Setelah kami berdiskusi bagaimana kembali ke hotel, akhirnya kami sepakat untuk berjalan kaki saja tapi dengan sarat yang dijukan oleh kakak kami harus mampir ke mini market terlebih dahulu untuk membeli makanan dan beberapa perlengkapan yang tidak ada di hotel nanti, maklaum hotel yang kita tinggali bukan hotel berbintang tetapi lumayan karena memiliki family room dan tempatnya strategis.
Akhirnya kami pun mampir di salah satu mini market yang terletak di simpang antara jalan braga dan jalan asia afrika, 2 kantong belanjaan pun akhirnya kami bawa, sambil bercerita kami menyelusuri jalan sepanjang 1,8 Km tersebut yang akan di tempuh kurang lebih 20 menit, kalau seandainya tidak macet mobil hanya kurang dari 10 menit untuk mengantar kami kembali ke hotel, tetapi mengingat saat pergi tadi macet yang tidak kunjung terurai dan driver taxinya pun meminta tambah uang ongkosnya, jadi mungkin pilihan kali ini tidak salah sekalin untuk mengetahui apa yang ada di sepanjang jalan braga sampai ke hotel dan kamipun tidak harus berlama-lama di kendaraan menunggu macer.
Adek juga menyempatkan berfoto di barang klasik berupa mesin cetak yang berada di Jalan Asia Afrika, Bandung, adalah mesin cetak koran kuno (setter) yang dipajang di depan Kantor Harian Umum Pikiran Rakyat (PR) di Jalan Asia Afrika No. 77. Mesin ini menjadi salah satu ikon cagar budaya dan pengingat sejarah industri media di kawasan tersebut.
Sepanjang jalan bukan hanya gedung gedung yang kami lihat tetapi juga kreatifnya orang Bandung bagaimana agar bisa menghasilkan uang seperti motor gerobak yang di sulap menjadi kuda, dan bisa di naiki oleh anak-anak dan orang dewasa dengan di kenakan tarif tertentu.
Ternyata sepanjang perjalanan menuju hotel banyak hal menarik yang bisa kami lihat, yang menjadi pelajaran bagi kami, perjalanan terus kami lakukan senja mkin tanpak, rona merah di langit barat makin terlihat jelas dan bernar, azan magrib mulai berkumandang, perjalanan sudah mendekati setengah jalan akhirnya kami memutuskan utuk mengisi perut kami dengan nasi terlebih dahulu sebelum balik kehotel, akhirnya warteg bahari yang menjadi pilihan kami yang kebetulan satu arah dengan hotel yang kami tinggali.
Ternyata tidak banyak lagi makanan yang tersisa, pekerja warteg tersebut juga bilang kalau hari ini merupakan hari pertama mereka buka setelah lama libur lebaran.
Nasi dan ayam serta nasi dan ikam menjadi pilihan kami karena hanya itu yang tersisa, nasi yang masuk ke dalam perut kami terakhir adalah saat di cafe soralian bandara Sukarno Hatta saat menunggu keberangkatan bus damri ke Bandung.
Lumayan enak dengan rasanya kami makan dengan lahap dan harga yang di bandrol pun juga tidak terlalu mahal jadi wajar kalau warteg seperti ini menjadi pilihan berbagai kalangan karena murah, meriah dan mengenyangkan.
Jadi teringat saat aku bekerja di ibu kota karena kos an ku dekat dengan warteg dan selalu beli makanan di sana sampai akhirnya akupun boleh berhutang sama pemilik wartegnya dan di bayar pada saat gajian.
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju hotel dengan perut kenyang dan beberapa kantong makanan kecil dan tidak lupa mampi ke martabak pecenongan yang letaknya tidak jauh dari hotel, akhirnya kami sudahi perjalanan hari ini yang cukup melelahkan, jurnalnya kita lanjut besok dengan perjalanan di kawasan Lembang Bandung.





No comments:
Post a Comment