Showing posts with label Corona. Show all posts
Showing posts with label Corona. Show all posts

Monday, 3 January 2022

Nomor HP Expire Di Kartu Vaksin


Sudah lebih dari 1 bulan ini aplikasi pedulilindung milik nyai tidak terdapat kartu vaksinya sama sekali padahal nyai sendir sudah melakukan vaksin lengkap terakhir pada tanggal 23 November 2021, setelah ku cek satu persatu penyebabnya adalah masalah nomor hp yang di daftarkan saat akan melakukan vaksin ternyata sudah expire dan yang nomor telpon itu tidak hanya satu tetapi ke dua-duanya.

Hingga hari ini aku benar-benar mengurut benang kusut sertifikat vaksin nyai, ku bongkar semua slot kartu nya ternyata, kartu-kartu tersebut sudah tidak aktif lagi hanya tinggal kartu Smar***** yang menjadi profider utama yang masih hidup, sedangkan untuk nomor WA terdaftar atas nomor Tel****** yang notabene sudah expire, begitu juga di slot ke 2 no Tel****** juga sudah expire juga, wajar jika selama ini tidak ada OTP yang mampir ke nomor-nomor yang terdaftar di kartu vaksin tersebut.

Akhirnya akupun menggunakan kartu tel******, ini kartu ke dua yang di dapat dari kakak untuk kuota belajar beliau, tetapi sampai saat ini belum ada pernah menerima kuota belajar, karena kakak kemarin di sekolahnya sempat menerima kartu dari 3 provider, salah satunya kartu tel****** yang ada di slot ke 2 hp ku ini.

Berbekal informasi yang ku baca dari https://kabar24.bisnis.com/ mengenai cara memecahkan masalah ini, setelah membaca dengan seksama akhirnya akupun mendapatkan solusinya,  yaitu dengan mengirim email ke sertifikat@pedulilindungi.id, dengan menyertakankan informasi berupa: 
- Nama lengkap 
- Tempat dan tanggal lahir 
- Nomor ponsel di kartu vaksin atau yang salah
- Melampirkan foto selfie dengan KTP, serta kartu vaksinasi 
- Nomor ponsel yang benar

Akhirnya akupun membuat email untuk melakukan proses agar sertifikat vaksin bisa muncul, dengan melengkapi syarat-syarat yang sudah di berikan, akhirnya email terkirim tapi masalah di sini nomor telpon yang benar yang di masukan justru juga expire, sehingga email yang awal ini terkesan percuma saja, ini ketahuan saat notifikasi OTP tidak pernah muncul ke nomor tersebut walau sudah lama menunggu, sehingga saat di bongkar seperti cerita di atas baru ketahuan kalau signal dari nomor tersebut juga sudah tidak ada lagi alias sudah mati total wajar kalau OTP tidak terkirim.

Sehingga malam harinya akupun mengirim email kembali dengan menggunakan nomor telpon di slot ke 2 ku, kulakukan persis seperti proses email pertama, balasanpun tidak telalu lama keluar dan di email ke 2 ini hanya harus melengkapi kembali nama dan nomor NIK nyai, setelah kulengkapi dan kukirim akhirnya ada SMS 3 yang mendarat ke inbok ku, yaitu link biodata nyai, link sertifikat vaksin ke 1 dan link sertikat vaksin ke 2.

Akhrinya ku lakukan edit di profile nyai dengan melakukan penggantian nomor Hp yang expire tadi dengan nomor hp punya ku, hp nyaipun  mulai melakukan loading sehingga akhirnya sertifikat itupun muncul, nyai gembira melihat sertifikat vaksin  sudah bisa muncul di hp nya, karena selama ini beliau agak kesulitan jika harus terus menerus membawa kartu vaksin dari selembar kertas tersebut.

Untuk para bloger, pembaca jika mengalamai kesulitan dengan sertifikasi vaksin seperti diatas dapat menggunakan panduan di atas sebagai solusinya, selamat mencoba.

Tuesday, 2 November 2021

Vaksinya Rombongan

Ku baca pesan di aplikasi WA, ternyata dari adek iparku yang menayakan lokasi tempat vaksin le 1 karena ternyata di puskesmas tempat mereka tinggal sudah tidak menggadakan lagi vaksin ke-1, akupun merekomendaskan di puskesmas alang-alang lebar tempat aku melaksanakan vaksin ke-1 (baca : Setelah Sekian Lama Akhirnya Vaksin Juga ) walaupun saat ini serum vaksin menggunakan Pfizer yang ku bilang sangat bagus, lebih bagus dari serum vaksin sinovac  yang sudah masuk ke dalam badan ku ini.

Akupun meminta KTP mereka di kirim via wa biar aku bisa mendaftarkan secara online di vaksinonline.com,  pendaftaran vaksin via online tidak terlalu sulit cukup memasukan NIK dan bebrapa data lainnya yang sesuai dengan KTP maka kita sudah bisa terdaftar sebagai peserta vaksin., itulah salah satu kemudahan yang di berikan oleh pemerintah saat ini untuk memperluas jangkauan vaksin, sehingga penduduk dari manapun bisa melakukan vaksin di manapun berbekal dengan e-KTP, akhirnya pendaftaran online pun selesai dan ku WA masing-masing barcode mereka dan ku berikan cara untuk membuka aplikasi vaksinonline.com tersebut biar tidak keliru.

Bagi pekerja yang memerlukan akses untuk memasuki instansi lain maka salah satu syaratnya adalah vaksinasi  dan harus juga melakukan instalasi aplikasi peduli lindungi seperti pengalaman ku beberapa hari yang lalu ( Baca : Peduli Lindungi Kartu Akses Publik ).

Pada bulan sebelumnya di tempat bekerja adek ipar inipun sudah melaksanakan vaksin bagi karyawannya tetapi kebetulan ada yang lagi di lapangan dan ada juga yang lagi sakit, sehingga baru hari ini mendaftarkan untuk vaksinnya, kebetulan nyai pun ikut vaksin setelah sebelumnya menolak bahkan sempat di datangi dan di bujuk oleh ibu lurah di tempat nyai tinggal, karena nyai dan datuk termasuk aktif di setiap kegiatan yang ada di kelurahan tempat mereka tinggal.

Pagi ini mampir ke rumah sebelum menuju ke puskesmas, berdasarkan pendaftaran onlie tidak terlalu banyak yang mendaftar untuk dosis ke 1 hari ini sekitar hanya 30 orang, kemungkinan pukul 10 sudah bisa pada pulang kerumah, semoga semua pada sehat selalu.

Menunggu sebelum di panggil untuk di vaksin

Monday, 1 November 2021

Peduli Lindungi Kartu Akses Publik.

"Scan dulu pak aplikasi peduli lindunginya ... biar bisa masuk" kata petugas keamanan yang menjaga pintu masuk salah satu bank plat merah yang ada di kota ini.

Ku keluarkan Hp ku yang memang sudah terinstal aplikasi peduli lindungi tersebut, dan ku scan barcode yang menempel di pintu kaca bank tersebut, bank yang biasanya ramai pada tanggal 1 seperti ini terlihat agak lengang, kupikir karena penggunaan aplikasi ini salah satunya, padahal sekitar 2 minggu yang lalu aku ke bank ini belum ada penggunaan aplikasi ini.

Aplikasi yang di buat oleh pihak telkom yang terinsprirasi dari aplikasi trace together milik pemerintah Singapura yang bisa melakukan penditeksian atas pergerakan orang-orang yang memiliki aplikasi tersebut.

Saat selesai scan maka akan keluar data-data kita seperti NIK, nama lengkap, lokasi check ini kita, karena aplikasi ini menggunakan data internet maka kita akan tampak  berdiam di lokasi yang kita kunjungi saat ini. Setelah kita selesai di tempat kita kunjungi maka kita juga harus melakukan check out di dalam aplikasi biar kunjungan kita tidak menggantung di aplikasi tersebut, memang terlihat jelas bahwa aplkasi tersebut seperti penanda jejak kunjungan bagi kita ke tempat-tempat publik.

