Showing posts with label Stasiun. Show all posts
Showing posts with label Stasiun. Show all posts

Wednesday, 25 December 2019

Tetirah Sekejap Di Stasiun Baturaja


Kereta api berhenti cukup lama di stasiun ini, stasiun yang tidak asing bagi ku, pada tahun 2012-2013 hampir setiap bulan aku menggunakan kereta api dan turun di stasiun ini karena tuntutan Akupun turun di ikuti oleh kakak, walau tidak terlalu jauh dengan gerbong yang kami naiki, tampak kereta yang akan menuju kota Lampung pun sedang berhenti di stasiun ini.

Walaupun stasiun ini masuk dalam wilayah Ogan Komering Ulu (Oku ), Sumatera Selatan tetapi pengelolaan stasiun yang berada di ketinggian +49 ini termasuk ke Divre IV Tanjungkarang, di kota Baturaja sendiri memiliki 2 stasiun kereta api yaitu stasiun Baturaja yang merupakan stasiun penumpang dan stasiun tiga gajah yang fokus kepada angkutan barang dan letaknya tidak terlalu jauh dari pabrik semen baturaja. Dan di sini juga terdapat kereta yang bisa langsung ke Tanjung Karang yang di berinama "Kuala Stabs"dengan tarif 85-90 di kelas ekonomi dan bisnis.


Baturaja bukan kota yang asing bagi saya, air paoh, hotel Bil, Pengandonan, pasar atas baturaja,  alun-alun taman baturaja, bentor baturaja, semua melintas di memori ku saat ku injakan kaki di stasiun ini. Tapi sekarang semua menjadi sederet kenangan yang terkenang dalam angan.

Peluit panjang kereta api sudah berbunyi para petugas mempersilahkan seluruh penumpang yang turun untuk naik kembali, mungkin suatu saat Baturaja menjadi salah satu destinasi untuk perjalanan kami, dengan taman kota baturaja, goa putri, goa harimau dan sungai ogannya.


Sunday, 22 December 2019

Jelajah Wisata Bersama Keluarga Besar Ke Kota Tapis


Persiapan ticket pulang dan pergi sudah di selesai, hotel dan rental kendaraan pun sudah selesai tinggal menikmati keberangkatan hari ini, dengan transportasi masal kereta api rajabasa jurusan tanjung karang, Ticket kereta sudah kupesan sebanyak 24 seat walaupun yang berangkat hanya 22 orang karena bapaknya Zaki ada pekerjaan yang tidak dapat di tinggalkan sehingga tidak memungkinkan untuk ikut liburan bersama.

Dengan menggunakan pakaian terbaik anak-anak, keriuhan anak-anak pun tidak bisa di cegah, yang berlari ke sana ke mari, ada yang berkelahi ada yang tiduran di lantai stasiun, kami sendiri bisa bernafas lega saat jalan yang di lalui oleh mobil yang mengantar kami tidak lagi macet di mana pada malam hari sebelumnya di penuhi kendaraan yang informasinya macet berawal dari daerah Serong yang imbasnya sampai ke jalan baypas terminal KM 12 dan terus meng ular sampai ke jalan Sukarno Hatta.


Kamipun berkumpul di sisi pintu masuk ruang boarding pass, karena masih harus menunggu ujuk yang masih berada di perjalanan, keriuhan anak-anak semakin menjadi malahan ada yang bermain dengan pintu putar dan trolly barang. Acik mimin serta keluarganya yang baru datang dari pulau bangka pun ikut mengantar kepergian kami.

Lumayan banyak barang yang kami bawa kali ini karena memang ada 6 keluarga yang menjadi satu paket liburan, hotelpun sudah di pesan 7 kamar untuk rombongan kali ini, sejujurnya baru kali ini saya mengatur jadwal perjalanan untuk jumlah yang sebesar ini, sehingga banyak ilmu baru yang di dapat seperti sempat ke kantor KAI Divre III untuk pemesanan rombongan, atau hal yang lainnya yang muncul secara tidak terduga sehingga menambah pengalaman kami, karena selama ini saya hanya mengatur untuk akomodasi, transprortasi, penginapan hanya untuk keluarga sendiri.


Saat pengeras suara sudah memanggil para penumpang untuk segera naik ke atas kereta ke sekian kalinya, kami masih menunggu rombongan kami yang belum datang, karena di jadwalnya sendiri kereta akan berangkat pada pukul 8:30 tepat.

Ticket segera ku bagikan ke masing-masing kepala keluarga agar bisa segera masuk untuk melakukan boarding ticketnya, anak-anak yang sudah tidak sabar untuk naik kereta mulai berebutan untuk masuk ke ruang tunggu beruntung ada petugas yang berseragam yang ikut mengatur anak-anak tersebut.

Saat masuk mereka pun berhamburan ke ruang tunggu tepatnya menuju permainan anak-anak, setelah semuanya masuk semua akhirnya ujukpun tiba dengan keluarga kecilnya, kamipun segera menuju ruang boarding dan memberikan ticket kereta tersebut kepada petugas.

Semoga liburan kali ini membawa kebahagian bagi kami, liburan keluarga besar dengan beragam keinginan dan kemauan masing-masing.

Monday, 19 August 2019

Antara Semarang Tawang & Gereja Belenduk

Sesaat setelah turun dari KA. Kalijaga 409
Akhirnya sampai juga kami di kota Semarang, kota yang terkenal akan banyaknya bangunan berasitektur eropa tempoe doeloe, kamipun turun di teras stasiun Semarang Tawang dambil menelusuri teras dan beberapa kali melakukan swa foto di stasiun ini.

Stasiun semarang tawang yang masih mempertahankan arsitektur kolonialnya
Pada tahun 1911, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij mulai menyusun masterplan baru terhadap sistem perkeretaapian di jalur kereta api segmen Semarang–Solo–Yogyakarta yang sebelumnya diresmikan pada tahun 1873. Hal ini dikarenakan Stasiun Samarang NIS—stasiun pertama di Indonesia—yang pada enam tahun sebelumnya ditutup, sudah tak memungkinkan lagi dioperasikan sebagai stasiun sentral NIS apabila Semarang dilanda banjir rob. Sebagai akhir masterplan tersebut, NIS mulai membangun stasiun kereta api baru di Tawang, yang mulai dibangun pada tanggal 29 April 1911. Bangunan stasiun ini selesai dan diresmikan pada 1 Juni 1914 dan segera digunakan untuk menggantikan Stasiun Samarang NIS yang selalu terendam air jika Laut Jawa mengalami pasang. Meskipun demikian, pada tahun-tahun selanjutnya stasiun ini hampir selalu terendam air rob sehingga ketinggian stasiun turun menjadi 0 m. Hal ini karena Laut Jawa yang pasang bercampur dengan air hujan dan air limbah yang berasal dari saluran-saluran air di Kota Semarang. Oleh karena itulah, Pemerintah Kota Semarang pada tahun 1998-2000 mendirikan polder berupa kolam raksasa yang dilengkapi dengan pompa. Letaknya persis di depan stasiun ini.

