya tetapi kebetulan ada yang lagi di lapangan dan ada juga yang lagi sakit, sehingga baru hari ini mendaftarkan untuk vaksinnya, kebetulan nyai pun ikut vaksin setelah sebelumnya menolak bahkan sempat di datangi dan di bujuk oleh ibu lurah di tempat nyai tinggal, karena nyai dan datuk termasuk aktif di setiap kegiatan yang ada di kelurahan tempat mereka tinggal.
Pagi ini mampir ke rumah sebelum menuju ke puskesmas, berdasarkan pendaftaran onlie tidak terlalu banyak yang mendaftar untuk dosis ke 1 hari ini sekitar hanya 30 orang, kemungkinan pukul 10 sudah bisa pada pulang kerumah, semoga semua pada sehat selalu.
| Menunggu sebelum di panggil untuk di vaksin |
Monday, 1 November 2021
Peduli Lindungi Kartu Akses Publik.
Ku keluarkan Hp ku yang memang sudah terinstal aplikasi peduli lindungi tersebut, dan ku scan barcode yang menempel di pintu kaca bank tersebut, bank yang biasanya ramai pada tanggal 1 seperti ini terlihat agak lengang, kupikir karena penggunaan aplikasi ini salah satunya, padahal sekitar 2 minggu yang lalu aku ke bank ini belum ada penggunaan aplikasi ini.
Aplikasi yang di buat oleh pihak telkom yang terinsprirasi dari aplikasi trace together milik pemerintah Singapura yang bisa melakukan penditeksian atas pergerakan orang-orang yang memiliki aplikasi tersebut.
Saat selesai scan maka akan keluar data-data kita seperti NIK, nama lengkap, lokasi check ini kita, karena aplikasi ini menggunakan data internet maka kita akan tampak berdiam di lokasi yang kita kunjungi saat ini. Setelah kita selesai di tempat kita kunjungi maka kita juga harus melakukan check out di dalam aplikasi biar kunjungan kita tidak menggantung di aplikasi tersebut, memang terlihat jelas bahwa aplkasi tersebut seperti penanda jejak kunjungan bagi kita ke tempat-tempat publik.
Tapi yang masih aku bingung kan adalah kaitan antara aplikasi peduli lindungi ini dengan riwayat vaksin yang kita punya atau bahwa pemegang aplikasi ini sedang terjangkit covid -19 atau tidak, karena sepertinya pihak pemasang bar code juga tidak bisa membaca apakah mereka sudah tervaksin, sedang terpapar virus covid-19 atapun yang lainnya, karena sepertinya aplikasi ini langsung connect ke kominfo atau kementerian kesehatan.Sempat heboh beberapa bulan yang lalu kalau aplikasi ini bocor di publik dengan tersebarnya sertifikat vaksin dari petinggi negara ini, walau hal itu sempat terjadi saling bantah dan lempar tanggung jawab antara institusi terkait kebocoran data tersebut.
Apakah aplikasi ini akan menjadi "Pass Card Permanent" untuk segala ruang publik dan tempat-tempat tertentu, semoga saja dengan penggunaan pedulilindungi ini dapat menditeksi para penyintas covid-19 sehingga pengendaliannya akan lebih mudah, dan membuat Indonesia akan lebih cepat sehat.
Saturday, 30 October 2021
Akhirnya Komplit Juga
Sudah dari beberapa hari ini terus memperhatiakan situs vaksinonline.com tapi ternyata banyak puskesmas yang untuk vaksin ke 1 ataupun ke 2 tidak menggunakan sinovac, tapi sudah hampir setengah bulan ini vaksin yang di gunakan adalah keluaran fizer, astrazeneca ataupun moderna, kalau pada awal kemarin aku melakukan vaksin di puskesmas alang-alang lebar ( baca : Setelah Sekian Lama Akhirnya Vaksin Juga ), untuk vaksin ke 2 ini aku akhirnya memilih puskesmas 11 ilir untuk menjadi tempat vaksinku, bukan tanpa alasan kenapa aku memilih di puskesmas ini karena kesamaan serum vaksin sinovac untuk vaksin ke 2, sedangkan di puskesmas alang-alang lebar sendiri sudah menggunakan vaksin Pfizer.