Tapi yang masih aku bingung kan adalah kaitan antara aplikasi peduli lindungi ini dengan riwayat vaksin yang kita punya atau bahwa pemegang aplikasi ini sedang terjangkit covid -19 atau tidak, karena sepertinya pihak pemasang bar code juga tidak bisa membaca apakah mereka sudah tervaksin, sedang terpapar virus covid-19 atapun yang lainnya, karena sepertinya aplikasi ini langsung connect ke kominfo atau kementerian kesehatan.

Sempat heboh beberapa bulan yang lalu kalau aplikasi ini bocor di publik dengan tersebarnya sertifikat vaksin dari petinggi negara ini, walau hal itu sempat terjadi saling bantah dan lempar tanggung jawab antara institusi terkait kebocoran data tersebut.

Apakah aplikasi ini akan menjadi "Pass Card Permanent" untuk segala ruang publik dan tempat-tempat tertentu, semoga saja dengan penggunaan pedulilindungi ini dapat menditeksi para penyintas covid-19 sehingga pengendaliannya akan lebih mudah, dan membuat Indonesia akan lebih cepat sehat.

Saturday, 30 October 2021

Akhirnya Komplit Juga

Sudah dari beberapa hari ini terus memperhatiakan situs vaksinonline.com tapi ternyata banyak puskesmas yang untuk vaksin ke 1 ataupun ke 2 tidak menggunakan sinovac, tapi sudah hampir setengah bulan ini vaksin yang di gunakan adalah keluaran fizer, astrazeneca ataupun moderna, kalau pada awal kemarin aku melakukan vaksin di puskesmas alang-alang lebar ( baca : Setelah Sekian Lama Akhirnya Vaksin Juga ), untuk vaksin ke 2 ini aku akhirnya memilih puskesmas 11 ilir untuk menjadi tempat vaksinku, bukan tanpa alasan kenapa aku memilih di puskesmas ini karena kesamaan serum vaksin sinovac untuk vaksin ke 2, sedangkan di puskesmas alang-alang lebar sendiri sudah menggunakan vaksin Pfizer.

Sekalian mengantar kakak untuk kegiatan majelis nya akupun langsung melipir ke puskesmas 11 ilir yang memang satu arah dengan tujuan kakak, aku pikir dengan jumlah peserta vaksin yang lumayan sedikit tersebut tidak akan memakan waktu terlalu lama untuk menunggu, tetapi dugaan ku salah ternyata saat aku tiba di puskesmas tersebut banyak pendaftar yang mayoritas ibu-ibu mendaftar secara manual dan membuat pintu masuk tempat pendaftaran di penuhi oleh para ibu-ibu.


Dengan beragam alasan ibu-ibu disini mengapa mereka mau di vaksin, ada yang akan menerima bantuan, ada yang anaknya menerima beasiswa, ada juga yang untuk kerja walaupun sebagai buruh cuci tetapi majikannya mengharuskan untuk sudah tervaksin. 

Aku hanya mendengar saja celoteh ibu-ibu tersebut, tanpa melepas masker aku menuju tempat pendaftaran yang di penuhi oleh para ibu-ibu yang mengantri di panggil, untunglah bagi yang mendaftar secara online mereka sudah memiliki rekap tersendiri jadi kami hanya menyerahkan kartu vaskin yang pertama saja.


Sama seperti vaksin pertama akupun dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu, di tensi, di ukur suhu tubuh dan beberapa pertanyaan sepurta penyakit dan covid-19, hingga akhirnya vaksin ke 2 sinovac masuk ke dalam tubuhku, akhirnya komplit juga ritual vaksin covid-19 ini.

Tetapi sebagai catatan untuk pihak puskesmas hendaknya ditambah petugas penjaga yang mengawasi pintu masuk pendaftaran sehingga tidak setiap orang bisa masuk dan berkerumun di dalamnya, karena ruang tunggu pendaftaran vaksin yang lumayan sempit,  apalagi ada juga ibu-ibu yang tidak menggunakan masker saat mendaftar walaupun pihak puskesmas dengan tegas menolak pendaftaran vaksin bagi yang tidak menggunakan masker. Mengambil contoh seperti di puskesmas alang-alang lebar yang memiliki petugas penjaga sehingga beliau dapat mengatur para pendaftar sehingga tidak menjadi kerumunan, 

Semoga dengan ikhtiar vaksin ini Palembang bisa menjadi sehat kembali dan begitu juga Indonesia bisa pulih secara menyeluruh, sehingga pandemi yang melanda sekarang dapat segera pergi berlalu.

Saturday, 2 October 2021

Setelah Sekian Lama Akhirnya Vaksin Juga


Setelah menunjukan barcode yang keluar dari aplikasi vaksinonline.com oleh petugas rumah puskesmas akupun di beri lembaran kertas yang harus di isi dengan data pribadi, hari ini akhirnya aku menyempatkan diri untuk melakukan vaksin covud-19 di puskesmas tempat kami tinggal, sudah lama memang tertunda setelah ayuk yang sudah terlebih dahulu melakukan vaksin pada tanggal 18 September 2021 di sekoolahannya.

Pada pukul 08:30 akupun mulai berangkat ke puskesmas tersebut karena memang tidak terlalu jauh dari rumah, tetapi saat tiba di puskesmas tersebut ternyata puskesmas tersebut sudah ramai di datangi oleh para peserta vaksin selain itu ada pula yang mau berobat yang membaur menjadi satu sehingga tampak puskesmas tersebut menjadi penuh walaupun dengan menjaga jarak.

Setelah selesai mengisi blangko isian akhirnya akupun menyerahkan ke petugas dan tinggal menunggu di panggil saja, pada awalnya keinginan vaksin ku adalah di ex area giant express tapi saat itu kulihat di aplikasi vaksinonline.com bahwa peserta yang sudah terdaftar sudah sebanyak 335 orang dan kupikir akan lama sekali menunggu untuk banyaknya peserta sebanyak itu, sedangkan di puskesmas alang-alang lebar sendiri hanya 40 orang yang sudah terdaftar dan pada saat hari H saat ku cek hanya 46 orang saja yang terdaftar, akhirnya aku memeutuskan untuk merubah pilihan temapat vaksin di puskesmas alang-alang lebar.

Menunggu 15 menit seusai vaksin

Setelah di panggil blangko lembaran kertas yang sudah ku isi pun ternyata di registrasi ulang, setelah selesai di arahkan kembali ke bagian pemeriksaan di mana di lakukan tensi, pengukuran suhu dan juga beberapa pertanyaan yang menjadi dasar persetujuan untuk vaksin tersebut.

Saat di ruang vaksin tampak di sebelah ku pemuda yang mukanya tampak pucat,
"kenapa dek mukanya pucat belum sarapan ya ? tanyaku
"Sudah kak" jawabnya singkat sambil menyeka keringatnya, dalam hatiku mungkin anak ini cemas atau ketakutan saat ingin di vaksin.

Setelah adik yang kutanyai tadi, giliranku pun tiba, ternyata vaksin tidak seperti yang di rumorkan selama ini, tidak ada yang kurasakan pegal, pusing, mual dan yang lainnya, setelah vaksin seperti biasa saja seperti biasa, kamipun di suruh menunggu selama 15 menit di luar ruang vaksin sekalian menunggu kartu vaksin yang akan kami terima, terlihat pemuda yang di sebelahku memegang kepala ku.

"kenapa dek , pusing ?" tanya ku
"sedikit kak " sambil ia mengurut keningnya yang berkeringat

Petugaspun memanggil satu persatu nama yang sudah vaksin tadi untuk menyerahkan kartu vaksin yang berbentuk print out lembaran kertas yang berisi barcode informasi seputar peserta vaksin. Akhirnya kami berdua pun di panggil saat kami terima dan ku baca sebentar kartu vaksin tersebut aku di kejutkan karena pemuda yang di sampingku itu ternyata jatuh pingsan.

