Tuesday, 24 March 2026

Dari Keinggian 2.084 Mdpl

Menikmati nasi uduk dan bubur khas Bandung sebagai sarapan pagi

Cerita berlanjut pada hari ini, setelah melakukan ritual pada pagi hari kamipun pergi sarapan nasi uduk dan juga bubur khas Bandung yang letaknya tidak teralu jauh dari hote tpatnya di pertigaan ada gerobak yang menjual nasi uduk dan bubur yang kami tahu saat mencari di google maps. Ternyata lumayan enak rasa makanan tersebut dan harga juga yang masih standar untuk makanan kaki lima yang membuat perut kami terisi pada pagi itu, tidak lama berselang saat suapan keberapa ada notfikasi wa yang masuk;

“Pak saya ***** driver rental sudah menunggu di hotel” isi dari wa tersebut
“Tunggu sebentar pak kami lagi sarapan di depan hotel” balas ku di wa tersebut.
TWA Tangkuban Perahu

Memang kendaraan rental ini sudah saya booking dari jauh-jauh hari karena takut saat liburan seperti ini akan penuh akhirnya aku memilih salah sau provider kendaran rental yang juga memiliki paket wisata yang include dengan kendaraan rental, awalnya aku memesan untuk 2 hari untuk pemesanan rental kendaraan untuk tanggal 24 Maret 2026 ke daerah lembang dan selanjutnya tanggal 25 Maret 2026 kearah kawah putih atau kawasan Bandung selatan, pada awalnya perjanjian awal aku memesan kendaraan toyota alya atau sejenisnya dengan harga 650k/perhari dikarena kan masih masuk hari libur lebaran yang jadwalnya sampai seminggu kedepan, tetapi saat kami sampai ke hotel ternyata yang di kirim adalah mobil mitsubishi expander yang aku tahu harga rentalnya lebih mahal, semalam akan yang punya kendaraan rental tersebut sudah memberi khabar kalau kendaraan kelas toyota alya atau sejenisnya sedang kosong dan yang ada mitsubishi expander tapi dengan syarat harus memenambah biaya sewanya 50k perhari, akupun setuju karena dengan xspander akan lebih gagah untuk melibas wisata alam.

Tepat pukul 8 pagi kendaraan berjalan menyelusuri pekatnya aspal hari ini merupakan hari terakhir libur lebaran besok semua sudah pada bekerja lagi, walaupun untuk anak sekolah masih akan masuk pada tanggal 30 Maret 2026 nanti.

Aku jelaskan rute perjalanan hari ini berdasarkan itenerary yang kubuat dan aku juga meminta pendapat driver mobi tersebut yang akhirnya di putuskan untuk destinasi pertama adalah menuju ke Taman wisata alam Tangkuban Perahu dan selanjutnya ke destinasi yang lain sesuai dengan jalur balik, Sekitar kurang lebih 1 jam kami berjalan akhirnya kami memasuki gerbang TWA tangkuban perahu hawa dingin mulai menyergap kulit kami pada saat kaca mobil di buka, perpaduan bau khas hutan dan tetes embun menjadi gerbang selamat datang yang menyambut kami.

Sudah lama juga aku tidak mengunjungi TWA Tangkuban perahu ini terakhir di tahun 2000 saat ada tugas pemeriksaan di kantor cabang, dan baru kesini lagi saat ini. Pada tahun 2011 pun kami tidak mengunjungi tempat ini karena saat itu tempat ini lagi tidak boleh di masuki, sehingga kami hanya menuju ke kebun teh Subang, sari ater serta makan di kawasan cipunclut, walaupun sempat beberapa hari sempat tinggal di desa kayu Ambon, belakang sespim tetapi tetap tidak bisa ke sini karena larangan berkunjung tersebut.

Adek yang mulai merasakan dingin mulai menggosokan kedua tangannya agar menjadi panas,
“Kenapa dak bawa jaket tadi, kalau tau dingin seperti ini” keluh adek
“Kan sudah di bilangin semalam” ujarku
“Lupa yah”ucap adek lagi

Akhirnya ku berikan sweeter kepunyaan ayuk yang tidak di pakai untuk adek biar tidak terlalu merasa dingin, kami berkeling ke beberapa tempat spot foto di kawasan TWA Tangkuban Perahu, teringat pesan dari diver tadi ;

“Pak... kalau ada yang menawarkan barang dagangan nggak usah di beli... harganya sudah di getok semua pada mahal.... enak beli di chiampelas saja”arahan dari driver tadi saat memasuki kawasan tangkuban perahu.