Sekalian mengantar kakak untuk kegiatan majelis nya akupun langsung melipir ke puskesmas 11 ilir yang memang satu arah dengan tujuan kakak, aku pikir dengan jumlah peserta vaksin yang lumayan sedikit tersebut tidak akan memakan waktu terlalu lama untuk menunggu, tetapi dugaan ku salah ternyata saat aku tiba di puskesmas tersebut banyak pendaftar yang mayoritas ibu-ibu mendaftar secara manual dan membuat pintu masuk tempat pendaftaran di penuhi oleh para ibu-ibu.
Dengan beragam alasan ibu-ibu disini mengapa mereka mau di vaksin, ada yang akan menerima bantuan, ada yang anaknya menerima beasiswa, ada juga yang untuk kerja walaupun sebagai buruh cuci tetapi majikannya mengharuskan untuk sudah tervaksin.
Aku hanya mendengar saja celoteh ibu-ibu tersebut, tanpa melepas masker aku menuju tempat pendaftaran yang di penuhi oleh para ibu-ibu yang mengantri di panggil, untunglah bagi yang mendaftar secara online mereka sudah memiliki rekap tersendiri jadi kami hanya menyerahkan kartu vaskin yang pertama saja.
Saturday, 2 October 2021
Setelah Sekian Lama Akhirnya Vaksin Juga
Pada pukul 08:30 akupun mulai berangkat ke puskesmas tersebut karena memang tidak terlalu jauh dari rumah, tetapi saat tiba di puskesmas tersebut ternyata puskesmas tersebut sudah ramai di datangi oleh para peserta vaksin selain itu ada pula yang mau berobat yang membaur menjadi satu sehingga tampak puskesmas tersebut menjadi penuh walaupun dengan menjaga jarak.
Setelah selesai mengisi blangko isian akhirnya akupun menyerahkan ke petugas dan tinggal menunggu di panggil saja, pada awalnya keinginan vaksin ku adalah di ex area giant express tapi saat itu kulihat di aplikasi vaksinonline.com bahwa peserta yang sudah terdaftar sudah sebanyak 335 orang dan kupikir akan lama sekali menunggu untuk banyaknya peserta sebanyak itu, sedangkan di puskesmas alang-alang lebar sendiri hanya 40 orang yang sudah terdaftar dan pada saat hari H saat ku cek hanya 46 orang saja yang terdaftar, akhirnya aku memeutuskan untuk merubah pilihan temapat vaksin di puskesmas alang-alang lebar.
| Menunggu 15 menit seusai vaksin |
Setelah di panggil blangko lembaran kertas yang sudah ku isi pun ternyata di registrasi ulang, setelah selesai di arahkan kembali ke bagian pemeriksaan di mana di lakukan tensi, pengukuran suhu dan juga beberapa pertanyaan yang menjadi dasar persetujuan untuk vaksin tersebut.
Setelah adik yang kutanyai tadi, giliranku pun tiba, ternyata vaksin tidak seperti yang di rumorkan selama ini, tidak ada yang kurasakan pegal, pusing, mual dan yang lainnya, setelah vaksin seperti biasa saja seperti biasa, kamipun di suruh menunggu selama 15 menit di luar ruang vaksin sekalian menunggu kartu vaksin yang akan kami terima, terlihat pemuda yang di sebelahku memegang kepala ku.
"kenapa dek , pusing ?" tanya ku
"sedikit kak " sambil ia mengurut keningnya yang berkeringat
Petugaspun memanggil satu persatu nama yang sudah vaksin tadi untuk menyerahkan kartu vaksin yang berbentuk print out lembaran kertas yang berisi barcode informasi seputar peserta vaksin. Akhirnya kami berdua pun di panggil saat kami terima dan ku baca sebentar kartu vaksin tersebut aku di kejutkan karena pemuda yang di sampingku itu ternyata jatuh pingsan.