Stasiun Semarang tawang dari samping dengan kubah mirip dengan gereja beledug
kamipun duduk sebentar di ruang keberangkatan, karena bunda dan kakak ingin ke toilet, sambil duduk kami melihat kereta api yang lalu lalang, dan sempat juga melihat keberangkatan satu kereta kereta api di mana petugas berbaris rapi dan menundukan kepala sebagai penghormatan kepada penumpang  dan kereta yang berangkat tersebut.

Di Semarang ini kami telah memesan kendaraan rental via Traveloka pada hari Minggu yang lalu dengan menggunakan ok rent, dimana saat di kereta tadi pak Ratno nama driver yang di tugaskan untuk menjemput kami menginformasikan kalau dia sudah menunggu di pintu kedatangan.

Saat di pintu keluar terlihat bapak-bapak yang sudah berumur dengan name tag tertulis Suratno, dengan menggunakan pakaian setelan berwarna hitam-hitam.

"Pak Ratno ya " Tegurku langsung ke bapak itu
"Iya mas, saya mas" jawab beliau lembut

Sambil saling memperkenalkan diri dan bersalaman beliau langsung mengajak ke kendaraan yang di pakai untuk keliling di kota lumpia ini.
"Ini mau di anter kemana mas nya ?" tanya pak Ratno

Kerjaan kakak sebelum mencapai taman kota
Akhirnya aku paparkan sama seperti yang ku WA ke adminya ok rent , Folder Tawang, Kota Lama Semarang, Gereja Belenduk. Lumpia Gang Lombok, Kelenteng Tek Kay, Lawang Sewu, Bandeng Juwana Jl. Pandanaran , Masjid Agung Semarang, Kelenteng Sam po kong.

Setelah berdiskusi sebentar bersama pak Ratno akhirnya kami sepakat tujuan pertama kami ke kota Lama Semarang, saat keluar dari parkiran terlihat folder tawang berupa waduk besar yang menjadi kolam retensi pengendali banjir di kawasan Semarang Tawang ini, tidak lama kemudian kendaraan pun memasuki parkiran di kawasan taman kota.

Kakak di Taman Kota
"Mas, nanti saya parkir di sini, kalau sudah selesai telpon saja " kata pak Ratno
"Iya pak" Jawabku

Akhirnya kami menyelusuri jalanan di kota lama Semarang, kawasan ini patut di acung jempol karena perubahan atas perbaikan jalan ataupun penambahan fasilitas di kawasan ini, sehingga kawasan ini sangat berbeda dengan dulu saat pernah saya lihat beberapa tahun yang lalau , bisa di bilang benar-benar menjelma menjadi Eropanya Semarang.

Tidak lama kemudian kami pun sampai di taman tepat di samping gereja belenduk yaitu taman Sri Gunting, tempat yang teduh di penuhi dengan bunga-bunga dan pohon-pohon besar yang rindang dan juga sepeda-sepeda hias yang sengaja di pajang seperti di kawasan kota tua Jakarta, dan bagi yang ingin foto di sepeda-sepeda tersebut bisa memasukan uang seikhlasnya ke dalam kotak yang sudah di sediakan.


Bebeberapa kali anak-anak melakuan selfie di sepeda hias tersebut secara berganti-ganti, karena sepeda yang ada di situ ada 4 buah dengan bentuk yang berbeda-beda begitupun di depan gereja belenduk juga ada 2 buah, yang membuat anak-anak mencobanya satu persatu.

Tepat di depan taman sri gunting ini ada juga sepeda & scooter yang tersususn berwarna merah mencolok entah apakah ini bisa di pakai oleh wisatawan secara gratis atau sewa, karena pagi ini  belum ada yang menjaga jadi tidak bisa mendapatkan informasinya.

Di sini juga sudah terlihat banyak bangunan-bangunan bergaya eropa yang masih di manfaatkan oleh pemilik sebagai tempat usaha seperti cafe, kantor ataupun sebagai tempat tinggal. Tepat di sebelah taman ini terdapat gereja belenduk yang terkenal itu yang merupakan salah satu landmark kota Semarang, Berbeda dari bangunan lain di Kota Lama yang pada umumnya tidak memagari jalan dan tidak menonjolkan bentuk, gedung yang bergaya neo-klasik ini justru tampil kontras, dengan bentuknya yang lebih menonjol .

GPIB Immanuel Semarang (populer dengan nama Gereja Blenduk, kadang-kadang dieja Gereja Blendug, dan seringkali dilafazkan sebagai mblendhug) adalah Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda yang tinggal di kota itu pada 1753, dengan bentuk oktagonal (persegi delapan). Gereja ini sesungguhnya bernama Gereja GPIB Immanuel, di Jl. Letjend. Suprapto 32. Kubahnya besar, dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur di dalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani. Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini. Nama Blenduk adalah julukan dari masyarakat setempat yang berarti kubah. Gereja ini hingga sekarang masih dipergunakan setiap hari Minggu. Di sekitar gereja ini juga terdapat sejumlah bangunan lain dari masa kolonial Belanda. 



Kalijaga 409

Stasiun Solo Balapan
Sudah pukul 4:00 pagi, selanjutnya mandi dan membangunkan bunda, gelap masih menyelimuti kota ini, dingin pun masih mencoba merasuk kedalam tulang, Ayuk & kakak yang tidur di kamar sebelahpun sudah saya bangunkan, subuh di kota ini pukul 4:30 menit jadi masih ada waktu untuk bersiap-siap ke stasiun.

Sarapanpun sudah di siapkan bunda, yaitu mie kemasan yang di beli tadi malam di mini market samping hotel ini, adek yang masih teguling di atas tempat tidur walau sudah mandi tapi masih banyak menguap karena masih ngantuk, adek kami haruskan untuk menghabiskan sarapan paginya biar kejadian seperti di candi Borobudur kemarin tidak terulang kembali.

Keberangkatan kereta pagi ini pada pukul 5:20 yang sudah di beli via KAI Accses, termasuk ticket ayuk juga sudah ada,  karena salah satu kendala dalam pemesanan ticket di KAI Access adalah di satu handphone/aplikasi  hanya bisa pesan untuk 4 tikect KA sehingga jika lebih dari 4 harus menggunakan aplikasi dari hp lainnya.

kalijaga 409 unuk tujuan ke Semarang poncol ini merupakan kereta lokal yang berangkat hanya satu kali setiap hari via stasiun Solo Balapan, jadi kalau sampai ketinggalan bisa kacau semuanya, karena ticket kereta ini di bandrol hanya 10 ribu,  sedangkan bus dari terminal tirtonadi ke Semarang bisa sampai 30 ribuan perticket untuk kelas ekonomi belum lagi jadwal yang sudah di susun akan menjadi berantakan.

