Tuesday, 24 March 2026

2 Tempat Di Kelola 1 Orang

Rumah Hobbits - Farm House Lembang

Setelah keluar dari kawasan orchid forest cikole akhirnya aku meminta kepada driver agar kita bisa istriahat sekalian makan siang dan sholat, sekitar 10 menit perjakanan akhirnya kendaraan berhenti di rumah makan khas sunda yang bernama kLC Cafe dan Resto, kami menikmati sajian siang ini sekalian beristirahat sejenak sebelum melanjutkan ke desitnasi berikutnya, makanan yang di sajikan sesuai dengan seperti yang kita inginkan sudah modern, setelah tertirah sejenak di sini selesai sholat dan beristirahan sekitar 30 menit berikutnya akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali menuju destinasi berikutnya yaitu Farm House Susu Lembang, dengan jarak sekitar 8 km dengan waktu tempuh 13 menit kurang lebih, ternyata aku baru tahu kalau floating market, De ranch, Farm House susu dan great asia afrika di kelolah oleh orang yang sama wajar saja saat membayar ticket di bilang bisa sekaligus untuk ke 2 tempat yaitu farm house ini dan great asia afrika, dan jarak ke 2 nya juga tidak berjahuan malahan bisa berjalan menggunakan jembatan penyebrangan orang bisa sampai ke great asia afrika.

Entah apa yang di rasakan kakak
Pada saat kami memasuki tempat wisata ini kami di beri tahu kalau ticketnya nanti bisa di tukar dengan susu di bagian penukaran, lumayan sebagai penghilang dahaga walaupun kami membawa air mineral yang kami simpan di ransel kami, dengan nuansa eropa yang kental seperti rumah yang sering ada di pedesaan belanda, kincir angin belanda, rumah hobit sampai penyewaan baju khas belanda pun ada di sini. Kafe dan tempat makan banyak tersedia di sini dengan berbagai menunya, akhirnya anak-anak menaiki kereta sebelum beranjak ke destinasi berikutnya.

Hanya pindah parkiran dan tidak sampai 1 menit akhirnya kami sampai di destinasi the great asia afrika saat di lihat dari atas terasa jauh sekali bangunan yang terihat seperti masuk dalam jurang yang dalam tetapi ternyata penasaran ku mengalahkan stamina ini.

The Great Asia Africa Lembang adalah destinasi wisata yang unik, di mana pengunjung dapat merasakan pengalaman keliling dunia tanpa harus meninggalkan Bandung. Tempat ini menggabungkan keindahan alam Lembang dengan kekayaan budaya dari berbagai negara. Setiap sudut di The Great Asia Africa dirancang dengan detail yang menakjubkan, menciptakan suasana yang seolah-olah membawa pengunjung langsung ke negara asal budaya tersebut.

Di sini, pengunjung dapat menemukan replika budaya dari berbagai negara, mulai dari Asia hingga Afrika. Misalnya, pagoda Jepang yang megah, istana India yang kaya ornamen, dan rumah tradisional Afrika yang berwarna-warni. Setiap area dilengkapi dengan musik khas dan dekorasi yang mencerminkan budaya masing-masing negara, membuat pengalaman ini semakin autentik. Selain itu, terdapat juga pameran sejarah dan artefak budaya yang memberikan wawasan mendalam tentang tradisi dan kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia. (Sumber : discverasr.com)

Di depan rumah bergaya eropa

Saat datang kita sudah di sambut dengan warna warni bangunan dari berbagai negara dengan berbagai kebudayaan dan kuliner berusaha di tampikan di sini saat di pintu masuk bangunan merah menyala yang menyambut kami, selanjutnya rangkaian bangunan warna-warni dari singapore, malaysia, cina dan Indoneisa ikut terlihat, sebelum melanjutkan perjalanan kita tukar dulu tiket masuk kita dengan minuman es jeruk atau dengan coca cola segar.