Akupun ikut membantu membawa pemuda tersebut untuk di tidurkan di tempat yang di tunjukan oleh perawat puskesmas tersebut. Entah bagaimana kabar pemuda tersebut karena akupun segera meninggalkan puskesmas tersebut untuk tugas lainnya, semoga saja pemuda tersebut baik-baik saja.
Thursday, 23 September 2021
Kelas Adek Yang Warna Warni
![]() |
| Warna warni bocah |
Friday, 10 September 2021
Langusng Kelas 8
![]() |
| Langsung kelas 8 |
"Kakak... mau sekolah yah " kata kakak
"Kalau mau sekolah kakak harus banyak makan dan berjemur matahari" jawab ku
Memang sudah beberapa hari ini kakak mengalami sakit panas yang membuat kakak tidak mau makan dan badannya lesu, sudah banyak tugas yang tertinggal dan tidak di kerjakan, tapi mendengar informasi adanya tatap muka terbatas membuat kakak menjadi semangat lagi.
Kakak mulai berjemur dan mulai makan walupun sedikit, semangat untuk sekoah sangat tinggi maklum dari mulai mendaftar di MTS Negeri 1 Palembang baru saat ini ada kegiatan belajar mengajar walaupun terbatas, memang pernah di panggil beberapa kali karena permasalahan tugas.
"Bosan" itu yang kubaca dari kakak dengan perlajaran daring yang tiap hari di lakukan dan juga kurang efektif ku rasa, tiap hari berkutat dengan hp dan laptop yang berinternet membuat anak-anak jenuh jutru mereka lebih tertarik dengan isi media sosial dan yang lainnya.
Dari baju , rok dan jilbab pun di siapkan, kondisi kakak pun semakin membaik dari hari ke hari, hingga hari ini kakak mulai ikut dengan ayah karena kebetulan satu arah ke tempat kerja, kakak masuk di shift 2 di mana mulai pembelaajran pada pukul 9.40 s.d pukul 12 siang.
Banyak prosedur yang harus di persiapkan, membuat pernyataan, membawa masker cadangan, membawa handsanitizer sendiri, tidak boleh demam, pilek ataupun batuk, pernyataan vasksin dan setumpuk peraturan lainnya, hal ini di lakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan terutama terjadinya cluster sekolah.
Saturday, 17 July 2021
Semoga
Monday, 17 May 2021
Saat Kawan Mulai Terpapar
Sunday, 6 December 2020
Sekian Lama Sejak Pandemi
![]() |
| Ak ucup, Nyai & Ayuk Nisa yang sudah duluan di kambang iwak |
Setelah selesai menikmati sarapan pagi Yanto yang terletak di kawasan bukit besar, akhirnya motor kupun ku arahkan ke kawasan kambang iwak yang memang merupakan kawasan wisata olah raga yang selalu di padat pengunjung setiap harinya terutama pada hari minggu seperti ini.
Cukup lama kami dan keluarga tidak lagi mengunjungi tempat wisata sejak pandemi melanda negeri ini, baik tempat wisata di kota ini ataupun di luar kota, padahal akhir tahun ini ada keinginan untuk menelusuri kota terdekat menggunakan kereta yaitu Lubuk Linggau - Curup dan Bengkulu tetapi apa daya pandemi masih belum bisa berlalu.
![]() |
| Umi, ak ucup, nyai dan pempek panggang |
Saat tiba di sini nyai, ayuk nisa, umi, ak wafi dan ucup sudah terlebih dahulu ada di sini kami pun ikut bergabung sekedar "tawaf" (keliling kambang iwak), untuk membuang kolestrol dari sarapan pagi tadi, tenyata ujuk dan keluarganya juga akan bergabung di kambang iwak ini, ini pertama kali kami dan keluarga untuk pergi di area keramaian kalau di hitung-hitung sudah hampir setahun.
Begitu juga ke mall, sejak di umumkan nya pandemi sampai saat ini tidak pernah lagi kaki ini memasuki mall padahal banyak mall yang bertebaran di kota ini, tetapi waspada terhadap segala sesuatunya itu penting biar kita bisa tetap sehat selalu.