Akupun ikut membantu membawa pemuda tersebut untuk di tidurkan di tempat yang di tunjukan oleh perawat puskesmas tersebut. Entah bagaimana kabar pemuda tersebut karena akupun segera meninggalkan puskesmas tersebut untuk tugas lainnya, semoga saja pemuda tersebut baik-baik saja.

Thursday, 23 September 2021

Kelas Adek Yang Warna Warni

 

Warna warni bocah

Adek sedikit beruntung di bandingkan kakak dan ayuk karena sekolah adek sudah sejak lama menerapkan sekolah tatap muka walaupun hanya seminggu sekali dan itu pun menggunakan pakaian bebas pantas, dan saat di umumkan boleh tatap muka terbatas maka sekolah ini menerapkan seminggu sekolah seminggu libur dengan durasi belajar hanya 2 jam saja.

Sekolah madrasah yang memisahkan antara anak laki-laki dan perempuan ini, justru tidak terlalu konsen dengan seragam maklum kebanyakan yang sekolah di sini adalah kalangan menengah ke bawah, pada awal berdirinya sekolah ini menggratiskan untuk biaya pendidikan dimana di selenggarakan seadanya tetapi tetap berdasrkan kurikulum.

Ini pun terlihat saat foto di ambil saat hari ini ternyata seragam yang di pakai oleh kawan adek dalam satu kelas berwarna warni, ada yang menggunakan pakaian olahraga,ada yang menggunakan pakaian muslim, dan ada yang menggunakan pakaian putih hijau.

Kelihatan lucu juga warna-warni didalam kelas ini yang penting mereka semangat belajar walaupun di tengah pandemi.

Friday, 10 September 2021

Langusng Kelas 8


Langsung kelas 8

"Kakak... mau sekolah yah " kata kakak
"Kalau mau sekolah kakak harus banyak makan dan berjemur matahari" jawab ku

Memang sudah beberapa hari ini kakak mengalami sakit panas yang membuat kakak tidak mau makan dan badannya lesu, sudah banyak tugas yang tertinggal dan tidak di kerjakan, tapi mendengar informasi adanya tatap muka terbatas membuat kakak menjadi semangat lagi.

Kakak mulai berjemur dan mulai makan walupun sedikit, semangat untuk sekoah sangat tinggi maklum dari mulai mendaftar di MTS Negeri 1 Palembang baru saat ini ada kegiatan belajar mengajar walaupun terbatas, memang pernah di panggil beberapa kali karena permasalahan tugas.

"Bosan" itu yang kubaca dari kakak dengan perlajaran daring yang tiap hari di lakukan dan juga kurang efektif ku rasa, tiap hari berkutat dengan hp dan laptop yang berinternet membuat anak-anak jenuh jutru mereka lebih tertarik dengan isi media sosial dan yang lainnya.

Dari baju , rok dan jilbab pun di siapkan, kondisi kakak pun semakin membaik dari hari ke hari, hingga hari ini kakak mulai ikut dengan ayah karena kebetulan satu arah ke tempat kerja, kakak masuk di shift 2 di mana mulai pembelaajran pada pukul 9.40 s.d pukul 12 siang.

Banyak prosedur yang harus di persiapkan, membuat pernyataan, membawa masker cadangan, membawa handsanitizer sendiri, tidak boleh demam, pilek ataupun batuk, pernyataan vasksin dan setumpuk peraturan lainnya, hal ini di lakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan terutama terjadinya cluster sekolah.

"kakak..... pergi yah... Assalamualaikum" kata kakak sambil mencium tanganku.
"Kak .... langsung kelas 8 ye....." ejek ku
"Kelas 7 nya hilang yah.... di makan virus" jawabnya sambi berjalan menuju gerbang sekolah

Saturday, 17 July 2021

Semoga

 

Sudah hampir satu setengah tahun pandemi ini semakin menjadi lingkar yang terpapar atau yang terkena dari virus ini pun semakin mendekat kelingkaran kehidupan kita, semakin hari berita yang tersiar semakin santer yang selama ini yang terpapar merupakan orang-orang di luar kita sedangkan saat ini justru orang-orang terdekat dari lingkungan kita mulai terpapar.

"Si W*** terkena covid sekeluarga" cerita nenek ino saat kami berkujung ke Plaju
"Yang lainnya ada yang kena Bu ?" Tanya ku lagi
"Si Y*** juga terpapar lagi isolasi mandiri" jawab nenek ino lagi.

Justu yang kuperhatikan semakin dekat orang-orang yang terpapar virus ini, hingga akhirnya berpesan ke nenek ino untuk berhati-hati. Akhirnya kejadian ini pun salah satu keluarga yang di swab dinyatakan positif, padahal saat itu asam lambungnya naik padahal swab tersebut merupakan syarat dari kantornya untuk bekerja ke esokan harinya, akhirnya isoman selama 14 hari harus di lakukan.

Begitu juga saat gejala anosmia mulai menyerang keluarga yang lainya dimana bau sampah saja sudah tidak bisa tercium, akhirnya isoman 14 haripun di lakukan secara mandiri, tetapi ada juga yang mereka terpapar tetapi seolah-olah tidak sakit banyak yang menulari orang lain.

Seorang pengajar ada yang terpapar virus ini dari teman sekantornya yang tidak mengetahui kalau ia itu terpapar, begitu juga orang lainnya yang harus isoman karena keluarga yang berkunjung kerumahnya sudah terapar virus tersebut.

Perlu kehati-hatian dan terus menerapkan prokes (Mencuci tangan, mengggunakan masker dan menjaga jarak ) merupakan hal yang teraman yang di lakukan saat ini, walaupun vasksin sudah tiap hari di gencarkan oleh pemerintah untuk membentuk heard imunnity masyarakat, tetapi tidak menjamin kalau vaksin membuat kita tidak terkena virus ini walaupun di klaim bisa mengurangi dampaknya.

Semoga pandemi ini segera berlalu, begitu juga yang sakit terpapar segera sembuh, dan yang sehat bisa terus menjaga kesehatnya.

Monday, 17 May 2021

Saat Kawan Mulai Terpapar


Suasana lebaran masih terasa, di tempat kerjapun silaturahim masih tetap terjalin walaupun sudah sejeak beberapa minggu ini Palembang masih berstatus zona merah covid-19, tetapi tidak banyak berpengaruh ke masyarakat, buktinya mall dan pasar tetap ramai, yang paling heboh saat mengahadapi lebaran yaitu tarik ulur  pelarangan sholat idul fitri yang banyak memnuhi time line medsosku.

Telpon ku berdering, ternyata teman satu ruangan dengan ku bercerita pajang lebar, dia bercerita bukan tentang pekerjaan atau kegiatan tetapi tentang kondisi nya yang terindikasi terpapar covid-19, kluster keluarga menjadi penyebab utama, dari kunjungan keluarga yang memang sudah sakit menyebabkan  keluarga lain harus di rawat inap di rumah sakit daerah di kota ini.

Panjang lebar dia bercerita tentang asal mula virus itu bisa hinggap ke keluarga besarnya, aku hanya bisa menyuruhnya bersabar dan banyak berdoa dan tidak lupa mengkonsumsi makanan yang bisa meningkatkan imun tubuh.

"Alhamdulilah negatif" katanya di ujung telpon setelah mengirimkan foto hasil swab pertamanya.
"Alhamduliah" jawabku,
Tetapi seperti apa yang ku baca masih terlalu dini untuk menentukan kalau hal tersebut hasil yang tetap masih di perlukan beberapa test kembali karena terkait masa inkubasi dari virus, dan hal ini terbukti setelah 7 hari kemudian, dia mengatakan diri positif setelah melakukan swab ke 2, seluruh keluarganya terpapar kecuali anak yang sulung, sehingga walaupun di isolasi di satu rumah tetapi berbeda ruangan denagn si sulung.