Selanjutnya perjalanan ini ternyata makin berat naik turun tanjakan membuat stamina ku sedikit terkuran , maklum umur sudah tidak bisa berbohong. Akhirnya kami sampai di rumah khas korea selatan dan akupun duduk sebentar di situ untuk memulihkan tenaga sambil berfoto di beberapa spot foto yang menarik , akirnya perjalanan di lanjutkan lagi menuju ke kawasan thailand di mana di jalan menuju kawasan thailand tampak lukisan para presiden RI lengkap dengan biodatanya, di kawasan thailand ini kami menyempatkan berfoto kembali dan setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke kawasan India.
Rumah korea Selatan

Di sini mulai terasa staminaku sudah tidak baik-baik saja sudah terasa sangat capek apalagi contur jalan yang menanjak dan menurun merupakan sesuatu hal yang sangat menantang memang di perlukan fisik yang prima untuk mengunjungi destinasi yang satu ini, biar tidak terlewatkan satu tempat pun, akupun beberpa kali istirahat, memang terasa sejak mengalami sakit di tahun 2023 kesehatan ku pun tidak bisa pulih seperti dulu lagi di tambah dengan tiada nya bunda saat ini yang biasanya selalu mengawasi dan mendampingiku.

Kamipun mencoba menaiki skydrive yang berbentuk seperti roda yang berputar di rel di ketinggian, sejujurnya aku tidak mau ikut tetapi setiap skydrive harus 2 orang terpaksa aku menemani ayuk untuk naik wahana tersebut padahal aku sendiri mengalami kecemasan atas ketinggian.

Gerbang Masuknya
Aku terus berdoa agar skydrive ini cepat kembali ke titik awal karena aku sudah merasa takut sekali terutama saat menoleh ke bawah rasanya seperti mau copot jantung ini, tak lama berselang akhirnya skydrive ku kembali dengan selamat dan akupun bisa berdafas lega, tetapi tidak sampai di sini setelah naik wahana ini capek ku terasa sekali kaki berat dan sakit karena berjalan naik dan turun di kawasan great asia afrika ini.

Tapi beruntungnya ada gondola yang merupakan lift yang bisa mengantarkan kita ke atas walaupun harus bayar 10k/orang tapi bagi ku tidak asal tidak capek , badan ku sepertinya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi ingin balik ke hotel dan rebahan biar menghilangkan capeknya.

Setelah antri yang tidak terlalu lama akhirnya akupun menaiki gondola tersebut dan sampai ke bagian atas dari tempat wisata tersebut walaupun harus berjalan sedikit lagi ke arah parkiran tapi tidak terlalu jauh, akhirnya sekitar pukul 16:30 aku meninta driver untuk kembali ke hotel karena aku sudah capek banget. Anak-anak justru berencana mau keluar lagi malam ini memang kalau itenerary yang ku buat seharusnya malam ini kami menuju ke ciwalk atau BIP tetapi mau bagaimana lagi badan sudah tidak bisa bekerja sama lagi, akhirnya mereka bertiga menuju ke Paris Van Java Mall dan pulangnya mereka membeli KFC untuk menjadi santap malam di hotel, ternyata umur tida bisa berbohng berbanding lurus dengan stamina.

Skydrive yang membuatku tidak mau mengulang kembali

Orchid Forest Cikole - Hutan Alam Yang Terawat Dan Terjaga


Mobilpun bergerak perlahan menyusuri jalanan lembang yang mulai memadat tujuan berikutnya dalah orchid forest cikole yang terletak kurang lebih 4,3 km dari TWA Tangkuban Perahu atau sekitar 14 menit dengan menggunakan kendaraan, dengan membayar 204k untuk masuk lokasi wisata ini, saat memasuki gerbang masuk bau khas batang pinus mulai menyeruak hidung di mana kondisi saat ini mulia mendung, bau khas hutan yang aku rasakan sama seperti saat memasuki TWA Punti Kayu yang ada di Palembang, tetapi yang ini sudah di kelola dan di rawat dengan baik sehingga menjadi objek wisata yang bisa di jual kepada pengunjung.

Orchid Forest Cikole Lembang berdiri sejak Agustus tahun 2017. Kawasan ini merupakan taman anggrek terluas di Indonesia yang berada di tengah Hutan lindung seluas 12 hektar. Selain itu terdapat sekitar 157 jenis Bunga Anggrek di kawasan ini.

Bersama macau merah
Lokasinya berada di Genteng, Cikole, Kec. Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Destinasi wisata ini lebih berfokus pada memperkenalkan dan membudidayakan berbagai tanaman anggrek dengan metode lokal maupun internasional.

Tanaman anggrek disini tidak hanya berasal dari Indonesia melainkan juga berasal dari negara lain seperti Venezuela, Argentina, Filipina, Peru, dan Amerika Serikat. dengan demikian varian Anggrek disini sangat beragam. (Sumber : labirutour.com)

Banyak tempat yang bisa kita kunjung di orchid forest cikole ini seperti ada pertunjukan hewan yang melibakan pengunjung, ada juga wahana memberi makan hewan dan juga wahana berfoto dengan hewan dan banyak lagi wahana yang berbayar, tetapi tidak sedikit spot foto yang bagus yang gratis di sediakan untuk para pengunjung.

