 |
| Jalan Braga yang legendariis |
Karena kemacetan yang cukup panjang akhirnya kami memberi tahu kusir delmanya untuk turun di simpang jalan Braga ini, akhirnya kamipun turun di jalan legendaris yang sudah di kenal di seluruh penjuru negeri, memang benar kata orang "Belum lengkap ke Bandung Kalu belum ke braga", kata-kata yang sudah saya dengan dari era tahun 90 an pada saat saya pertama kali ke kota ini saat masih berstatus pelajar, jalan ini masih sama seperti dulu masih jadi legenda seperti dulu walau banyak perubah tempat tetapi gaya bangunan kolonialnya yang bergaya art deco klasik tapi indah,
Banyak para pengunjung yang menjadikan tempat ini sebagai spot foto baik sendirian atau pun beramai-ramai, salah satu spot foto yang tidak pernah sepi adalah tiang nama Braga yang menjadi penampilan utama di setiap orang yang mampir ke sini.
Jalan yang tidak terlalu panjang yang juga terhubung dengan jalan Asia Afrika ini menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung dari dalam dan luar kota. Jalan ini dulunya merupakan tempat nongkrong favorit orang Belanda dan sering dijuluki kawasan "Bergaya" (Ngabraga) karena banyaknya butik mode pada masa lalu.
Di sisi kanan kiri Jalan Braga terdapat komplek toko yang memiliki arsitektur dan tata kota yang tetap mempertahankan ciri arsitektur kuno pada masa Hindia Belanda. Tata letak pertokoan tersebut mengikuti model yang ada di Eropa sesuai dengan perkembangan kota Bandung pada masa itu (1920-1940an) sebagai kota mode yang cukup termasyhur seperti halnya kota Paris pada saat itu. Di antara pertokoan tersebut yang masih mempertahankan ciri arsitektur lama adalah pertokoan Sarinah , Apotek Kimia Farma dan Gedung Merdeka (Gedung Asia Afrika yang dulunya adalah gedung Societeit Concordia). Model tata letak jalan dan gedung gedung pertokoan dan perkantoran yang berada di Jalan Braga juga terlihat pada model jalan-jalan lain di sekitar Jalan Braga seperti Jalan Suniaraja (dulu dikenal sebagai Jalan Parapatan Pompa) dan Jalan Pos Besar (Postweg)('sekarang Jalan Asia-Afrika') yang dibangun oleh Gubernur Jendral Herman Wiliam Daendles pada tahun 1811, di depan Gedung Merdeka. (Sumber : Wikipedia).

Sepanjang jalan yang kami lalui, braga masih seperti dulu tidak berubah sama sekali walaupun masa dan waktu terus berjalan saat pertama kali menginjakan kaki ke kawasan ini aku masih bersataus sebagai pelajar, sekarang aku membawa anak-anak yang juga sebagai pelajar entah sudah berapa lama kawasan akan bertahan di deru kerasnya perubahan zaman.
Tapi suasana sore ini membuat ku menjadi sadar bahwa usia kita berjalan terus dan kan terus berkurang walaupun tujuan kita masih akan ada, terbukti dengan Braga dengan segala sejarah nya masih tidak lekang di geus oleh zaman.
Senja semakin merayapi bumi kamipun berniat untuk kembali ke hotel sekalian untuk beristirahat dan mempersiapkan untuk tujuan perjalanan berikutnya tetapi ternyata di jam segini taxi online susah untuk di order mungkin di sini termasuk kawasan macer, dan kulihat map jarak ke hotel kami tidak lebih dri 15 menit, aku lihat ayuk, kakak dan dan adek untuk kelanjutan cerita ini.
No comments:
Post a Comment