Setelah bersiap-siap pukul menunjukan 5 tepat, kamipun bergegas untuk check out kamar, sudah di periksa ulang oleh ayuk agar tidak ada barang yang tertinggal, akhirnya setelah meninggalkan hotel kamipun setengah berlari menuju stasiun karena bunyi klakson kereta sudah terdengar, bunda berlari sambil menuntun adek, ayuk lari bersama dengan kakak, sedangkan ayah berlari sambil membawa ransel, udah mirip kayak tentara mau perang.


Dengan ngos-ngosan nggak sampai 5 menit , kamipun sampai di depan pintu check in ticket, petugaspun bingung lihat kami ngos-ngosan seperti itu, sambil melakukan scan dan mencocokan dengan KTP kami, petugas tersebut dengan bingung hanya memperhatikan kami yang berlalu dari hadapannya.

"Kereta kalijaga 409 nya sudah ada atau blm pak ? " tanyaku kepada petugas yang berdiri  tidak jauh dari tempat pemerikasaan ticket.
"Sebentar lagi masuk pak, ini lagi langsir " kata petugasnya

Akhirnya kami masuk langsung ke ruang keberangkatan kereta tanpak kereta kuning "spongebob" parameks yang sedang nangkring di stasiun solo balapan.

Stasiun balapan tempo dulu Foto : sharingdisini.com
Stasiun Solo Balapan termasuk salah satu stasiun besar tertua di Indonesia (setelah Samarang NIS). Pembangunan stasiun ini dilakukan oleh jaringan kereta api masa kolonial NIS pada abad ke-19, yaitu pada masa pemerintahan Mangkunegara IV dan berada di wilayah Kadipaten Praja Mangkunagaran. Stasiun besar di Surakarta untuk wilayah Kasunanan Surakarta dan Staatsspoorwegen adalah Stasiun Solo Jebres. Lokasi yang digunakan adalah tanah lapang tempat pacuan kuda milik Mangkunegaran. Sebagai tukarnya, pihak Mangkunegaran mendapat lahan di Manahan dari Kasunanan untuk dibangun sarana pacuan kuda dan aktivitas keolahragaan lainnya. Peletakan batu pertama berlangsung pada tahun 1864, dimeriahkan dengan upacara yang dihadiri Mangkunegara IV dan mengundang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron van de Beele. Pembangunan selesai dan diresmikan pada tanggal 21 Mei 1873.

Pada tahun 1927, dibangun satu bangunan di selatan stasiun dengan arsitektur yang dipengaruhi oleh budaya Jawa dengan atap tajuk tiga. Hal ini juga sejalan dengan pembangunan jalur ganda Staatsspoorwegen yang sejajar dengan jalur kereta api NIS Solo–Yogyakarta. Konstruksi bangunan stasiun sisi selatan dirancang oleh Herman Thomas Karsten, seorang arsitek kenamaan beraliran Indisch. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api kedua di Indonesia yang menggunakan sistem persinyalan elektrik setelah Stasiun Bandung, tepatnya dinyalakan tahun 1972. Sinyal tersebut diproduksi oleh Siemens dan diberi seri DrS60. Namun, sehubungan dengan proyek penyelesaian jalur ganda lintas selatan Jawa, rencananya sistem persinyalan elektrik eksisting tersebut secara bertahap akan segera digantikan dengan sinyal elektrik terbaru produksi PT Len Industri.


Dengan waktu tempuh +\- 2,5 Jam, kamipun berada di rangkaian gerbong ke 7 yang  akan mengantar kami sampai ke stasiun Semarang Tawang, tepat pukul 5:20 sembonyan 35 yang berupa peluit panjang berbunyi kereta api mulai bergerak pelan dan makin lama makin bertambah kecepatannya, untuk KA. Kalijaga 409 ini ticket lokalnya memiliki no tempat duduk berbeda dengan KA Parameks atau lokal Merak yang kita bisa duduk dimanapun, karena ticket ayuk saat pemesannya agak terlambat maka mendapat nomor kursi di gerbong 1 dan kami yang lainya ada di gerbong 7, tapi karena kereta cukup sepi pada hari ini akhirnya ayuk bisa duduk di gerbong yang sama.

Suasana di dalam gerbong Kalijaga 409 yang masih sepi.
Kertapun terus melaju melewati beberapa stasiun, adek dak kakak menghabiskan waktunya  bermain dengan tabletnya secara bergantian, ayuk dan bunda tertidur seperti penumpang lain, saya sendiri bercakap-cakap dengan ibu dan anaknya yang kebetulan juga mau kembali ke kota Semarang setelah ada acara keluarga di Solo.

Setelah melintasi hamparan sawah dan melewati beberapa stasiun kecil akhirnya hampir pukul 8 kereta memasuki Stasiun Semarang Tawang, dan jurnal barupun di mulai kembali.

Sunday, 18 August 2019

Benteng Vastenburg & Kraton Kasusunan Surakarta Bukti Sejarah Tempo Dulu


Setelah KA. Batara Kresna berhenti sempurna kamipun turun di stasiun solo kota atau sering di sebut sangkrah yang merupakan stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Sangkrah, Pasar Kliwon, Surakarta. Karena letaknya itulah, stasiun ini juga disebut sebagai Stasiun Sangkrah. Stasiun ini dibangun pada tahun 1922 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Stasiun yang terletak pada ketinggian +97 m ini terletak di Daerah Operasi VI Yogyakarta. Stasiun ini terletak di wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta. Stasiun ini memiliki tiga jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Saat ini stasiun ini menjadi terminal untuk kereta api uap Jaladara yang ditarik lokomotif C1218 dan juga melayani rail bus Bathara Kresna. Ke arah Sukoharjo, terdapat dua halte non aktif, yakni Kronelan dan Kalisamin.


Kendaraan yang sudah kami pesan via traveloka untuk menjemput kami sudah ada di stasiun sangkrah ini. Pak Guyub beliau yang di tugaskan oleh Persada Transport untuk mengantar kami keliling kota Solo, dan tanpa sadar saat kami mengambil foto dengan background stasiun solo kota beliau ikut terfoto, bapak yang berbaju batik dan pake topi.

"Awalnya bingung kok di jemput di sangkrah bukan solo balapan atau purwosari"kata pak Guyub sambil menyetir mobil.
"Iya, pak karena memang sengaja minta di jemput disini kita naik KA. Batara Kresna yang pukul 10"Jawabku

Di Depan Benteng Vastenburg
Tujuan pertama kita adalah benteng Vastenburg yang jaraknya hanya +\- 5 menit dari stasiun solo kota , tetapi saat sampai di sana benteng Vastebburg ini tidak buka, dan menurut keterangan dari orang yang ada di sana di buka hanya khusus untuk ada event saja.