Kami pun melakukan beberapa kegiatan saja seperti berfoto bersama hewan yang kami pilih adalah burung macau merah yang di kenakan tarif 20k/orang, begitu juga untuk memberi makan hewan di kenakan tarif yang sama.

Masih mencari makanan ini juga

Aku sempat berfikir kalau seandainya ada pihak swasta yang mengeloah TWA Punti Kayu seperti orchid forest cikole mungkin tempat tersebut akan ramai kembali seperti dulu tidak seperti saat ini tiket yang lumayan mahal tetapi tidak ada apa-apa untuk di lihat serasa buang-buang uang saja.

Angkutan ke gerbang utama
‘Yah ayuk tadi ketakutan di kejar domba” lapor kakak saat keluar dari wahan memberi makan hewan
“Iya kah.....” sambil aku menatap ayuk
Ayuk tidak menjawab hanya membetulkan jilbab nya tetapi foto yang di tangkap oleh kakak memperlihatkan ketakutan ayuk yang sesungguhnya.

Sebenarnya banyak wahanya yang bisa kami kunjungi di sini tetapi mengingat waktu sudah meninggi hari dan ada destinasi lain yang akan kita kunjung maka akhirnya perjaanan di orchid forest cikole ini harus berakhir, pati sebelum berangkat kita akan di antar kembali menggunaan angkot ke gerbang kedatangan dan ini gratis, saat turun mereka sempat-sempatnya membeli cilok di area parkiran.

Dari Keinggian 2.084 Mdpl

Menikmati nasi uduk dan bubur khas Bandung sebagai sarapan pagi

Cerita berlanjut pada hari ini, setelah melakukan ritual pada pagi hari kamipun pergi sarapan nasi uduk dan juga bubur khas Bandung yang letaknya tidak teralu jauh dari hote tpatnya di pertigaan ada gerobak yang menjual nasi uduk dan bubur yang kami tahu saat mencari di google maps. Ternyata lumayan enak rasa makanan tersebut dan harga juga yang masih standar untuk makanan kaki lima yang membuat perut kami terisi pada pagi itu, tidak lama berselang saat suapan keberapa ada notfikasi wa yang masuk;

“Pak saya ***** driver rental sudah menunggu di hotel” isi dari wa tersebut
“Tunggu sebentar pak kami lagi sarapan di depan hotel” balas ku di wa tersebut.
TWA Tangkuban Perahu

Memang kendaraan rental ini sudah saya booking dari jauh-jauh hari karena takut saat liburan seperti ini akan penuh akhirnya aku memilih salah sau provider kendaran rental yang juga memiliki paket wisata yang include dengan kendaraan rental, awalnya aku memesan untuk 2 hari untuk pemesanan rental kendaraan untuk tanggal 24 Maret 2026 ke daerah lembang dan selanjutnya tanggal 25 Maret 2026 kearah kawah putih atau kawasan Bandung selatan, pada awalnya perjanjian awal aku memesan kendaraan toyota alya atau sejenisnya dengan harga 650k/perhari dikarena kan masih masuk hari libur lebaran yang jadwalnya sampai seminggu kedepan, tetapi saat kami sampai ke hotel ternyata yang di kirim adalah mobil mitsubishi expander yang aku tahu harga rentalnya lebih mahal, semalam akan yang punya kendaraan rental tersebut sudah memberi khabar kalau kendaraan kelas toyota alya atau sejenisnya sedang kosong dan yang ada mitsubishi expander tapi dengan syarat harus memenambah biaya sewanya 50k perhari, akupun setuju karena dengan xspander akan lebih gagah untuk melibas wisata alam.

Tepat pukul 8 pagi kendaraan berjalan menyelusuri pekatnya aspal hari ini merupakan hari terakhir libur lebaran besok semua sudah pada bekerja lagi, walaupun untuk anak sekolah masih akan masuk pada tanggal 30 Maret 2026 nanti.

Aku jelaskan rute perjalanan hari ini berdasarkan itenerary yang kubuat dan aku juga meminta pendapat driver mobi tersebut yang akhirnya di putuskan untuk destinasi pertama adalah menuju ke Taman wisata alam Tangkuban Perahu dan selanjutnya ke destinasi yang lain sesuai dengan jalur balik, Sekitar kurang lebih 1 jam kami berjalan akhirnya kami memasuki gerbang TWA tangkuban perahu hawa dingin mulai menyergap kulit kami pada saat kaca mobil di buka, perpaduan bau khas hutan dan tetes embun menjadi gerbang selamat datang yang menyambut kami.