Tapi penasaranku untuk membeli dodol yang ada di dalam kemasan dengan harga 3 buah 50k mengusik keinginan tahu ku akhirnya akupun memutuskan untuk membeli sebanyak 6 kotak atau 100k dengan bonus 1 kotak, ternyata saat di buka isi dodol dalam 1 kotak tersebut hanya ada 9 biji atau keseluruhanny berjumlah 63 biji setelah ku hitung ternyata 1 biji dodol harganya lebih dari 1,5K, padahal saat membeli di chiampelas sudah bisa dapat beberapa kilo untuk harga 100k, tetapi ini menjadi pelajaran berharga bagi ku, begitu juga saat ada yang menawarkan penutup kepala karakter hewan seperti panda, singa, macan dan lain-lain saat di TWA Tangkuban perahu di tawarkan dengan harga gila-gilaan sampai 125k perbuah dan mentok di angka 100k tetapi untung kami tidak jadi membeli karena saat kami beli di chiampelas harganya hanya 50k dapat 2 buah.

Bau khas belerang sudah tercium di hidung kami walaupun tidak terlalu pekat dengan membayar ticket 20k perorang plus biaya parkir akhirnya kami di arahkan ke lokasi parkir di ketinggian 2.084 mdpl ini, pada saat ini suhu sekitar 17 derajat yang lumayan dingin bagi kami yang biasa tinggal di kota Palembang yang tidak ada dataran tinggi.

Legenda Sangkuriang yang melekat di gunung ini sangat terkenal bahkan sampai ke luar negeri ; Asal-usul Gunung Tangkuban Parahu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi/Rarasati. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat supaya Sangkuriang membuat sebuah telaga dan sebuah perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.

Gunung Tangkuban Parahu ini termasuk gunung api aktif yang statusnya diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Beberapa kawahnya masih menunjukkan tanda tanda keaktifan gunung ini. Di antara tanda aktivitas gunung berapi ini adalah munculnya gas belerang dan sumber-sumber air panas di kaki gunungnya, di antaranya adalah di kawasan Ciater, Subang. Gunung Tangkuban Parahu pernah mengalami letusan kecil pada tahun 2006, yang menyebabkan 3 orang luka ringan. (sumber : Wikipedia)

Baru tahu kalau gulali bisa di tiup

“Kenapa dek ....?” saat aku bertanya ke adek setelah keluat dari kamar kecil
“Seperti istinjak dengan air dari frezeer yah...” katanya sambil tersenyum
‘Dingin nya ....nggak main-main.. kita turun yuk...” jawabnya lagi

Memang aku juga merasakan dingin dan tidak lama dari situ kabut pun mulai turun menutupi kawah sehingga pemandangan ke dalam kawah menjadi tertutup kabut, akhirnya kamipun beranjak pergi dari lokasi TWA Tangkuban Perahu, tapi sebelum pergi penjual gulali mengusing rasa ingin membeli kakak dan baru melihat saat ini kalau gulali ternyata bisa di tiup seperti balo, keren juga.

Akhirnya kami meninggalkan TWA Tangkuban Perahu untuk melanjutkan ke destinasi selanjutnya di temani bau belerang dan hutan yang khas.

sebelum kedinginan melanda

Monday, 23 March 2026

Jalan Kaki Kembali Ke Hotel Antara Pelit Dan Hemat

 


Setelah kami berdiskusi bagaimana kembali ke hotel, akhirnya kami sepakat untuk berjalan kaki saja tapi dengan sarat yang dijukan oleh kakak kami harus mampir ke mini market terlebih dahulu untuk membeli makanan dan beberapa perlengkapan yang tidak ada di hotel nanti, maklaum hotel yang kita tinggali bukan hotel berbintang tetapi lumayan karena memiliki family room dan tempatnya strategis.

Mesin cetak lawas
Akhirnya kami pun mampir di salah satu mini market yang terletak di simpang antara jalan braga dan jalan asia afrika, 2 kantong belanjaan pun akhirnya kami bawa, sambil  bercerita kami menyelusuri jalan sepanjang 1,8 Km tersebut yang akan di tempuh kurang lebih 20 menit, kalau seandainya tidak macet mobil hanya kurang dari 10 menit untuk mengantar kami kembali ke hotel, tetapi mengingat saat pergi tadi macet yang tidak kunjung terurai dan driver taxinya pun meminta tambah uang ongkosnya, jadi mungkin pilihan kali ini tidak salah sekalin untuk mengetahui apa yang ada di sepanjang jalan braga sampai ke hotel dan kamipun tidak harus berlama-lama di kendaraan menunggu macer.