Benteng Vastenburg Surakarta Tahun 1910 Foto: Wikipedia
Benteng Vastenburg adalah benteng peninggalan Belandayang terletak di kawasan Gladak, Surakarta. Benteng ini dibangun tahun 1745 atas perintah Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff. Sebagai bagian dari pengawasan Belanda terhadap penguasa Surakarta, khususnya terhadap keraton Surakarta, benteng ini dibangun, sekaligus sebagai pusat garnisun. Di seberangnya terletak kediaman gubernur Belanda (sekarang kantor Balai Kota Surakarta) di kawasan Gladak. 

Bentuk tembok benteng berupa bujur sangkar yang ujung-ujungnya terdapat penonjolan ruang yang disebut selekoh (bastion). Di sekeliling tembok benteng terdapat parit yang berfungsi sebagai perlindungan dengan jembatan di pintu depan dan belakang. Bangunan terdiri dari beberapa barak yang terpisah dengan fungsi masing-masing dalam militer. Di tengahnya terdapat lahan terbuka untuk persiapan pasukan atau apel bendera. Setelah kemerdekaan, benteng ini digunakan sebagai markas TNI untuk mempertahankan kemerdekaan. 

Pada masa 1970-1980 pembangunan ini digunakan sebagai tempat pelatihan keprajuritan dan pusat Brigade Infanteri 6/Trisakti Baladaya Kostrad untuk wilayah Karesidenan Surakarta dan sekitarnya. Setelah lama tidak terpakai sejak 1980-an, benteng ini penuh semak belukar dan tak terawat.Sejak kepemimpinan Joko Widodo, perubahan dan restorasi mulai terlihat. Pada tahun 2014, restorasi terhadap Benteng Vastenburg sangat terlihat dari cat yang mengelupas dicat ulang dengan warna putih.

Karena sebelumnya itenerary perjalanan sudah saya WA ke pak Guyub sebelum kedatangan kami ke solo, "Mas, Kalau usul saya lebih baik ke keraton kasusunan saja dahulu karena kalau hari Minggu ini kraton tutupnya agak cepat sekitar pukul 2 siang" kata pak Guyub.

Aku pun berfikir bener juga karena saat ini juga hampir merapat ke tengah hari "Ok Pak" jawab ku

Kamipun langsung meluncur ke kawasan kraton kasusunan Surakarta, yang hanya berjarak 1 km-an, memasuki kawasan berpagar putih di kanan dan kiri jalan yang merupakan tembok kraton kasusuanan Surakarta.


Setelah memasuki bagian depan kraton kamipun melihat banyak orang antri berfoto dengan prajurit kraton yang berseragam hijau, kamipun ikut mengantri dan akhirnya berfoto, bahkan adek ingin berfoto sendiri dengan prajurit kratonnya, dengan memberikan uang secara sukarela kepada salah satu prajurit sebagai koordinatornya.

Tetapi ada juga yang memfoto kami menggunakan kamera DLSR nya, sehingga saat pulang foto yang sudah di cetak  ukutan 12R sebanyak 3 lembar tersebut kami bayar seharga 50 ribu Rupiah.

Kami pun langsung menyusuri sisi kanan kraton menuju loket pembelian ticket, tanpa terlihat andong yang berjejer dan juga penjual mainan anak-anak & akar wangi pun ada di jalan menuju loket pembelian ticket tersebut.

Karena menghindari panas begini jadi fotonya.
Dengan tiket masuk 10 ribu perorang kamipun langsung mengunjungi bagian museum kraton kasusunan Surakarta.  Banyak yang dapat kami lihat di bagian museum ini dari perlengkapan kraton, kereta kencana, diorama perang, pusaka, pakaian kebesaran dan lain sebagainya.

Ayuk di samping salah satu kereta kencana
Karaton Surakarta Hadiningrat) adalah istana resmi Kasunanan Surakarta yang terletak di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwana II pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743.

Walaupun Kasunanan Surakarta tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia sejak tahun 1945, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal Sri Sunan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kerajaan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata utama di Kota Surakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kasunanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan contoh arsitektur istana Jawa tradisional yang terbaik.

Adapun sejarah berdirinya kraton kasusunan di rangkum sebagai berikut ; Saat kesultanan Mataram yang kacau akibat pemberontakan Trunajaya tahun 1677 ibu kotanya oleh Susuhunan Amangkurat II dipindahkan di Kartasura. Pada masa Susuhunan Pakubuwana II memegang tampuk pemerintahan, Mataram mendapat serbuan dari pemberontakan orang-orang Tionghoa yang mendapat dukungan dari orang-orang Jawa anti VOC tahun 1742, dan Mataram yang berpusat di Kartasurasaat itu mengalami keruntuhannya. Kota Kartasura berhasil direbut kembali berkat bantuan Adipati Cakraningrat IV, penguasa Madura Barat yang merupakan sekutu VOC, namun keadaannya sudah rusak parah. Susuhunan Pakubuwana II yang menyingkir ke Ponorogo, kemudian memutuskan untuk membangun istana baru di Desa Sala sebagai ibu kota Mataram yang baru.


Bangunan Keraton Kartasura yang sudah hancur dan dianggap "tercemar". Susuhunan Pakubuwana II lalu memerintahkan Tumenggung Hanggawangsa bersama Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, untuk mencari lokasi ibu kota/keraton yang baru. Untuk itu dibangunlah keraton baru berjarak 20 km ke arah tenggara dari Kartasura, tepatnya di Desa Sala, tidak jauh dari Bengawan Solo. Untuk pembangunan keraton ini, Susuhunan Pakubuwana II membeli tanah seharga selaksa keping emas yang diberikan kepada akuwu (lurah) Desa Sala yang dikenal sebagai Ki Gede Sala. Saat keraton dibangun, Ki Gede Sala meninggal dan dimakamkan di area keraton.

Setelah istana kerajaan selesai dibangun, nama Desa Sala kemudian diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kesultanan Mataram oleh Susuhunan Pakubuwana II kepada VOC pada tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta.


Keraton (Istana) Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini adalah Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwana I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum. Keraton Surakarta sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada 1744-1745, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya. Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran terakhir dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwana X yang bertahta 1893-1939. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya campuran Jawa-Eropa.

Secara umum pembagian keraton meliputi: Kompleks Alun-alun Lor/Utara, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Siti Hinggil Lor/Utara, Kompleks Kamandungan Lor/Utara, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedaton, Kompleks Kamagangan, Kompleks Sri Manganti Kidul/Selatan (?) dan Kamandungan Kidul/Selatan, serta Kompleks Siti Hinggil Kidul/Selatan dan Alun-alun Kidul/Selatan. Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan baluwarti, sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima meter dan tebal sekitar satu meter tanpa anjungan. Dinding ini melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang. Daerah itu berukuran lebar sekitar lima ratus meter dan panjang sekitar tujuh ratus meter. Kompleks keraton yang berada di dalam dinding adalah dari Kamandungan Lor/Utara sampai Kamandungan Kidul/Selatan.