Sudah lama juga aku tidak mengunjungi TWA Tangkuban perahu ini terakhir di tahun 2000 saat ada tugas pemeriksaan di kantor cabang, dan baru kesini lagi saat ini. Pada tahun 2011 pun kami tidak mengunjungi tempat ini karena saat itu tempat ini lagi tidak boleh di masuki, sehingga kami hanya menuju ke kebun teh Subang, sari ater serta makan di kawasan cipunclut, walaupun sempat beberapa hari sempat tinggal di desa kayu Ambon, belakang sespim tetapi tetap tidak bisa ke sini karena larangan berkunjung tersebut.

Adek yang mulai merasakan dingin mulai menggosokan kedua tangannya agar menjadi panas,
“Kenapa dak bawa jaket tadi, kalau tau dingin seperti ini” keluh adek
“Kan sudah di bilangin semalam” ujarku
“Lupa yah”ucap adek lagi

Akhirnya ku berikan sweeter kepunyaan ayuk yang tidak di pakai untuk adek biar tidak terlalu merasa dingin, kami berkeling ke beberapa tempat spot foto di kawasan TWA Tangkuban Perahu, teringat pesan dari diver tadi ;

“Pak... kalau ada yang menawarkan barang dagangan nggak usah di beli... harganya sudah di getok semua pada mahal.... enak beli di chiampelas saja”arahan dari driver tadi saat memasuki kawasan tangkuban perahu.

Tapi penasaranku untuk membeli dodol yang ada di dalam kemasan dengan harga 3 buah 50k mengusik keinginan tahu ku akhirnya akupun memutuskan untuk membeli sebanyak 6 kotak atau 100k dengan bonus 1 kotak, ternyata saat di buka isi dodol dalam 1 kotak tersebut hanya ada 9 biji atau keseluruhanny berjumlah 63 biji setelah ku hitung ternyata 1 biji dodol harganya lebih dari 1,5K, padahal saat membeli di chiampelas sudah bisa dapat beberapa kilo untuk harga 100k, tetapi ini menjadi pelajaran berharga bagi ku, begitu juga saat ada yang menawarkan penutup kepala karakter hewan seperti panda, singa, macan dan lain-lain saat di TWA Tangkuban perahu di tawarkan dengan harga gila-gilaan sampai 125k perbuah dan mentok di angka 100k tetapi untung kami tidak jadi membeli karena saat kami beli di chiampelas harganya hanya 50k dapat 2 buah.

Bau khas belerang sudah tercium di hidung kami walaupun tidak terlalu pekat dengan membayar ticket 20k perorang plus biaya parkir akhirnya kami di arahkan ke lokasi parkir di ketinggian 2.084 mdpl ini, pada saat ini suhu sekitar 17 derajat yang lumayan dingin bagi kami yang biasa tinggal di kota Palembang yang tidak ada dataran tinggi.

Legenda Sangkuriang yang melekat di gunung ini sangat terkenal bahkan sampai ke luar negeri ; Asal-usul Gunung Tangkuban Parahu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi/Rarasati. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat supaya Sangkuriang membuat sebuah telaga dan sebuah perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.

Gunung Tangkuban Parahu ini termasuk gunung api aktif yang statusnya diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Beberapa kawahnya masih menunjukkan tanda tanda keaktifan gunung ini. Di antara tanda aktivitas gunung berapi ini adalah munculnya gas belerang dan sumber-sumber air panas di kaki gunungnya, di antaranya adalah di kawasan Ciater, Subang. Gunung Tangkuban Parahu pernah mengalami letusan kecil pada tahun 2006, yang menyebabkan 3 orang luka ringan. (sumber : Wikipedia)

Baru tahu kalau gulali bisa di tiup

“Kenapa dek ....?” saat aku bertanya ke adek setelah keluat dari kamar kecil
“Seperti istinjak dengan air dari frezeer yah...” katanya sambil tersenyum
‘Dingin nya ....nggak main-main.. kita turun yuk...” jawabnya lagi

Memang aku juga merasakan dingin dan tidak lama dari situ kabut pun mulai turun menutupi kawah sehingga pemandangan ke dalam kawah menjadi tertutup kabut, akhirnya kamipun beranjak pergi dari lokasi TWA Tangkuban Perahu, tapi sebelum pergi penjual gulali mengusing rasa ingin membeli kakak dan baru melihat saat ini kalau gulali ternyata bisa di tiup seperti balo, keren juga.