![]() |
| Di kawasan permainan anak-anak |
Adek azam dan ak ucup langsung saja menuju kawasan permainan anak-anak yang di penuhi beragam permainan, ada sewa skuter, tangguk ikan, mewarnai, mandi bola dan beragam lainnya. Sewa skuter itu yang menjadi pilihan adek azam karena memang selain sudah bisa menggunakan sepeda dia juga sudah tidak asing dengan skuter tersebut yang sudah pernah beberapa kali di sewa nya.
Kami hanya menunggu sambil memakan camilan berupa pentol yang di kasih saus pedas sembari meminum es dingin, planing hari ini selain ke kambang iwak kamipun berencana akan mencoba ke mall untuk mengajak anak-anak ke wahana permainan, tetapi sebelumnya itu kami akan kembali terlebih dahulu ke tempat nyai karena badan sudah mulai gerah.
Sekitar pukul 14:00 kamipun berangkat bersama menuju mall yang terletak di jalan POM IX, di mana sebelum pandemi mall ini sering menjadi tujuan anak-anak untuk bermain karena di salah satu wahannya terbilang murah-meriah, dengan bermodal koin seribu rupiah kita bisa melakukan satu permainan yang bisa membuat anak-anak senang.
![]() |
| Akhirnya ngemall juga |
Lumayan lama juga kami di mall ini, banyak permainan yang anak-anak mainkan di sini baik yang membuthkan gerak fisik ataupun kemampuan berpikir atau memang untuk senang-senang saja, membuat wajah mereka tersenyum menjadi hati kita gembira tetapi lama di ruang ber ac seperti ini membuat kita lapar.
![]() |
| Nasya & Papanya |
Monday, 25 May 2020
Merasakan Kembali Kenangan Si Minuman Legend, Saparela
![]() |
| Aku dan Minuman Legend |
Saturday, 16 May 2020
Rinai Hujan Ini Membuat Ku Berdamai Dengan Hati
Friday, 8 May 2020
Mana 10 Milyar Saya
Membuka arsip lama salah satu pelatihan kepemimpinan yang pernah ku ikuti di salah satu kawasan objek wisata ini propinsi ini, satu persatu lembar ku baca ulang, saat sampai di lembar impian, kubaca agak lama ternyata sudah banyak yang kutuliskan di sana menjadi kenyataan, ada beberapa yang memang belum terwujud sampai saat ini salah satunya memiliki dana 10 Milyar di usia 40 tahun, saat menulis impian tersebut sekitar 18 tahun yang lalu instrukturku berkata :
“Tulislah impian gila kalian untuk jangka waktu yang panjang dan saksikan perbedaanya”
Aku dan temanku yang saat itu bisa di bilang hanya kami berdua yang masih bujangan karena peserta lainnya merupakan karyawan paruh baya dan sudah berkeluarga yang berkompetisi untuk mendapat kan promosi jabatan dari kantornya dan salah satu syaratnya adalah harus mengikuti pelatihan ini. Pelatihan yang di laksanakan selama 1 minggu ini di kawasan pinggiran danau yang berjarak lumayan jauh dari kota Palembang.
Satu persatu ku baca kembali impian lama tersebut ternyata Allah sudah sangat banyak mengabulkan apa yang aku tuliskan saat itu, dari pekerjaan, tempat tinggal, kendaraan, pertemanan dan yang lainnya. Tetapi 1 hal yang ku tatap dan ku ulang ulang bahwa saat itu ada tabungan sebesar 10 milyar yang kupunya, dan ini terus menjadi pertanyaan yang belum terjawab.
Hingga akhirnya kesempata itu tiba, akupun bertemu intruktur ku di salah satu bank swasta, beliau sedang duduk menunggu panggilan nomor untuk ke customer cervice, beliau sudah lama pensiun dari tempat beliau bekerja dan sekarang hanya menikmati keseharian beliau di rumah saja, setelah ngobrol ngalur ngidul bertanya kabar, kesehatan dan lainnya akupun langsung menanyakan yang selama ini terpendam di dalam otakku.