Kami pun menyudahi kunjungan kami ke kraton kasusunan Surakarta pukul 12 kurang, yang selanjutnya ingin melihat alun-alun kidul yang ada beringin kembarnya, sama seperti alun-alun kidul Yogyakarta. Ada cerita saat pohon beringin di alun-alun kidul Surakarta ini roboh yang di alun-alun kidul Yogyakarta pun ikut roboh.


Batara Kresna , Kereta Api Berasa Trem Luar Negeri


Alhamdulilah setelah pukul 8 lewat kereta api Parameks 252 mulai memasuki stasiun purwosari itu yang aku ketahui dari pengeras suara stasiun. Kakak dan adek yang turun langsung lari-lari di pintu keluar stasiun tersebut, setelah formasi lengkap kamipun mengabadikan di depan stasiun tertua ke dua di kota Surakarta tersebut.

Stasiun purwosari saat masih menjadi stasiun pulau Foto : Wikipedia
Stasiun Purwosari merupakan stasiun kereta api tertua kedua di Kota Surakarta. Dalam peta jalur Samarang–Vorstenlanden terbitan 1869, koleksi Universiteit Leiden Belanda, stasiun ini sama sekali tidak disebutkan. Yang disebutkan dalam rencana pembangunan jalur kereta api oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) adalah Stasiun Solo (Stasiun Solo Balapan) dan Stasiun Solo-Rivier yang terletak di lembah Bengawan Solo. Namun, pada peta yang dibuat tahun 1878, nama stasiun ini mulai disebut (tetapi dengan nama yang salah, yaitu Poerwodadie). Diperkirakan penambahan stasiun ini dilakukan bersama dengan finishing jalur kereta api tersebut dan juga dibuka bersama dengan pembukaan resmi jalur pada tanggal 21 Mei 1873. Sejak tahun 1907, stasiun ini menggunakan arsitektur yang mirip dengan Stasiun Kedungjati dan Willem I Ambarawa. Stasiun yang semula berperon sisi kemudian menjadi stasiun pulau. Ukuran bangunan stasiun ini lebih kecil daripada Kedungjati maupun Purwosari karena bentang atapnya hanya 13 meter, sementara Kedungjati 14,65 meter dan Ambarawa 21,75 meter. Bangunan ini terdiri atas kanopi yang memayungi bangunan utama serta jalur yang mengapitnya.

Ruang Tunggu Keberangkatan Stasiun Purwosari
Kamipun duduk di ruang masuk ke ruang tunggu pemberangkatan cukup lama untuk menunggu keberangkatan batara kresna pada pukul 10 nanti, sepatu, kaus kaki dan ikat pinggang pun di keluarkan bunda, segera ku pakai dan merapikan diri. Adek dan kakak sibuk bermain tabletnya, detik terasa berjalan lambat, ayuk sibuk dengan hp nya tinggal bunda dan aku yang saling bertatapan sambil menunggu batara kresna datang.

Rail Bus Batara Kresna Foto : Wikipedia
Batara Kersna yang kami tunggu ini bukanlah batara kresna yang saya tuliskan diatas,  yang merupakan salah satu toko pewayangan favorit saya, tetapi batara kresna ini berbentuk kereta api, Batara Kresna adalah layanan bus rel (rail bus) milik PT Kereta Api Indonesia yang beroperasi di rute Solo Purwosari-Wonogiri dan merupakan proyek kerja sama Pemerintah Kota Surakarta dengan PT KAI, pada saat Kota Surakarta dipimpin oleh Joko Widodo. Bus rel ini adalah bus rel kedua di Indonesia setelah bus rel Kertalaya di Sumatra Selatan.

Pada pukul 9:30 panggilan dari pengeras suara untuk penumpang kereta api batara kresna dapat memasukki ruang tunggu keberangkatan, kami bergerak untuk memasuki ruang keberangkatan anak-anak yang dari tadi sibuk bermain tablet dan hp menghentikan sesaat kesibukan mereka.

Ticket Batara Kresna
Ticket yang saya beli pun di scan petugas dan mempersilahkan masuk dan saat masuk di ruang keberangkatan saya tidak melihat kereta batara kresna dengan warna khas merah putihnya ini, mungkin kereta ini belum datang kataku dalam hati.

Tujuan kami naik Batara Kresna hanya ke stasiun solo kota (Sangkrah) sekitar 30 menit dari stasiun purwosari, tetapi banyak artikel menarik mengenai sensasi menaiki batara kresna ini terutama saat melintas di kawasan jalan Slamet Riyadi, dimana kereta tersebut bisa berdamipingan  dengan mobil ,motor  atau pejalan kaki.

Di dalam gerbong batara kresna
Setelah kutanya petugas ternyata batara kresna sudah ada di spur 6 yang terhalang oleh salah satu kereta yang masih nangkring di spur 5,  dan akhirnya kami pun  di persilakan menaiki batara kresna ini oleh petugas, tepat pukul 10:00 kereta bergerak perlahan menuju ke stasiun pertama yaitu ke stasiun solo kota yang sekaligus menjadi termpat pemberhentian kami.

Pada saat batara kresna ini mulai memasuki jalan Selamet Riyadi, ada kegembiraan tersendiri, kebetulan saat ini hari Minggu sehingga lagi di berlakukan car free day di jalan ini, kereta berjalan pelan di sisi kanan jalan banyak para pedagang yang mulai membereskan dagangannya, bangunan-bangunan eksotik yang terletak di jalan Selamet Riyadi ini juga menjadi nilai tambah saat menaiki batara kresna ini.

Pintu sambungan antara gerbong.
Kereta ini berjalan pelan sekali, mungkin lebih cepat orang yang mengayuh sepedah ketimbang kereta ini, tapi karena keunikan ini lah banyak kesan yang melekat dari batara kresna ini. Saya menemukan keunikan lain, saat di  persimpangan jalan tanpa palang kereta api yang kami lewati. Kendaraan seperti tanpa komando berjajar rapi menunggu kereta yang sedang melintas meski mereka melewati jalan raya yang tak berpalang.

Jalan Slamet Riyadi yang juga menjadi pembatas wilayah Kasunanan Surakarta dengan Kadipaten Mangkunegaran pun selesai kami lewati. Kini, kami menuju daerah Benteng yang akan bermuara ke Stasiun Solo Kota untuk menaik turunkan penumpang. Tepat pukul 10:30 kami pun sampai di stasiun solo kota sebagai pemberhentian pertama yang mengakhiri kebersamaan kami bersama KA.Batara Kresna.