Begitu juga dengan teman yang lain nya di mana justru istrinya yang positif covid-19 setelah di lakukan swab saat hari pertama masuk kerja di tempat istrinya bekerja, apalagi di ketahui kalau istrinya ini lagi hamil, justur kecemasan teman tersebut semakin menjadi. Karyawan lain juga ikut di swab ulang untuk memastikan bahwa tidak ada yang terpapar, tetapi ternyata dari sekian banyak ternyata virus ini sudah menular ke karyawan lainnya di kantor tersebut.

Memang tidak di sangka kalau virus itu menyebar begitu cepat, "Pakai masker, itu hal yang paling efektid" kata teman yang sedang menjalani isolasi mandiri saat ini. Karena obat-obatan saja hanya sebatas mengurangi gejala bukan menyembuhkan.

Obat-obatan dan banyak multivitamin yang di konsumsi ternyata bukan barang yang murah, memang benar kata orang bijak kalau "sehat itu mahal" , waspada dan terapkan selalu protokol kesehatan merupakan hal yang paling tepat untuk mencegah penyebaran virus ini.

Sunday, 6 December 2020

Sekian Lama Sejak Pandemi

Ak ucup, Nyai & Ayuk Nisa yang sudah duluan di kambang iwak

Setelah selesai menikmati sarapan pagi Yanto yang terletak di kawasan bukit besar, akhirnya motor kupun ku arahkan ke kawasan kambang iwak yang memang merupakan kawasan wisata olah raga yang selalu di padat pengunjung setiap harinya terutama pada hari minggu seperti ini.

Cukup lama kami dan keluarga tidak lagi mengunjungi tempat wisata sejak pandemi melanda negeri ini, baik tempat wisata di kota ini ataupun di luar kota, padahal akhir tahun ini ada keinginan untuk menelusuri kota terdekat menggunakan kereta yaitu Lubuk Linggau - Curup dan Bengkulu tetapi apa daya pandemi masih belum bisa berlalu.

Umi, ak ucup, nyai dan pempek panggang

Saat tiba di sini nyai, ayuk nisa, umi, ak wafi dan ucup sudah terlebih dahulu ada di sini kami pun ikut bergabung sekedar "tawaf" (keliling kambang iwak), untuk membuang kolestrol dari sarapan pagi tadi, tenyata ujuk dan keluarganya juga akan bergabung di kambang iwak ini, ini pertama kali kami dan keluarga untuk pergi di area keramaian kalau di hitung-hitung sudah hampir setahun.

Begitu juga ke mall, sejak di umumkan nya pandemi sampai saat ini tidak pernah lagi kaki ini memasuki mall padahal banyak mall yang bertebaran di kota ini, tetapi waspada terhadap segala sesuatunya itu penting biar kita bisa tetap sehat selalu.

Di kawasan permainan anak-anak

Adek azam dan ak ucup langsung saja menuju kawasan permainan anak-anak yang di penuhi beragam permainan, ada sewa skuter, tangguk ikan, mewarnai, mandi bola dan beragam lainnya. Sewa skuter itu yang menjadi pilihan adek azam karena memang selain sudah bisa menggunakan sepeda dia juga sudah tidak asing dengan skuter tersebut yang sudah pernah beberapa kali di sewa nya.

Kami hanya menunggu sambil memakan camilan berupa pentol yang di kasih saus pedas sembari meminum es dingin, planing hari ini selain ke kambang iwak kamipun berencana akan mencoba ke mall untuk mengajak anak-anak ke wahana permainan, tetapi sebelumnya itu kami akan kembali terlebih dahulu ke tempat nyai karena badan sudah mulai gerah.

Sekitar pukul 14:00 kamipun berangkat bersama menuju mall yang terletak di jalan POM IX, di mana sebelum pandemi mall ini sering menjadi tujuan anak-anak untuk bermain karena di salah satu wahannya terbilang murah-meriah, dengan bermodal koin seribu rupiah kita bisa melakukan satu permainan yang bisa membuat anak-anak senang.

Akhirnya ngemall juga

Lumayan lama juga kami di mall ini, banyak permainan yang anak-anak mainkan di sini baik yang membuthkan gerak fisik ataupun kemampuan berpikir atau memang untuk senang-senang saja, membuat wajah mereka tersenyum menjadi hati kita gembira tetapi lama di ruang ber ac seperti ini membuat kita lapar.

Nasya & Papanya

Monday, 25 May 2020

Merasakan Kembali Kenangan Si Minuman Legend, Saparela

Aku dan Minuman Legend

Ternyata sudah cukup lama jika di hitung sejak terakhir kali meminum root beer nya khas Palembang ini, mungkin saat zaman masih kuliah di tahun 98-99an, banyak kenangan yang kuingat dari minuman yang satu ini.

Hari ini saat berkunjung di rumah keluarga di kawasan suro tepat di objek wisata kampung mural gudang buncit ternyata minuman yang satu ini sudah tersaji, memang sejak dari bulan puasa tahun ini minuman ini banyak yang menjual secara online dengan harga 35-50 ribu per lusin. Hingga pernah mau coba pesan tetapi pesanannya nggak datang-datang, belum rezeki kali ya.....

Tetapi hari ini minuman ini tersedia banyak, dan gratis... aroma sarsaparila yang khas dan rasa yang khas tidak berubah sedari dulu, dengan di temani batu es mulai ku minum teguk demi teguk minuman legend ini.

Teringat dulu saat nenek yang sudah sakit lumpuh dan beberapa penyakit lainnya  yang tinggal di rumah orang tua ku, dan beliau meminta minuman ini saat di beri satu di berkata kurang dan sampai 3 botol, nenek pun berkata kurang, akhirnya akupun membeli sampai 1 lusin minuman berkarbonasi ini yang menyebabkan ayah marah-marah  karena nenek terkena diare.

Akupun hanya tersenyum mengenang hal tersebut, di tahun 2016 aku pernah membuat tulisan di sebuah blog mengenai minuman ini, Air Soda, Sugus dan Es Hoya. Dimana dari ke seluruhannya hanya minuman sarsaparila dan air soda ini yang masih bertahan sampai saat ini.

Memang minuman ini sudah sangat jarang di temui karena jalur pemasaran yang lebih banyak ke daerah-daerah di luar kota Palembang, tetapi lebaran tahun ini cukup berbeda minuman yang satu ini yang oleh orang Palembang sering di sebut saparela, bisa tersaji di meja walaupun itu meja saudara.

Saturday, 16 May 2020

Rinai Hujan Ini Membuat Ku Berdamai Dengan Hati


Langit yang sudah terlihat gelap ini akhirnya menumpahkan hujannya juga, rinai hujan yang membuatku meminggirkan kendaraan ku dan berteduh sejenak sampai menunggu hujan reda, aspal jalan utama kota ini tampak mengkilat di terpa oleh hujan, banyak para pengendara motor lainnya yang juga berhenti seperti ku biar tidak basah karena air hujan.

Sambil memperhatikan tetesan air hujan, kulihat di sebelahku penarik bentor yang juga ikut berteduh, dengan menggunakan topi dan masker kain beliau mendekapkan kedua tangannya.

" Sudah banyak dapat penumpang kak ?" tanyaku iseng sambil memecah kesunyian
" Dari pagi dek baru dapat satu orang itu pun cuma di bayar 10 ribu" jawab penarik bentor tersebut
"10 ribu... maksudnya ?' tanya ku kembali
"Seharusnya ongkosnya tadi 13 ribu tetapi karena tidak ada kembalian maka uang 5 ribuannya di pegang penumpang dan tidak kembali lagi"jelas penarik bentor tersebut.

Ia pun melanjutkan ceritanya tentang kesehariannya menjadi penarik bentor, istri yang menjadi tukang cuci di rumah tetangga yang tidak jauh dari kontrakan beliau, dan cerita tentang anak nya yang masih kecik-kecil.

