Setelah berjalan kurang lebih 30 menit akhirnya kami sampai di kawasan yang juga berbau belerang walaupun tidak sepekat dan sedingin di kawah putih, nama tempatnya adalah kawah rengganis, seperti nama seorang putri tapi entah kaitannya dengan nama putri. Sesampainya di lokasi kawah rengganis ini kami pun ternyata bisa membayar untuk 2 tempat yaitu kawah rengganis dan situ patenggang dengan harga 405k yang merupakan ticket untuk seluruh wahana yang berbentuk seperti gelang tetapi tidak di pakai, tenyata informasi yang kudapat kalau lokasi wisata ini di kelola oleh manajemen yang sama seperti halnya floating market, De Ranch, Farm House Susu Lembang Dan The Great Asia Afrika yang juga berada di bawah satu manajemen.
Setelah masuk kami di sambut dengan jembatan gantung yang lumayan panjang yaitu sekitar 370 meter. Jembatan ini diklaim sebagai salah satu jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara, dengan ketinggian mencapai 70-75 meter di atas pernukaan tanah. Terlihat di sini kalau kakak mulai takut dengan ketinggian apalagi saat adek menggoyang-goyangkan jembatan tersebut, beberapa kali terlihat kakak berpegangan erat dengan tali jembatan, jembatan yang ku nilai aman ini karena kiri kanannya di pakai jaring yang lumayan tinggi untuk mencegah barang atau orang terjatuh.
Drivernya tadi di parkiran tadi sempat bilang;
“Di sini tidak terlalu extrim pak mendingan di banding dengan kawah putih” jelasnya
Tapi kenyataan yang kuhadapi berbeda 180 derajat jalanan yang licin menajak dan menurun seperti jalanan di desa orang tua ku 4 lawang jika ingin mandi kesungai, rimbun pepohonan dan kicauan burung dan bunyi binatang juga menyambut kami di kawasan kawah rengganis itu tetapi yang membedakan bau belerang yang ternyata di kawasan ini ada pemandian air hangat berbelerang yang di percaya sebagai salah satu obat untuk penyakit, banyak terlihat para pengunjung yang mandi bahkan mengoleskan lumpurnya di seluruh badan, bau belerang di sini masih bisa di terima di hidungku adek juga tidak terlalu mengalami kedinginan lagi.
Tapi yang membuatku terasa capek adalah jalannya yang menajak turun dan naik tetapi itu salah satunya untuk mencapai wahana keranjang sultan, di mana permainan ini kita duduk di keranjang tersebut dengan ketinggian sekitar 50 meter dan perlahan bergerak menuju ke seberang dan kembali lagi ketempat semula, akhirnya hanya mereka ber tiga yang menaiki keranjang sultan tersebut, dan untuk bermain ini gelang yang ku pegang akhirnya di bolongin sam seperti saat memasuki area jembatan gantung.
Aku rasa aku sudah tidak sanggup lagi, aku hanya duduk sambil melihat mereka tertawa di atas keranjang sultan, tetapi ini belum menjadi tantangan yang sesungguhnya ternyata untuk kembali ke atas ada 2 alternatif yaitu menggunakan ojek sebesar 25k per orang atau berjalan kami melewati tangga-tangga yang ada.
Akupun akhirnya memilih alternatif yang ke 2 karena anak-anak sendiri terlanjur senang dengan suasana petualangan sehingga tangga yang lumayan panjang keatas harus aku lalui, beberapa kali aku harus berhenti untuk beristirahan dengan detak jantung yang semakin cepat, mungkin 3 atau 4 kali aku duduk beristirahat untuk mengumpulkan tenaga sekedar untuk melangkahkan kaki, jujur di sini lebih capek ketimbang di The Great Asia Afrika mungkin karena sudah akumulasi capeknya di tambah dengan kawah putih, akhirnya akupun sampai di atas dan menghirup nafas panjang karena akhirnya jalan sudah datar tidak menajak naik atau turun.
No comments:
Post a Comment