Peta Jaringan Perjalanan KA. Batara Kresna

Beberapa Jam Tanpa Alat Komunikasi


Minggu, 18 Agustus 2019 ( Hari Ke 6 )

Alarm hp ku hidupkan pada pukul 4 pagi, karena rencana hari ini mau ke pintu selatan stasiun tugu  untuk membeli ticket kereta api parameks tujuan stasiun purwosari, Solo, karena kemarin sudah ke stasiun ini tetapi kata petugas bilang ticketnya bisa di beli besok pagi.

Setelah sholat subuh pukul 04:50 akupun meninggalkan kamar, pintu kamar ku kunci ku tinggalkan dengan adek yang masih tertidur di atas ranjang , bergegas aku menuju ke arah stasiun tanpa menghiraukan sapaan penjual gudeg yang ada di pertigaan penginapanku.

"Mas, untuk parameks 252, tiketnya masih ?" tanyaku kepada petugas ticket
"Maaf pak sudah habis, orang pada antri dari pukul 3 pagi tadi" jawab petugas ticket

Jeger..... kepala seperti di timpa kelapa mendengar penjelasan seperti itu,

"Tikect ke solo yang masih pukul berapa mas ?"tanyaku kembali
"Ada parameks 250 pukul 5.30 pagi ini, tinggal 20 menit lagi, Mau ?" jawab petugas loket tersebut
"Aku beli satu mas" kataku sambil memberikan uang sejumlah 8 ribu Rupiah ke petugasnya.

Aku langsung lari kembali ke penginapa, adek langsung aku bangunkan dan bunda pun ku telpon.
" Bunda, ticket untuk jam 7:12 habis, jadi ayah berangkat duluan ke Solo pukul 5:30 ini, nanti bunda dan anak-anak nyusul pakek parameks 252" telpon ku cepat
"Untuk ransel biar ayah yang bawa"kataku lagi
"Suruh ayuk saja ketemuan di simpang jalan penginapan ini, sekalian jemput adek"kataku

Jarak penginapan kami tidak terlalu jauh hanya sekitar 100 meter tetapi karena di kejar waktu ini akupun, terasa jarak ini sangat jauh, masih menggunakan sendal jepit dan celana tanpa ikat pinggang akhirnya ayuk datang membawa ransel yang langsung ku ambil, dan hp ku kutinggalkan ke ayuk.

"Itu tiket ayuk, bunda, kakak dan adek ada di aplikasi KAI Accses tinggal di buka saja dan di scan" kataku ke ayuk.

Adek yang masih bingung pun ikut ayuk, dengan setengah berlari akupun menuju stasiun tugu mengejar parameks 250 yang sudah mulai terdengar klaksonya di kejauhan, akhirnya setelah sampai di stasiun aku langsung menuju pintu masuk pemeriksaan ticket dan selang semenit kemudiat kereta pun datang kamipun langsung naik.

Tepat pukul 5:30 si parameks mulai meyelusuri rel besinya, aku duduk bersama anak-anak yang masih ABG yang katanya pada mau liburan ke Solo. ku perhatikan diriku tanpa ganti baju, celana tanpa ikat pinggang, menggunakan sendal jepit terasa kayak gembel keusir. Doa ku semoga bunda membawa sepatuku dan kaus kaki ku serta ikat pinggangku agar celana ini tidak turun terus.

Setelah melintasi beberapa stasiun pada pukul 6.30 kereta api mulai merapat ke stasiun purwosari, akupun turun dengan satu tujuan yaitu ingin berpose dengan kereta api legendaris Klutuk Jaladara,  tetapi kereta tersebut kayaknya harus di batalkan karena kereta tersebut di tutupi dengan sarung penutup mungkin biar si hitam ini catnya. tidak cepat rusak 

Kereta Api Legendaris Klutuk Jaladara Foto : https://pesona.travel
Kereta api uap Jaladara adalah kereta tua buatan Jerman pada tahun 1896 yang oleh Pemerintah Hindia Belanda digunakan sebagai alat transportasi jarak pendek. Nama kereta ini diambil dari nama kereta pusaka yang dihadiahkan para dewa kepada Prabu Kresna untuk membasmi kejahatan. Kereta uap ini melintasi jalur legendaris yang membelah Surakarta, yakni dari Stasiun Purworasi menuju Stasiun Sangkrah yang berjarak sekitar 5 km menggunakan lokomotifnya bernomor C1218, tergolong lokomotif kecil yang digunakan untuk rute datar. 

Kecepatannya pun hanya 50 km/jam. Jaladara memiliki 2 gerbong yang dibuat dari kayu jati pilihan dengan kapasitas penumpang 70 orang. Kedua gerbong kayu jati asli tersebut dibuat pada 1920 dengan kode CR 16 dan CR 144. Biaya operasional kereta ini terhitung mahal, karena menggunakan bahan bakar kayu jati! Selain itu lokomotif ini juga membutuhkan air dalam jumlah banyak untuk menghasilkan uap guna menggerakkan lokomotifnya. Setidaknya butuh 4 meter kubik air dan 5 meter kubik kayu untuk jarak tempuh dari Stasiun Purwosari sampai Stasiun Sangkrah yang jauhnya berkisar 4 km saja. Pengalaman istimewa memang mahal harganya.

Dari pukul 6:30 sampai pukul 8 lewat harus menunggu di stasiun purwosari sampai bunda dan anak-anak tiba, kopi pun sempat aku beli di mini market depan stasiun, beberapa kali sempat di tolak untuk beli ticket kereta api Batara Kresna karena belum waktunya kata embak loketnya.

Nasib...nasib... akhirnya kuputuskan untuk duduk di ruang tunggu pintu masuk stasiun purwosari, pada pukul 7:45 hati ini galau juga, bisa atau tidak bunda naik kereta ini kuputuskan untuk meminjam telpon pada orang yang ada di sebelah ku.

"Mas, bisa minta bantu, bisa pinjam telponya nggak untuk telpon isteri di kereta yang baru berangkat ini, karena hp saya di bawa istri yang berisi ticket kereta api ke purwosari ini ?"harapku kepada orang yang duduk di sampingku.
"Silakan mas"katanya

Akhirnya kuhubungi hp bunda ternyata tidak bisa di teruskan dan kutelpon lagi telponku baru di angkat dan bunda berkata kalau dia sudah di atas kereta, hati ini menjadi sedikit lega.

