Hari ini liburan adek di mulai dengan raport yang bertuliskan aksara arab gundul membuat ku hanya garut-garut kepala “Gimana bacanya” kata ku dalam hati saat melihat hasil nilai prestasi belajar selama 1 tahun ini
“Adek peringkat 10 yah” Ayuk berucap sambil menunjukan sesuatu kalimat yang aku tak bisa baca
Ayuk sendiri bisa membaca arab gundul karena dia pernah 3 tahun mengenyam pendidikan pondok pesantren di salah satu kota ini.
Aku hanya mengangguk saja, entahlah untuk saat ini aku hanya bisa percaya saja, ilmuku sendiri tidak sampe jauh ke sana. Suasana pondok tanpak riuh karena ramai para orang tua santri yang menjemput pulang anak-anak mereka, seperti tradisi tahunan bahwa pondok pesantren terutama tempat adek belajar liburnya pada saat bulan puasa saja sampai setelah lebaran baru kemudian di mulai lagi dengan tahun ajaran baru. Jadi mereka baru mulai belajar lagi di syawal setelah libur lebaran.
Seluruh barang di bereskan dari pakaian, buku-buku, perlengkapan mandi, perlengkapan makan dan lain sebagainya, karena nantinya asrama tempat mereka tinggal ini akan berubah tempat jadi tidak di tempat yang sama begitu juga dengan tempat tidur juga akan berubah, sudah beberapa tahun ini kami melakukan hal seperti ini pada saat liburan santri.
Mereka tampak senang yang terlihat dari raut wajah mereka tapi ada juga yang tampak gelisah karena menunggu orang tua yang akan menjemput tetapi tidak kunjung datang, yang tampak sedih ada santri yang memang tidak pulang dan harus berdiam di pondok biasanya santri yang sudah senior karena keterbatasan biaya dan juga karena jauhnya jarak untuk kembali kekampungnya, ingat dulu saat ayuk masih mondok kami menggunjungi temanya yang berada di pondok karena tidak bisa pulang saat lebaran karena tempat tinggalnya jauh di Batam tampak raut kesedihan karena harus berdiam di pondok sedangkan yang lain dapat berkumpul dengan orang tua.
Tapi di situlah mental mereka terbentuk Mental anak pondok pesantren umumnya terbentuk menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, sabar, dan memiliki kemampuan bersosialisasi yang kuat akibat lingkungan yang terstruktur dan jauh dari orang tua walaupun pada awalnya santri sering mengalami fase adaptasi yang sulit, seperti kecemasan, kesepian, atau perasaan tidak betah, terutama pada tahun pertama di pondok pesantren, yang memerlukan dukungan kuat dari orang tua.
Setelah sampai di rumah hal yang adik lakukan adalah tidur, entah seperti kurang saja tidur bagi adek entah hari ini selama di rumah sudah beberapa kali kulihat ia tertidur.
“Hari ini kita buka di luar saja yah” celetuk kakak
“Berbuka di mana kak ?”tanya ku
“Kalau di seafood atau KFC gimana ... dek?”tanyak kakak ke adek
“Terserah .... tapi pingin ke makan nasi padang saja sudah lama nggak makan itu soalnya”jawab adek
Akhirnya kuputuskan untuk berbuka di salah satu rumah makan padang yang terkenal di kawasan Jalan basuki rahmat, pukul 5:30 kami berangkat dari rumah dan benar saja ternyata setelah sampai di sana sudah ada meja yang di siapkan bagi pengunjung tinggal kami di arahkan untuk menuju meja yang mana.
Hari ini kami memenuhi keinginan adek dahulu setelah setahun bergelut dengan ketatnya pondok dan banyaknya hafalan ilmu maka nasi padang ini mudah-mudahan menjadi obat bagi adek untuk relaksasi jiwa, dan ternyata saat pulang kali ini ia sudah berani memakai motor entah belajar dari mana ia naik motor di pondok.




No comments:
Post a Comment