Dan ak tentang keinginan anaknya yang saat lebaran ini pingin di beliin minuman bersoda dan makan daging rendang karena selama ini kalau lebaran bisa mencicipi di rumah tetangga, anaknya kepingin kalau minuman dan makanan tersebut ada di rumah mereka sendiri, Akupun agak sedikit tersentak minuman soda yang bagi sebagian orang merupakan minuman keseharian begitu juga daging rendang yang bahkan ada orang yang memakannya setiap hari sebagai lauk makan, memjadi barang langka dan unik bagi sebagian orang lainnya, bahkan makanan dan minuman tersebut menjadi barang mewah bagi mereka.

Ternyata yang kualami beberapa hari ini belum ada apa-apanya di bandingkan dengan apa yang di alami oleh penarik bentor ini, pemotongan dana hari raya sebesar 50% membuatku dan kawan-kawan di tempat keja menjadi gelisah dan uring-uringan sedangkan jika di banding kan dengan bapak penarik bentor ini untuk sehari-hari saja mereka belum tentun mencukupi apalagi memkirkan untuk lebaran dengan berbagai impiannya.

Ada sesuatu yang ingin meledak di dalam dada ini, mulai panas kurasa mata ini, Allah hari ini memberikan pelajaran yang berarti di antara rinai hujan, ku cabut 2 lembar uang merah bernilai terbesar dengan negeri ini.

"Kak, ini ada hadiah dari kami, semoga keinginan lebaran keluarga kakak bisa terwujud ?' kata ku
"Yang benar dek"jawab penari bentor tersebut seperti tidak percaya

Aku hanya mengangguk, uang pun berpindah ke genggamannya, mukanya yang berseri-seri kulihat seperti orang mendapat sekarung emas dan sekotak berlian, dadaku yang bergemuruh seketika mereda, tetapi air mata ini mulai tertumpah, ku berlari ke tengah derasnya hujan sambil mengendarai motorku, membiarkan rinai ini bersatu dengan tangisku.

Kulihat penarik bentor mulai menarik penumpang perempuan dari spionku, ternyata jawaban Allah itu mudah kegalauan ini di obati dengan BERBAGI yang membuatku bisa berdamai dengan hati ini.

Friday, 8 May 2020

Mana 10 Milyar Saya

Membuka arsip lama salah satu pelatihan kepemimpinan yang pernah ku ikuti di salah satu kawasan objek wisata ini propinsi ini, satu persatu lembar ku baca ulang, saat sampai di lembar impian, kubaca agak lama ternyata sudah banyak yang kutuliskan di sana menjadi kenyataan, ada beberapa yang memang belum terwujud sampai saat ini salah satunya memiliki dana 10 Milyar di usia 40 tahun, saat menulis impian tersebut sekitar 18 tahun yang lalu instrukturku berkata :

“Tulislah impian gila kalian untuk jangka waktu yang panjang dan saksikan perbedaanya”

Aku dan temanku yang saat itu bisa di bilang hanya kami berdua yang masih bujangan karena peserta lainnya merupakan karyawan paruh baya dan sudah berkeluarga  yang berkompetisi untuk mendapat kan promosi jabatan dari kantornya dan salah satu syaratnya adalah harus mengikuti pelatihan ini. Pelatihan yang di laksanakan selama  1 minggu ini  di kawasan pinggiran danau yang berjarak lumayan jauh dari kota Palembang.

Satu persatu ku baca kembali impian lama tersebut ternyata Allah sudah sangat banyak mengabulkan apa yang aku tuliskan saat itu, dari pekerjaan, tempat tinggal, kendaraan, pertemanan dan yang lainnya. Tetapi 1 hal yang ku tatap dan ku ulang ulang bahwa saat itu ada tabungan sebesar 10 milyar yang kupunya, dan ini terus menjadi pertanyaan yang belum terjawab.

Hingga akhirnya kesempata itu tiba, akupun bertemu intruktur ku di salah satu bank swasta, beliau sedang duduk menunggu panggilan nomor untuk ke customer cervice, beliau sudah lama pensiun dari tempat beliau bekerja dan sekarang hanya menikmati keseharian beliau di rumah saja, setelah ngobrol ngalur ngidul bertanya kabar, kesehatan dan lainnya akupun langsung menanyakan yang selama ini terpendam di dalam otakku.

"Pak, dulu saat pelatihan ada pelajaran impian, di mana kami di suruh menuliskan impian-impian gila yang akan terwujud dalam beberapa tahun kedepan" paparku cepat

"Iya kenapa ?" tanya beliau lagi.

" Di situ kutuliskan saat umur 40 tahun aku memiliki tabungan sebanyak 10 milyar, kok sampai sekarang belum terjadi" kata ku lagi.

Sambil tersenyum dan memperbaiki posisi kacamatanya, diapun lanjut berkata ;

"Asumsi saudara saat menuliskan 10 milyar tersebut apakah berupa uang atau lainnya ?" tanya instruktur tersebut

"Yang kutulis hanya tabungan sejumlah 10 milyar" jawabku.

Sambil tersenyum lagi beliau bertanya ; "Sudah beberapa lama sejak saudara menuliskan impian tersebut sampai dengan saat ini ?

"kurang lebih 18 tahun" jawabku

"Apakah ada perubahan selama 18 tahun ini ?" tanya beliau lagi

Akhirnya kuceritakan tentang keluarga ku, tentang pekerjaan ku, tentang anak-anak ku, tentang semuanya dalam rentang lebih kurang 18 tahun berlalu, sambil akhirnya beliau pun berkata : " Sadar tidak bahwa yang semua saudara katakan tadi sudah lebih dari 10 milyar " katanya yang membuat aku terkejut.

"maksudnya bagai mana pak ?' tanyaku

"Coba saudara pikir ada kalanya Allah tuhan kita menurunkan berkah dan rezeki sesuai dengan kebutuhan umatnya, ada yang di kasih dalam bentuk uang 10 milyar tanpa ada jeda, tetapi ada juga yang tidak. Ada yang di berikan kesehatan dan keluarga yang banyak dengan anak tetapi hanya di berikan harta yang sederhana, tetapi ada yang memiliki banyak harta tetapi tanpa di karuniai seorang anak pun"

Aku hanya terdiam, sambil menatap wajahnya yang sudah banyak mengeriput.

" Coba saudara pikir harga kesehatan saudara, atau harga tubuh saudara berapa, ada yang mau beli ginjal 300 juta per buahnya bagi yang memiliki penyakit gagal ginjal, atau ada yang menghargai jantung dengan harga 1,5 milyar untuk para transplantasi yang mebutuhkan, atau ada juga yang menghargai hati kita dengan 500 juta hanya untuk menggantikan hatinya yang sudah tidak berfungsi lagi".

Akupun makin mendengarkan dengan serius,

"Itu baru dari sisi kesehatan dan anggota tubuh, anak yang di karunia oleh Allah kepada saudara berapa saudara mau jual ?" tanya beliau

"Nggak mungkin akan saya jual pak.... orang nggak waras yang menjual anak nya demi uang" jawabku

"Itu jawabannya.... ada harta yang lebih berharga ketimbang uang, seperti saudara yang karunia 3 anak walupun dalam kondisi sederhana, sedangkan saya mungkin dari sisi harta saya lebih baik tapi sampai umur tinggal di ujung kubur seperti ini tiada seorangpun yang namanya anak yang Allah karuniakan kepada kami".

Aku sempat terkejut mendengar penuturannya.