"Terima kasih banyak mas"Kataku
"Iya sama-sama"kata orang itu

Yang ternyata merupakan penumpang salah satu kereta dengan yang akan berangkat pada puku 8, untung saja ada orang itu yang Allah kirim agar bisa berkomunikasi dengan bunda. Thanks God

Saturday, 17 August 2019

Antara Stasiun Tugu & PJL Geser

Adek di depan Lokomotif 

Sabtu, 17 Agustus 2019 ( Hari Ke 5 )
"Ayah, ke stasiun dulu ya.. mau beli ticket kereta ke Solo besok" kataku ke bunda, karena di KAI Access maksimum pembelian hanya untuk 4 orang termasuk pemilik aplikasi, jadi untuk kami berlima ticket kereta tersebut kurang satu.

"Siapa yang mau ikut ayah, kakak atau adek ? ' Tanya bunda
"Adek saja ya" jawab adek karena melihat kakak masih guling-guling di atas tempat tidur

Akhirnya kamipun berjalan menuju pintu masuk selatan stasiun tugu yang ada di  Jl. Pasar Kembang hanya beberapa menit berjalan kaki dari sosrowijayan, sesampai di loket pembelian ticket lokal,

"Mbak.. untuk ticket parameks 252 bisa di beli sekarang ?" tanyaku kepada mbak petugas loketnya
"Maaf pak, ticket lokal ini hanya bisa di beli untuk besok"jawab mbak petugas loket tersebut.
"Jadi harus besok mbak ya ?" tanyaku kembali
"Iya, pak harus besok"Jawab mbak itu
"Okelah mbak kalau seperti itu"jawab ku lagi

Ticket Parameks (Prambanan Ekspress) 252 merupakan ticket tujuan ke solo ,stasiun purwosari dengan jam keberangkatan 7:12 dari pintu selatan stasiun tugu, karena saat baca di internet untuk tanggal 17 Agustus 2019 ticket lokal di gratiskan dengan syarat menunjukan KTP, takutnya termasuk ticket lokal tanggal 18 Agustus, bisa-bisa kehabisan, karena jujur saja saya belum terpikir transportasi alternatif jika ticket KA Paremeks besok habis.

Adek dengan background stastiun tugu Yogyakarta
Mau apa lagi kalau seperti itu, akhirnya akupun mengajak adek keluar, adekpun minta di foto di lokomotif lansiran tahun 1992 tersebut, setelah selesai akhirnya sekalian kurang lengkap rasanya kalau tidak berfoto dari pintu timur stasiun tugu ini, kamipun berjalan ke arah stasiun tugu tapi saat melewati PJL Geser, benda itu bergerak sambil sirine yang berbunyi menandakan kereta yang mau lewat.

Ternyata setelah membaca artikel tentang PJL geser ini ternyata PJL Geser ini merupakan satu- satunya di Indonesia, palang perlintasan KA ini memang sengaja dibuat sistem geser. Selain menambah nilai estetika Jalan Malioboro, ada filosofi yang melatari penggunaan palang pintu geser itu. Pintu perlintasan KA itu yang dianggap tepat berada di sumbu imajiner atau garis lurus yang menghubungkan Gunung Merapi-Tugu Pal Putih-Keraton Yogyakarta hingga Pantai Parangtritis. Palang pintu ini dibuat bergeser demi menghormati Keraton Yogyakarta. 

Sehinga tidak heran banyak kendaraan bermotor yang mematikan mesinnya dan mendorong saat melintas di sini, karena seharusnya jalur motor sendiri yang berasal dari arah Jalan Mangkubumi menuju Jalan Malioboro harus melalui Jalan Kleringan lalu melintas di Jembatan Kewek dan memutar ke arah tempat parkir Abu Bakar Ali masuk ke Jalan Malioboro. 

Adek pun sempat menyaksikan saat PJL gesernya bergerak dan sempat menaikinya bersama satu anak kecil lainnya.


Wednesday, 14 August 2019

Stasiun Pasar Senen, Sangat Berbeda Dari Yang Dulu

Pintu masuk menuju ruang tunggu kereta di stasiun pasar senen
Taxi blue bird bergerak perlahan menyusuri jalan di Jakarta yang masih sepi, tak lama kemudian mulai memasuki kawasan senin terlihat gedung atrium senin yang megah, pikiran kembali ke 20 tahun yang lalu saat pernah bekerja di kawasan ini tepat di seberang atrium senen, banyak perubahan yang saya lihat, pasar tradisional yang dulu menjadi tempat kami membeli kue tampah, sekarang sudah di rombak menjadi pasar senen yang lebih modern.

Taxi pun mulai memasuki kawasan parkiran stasiun pasar senen, tepat berhenti di drop off area, setelah seluruh barang di turunkan dan di pastikan tidak ada yang tertinggal, kamipun mencari tempat untuk duduk karena untuk menunggu kereta datang lumayan lama, sekarang saja belum pukul 7 pagi.

Kamipun mencari tempat duduk yang tidak berjahuan dengan tempat keberangkatan sehingga bisa menyaksikan orang yang lalu lalang untuk menaiki kereta api ke berbagai tujuan. Aku pun menuju tempat  check in counter untuk mencetak ticket kereta nya, menyusuri teras stasiun yang sudah banyak berubah di banding dengan 19 tahun yang lalu, karena dulu saat masih bekerja di kawasan senen, stasiun ini merupakan salah satu tempat kami nongkrong ataupun tempat makan kami di kawasan kaki lima di luar pagar stasiun , karena stasiun ini tidak jauh dari tempat kos kami.

Perubahan ruang tunggu, ataupun tenant yang terus bertambah begitu juga kondisi pelayanan yang semakin baik, padahal stasiun ini termasuk stasiun tua yang ada di Jakarta. Tetapi walau stasiun tua  perubahan yang ada tetap mempertahankan bentuk klasiknya, terlihat di pintu masuk ke ruang tunggu kereta tetap dengan pintu lengkungnya yang khas, begitu juga beberapa pintu dan jendela yang masih menjadi ciri era kolonial zaman dulu. 

Foto stasiun pasar senen tahun 1924  Sumber : Wikipedia
Jika di lihat dari sejarah nama stasiun kereta api ini berasal dari sebuah pasar  yang hanya di buka pada hari senen yang terletak tidak jauh dari stasiun ini. Pihak kolonial yang mendirikan pasar ini pada tahun 1733 bertujuan agar perekonomian di kawasan senen dan Weltevreden yang saat ini menjadi gambir bisa hidup dan menjadi ramai. Hingga saat kepemimpinan Gubernur Jenderal Van der Parra, Pasar Senen semakin ramai baik dari pedagang pribumi atau enis sehingga pasar ini di buka setiap hari.

Awal mulanya stasiun pasar senen ini  merupakan stasiun yang dioperasikan oleh Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij pada sekitar tahun 1894 sebagai stasiun perhentian kecil yang. Sama seperti yang terjadi pada stasiun gambir setelah pengambil alihan pengelolaan jalur oleh Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1913, maka pada tahun 1916 pembangunan stasiun ini menjadi stasiun besar dengan segala fasilitasnya di lakukan dan selesai pada tanggal 19 Maret 1925.