Adek juga menyempatkan berfoto di barang klasik berupa mesin cetak yang berada di Jalan Asia Afrika, Bandung, adalah mesin cetak koran kuno (setter) yang dipajang di depan Kantor Harian Umum Pikiran Rakyat (PR) di Jalan Asia Afrika No. 77. Mesin ini menjadi salah satu ikon cagar budaya dan pengingat sejarah industri media di kawasan tersebut. 

Sepanjang jalan bukan hanya gedung gedung yang kami lihat tetapi juga kreatifnya orang Bandung bagaimana agar bisa menghasilkan uang seperti motor gerobak yang di sulap menjadi kuda, dan bisa di naiki oleh anak-anak dan orang dewasa dengan di kenakan tarif tertentu.

Kreatif nya kebangetan

Ternyata sepanjang perjalanan menuju hotel banyak hal menarik yang bisa kami lihat, yang menjadi pelajaran bagi kami, perjalanan terus kami lakukan senja mkin tanpak, rona merah di langit barat makin terlihat jelas dan bernar, azan magrib mulai berkumandang, perjalanan sudah mendekati setengah jalan akhirnya kami memutuskan utuk mengisi perut kami dengan nasi terlebih dahulu sebelum balik kehotel, akhirnya warteg bahari yang menjadi pilihan kami yang kebetulan satu arah dengan hotel yang kami tinggali.

Ternyata tidak banyak lagi makanan yang tersisa, pekerja warteg tersebut juga bilang kalau hari ini merupakan hari pertama mereka buka setelah lama libur lebaran.

Nasi dan ayam serta nasi dan ikam menjadi pilihan kami karena hanya itu yang tersisa, nasi  yang masuk ke dalam perut kami terakhir adalah saat di cafe soralian bandara Sukarno Hatta saat menunggu keberangkatan bus damri ke Bandung.

Lumayan enak dengan rasanya kami makan dengan lahap dan harga yang di bandrol pun juga tidak terlalu mahal jadi wajar kalau warteg seperti ini menjadi pilihan berbagai kalangan karena murah, meriah dan mengenyangkan.

Jadi teringat saat aku bekerja di ibu kota karena kos an ku dekat dengan warteg dan selalu beli makanan di sana sampai akhirnya akupun boleh berhutang sama pemilik wartegnya dan di bayar pada saat gajian.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju hotel dengan perut kenyang dan beberapa kantong makanan kecil dan tidak lupa mampi ke martabak pecenongan yang letaknya tidak jauh dari hotel, akhirnya kami sudahi perjalanan hari ini yang cukup melelahkan, jurnalnya kita lanjut besok dengan perjalanan di kawasan Lembang Bandung.

Perjalanan Pulang

Baraga, Wisata Terkenal Dari Tempo Dulu

Jalan Braga yang legendariis

Karena kemacetan yang cukup panjang akhirnya kami memberi tahu kusir delmanya untuk turun di simpang jalan Braga ini, akhirnya kamipun turun di jalan legendaris yang sudah di kenal di seluruh penjuru negeri, memang benar kata orang "Belum lengkap ke Bandung Kalu belum ke braga", kata-kata yang sudah saya dengan dari era tahun 90 an pada saat saya pertama kali ke kota ini saat masih berstatus pelajar, jalan ini masih sama seperti dulu masih jadi legenda seperti dulu walau banyak perubah tempat tetapi gaya bangunan kolonialnya yang bergaya art deco klasik tapi indah, 

Banyak para pengunjung yang menjadikan tempat ini sebagai spot foto baik sendirian atau pun beramai-ramai, salah satu spot foto yang tidak pernah sepi adalah tiang nama Braga yang menjadi penampilan utama di setiap orang yang mampir ke sini.

Jalan yang tidak terlalu panjang yang juga terhubung dengan jalan Asia Afrika ini menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung dari dalam dan luar kota. Jalan ini dulunya merupakan tempat nongkrong favorit orang Belanda dan sering dijuluki kawasan "Bergaya" (Ngabraga) karena banyaknya butik mode pada masa lalu.