"10 milyar yang saudara tuliskan 18 tahun yang lalu mungkin sudah lama terwujud tapi bukan dalam bentun uang tunai atau harta benda yang bisa di simpat, tetapi Allah justru memberikan hal yang tak ternilai harganya,... istri, anak & keluarga yang bahagia merupakan hal yang tak bisa di nilai dengan uang, begitu juga kesehatan, pekerjaan yang baik dan juga teman-teman yang ada di sekitar kita juga merupakan harta yang tidak terniali, apakah semua itu mau saya tukar dengan 10 milyar ?" tanyanya sambil tersenyum

Aku menggeleng

"Bersyukur itulah kuncinya, jaga titipan Allah yang tidak ternilai ini karena semuanya lebih dari 10 milyar" katanya menutup ucapanya karena layar antri sudah memanggil nomor antrian instruktur ku tersebut.

Terima kasih pak atas segala petuah bijaknya, ternyata benar bahwa Allah sudah memberikan harta yang tidak ternilai tetapi kita sering tidak menyadari bahwa yang kita anggap harta adalah hanya uang dan harta kebendaan fisik belaka, semoga kedapan saya akan lebih bisa bersyukur terhadap segala pemberianMu.

Monday, 4 May 2020

Terima Kasih Atas Balur Biru Ini

Ilustrasi Mengaji Sumber Facebook.com

Plak.....plak “... sambaran rotan itu tepat mengenai tangan dan kaki ku.

“ Siapo yang nakal saat ngaji, bakal cak ini jugo .... (Siapa yang nakal saat ngaji, akan seperti ni juga)” sambil mendelik guru ngaji yang biasa di panggil wak tersebut menunjuku dengan logat daerahnya yang medok membuatku hanya bisa tertunduk.

Teras rumah yang di pakai mengaji mendadak menjadi sunyi, celoteh anak-anak sebayaku yang dari tadi terdengar ramai berubah menjadi hening.

Ku perhatikan bekas biru rotan kecil yang ada di tangan dan kakiku,  sakitnya lumayan terasa untuk anak semuruan ku saat itu, tapi ada malu yang kutahan karena di marahi oleh guru ngaji di depan anak-anak yang lain yang menunduk sambil tersenyum.

“Laen kali kalu lagi ngaji, nurut apo yang di omongke samo wak, jangan bantah apolagi ngelawan...( lain kali kalau mengaji, harus menurut apa yang di katakan oleh wak, jangan membantah apalagi melawan)” kata ayah sambil memberika obat gosok di tangan dan kaki ku yang  berwarna biru.

Hampir setiap sore kami mengaji kerumah beliau yang memang tidak jauh dari rumah ku, dengan membawa sekilo beras,  minyak tanah di dalam botol sirop dan sepiring makanan, aku dan ayuku (kakak tertuaku) di antar oleh ibu kami untuk belajar mengaji di rumah wak.

Senin sampai kamis kami mengaji huruf hijaiyah dengan menggunakan jus ammah yang di Palembang sendiri di sebut dengan turutan, jumat sampai Minggu di isi dengan kegiatan praktek sholat, hafalan surah pendek dan doa, serta belajar menulis huruf arab.

Setiap hampir jam 4 sore maka temanku mulai beramai-ramai datang menuju ke rumah wak sambil berteriak dirumah-rumah sembari memanggil nama anak yang  juga ikut mengaji, sehingga kami beramai-ramai menuju rumah wak, menggunakan sarung dan peci sambil membawa turutan.

Tapi yang namanya anak-anak nakal itu sudah biasa, terkadang permainan yang belum selesai kami mainkan, kami bawa sampai ketempat ngaji dan tidak heran jika wak marah seperti hari ini.

Banyak cerita yang terjadi saat kami mengaji dari di pukul rotan, dimarahi ataupun saat anak buang angin yang saking gugupnya saat mengaji karena bunyi rotan yang selalu mengetuk-ngetuk lehar (tatakan luntuk Al-Quran/Turutan), sehingga sontak anak lain pada tertawa saat mendengar bunyi angin gugup tersebut, dan hal ini juga yang membuat rotan wak meluncur ke bagian badan anak tersebut.

Wak yang juga bertugas menjadi imam musolah dan juga terkadang mengisi ceramah memang  sudah berusia lanjut,  hampir 60 tahunan dan keseharian beliau di habiskan untuk berdagang di pasar sebagai mata pencaharian beliau, setelah selesai berdagang beliaupun mulai mengajar sedari pukul 4 sore sampai berakhir sebelum magrib, dan setelah sholat magrib berjamah kamipun pulang ke rumah masing-masing.

Saat melintas di bekas kediaman beliau beberapa hari yang lalu, rumah tersebut sudah berubah menjadi rumah permanen yang cukup mewah, sejak wak meninggal dan di susul dengan istrinya sudah tidak ada lagi yang merawat rumah tersebut, beberapa tahun lamnya rumah tersebut kosong dan akhirnya rumah tersebut tersebut di jual oleh ahli warisnya.

Ternyata untuk menjadi seorang guru terutama yang bergelar ustad/ustaza yang bisa mengajarkan Al-Quran tidak semudah yang aku kira apalagi saat pidemi seperti ini di saat stay at home di berlakukan oleh pemerintah, otomatis anak-anak yang belajarpun harus di rumah. Termasuk TK TPA yang berada tidak jauh dari tempat tinggal kamipun sudah lebih dari 2 bulan ini pun di hentikan sementara kegiatannya.

Bunda sendiri yang merupakan ustazah atau guru ngaji di salah satu TPA di tempat tinggal kamipun terkadang mengajar anak sendiri masih sering terbawa emosi, memang ku akui memang mengajar itu tidak mudah apalagi mahluk awam sepertiku.

Terkadang merawat kesabaran di dalam diri saat kita mengajar memang di tuntut lebih,  baik itu saat mengjarkan cara membaca ataupun cara menghapal, itulah mengapa tidak setiap orang bisa menjadi pendidik/pengajar.

Pada saat ini banyak sekali ustad/ustazah yang tidak dapat melaksanakan tugas sebagai mana biasanya, banyak TK/TPA yang tutup dan banyak juga ustad-ustad kampung yang tidak bisa lagi mengisi khotba jumat ataupun menjadi imam taraweh.

Memang kalau di lihat dari penghasilan, para ustad/ustazah kampung ini tidak bisa di samakan dengan ustad/ustazah yang kondang dan terkenal apalagi yang sering muncul di tv, tetapi para ustad/ustazah kampung ini lah yang menjadi ujung tombak mendidik anak-anak mengenalkan agama sedari dini, mengajarkan anak-anak membaca dan menghafal Al-Quran, mengajarkan fiqih dan tahuid dan lain sebagiannya.

Tetapi keikhlasan mereka yang tidak bisa terukur terkadang hanya berbuah doa, dalam selipan beberapa Rupiah jasa, tetapi mereka maju terus untuk menunaikan kewajiban mereka mengajarkan ilmu Al-Quran dan lainnya walupun ada atau tanpa penghargaan.

Terima kasih pernah menorehkan balur biru di tangan dan kaki ini, mungkin kalau dulu tidak ada balur biru ini mungkin aku tidak bisa mengaji sampai sekarang, tidak mengerti bacaan sholat sampai sekarang, tidak mengerti mengenai cerita nabi dan rosul dan lainnya yang berkaitan dengan agama.

Wak sang ustad kampung mungkin sudah lama tiada, tetapi amal beliau akan terus mengalir dari banyak murid-muridnya, walau engkau tak kaya dengan materi tapi ilmu yang kau sebarkan membuat engkau tetap di kenang, semoga Allah memberikan tempat terbaik buatmu. Al-Fatihah.

Monday, 13 April 2020

Entah Dalgona Atau Brown Sugar ... Tetapi Manisnya Enak

Dalgona Made In Kakak

Ada-ada saja ulah anak-anak selama di rumah saja, karena saking seringnya melihat resep-resep makanan dan minuman yang ada di media sosial membuat semuanya ingin di prakterkan, seperti ayuk yang sudah membuat puding go reo reo, atau sebelak sea food, dan beberapa jenis makanan lainnya. Hari ini kakaka yang ingin membuat minuman ke kinian yang sedang hits.