Lokasi Check in counter di stasiun pasar senen Jakarta
Setelah sampai di lokasi check in counter terdapat 14 PC yang bisa di gunakan oleh penumpang untuk mencetak ticket mereka, kode booking yang sudah kumasukan berganti dengan ticket yang ada di tangan, kembali akupun menyelusuri teras stasiun ini sambil melihat-melihat perubahan yang banyak terjadi di stasiun ini.

"Yah.... jalan yok.... bosen di sini terus "kata ayuk yang dari tadi hanya bermain dengan hp nya
Jam tangan kulirik, pukul 08:00 pagi, " Jalan kemana yuk.... kalau jam segini belum ada yang buka" jawabku
"Kemana... kek, bosen ini yah" jawab ayuk lagi
"Sudah beli makanan saja di mini market yang ada di ujung pintu masuk, sekalian ayuk bisa lihat-lihat suasana stasiun" kataku
" Ikut "kata kakak menyahut.

Mereka berdua segera berjalan menuju mini market yang terletak didekat pintu masuk stasiun ini, tinggal bunda yang masih di dera rasa kantuk dan adek yang dari tadi sibuk bermain dengan tabletnya. Masih kurang lebih 2 jam lagi kami harus menunggu di stasiun ini sampai jadwal pemberangkatan kereta kami tiba, lalu lalang penumpang semakin ramai, dan matahari pun semakin meninggi.

Di ruang tunggu stasiun pasar senen
Lokasi Stasiun Pasar Senen :

Nge-gembel di Stasiun Gambir.

Lagi gantian jaga barang saat sholat subuh
Rabu, 14 Agustus 2019 ( Hari Ke-2 ).

Bus damri yang merapat berbarengan dengan waktu fajar yang di tandai dengan alunan azan subuh, sesaat kami turun dari bus kami pun segera menuju stasiun gambir dengan tujuan mencari toilet untuk bebersih dan melakukan sholat subuh atau bahkan sekalian mandi biar badan segar.

Tetapi saat sampai di toilet di barisan toko-toko yang masih tutup tetera tulisan "Dilarang Mandi", sehingga kita bebersih seadanya dan melakukan sholat di musolah stasiun gambir tersebut.

" Yah... lapar.... mau makan" kata Adek
" Mau makan apa .???? , toko makanan masih pada tutup" jawabku
" Itu sudah buka "kata adek kembali sambil menunjuk salah satu toko ayam goreng cepat saji.
" Iya ... yah , yang itu saja" kakak menimpali
Akhirnya kamipun beranjak setelah menunggu bunda dan ayuk selesai keluar dari musolah tersebut. 

Sarapan Pagi

" Mas,... untuk paket keluarganya masih ? " Tanyaku kepada kasir toko cepat sajinya.
"Masih pak, ini ada 5 ayam 5 nasi " jawab masnya
" Ambil satu paket Mas + Susu Coklatnya 3" Kata ku kembali
"Susu coklatnya habis pak" jawab masnya
"Ganti sama teh dingin saja mas" kataku

Setelah melakukan pembayaran anak-anak yang sudah mengambil tempat yang berhadapan dengan dinding kaca sehingga bisa melihat orang yang melintas di stasiun gambir, kamipun mulai memakan sarapan pagi kami, ayuk, kakak dan adek terlihat lahap makannya mungkin karena efek perjalanan jauh.

Kakak bergaya di depan backdrop Hut KAI ke 73

Setelah menyudahi sarapan ku, akupun menuju mini market yang terletak di seberang tempat kami makan, membeli tisue basah dan alat cukur yang kelupaan di bawa oleh bunda, tisue basah ini biasanya merupakan barang wajib dimana bunda tidak pernah absen membawanya karena barang yang satu ini sangat serba guna, bisa sebagai lap tangan seusai makan atau sebelum makan, sebagai pengganti kain lap untuk mengelap badan yang belum mandi dan berbagai kegunaan lainnya.

Kakak yang melintas di backdrop HUT PT.KAI ke 73, tertulis tentang sejarah dari awal berdirinya PT. KAI sampai dengan saat ini, begitu juga tentang beberapa stasiun yang tertulis di situ, salah satunya tentang lawang sewu yang juga menjadi tujuan kami di kota Semarang nanti. Di backdrop itupun membahas tentang sejarah stasiun gambir sampai peralihan dari perusahaan kereta api zaman Belanda, Jepang , era kemerdekaan sampai saat ini, ternyata seru juga membacanya.


Stasiun Gambir tahun 1939, dengan arsitektur art deco foto diambil dari halaman Gereja Immanuel. 
Foto : Wikipedia

Stasiun Gambir awalnya hanya berupa halte kereta api yang terdapat beberapa ratus meter di arah selatan stasiun gambir saat ini dengan bangunannya yang berbentuk kecil dan sederhana. pada tahun 1871 merupakan Halte Koningsplein (Halte Lapangan Raja). Halte ini dikelola Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij sampai tahun 1884.
 
Halte itu kemudian digantikan oleh Stasiun , Pada tanggal 4 Oktober 1884 di remsikanlah stasiun Weltevreden yang menggantikan halte Halte Koningsplein tersebut yang terletak tepat di Stasiun Gambir saat ini berdiri. Dengan gedung mempunyai konstruksi atap yang bertumpu pada bantalan besi cor yang mengacu pada rancangan Staatsspoorwegen pada tahun 1881. Berbeda dengan NIS yang tidak menempatkan atap-atap seperti SS, sedangkan SS sendiri telah menempatkan konstruksinya untuk di beberapa tempat.

Stasiun ini di gunakan sebagai stasiun pemberangkatan untuk tujuan Bandung dan Surabaya sampai tahun 1906, setelah pengambilalihan pengelolaan jalur kereta api oleh Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1913, pembenahan dan perbaikan juga di lakukan seperti pada tahun 1928, stasiun Weltevreden itu di lakukan perluasan dan di perbesar termasuk bagian atap yang di perpanjang sampai 55 meter ke arah utara. Dan satu tahun kemudian mengalami renovasi besar-besaran yang mana gaya art deco di pilih. Stasiun itu diresmikan sebagai Stasiun Batavia Weltevreden SS pada tahun 1937 yang saat ini menjadi stasiun Gambir yang merupakan salah satu stasiun tersibuk di Indonesia.

Berpose di Stasiun Gambir

Pada pukul 06:30 kamipun menuju ke stasiun pasar senen menggunakan taxi blue bird yang tepat di seberang pool damri Gambir, karena pada pukul 10:15 nanti kereta gaya baru malam selatan akan membawa kami menuju ke stasiun lempuyangan Yogyakarta. Taxi pun berangkat menuju stasiun pasar senen, yang berisikan kami sekeluarga tanpa satupun ada yang mandi.