"Pak, dulu saat pelatihan ada pelajaran impian, di mana kami di suruh menuliskan impian-impian gila yang akan terwujud dalam beberapa tahun kedepan" paparku cepat
"Iya kenapa ?" tanya beliau lagi.
" Di situ kutuliskan saat umur 40 tahun aku memiliki tabungan sebanyak 10 milyar, kok sampai sekarang belum terjadi" kata ku lagi.
Sambil tersenyum dan memperbaiki posisi kacamatanya, diapun lanjut berkata ;
"Asumsi saudara saat menuliskan 10 milyar tersebut apakah berupa uang atau lainnya ?" tanya instruktur tersebut
"Yang kutulis hanya tabungan sejumlah 10 milyar" jawabku.
Sambil tersenyum lagi beliau bertanya ; "Sudah beberapa lama sejak saudara menuliskan impian tersebut sampai dengan saat ini ?
"kurang lebih 18 tahun" jawabku
"Apakah ada perubahan selama 18 tahun ini ?" tanya beliau lagi
Akhirnya kuceritakan tentang keluarga ku, tentang pekerjaan ku, tentang anak-anak ku, tentang semuanya dalam rentang lebih kurang 18 tahun berlalu, sambil akhirnya beliau pun berkata : " Sadar tidak bahwa yang semua saudara katakan tadi sudah lebih dari 10 milyar " katanya yang membuat aku terkejut.
"maksudnya bagai mana pak ?' tanyaku
"Coba saudara pikir ada kalanya Allah tuhan kita menurunkan berkah dan rezeki sesuai dengan kebutuhan umatnya, ada yang di kasih dalam bentuk uang 10 milyar tanpa ada jeda, tetapi ada juga yang tidak. Ada yang di berikan kesehatan dan keluarga yang banyak dengan anak tetapi hanya di berikan harta yang sederhana, tetapi ada yang memiliki banyak harta tetapi tanpa di karuniai seorang anak pun"
Aku hanya terdiam, sambil menatap wajahnya yang sudah banyak mengeriput.
" Coba saudara pikir harga kesehatan saudara, atau harga tubuh saudara berapa, ada yang mau beli ginjal 300 juta per buahnya bagi yang memiliki penyakit gagal ginjal, atau ada yang menghargai jantung dengan harga 1,5 milyar untuk para transplantasi yang mebutuhkan, atau ada juga yang menghargai hati kita dengan 500 juta hanya untuk menggantikan hatinya yang sudah tidak berfungsi lagi".
Akupun makin mendengarkan dengan serius,
"Itu baru dari sisi kesehatan dan anggota tubuh, anak yang di karunia oleh Allah kepada saudara berapa saudara mau jual ?" tanya beliau
"Nggak mungkin akan saya jual pak.... orang nggak waras yang menjual anak nya demi uang" jawabku
"Itu jawabannya.... ada harta yang lebih berharga ketimbang uang, seperti saudara yang karunia 3 anak walupun dalam kondisi sederhana, sedangkan saya mungkin dari sisi harta saya lebih baik tapi sampai umur tinggal di ujung kubur seperti ini tiada seorangpun yang namanya anak yang Allah karuniakan kepada kami".
Aku sempat terkejut mendengar penuturannya.
"10 milyar yang saudara tuliskan 18 tahun yang lalu mungkin sudah lama terwujud tapi bukan dalam bentun uang tunai atau harta benda yang bisa di simpat, tetapi Allah justru memberikan hal yang tak ternilai harganya,... istri, anak & keluarga yang bahagia merupakan hal yang tak bisa di nilai dengan uang, begitu juga kesehatan, pekerjaan yang baik dan juga teman-teman yang ada di sekitar kita juga merupakan harta yang tidak terniali, apakah semua itu mau saya tukar dengan 10 milyar ?" tanyanya sambil tersenyum
Aku menggeleng
"Bersyukur itulah kuncinya, jaga titipan Allah yang tidak ternilai ini karena semuanya lebih dari 10 milyar" katanya menutup ucapanya karena layar antri sudah memanggil nomor antrian instruktur ku tersebut.