Minuman yang info awalnya berasal dari negeriny Li Min Ho ini, ternyata berbera setelah ku baca refrensi tentang dalgona coffee itu sendiri, ternyata minuman tersebut sudah ada di daerah Macau, India dan Pakistan, bahkan dari Malaysia dan Indonesia pun ada minuman yang menyerupai dalgona ini.

Di India sendiri minuman ini mirip dengan Phenti Hu Coffee (Kopi Kocok), atau hampir mirip dengan minuman di Malaysia yaitu Teh Tarik dengan cara pengolahan yang khas, begitu juga salah satu minuman di Sumatera Barat, Indonesia yaitu Teh Talua (Teh Terlur) yang bentuknya juga menyerupai dalgona coffee.

Kakak pun on action mulai mengocok kopi saset di dalam mangkuk biar mengental, bahan yang di perlukan untuk minuman ini pun tidak terlalu banyak hanya susu UHT, es batu, serta kopi saset yang di aduk/di mixer hingga berbentuk foam.

Adek yang sedari tadi sudah tidak sabar ingin mencoba minuman ini, susu putih yang sudah di tuang oleh ayuk sebanyak 5 cangkir, tinggal menunggu hasil kocokan kopi saset kakak apakah akan berubah menjadi foam atau tidak.

Tetapi setelah sekian lama sepertinya kopi tersebut tidak berubah menjadi foam, bunda pun sempat turun tangan tetapi tetap juga kopi tersebut tidak bisa mengembang, dan akhirnya bundapun langsung menuangkan kopi saset yang sudah di kocok tersebut kedalam gelas yang sudah berisi es dan susu putih. Entah ini jadi minuman dalgona atau brown sugar, yang penting sudah memcoba membuat walaupun kurang berhasil.

Jaga Kesehatan ....Kalau Bisa Jangan Sakit.....


Dengan merebaknya pedemi Corona atau Covid-19 ini banyak merubah hampir seluruh tatanan kehidupan, penggunaan masker, pengukuran suhu tubuh setiap masuk ke instansi atau tempat pelayanan publik, kayak membeli makanan di mini market, belum juga pengetatan pengatural lainya, memang wabah corona yang sangat cepat ini membuat juga waspada berbagai pihak termasuk pelayanan kesehatan yang merupakan garda terdepan dalam mengatasi wabah ini.

Kebetulan hari ini aku ada jadwal untuk berobat ke rumah sakit, dengan menggunakan fasilitas BPJS yang ada akupun menuju ke klinik untuk meminta rujukan agar bisa berobat ke rumah sakit yang sudah petunjuk, ternyata saat ini pihak klinik pun menerapkan peraturan pelayanan secara online, jadi seluruh pasien melakukan pendaftaran secara online begitu juga untuk pemeriksaan dan keluhan bisa di sampaikan via wa, jika sudah selesai maka pasien sudah bisa mengambil obat pada jam yang di tentukan, hal ini merupakan salah satu bentuk antisipasi untuk penyebaran dari virus covid-19.

Seperi aku hari ini juga melakukan pendaftaran secara online dan juga konsultasi akhirnya rujukan ku bisa muncul yang di kirim via WA, awalnya aku bingung apakah rujukan ini bisa berlaku atau tidak karena tanpa ada tanda tangan dan cap klinik, tetapi setelah di yakinkan oleh pihak klinik akupun melanjutkan perjalanan ke salah satu rumah sakit islam di kota ini. Setiba nya di rumah sakit ini prosedural standar pun di lakukan dari cuci tangan, harus menggunakan masker dan pengukuran suhu tubuh, ruangan tunggu sudah cukup sepi karena memang aku mendaftar sudah agak kesiangan.


Ternyata saat mendaftar hanya menunjukan saja dokumen yang sudah di WA oleh PPK 1 tadi, jadi tidak membutuhkan hard copy, tidak terlalu lama menunggu akhirnya akupun di panggil ke dalam ruangan dokter, dengan menggunakan konstum seperti astronot dokterku mulai melakukan wawancara dari jarak 2 meter tanpa ada pemeriksaan seperti biasanya, ini lah yang terkadang menjadi omelan orang-orang tua yang merasa tidak di periksa padahal hal ini merupakan salah satu antisipasi untuk menularan covid-19, tidak lama aku berada di ruang dokter dan selanjutnya aku langsung di suruh menuju ruang farmasi untuk mengambil obat.

Rumah sakit saat ini seperti cukup menyeramkan bagiku, kita tidak tau akan bertemu dengan siapa pengidap sakit apa walaupun standar baku sudah di terapkan oelh rumah sakit seperti cuci tangan, masker dan pengukuran suhu tubuh tetapi rasa khawatir tersebut masih terselip di relung hati. Jaga kesehatan, patuhi anjuran dan himbauan pemerintah, kalau todak berlu benar ke rumah sakit atau ke klinik tidak usah kesana. Kalau bisa berdoa sama Allah jangan sampai sakit di musim pademi ini, jangan sampai kita justru merepotkan petugas medis yang sedang bertaruh nyawa dengan virus yang sedang menyebar.

Friday, 10 April 2020

Colekan Kue Ulang Tahun Ke 71 Kali Untuk Nenek Anang

Selamat Milad Nek Anang
Pada tanggal 7 April tadi nenek anang genap berumur 71 tahun, walau dalam kondisi sakit tetapi fisik beliau tetap sehat, hari ini dengan membawa kue kami berkunjung ketempat nenek yang memang rutin kami lakukan setiap minggu, karena kebetulan hari ini merupakan tanggal merah di mana segala kegiatan baik belajar online maupun bekerja libur.

Dengan pengamanan yang lengkap dari masker, jaket, sarung tangan kamipun bertandang di kediaman nenek di Plaju sambil membawa kue ulang tahun berwana putih berhiaskan coklat leleh, beliau tersenyum sambil mencolek kue tersebut, sehingga membuat anak-anak tertawa riang.

Sejak di vonis dimensia akut oleh pihak dokter 4 tahun yang lalu, nenek anang tidak bisa lagi melakukan aktivitas apa-apa hanya di temani oleh nenek ino dan tante sari, walaupun beliau masih bisa berjalan, makan sendiri, ke kamar mandi, duduk di teras,  tetapi untuk mengingat merupakan hal yang menjadi mustahil bagi beliau saat ini.

Saat ini beliau hanya menghabiskan waktu di rumah saja, padahal dulu beliau merupakan orang yang aktif, banyak petuah bijak yang di pesankan beliau kepada ku, tetapi berbeda terbalik terutama saat ini. Nenek anang Sambil mencolek-colek kue tersebut dan memasukan jarinya ke mulut, akhirnya kupotong kue tersebut dan kusuapkan kepada beliau.

Saat ini beliau sangat senang melihat anak-anak kecil bermain, saat adek bermain bersama kakak beliau sering ikut tertawa seolah tenggelam dan ikut bermain bersama kakak dan adek, apalagi kakak yang paling sering bercanda bersama nenek anang, dimana kadang cibiran seperti anak kecil keluar dari bibir beliau yang membuat kami semua tertawa.

Semoga nenek berdua sehat terus terutama nenak anang & nenek ino serta tante sari yang selau berinteraksi dengan nenek anang karena memang menjadi caregiver memang tidak mudah apalagi saat menghadapi orang yang sudah tidak mengenali kita lagi semoga semua berbalas ridho Allah.


Sunday, 5 April 2020

Menikmati Gerimis Walaupun Hanya Nangkring Di Pagar


Karena sudah beberapa minggu hanya berada di rumah , kejenuhan akhirnya melanda anak-anak, biasanya anak-anak keluar rumah unutk berjemur pada pukul 10 dan pada saat sholat berjamaah, selain itu anak-anak di larang untuk keluar rumah.