Di sisi kanan kiri Jalan Braga terdapat komplek toko yang memiliki arsitektur dan tata kota yang tetap mempertahankan ciri arsitektur kuno pada masa Hindia Belanda. Tata letak pertokoan tersebut mengikuti model yang ada di Eropa sesuai dengan perkembangan kota Bandung pada masa itu (1920-1940an) sebagai kota mode yang cukup termasyhur seperti halnya kota Paris pada saat itu. Di antara pertokoan tersebut yang masih mempertahankan ciri arsitektur lama adalah pertokoan Sarinah , Apotek Kimia Farma dan Gedung Merdeka (Gedung Asia Afrika yang dulunya adalah gedung Societeit Concordia). Model tata letak jalan dan gedung gedung pertokoan dan perkantoran yang berada di Jalan Braga juga terlihat pada model jalan-jalan lain di sekitar Jalan Braga seperti Jalan Suniaraja (dulu dikenal sebagai Jalan Parapatan Pompa) dan Jalan Pos Besar (Postweg)('sekarang Jalan Asia-Afrika') yang dibangun oleh Gubernur Jendral Herman Wiliam Daendles  pada tahun 1811, di depan Gedung Merdeka. (Sumber : Wikipedia).

Bangunan lama yang masih koko
Sepanjang jalan yang kami lalui, braga masih seperti dulu tidak berubah sama sekali walaupun masa dan waktu terus berjalan saat pertama kali menginjakan kaki ke kawasan ini aku masih bersataus sebagai pelajar, sekarang aku membawa anak-anak yang juga sebagai pelajar entah sudah berapa lama kawasan akan bertahan di deru kerasnya perubahan zaman.

Tapi suasana  sore ini membuat ku menjadi sadar bahwa usia kita berjalan terus dan kan terus berkurang walaupun tujuan kita masih akan ada, terbukti dengan Braga dengan segala sejarah nya masih tidak lekang di geus oleh zaman.

Senja semakin merayapi bumi kamipun berniat untuk kembali  ke hotel sekalian untuk beristirahat dan mempersiapkan untuk tujuan perjalanan berikutnya tetapi ternyata di jam segini taxi online susah untuk di order mungkin di sini termasuk kawasan macer, dan kulihat map jarak ke hotel kami tidak lebih dri 15 menit, aku lihat ayuk, kakak dan dan adek untuk kelanjutan cerita ini.


Delman Kota Bandung


Sebenarnya bukan hal yang baru bagi kami dan anak-anak untuk menaiki delma sudah di berapa kota kami pernah menaiki moda transportasi yang satu ini kereta yang di tarik oleh kuda baik di Yogyakarta ataupun di Bandung sediri , tahun 2011 kami pernah menaiki delman seperti ini di kawasan desa kayu Ambon Lembang sampai ke pasar Lembang, yang sekarang pasar tersebut sudah menjadi pasar modern.

"Berapa ongkosya kang ?" tanyaku ke salahsatu kusir kahar/kretek (delman bahasa sunda)
"Untuk jarak jauh 200k dan jarak pendek 150K"jawab sang kusir , sambil beliau menjelaskan rute yang akan di tempuh.

Aku sendiri kurang mengerti rute yang di jelaskannya hanya mengangguk saja, akhirnya kutawar untuk rute panjang sebesar 125k  dan beliau setuju, entah rute mana yang di maksudnya tetapi ia menyebut akan melintasi jalanan braga, akhirnya kami berempat menaiki delman tersebut, kusir yang masih cukup muda mengendalikan delman dengan sigap di antara lalu lalang kendaraan bermotor roda 2 dan roda 4.

Untuk jalan sepi sepertinya enak mengendalikan kuda yang menearik kereta seperti ini, tetapi saat sedang ramai ternyata di situ di butuhkan keahlian extra untuk mengendalikan hewan yang satu ini.

Beberapa kali kuda ini kulihat tepat berada di belakang mobil dan hendak melaju terus , kalau seandainya tidak di kendalikan kemungkinan kuda ini akan menabrak belakang mobil atau bus yang ramai di jalan kota Bandung.

Perlahan ruas jalan dari asia afrika di telusuri hingga sampai ke kawasan braga yang cukup macet di mana delman ini tidak bisa bergerak, ada beberapa kali kepala kuda sampai menyentuh para pengendara motor, dan sepertinya mereka memaklumi kondisi yang seperti ini.

Beberapa saak jalan ke arah braga yang legendaris  masih macet akhirnya kami memutuskan untuk turun dan melanjutkan dengan berjalan kaki, sepertinya berjalan kaki akan lebih cepat ketimbang menggunakan kendaraan di tengah kemacetan seperti ini.