Cerita berlanjut pada hari ini, setelah melakukan ritual pada pagi hari kamipun pergi sarapan nasi uduk dan juga bubur khas Bandung yang letaknya tidak teralu jauh dari hote tpatnya di pertigaan ada gerobak yang menjual nasi uduk dan bubur yang kami tahu saat mencari di google maps. Ternyata lumayan enak rasa makanan tersebut dan harga juga yang masih standar untuk makanan kaki lima yang membuat perut kami terisi pada pagi itu, tidak lama berselang saat suapan keberapa ada notfikasi wa yang masuk;
“Pak saya ***** driver rental sudah menunggu di hotel” isi dari wa tersebut
“Tunggu sebentar pak kami lagi sarapan di depan hotel” balas ku di wa tersebut.
Memang kendaraan rental ini sudah saya booking dari jauh-jauh hari karena takut saat liburan seperti ini akan penuh akhirnya aku memilih salah sau provider kendaran rental yang juga memiliki paket wisata yang include dengan kendaraan rental, awalnya aku memesan untuk 2 hari untuk pemesanan rental kendaraan untuk tanggal 24 Maret 2026 ke daerah lembang dan selanjutnya tanggal 25 Maret 2026 kearah kawah putih atau kawasan Bandung selatan, pada awalnya perjanjian awal aku memesan kendaraan toyota alya atau sejenisnya dengan harga 650k/perhari dikarena kan masih masuk hari libur lebaran yang jadwalnya sampai seminggu kedepan, tetapi saat kami sampai ke hotel ternyata yang di kirim adalah mobil mitsubishi expander yang aku tahu harga rentalnya lebih mahal, semalam akan yang punya kendaraan rental tersebut sudah memberi khabar kalau kendaraan kelas toyota alya atau sejenisnya sedang kosong dan yang ada mitsubishi expander tapi dengan syarat harus memenambah biaya sewanya 50k perhari, akupun setuju karena dengan xspander akan lebih gagah untuk melibas wisata alam.
Tepat pukul 8 pagi kendaraan berjalan menyelusuri pekatnya aspal hari ini merupakan hari terakhir libur lebaran besok semua sudah pada bekerja lagi, walaupun untuk anak sekolah masih akan masuk pada tanggal 30 Maret 2026 nanti.
Aku jelaskan rute perjalanan hari ini berdasarkan itenerary yang kubuat dan aku juga meminta pendapat driver mobi tersebut yang akhirnya di putuskan untuk destinasi pertama adalah menuju ke Taman wisata alam Tangkuban Perahu dan selanjutnya ke destinasi yang lain sesuai dengan jalur balik, Sekitar kurang lebih 1 jam kami berjalan akhirnya kami memasuki gerbang TWA tangkuban perahu hawa dingin mulai menyergap kulit kami pada saat kaca mobil di buka, perpaduan bau khas hutan dan tetes embun menjadi gerbang selamat datang yang menyambut kami.
Sudah lama juga aku tidak mengunjungi TWA Tangkuban perahu ini terakhir di tahun 2000 saat ada tugas pemeriksaan di kantor cabang, dan baru kesini lagi saat ini. Pada tahun 2011 pun kami tidak mengunjungi tempat ini karena saat itu tempat ini lagi tidak boleh di masuki, sehingga kami hanya menuju ke kebun teh Subang, sari ater serta makan di kawasan cipunclut, walaupun sempat beberapa hari sempat tinggal di desa kayu Ambon, belakang sespim tetapi tetap tidak bisa ke sini karena larangan berkunjung tersebut.
Adek yang mulai merasakan dingin mulai menggosokan kedua tangannya agar menjadi panas,
“Kenapa dak bawa jaket tadi, kalau tau dingin seperti ini” keluh adek
“Kan sudah di bilangin semalam” ujarku
“Lupa yah”ucap adek lagi
Akhirnya ku berikan sweeter kepunyaan ayuk yang tidak di pakai untuk adek biar tidak terlalu merasa dingin, kami berkeling ke beberapa tempat spot foto di kawasan TWA Tangkuban Perahu, teringat pesan dari diver tadi ;
“Pak... kalau ada yang menawarkan barang dagangan nggak usah di beli... harganya sudah di getok semua pada mahal.... enak beli di chiampelas saja”arahan dari driver tadi saat memasuki kawasan tangkuban perahu.
Tapi penasaranku untuk membeli dodol yang ada di dalam kemasan dengan harga 3 buah 50k mengusik keinginan tahu ku akhirnya akupun memutuskan untuk membeli sebanyak 6 kotak atau 100k dengan bonus 1 kotak, ternyata saat di buka isi dodol dalam 1 kotak tersebut hanya ada 9 biji atau keseluruhanny berjumlah 63 biji setelah ku hitung ternyata 1 biji dodol harganya lebih dari 1,5K, padahal saat membeli di chiampelas sudah bisa dapat beberapa kilo untuk harga 100k, tetapi ini menjadi pelajaran berharga bagi ku, begitu juga saat ada yang menawarkan penutup kepala karakter hewan seperti panda, singa, macan dan lain-lain saat di TWA Tangkuban perahu di tawarkan dengan harga gila-gilaan sampai 125k perbuah dan mentok di angka 100k tetapi untung kami tidak jadi membeli karena saat kami beli di chiampelas harganya hanya 50k dapat 2 buah.
Bau khas belerang sudah tercium di hidung kami walaupun tidak terlalu pekat dengan membayar ticket 20k perorang plus biaya parkir akhirnya kami di arahkan ke lokasi parkir di ketinggian 2.084 mdpl ini, pada saat ini suhu sekitar 17 derajat yang lumayan dingin bagi kami yang biasa tinggal di kota Palembang yang tidak ada dataran tinggi.
Legenda Sangkuriang yang melekat di gunung ini sangat terkenal bahkan sampai ke luar negeri ; Asal-usul Gunung Tangkuban Parahu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi/Rarasati. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat supaya Sangkuriang membuat sebuah telaga dan sebuah perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.
Gunung Tangkuban Parahu ini termasuk gunung api aktif yang statusnya diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Beberapa kawahnya masih menunjukkan tanda tanda keaktifan gunung ini. Di antara tanda aktivitas gunung berapi ini adalah munculnya gas belerang dan sumber-sumber air panas di kaki gunungnya, di antaranya adalah di kawasan Ciater, Subang. Gunung Tangkuban Parahu pernah mengalami letusan kecil pada tahun 2006, yang menyebabkan 3 orang luka ringan. (sumber : Wikipedia)
“Seperti istinjak dengan air dari frezeer yah...” katanya sambil tersenyum
‘Dingin nya ....nggak main-main.. kita turun yuk...” jawabnya lagi
Memang aku juga merasakan dingin dan tidak lama dari situ kabut pun mulai turun menutupi kawah sehingga pemandangan ke dalam kawah menjadi tertutup kabut, akhirnya kamipun beranjak pergi dari lokasi TWA Tangkuban Perahu, tapi sebelum pergi penjual gulali mengusing rasa ingin membeli kakak dan baru melihat saat ini kalau gulali ternyata bisa di tiup seperti balo, keren juga.
Akhirnya kami meninggalkan TWA Tangkuban Perahu untuk melanjutkan ke destinasi selanjutnya di temani bau belerang dan hutan yang khas.
No comments:
Post a Comment