Seperti hari ini, awan hitam menggelayuti tempat tinggal kami, mataharipun bersembunyi di balik awan hitam, dari hembusan angin yang mulai kencang sepertinya hujan akan turun.
"Boleh mandi hujan kah Yah ?" tanya adek ke aku

Aku tau ini hasil dari bisikan kakak yang sedari tadi kasak-kusuk, "boleh saja asal hujanya sangat deras, kalau hujannya kecil nggak boleh " jawab ku
"Hore" jawab anakku

Akhirnya benar, gerimis pun turun perlahan, wajah mereka yang sudah pada sumringha berharap hujan turun dengan sederas-derasnya, tetapi ternyata sudah hampir 10 menit hanya gerimis yang turun dan gerimisnya pun tidak terlalu deras.

"Duduk saja di teras, siapa tau hujanya menjadi deras " kataku kepada mereka
Dengan muka muram mereka duduk di teras sambil menganyun-ayunkan kakinya tetapi saat itu ayuk membawa 2 puding lumer di dalam gelas yang baru selesai di buatnya.

"Ini ayo di coba" kata ayuk sambil menyerahkan satu gelas ke kakak dan satu gelas ke adek
Sambil tersenyum mereka mengucapkan terima kasih, menghilangkan kekecewaan mereka karena hujan deras tidak jadi turun.

Saat kuperhatikan mereka berdua dari belakang aku teringat seperti kucing di film kartun yang lagi duduk di pagar berdua sambil bernyanyi.

Ilustrasi by:gogle

Friday, 3 April 2020

Belajar Online & Gagapnya Teknologi


Sejak di mulainya pembelajaran secara online oleh pihak sekolah maka setiap murid dan orang tua mulai memberdayakan kemampuannya masing-masing, seperti ayuk yang lebih berkutat dengan hadphone nya dimana google classroom untuk pengiriman berkas belajar ada di aplikasi tersebut sama seperti adek yang juga menggunakan google classroom di mana aplikasi sebelumnya khoot.com belum bisa berjalan sebagai mana mestinya.

Lain ayuk lain pula kakak yang menggunakan laptop milik ayah, karena aplikasi e-learning yang di pakai lebih komplek dan setiap pagi harus absen menggunakan aplikasi join meeting dimana guru dan murid bisa bertatap muka melalui dunia maya.

Memang sekilas sepertinya mudah melaksanakan pembelajaran online seperti tersebut di atas, tetapi masih banyak guru yang bisa di bilang gagap dengan teknologi sehingga pembelajaran secara online tidak dapat berlangsung sebagai mana mestinya. Dalam beberapa hari mengikuti anak-anak dalam pembelajaran online banyak orang tua yang bertanya ke kami, aplikasi apa yang di pakai, bagai mana membukanya, kirim dokumennya bagaimana, aku kok nggak bisa-bisa ???, bahkan banyak lagi.

Memang tidak heran karena selama ini teknologi terutama handphone hanya di gunakan sebatas, telpon, berkirim pesan, media sosial dan juga selfie. Pada saat kejadian metode belajar berubah dari pembelajaran tatap muka menjadi secara online tidak sedikit yang membuat wali murid ataupun guru sendiri menjadi sakit kepala.

Memang tidak heran karena selama ini dunia pendidikan kita tidak terbiasa menggunakan pendidikan secara online, kecuali di beberapa sekolah yang memang sudah menerapkan dan juga beberapa institusi perguruan tinggi di negeri ini, tetapi mungkin sekarang merupakan saat dimana kita harus mulai melek teknologi, baik itu dari pihak guru dan murid, mungkin dengan petunjuk pengoperasian yang sederhana  bisa membuat, kedua belah pihak akan paham tentang pembelajaran online ini.

Terkadang yang menjadi kendala dengan model pembelajaran di atas adalah bagi anak-anak yang kurang mampu yang tidak dapat memenuhi kebutuhan fasilitas pembelajaran online tersebut, karena dari teman anak-anak kami pun terdapat beberapa yang mengalami kendala saat melakukan pembelajaran online karena keterbatasan sumber daya yang di milikinya.

Entah apakah program e-learning ini berlaku di kawasan desa-desa dan tempat-tempat yang terkadang belum terjangkau oleh internet dan teknologi, karena kedepan hal ini juga menjadi perhatian penting bagi pemerintah. 

Sunday, 29 March 2020

Satu Hari Tanpa Teknologi

Permainan Monopoli, Permainan Jadul Yang Asik Di Mainkan Bersama

Minggu kedua setelah pemerintah mengumumkan melakukan kerja dari rumah ataupun sekolah dari rumah untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 atau yang lebih di kenal dengan nama Corona ini.

Biasanya anak-anak pada saat hari bisa sudah mulai standby mulai pukul 7 pagi di depan alat bantu kerjanya masing masing baik itu smartphone ataupun laptop, tetapi untuk hari Minggu semuanya libur tidak ada tugas yang harus di selesaikan ataupun di kerjakan, hari ini memang libur seperti hari libur biasa.

Anak-anak pun hanya menonton tv yang banyak di penuhi oleh film anak-anak pada pagi hari Minggu, nasi goreng sebagai sarapanpun sudah selesai di santap dari tadi, tapi justru ini membuat anak-anak menjadi bosan, program ku hari ini akan mencoba sehari tanpa internet, tanpa ada hp tetapi entah mau buat permaian apa yang bisa di mainkan banyak orang dan durasinya lama.

Orang lain pada duduk adek sendiri yang rebahan
Akhirnya teringat aku ada permainan milik kakak yang tersimpan di atas lemari pakaian yang sudah lama tidak di mainkan, yaitu permainan monopoli, dulu kakak dan teman-temannya sering memainkan permainan ini tetapi sejak hidung adek kemasukan dadunya, entah bagaimana sampai hidung nya kemasukan dadu akhirnya permainan tersebut ku simpan.

Kubawa permaian tersebut ke mereka, adek yang sudah lancar membaca pun mengetahui kalau permainan yang ku bawa itu adalah permaian monopoli, permainan yang mengandalkan strategi, investasi, kejujuran permainan dan kesabaran.

Setelah bada zuhur kamipun memulai permainan ini dengan syarat tidak ada yang membawa handphone, seluruh gadget pun di letakan di tempatnya masing-masing, permaian pun berlangsung seru, masing-masing saling mengejar investasi dengan tujuan untuk mengalahkan lawan.

Membayar, membeli tanah, rumah dan hotel, kesempatan dan dana umum menjadi teman kami hari ini, tidak terasa sudah 3 jam lebih kami memainkan permainan ini, dan pemain yang masih bermain adalah ayuk dan kakak, hingga setengah jam kemudian ayukpun memenangkan permaian ini.


Setelah mandi sore hari tugas kakak dan ayuk melatih adek untuk bermain catur, yang memang adek sendiri sangat menyukai permaian ini, entah sudah beberapa kali adek kalah, hingga kami bersiap-siap untuk berjemaah di rumah.

Sejak kegiatan belajar mengajar di alihkan kerumah, adek memang lebih sering mengajak untuk bermain catur, yang selama ini selalu di kalahkan oleh kakak ataupun ayuk, terkadang juga ia minta bermain bersama ayah, tetapi semangatnya yang tidak pernah surut walaupun selalu kalah.

-----------------
Mungkin banyak permainan-permainan yang bisa di siapkan oleh orang tua saat anak-anak di haruskan berada di rumah sebagai pembunuh jenuh mereka, seperti bermain ular tangga, bermain karet gelang, gundu, atau permainan lainnya yang tidak harus di fasilitasi dengan internet.

Sekali-sekali di buat program beberapa jam tanpa internet, seperti yang saya terapkan saat magrib sampai ke isya anak-anak tidak di perkenankan untuk memegang hp atau menonton tv tetapi kami isi dengan mengaji bersama sampai ke isya.

Dengan bermain bersama ini akan menambah keakraban antar anggota keluarga sehingga kejenuhan mereka saat berada di rumah bisa teratasi, semoga bisa menjadi inspirasi.