Sebenarnya bukan hal yang baru bagi kami dan anak-anak untuk menaiki delma sudah di berapa kota kami pernah menaiki moda transportasi yang satu ini kereta yang di tarik oleh kuda baik di Yogyakarta ataupun di Bandung sediri , tahun 2011 kami pernah menaiki delman seperti ini di kawasan desa kayu Ambon Lembang sampai ke pasar Lembang, yang sekarang pasar tersebut sudah menjadi pasar modern.
"Berapa ongkosya kang ?" tanyaku ke salahsatu kusir kahar/kretek (delman bahasa sunda)"Untuk jarak jauh 200k dan jarak pendek 150K"jawab sang kusir , sambil beliau menjelaskan rute yang akan di tempuh.
Aku sendiri kurang mengerti rute yang di jelaskannya hanya mengangguk saja, akhirnya kutawar untuk rute panjang sebesar 125k dan beliau setuju, entah rute mana yang di maksudnya tetapi ia menyebut akan melintasi jalanan braga, akhirnya kami berempat menaiki delman tersebut, kusir yang masih cukup muda mengendalikan delman dengan sigap di antara lalu lalang kendaraan bermotor roda 2 dan roda 4.
Untuk jalan sepi sepertinya enak mengendalikan kuda yang menearik kereta seperti ini, tetapi saat sedang ramai ternyata di situ di butuhkan keahlian extra untuk mengendalikan hewan yang satu ini.
Beberapa kali kuda ini kulihat tepat berada di belakang mobil dan hendak melaju terus , kalau seandainya tidak di kendalikan kemungkinan kuda ini akan menabrak belakang mobil atau bus yang ramai di jalan kota Bandung.
Perlahan ruas jalan dari asia afrika di telusuri hingga sampai ke kawasan braga yang cukup macet di mana delman ini tidak bisa bergerak, ada beberapa kali kepala kuda sampai menyentuh para pengendara motor, dan sepertinya mereka memaklumi kondisi yang seperti ini.
Beberapa saak jalan ke arah braga yang legendaris masih macet akhirnya kami memutuskan untuk turun dan melanjutkan dengan berjalan kaki, sepertinya berjalan kaki akan lebih cepat ketimbang menggunakan kendaraan di tengah kemacetan seperti ini.




No comments:
Post a Comment