Terima kasih pak atas segala petuah bijaknya, ternyata benar bahwa Allah sudah memberikan harta yang tidak ternilai tetapi kita sering tidak menyadari bahwa yang kita anggap harta adalah hanya uang dan harta kebendaan fisik belaka, semoga kedapan saya akan lebih bisa bersyukur terhadap segala pemberianMu.
Monday, 4 May 2020
Terima Kasih Atas Balur Biru Ini
![]() |
| Ilustrasi Mengaji Sumber Facebook.com |
“Plak.....plak “... sambaran rotan itu tepat mengenai tangan dan kaki ku.
“ Siapo yang nakal saat ngaji, bakal cak ini jugo .... (Siapa yang nakal saat ngaji, akan seperti ni juga)” sambil mendelik guru ngaji yang biasa di panggil wak tersebut menunjuku dengan logat daerahnya yang medok membuatku hanya bisa tertunduk.
Teras rumah yang di pakai mengaji mendadak menjadi sunyi, celoteh anak-anak sebayaku yang dari tadi terdengar ramai berubah menjadi hening.
Ku perhatikan bekas biru rotan kecil yang ada di tangan dan kakiku, sakitnya lumayan terasa untuk anak semuruan ku saat itu, tapi ada malu yang kutahan karena di marahi oleh guru ngaji di depan anak-anak yang lain yang menunduk sambil tersenyum.
“Laen kali kalu lagi ngaji, nurut apo yang di omongke samo wak, jangan bantah apolagi ngelawan...( lain kali kalau mengaji, harus menurut apa yang di katakan oleh wak, jangan membantah apalagi melawan)” kata ayah sambil memberika obat gosok di tangan dan kaki ku yang berwarna biru.
Hampir setiap sore kami mengaji kerumah beliau yang memang tidak jauh dari rumah ku, dengan membawa sekilo beras, minyak tanah di dalam botol sirop dan sepiring makanan, aku dan ayuku (kakak tertuaku) di antar oleh ibu kami untuk belajar mengaji di rumah wak.
Senin sampai kamis kami mengaji huruf hijaiyah dengan menggunakan jus ammah yang di Palembang sendiri di sebut dengan turutan, jumat sampai Minggu di isi dengan kegiatan praktek sholat, hafalan surah pendek dan doa, serta belajar menulis huruf arab.
Setiap hampir jam 4 sore maka temanku mulai beramai-ramai datang menuju ke rumah wak sambil berteriak dirumah-rumah sembari memanggil nama anak yang juga ikut mengaji, sehingga kami beramai-ramai menuju rumah wak, menggunakan sarung dan peci sambil membawa turutan.
Tapi yang namanya anak-anak nakal itu sudah biasa, terkadang permainan yang belum selesai kami mainkan, kami bawa sampai ketempat ngaji dan tidak heran jika wak marah seperti hari ini.
Banyak cerita yang terjadi saat kami mengaji dari di pukul rotan, dimarahi ataupun saat anak buang angin yang saking gugupnya saat mengaji karena bunyi rotan yang selalu mengetuk-ngetuk lehar (tatakan luntuk Al-Quran/Turutan), sehingga sontak anak lain pada tertawa saat mendengar bunyi angin gugup tersebut, dan hal ini juga yang membuat rotan wak meluncur ke bagian badan anak tersebut.
Wak yang juga bertugas menjadi imam musolah dan juga terkadang mengisi ceramah memang sudah berusia lanjut, hampir 60 tahunan dan keseharian beliau di habiskan untuk berdagang di pasar sebagai mata pencaharian beliau, setelah selesai berdagang beliaupun mulai mengajar sedari pukul 4 sore sampai berakhir sebelum magrib, dan setelah sholat magrib berjamah kamipun pulang ke rumah masing-masing.