Akhirnya kami meninggalkan TWA Tangkuban Perahu untuk melanjutkan ke destinasi selanjutnya di temani bau belerang dan hutan yang khas.

sebelum kedinginan melanda

Monday, 23 March 2026

Jalan Kaki Kembali Ke Hotel Antara Pelit Dan Hemat

 


Setelah kami berdiskusi bagaimana kembali ke hotel, akhirnya kami sepakat untuk berjalan kaki saja tapi dengan sarat yang dijukan oleh kakak kami harus mampir ke mini market terlebih dahulu untuk membeli makanan dan beberapa perlengkapan yang tidak ada di hotel nanti, maklaum hotel yang kita tinggali bukan hotel berbintang tetapi lumayan karena memiliki family room dan tempatnya strategis.

Mesin cetak lawas
Akhirnya kami pun mampir di salah satu mini market yang terletak di simpang antara jalan braga dan jalan asia afrika, 2 kantong belanjaan pun akhirnya kami bawa, sambil  bercerita kami menyelusuri jalan sepanjang 1,8 Km tersebut yang akan di tempuh kurang lebih 20 menit, kalau seandainya tidak macet mobil hanya kurang dari 10 menit untuk mengantar kami kembali ke hotel, tetapi mengingat saat pergi tadi macet yang tidak kunjung terurai dan driver taxinya pun meminta tambah uang ongkosnya, jadi mungkin pilihan kali ini tidak salah sekalin untuk mengetahui apa yang ada di sepanjang jalan braga sampai ke hotel dan kamipun tidak harus berlama-lama di kendaraan menunggu macer.

Adek juga menyempatkan berfoto di barang klasik berupa mesin cetak yang berada di Jalan Asia Afrika, Bandung, adalah mesin cetak koran kuno (setter) yang dipajang di depan Kantor Harian Umum Pikiran Rakyat (PR) di Jalan Asia Afrika No. 77. Mesin ini menjadi salah satu ikon cagar budaya dan pengingat sejarah industri media di kawasan tersebut. 

Sepanjang jalan bukan hanya gedung gedung yang kami lihat tetapi juga kreatifnya orang Bandung bagaimana agar bisa menghasilkan uang seperti motor gerobak yang di sulap menjadi kuda, dan bisa di naiki oleh anak-anak dan orang dewasa dengan di kenakan tarif tertentu.

Kreatif nya kebangetan

Ternyata sepanjang perjalanan menuju hotel banyak hal menarik yang bisa kami lihat, yang menjadi pelajaran bagi kami, perjalanan terus kami lakukan senja mkin tanpak, rona merah di langit barat makin terlihat jelas dan bernar, azan magrib mulai berkumandang, perjalanan sudah mendekati setengah jalan akhirnya kami memutuskan utuk mengisi perut kami dengan nasi terlebih dahulu sebelum balik kehotel, akhirnya warteg bahari yang menjadi pilihan kami yang kebetulan satu arah dengan hotel yang kami tinggali.

Ternyata tidak banyak lagi makanan yang tersisa, pekerja warteg tersebut juga bilang kalau hari ini merupakan hari pertama mereka buka setelah lama libur lebaran.

Nasi dan ayam serta nasi dan ikam menjadi pilihan kami karena hanya itu yang tersisa, nasi  yang masuk ke dalam perut kami terakhir adalah saat di cafe soralian bandara Sukarno Hatta saat menunggu keberangkatan bus damri ke Bandung.

Lumayan enak dengan rasanya kami makan dengan lahap dan harga yang di bandrol pun juga tidak terlalu mahal jadi wajar kalau warteg seperti ini menjadi pilihan berbagai kalangan karena murah, meriah dan mengenyangkan.

Jadi teringat saat aku bekerja di ibu kota karena kos an ku dekat dengan warteg dan selalu beli makanan di sana sampai akhirnya akupun boleh berhutang sama pemilik wartegnya dan di bayar pada saat gajian.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju hotel dengan perut kenyang dan beberapa kantong makanan kecil dan tidak lupa mampi ke martabak pecenongan yang letaknya tidak jauh dari hotel, akhirnya kami sudahi perjalanan hari ini yang cukup melelahkan, jurnalnya kita lanjut besok dengan perjalanan di kawasan Lembang Bandung.

Perjalanan Pulang