Saat melintas di bekas kediaman beliau beberapa hari yang lalu, rumah tersebut sudah berubah menjadi rumah permanen yang cukup mewah, sejak wak meninggal dan di susul dengan istrinya sudah tidak ada lagi yang merawat rumah tersebut, beberapa tahun lamnya rumah tersebut kosong dan akhirnya rumah tersebut tersebut di jual oleh ahli warisnya.
Ternyata untuk menjadi seorang guru terutama yang bergelar ustad/ustaza yang bisa mengajarkan Al-Quran tidak semudah yang aku kira apalagi saat pidemi seperti ini di saat stay at home di berlakukan oleh pemerintah, otomatis anak-anak yang belajarpun harus di rumah. Termasuk TK TPA yang berada tidak jauh dari tempat tinggal kamipun sudah lebih dari 2 bulan ini pun di hentikan sementara kegiatannya.
Bunda sendiri yang merupakan ustazah atau guru ngaji di salah satu TPA di tempat tinggal kamipun terkadang mengajar anak sendiri masih sering terbawa emosi, memang ku akui memang mengajar itu tidak mudah apalagi mahluk awam sepertiku.
Terkadang merawat kesabaran di dalam diri saat kita mengajar memang di tuntut lebih, baik itu saat mengjarkan cara membaca ataupun cara menghapal, itulah mengapa tidak setiap orang bisa menjadi pendidik/pengajar.
Pada saat ini banyak sekali ustad/ustazah yang tidak dapat melaksanakan tugas sebagai mana biasanya, banyak TK/TPA yang tutup dan banyak juga ustad-ustad kampung yang tidak bisa lagi mengisi khotba jumat ataupun menjadi imam taraweh.
Memang kalau di lihat dari penghasilan, para ustad/ustazah kampung ini tidak bisa di samakan dengan ustad/ustazah yang kondang dan terkenal apalagi yang sering muncul di tv, tetapi para ustad/ustazah kampung ini lah yang menjadi ujung tombak mendidik anak-anak mengenalkan agama sedari dini, mengajarkan anak-anak membaca dan menghafal Al-Quran, mengajarkan fiqih dan tahuid dan lain sebagiannya.
Tetapi keikhlasan mereka yang tidak bisa terukur terkadang hanya berbuah doa, dalam selipan beberapa Rupiah jasa, tetapi mereka maju terus untuk menunaikan kewajiban mereka mengajarkan ilmu Al-Quran dan lainnya walupun ada atau tanpa penghargaan.
Terima kasih pernah menorehkan balur biru di tangan dan kaki ini, mungkin kalau dulu tidak ada balur biru ini mungkin aku tidak bisa mengaji sampai sekarang, tidak mengerti bacaan sholat sampai sekarang, tidak mengerti mengenai cerita nabi dan rosul dan lainnya yang berkaitan dengan agama.
Wak sang ustad kampung mungkin sudah lama tiada, tetapi amal beliau akan terus mengalir dari banyak murid-muridnya, walau engkau tak kaya dengan materi tapi ilmu yang kau sebarkan membuat engkau tetap di kenang, semoga Allah memberikan tempat terbaik buatmu. Al-Fatihah.
Monday, 13 April 2020
Entah Dalgona Atau Brown Sugar ... Tetapi Manisnya Enak
![]() |
| Dalgona Made In Kakak |
Jaga Kesehatan ....Kalau Bisa Jangan Sakit.....
Friday, 10 April 2020
Colekan Kue Ulang Tahun Ke 71 Kali Untuk Nenek Anang
![]() |
| Selamat Milad Nek Anang |
Sunday, 5 April 2020
Menikmati Gerimis Walaupun Hanya Nangkring Di Pagar
![]() |
| Ilustrasi by:gogle |
Friday, 3 April 2020
Belajar Online & Gagapnya Teknologi
Sunday, 29 March 2020
Satu Hari Tanpa Teknologi
![]() |
| Permainan Monopoli, Permainan Jadul Yang Asik Di Mainkan Bersama |
![]() |
| Orang lain pada duduk adek sendiri yang rebahan |






















