Saturday, 21 March 2026

Idul Fitri 1447 H / 2026 Lebaran Perdana Tanpa Bunda

 

Sholat idul fitri di maje lis taklim Al-Mubtadi Sekojo sekalianmajelis taklim Al-Mubtadi Lr. Damai Lemabang

Kegiatan lebaran Idul fitri tahun ini seperti yang sudah sudah , bedanya untuk tahun ini kita mendatangi bunda di pusaranya baru berkunjung ke rumah keluarga yang lain, jarak yang di tempuh memang tidak jauh hanya kurang lebih 30-40 km tapi waktu tempuhnya itu bisa sampai 10-12 jam itulah tradisi umpak-umpakan atau tradisi sanjo di masyarakat Palembang yang datang saling berkunjung dari rumah ke rumah saudara atau tetangga, 

Ziarah ke kuburan bunda di TPU Kandang Kawat

kalau dahulu sanjo atau umpak-umpakan ini di iringi dengan tetabuhan dari bunyi reban dan di iringi dengan lantunan sholawat dan setiap rumah yang di kunjung pasti mendapatkan doa berkah, untuk masa sekarang tradisi seperti ini masih bisa terlihat di kampung-kampung etnis arab baik di area llir ataupun di hulu kota. Setelah selesai sholat hari raya dan bermaaf-maafan biasanya para penggiat tradisi umpak-umpakan ini akan berkumpul di suatu tempat dan menentukan memulai sanjo dari mana akan di mulai.

Ke tempat om pit di metah mata, untuk idul fitri yang pertama ini hanya beberapa rumah keluarga dekat yang kami kunjungi

Tetapi untuk masarakat yang sudah bercampur dan heterogen kegiatan sanjo menjadi hal yang biasa tanpa ada pembacaan doa di setiap rumah, malahan banyak anak-anak yang berharap THR sebagai penyemangat, tetapi konsepnya satu silaturahim agar rasa kekeluargaan tidak terputus.


 

Tuesday, 10 March 2026

Berbuka Diluar Pertama Kali Setelah Pulang Dari Pondok

Hari ini liburan adek di mulai dengan raport yang bertuliskan aksara arab gundul membuat ku hanya garut-garut kepala “Gimana bacanya” kata ku dalam hati saat melihat hasil nilai prestasi belajar selama 1 tahun ini

“Adek peringkat 10 yah” Ayuk berucap sambil menunjukan sesuatu kalimat yang aku tak bisa baca

Ayuk sendiri bisa membaca arab gundul karena dia pernah 3 tahun mengenyam pendidikan pondok pesantren di salah satu kota ini.

Aku hanya mengangguk saja, entahlah untuk saat ini aku hanya bisa percaya saja, ilmuku sendiri tidak sampe jauh ke sana. Suasana pondok tanpak riuh karena ramai para orang tua santri yang menjemput pulang anak-anak mereka, seperti tradisi tahunan bahwa pondok pesantren terutama tempat adek belajar liburnya pada saat bulan puasa saja sampai setelah lebaran baru kemudian di mulai lagi dengan tahun ajaran baru. Jadi mereka baru mulai belajar lagi di syawal setelah libur lebaran.

Seluruh barang di bereskan dari pakaian, buku-buku, perlengkapan mandi, perlengkapan makan dan lain sebagainya, karena nantinya asrama tempat mereka tinggal ini akan berubah tempat jadi tidak di tempat yang sama begitu juga dengan tempat tidur juga akan berubah, sudah beberapa tahun ini kami melakukan hal seperti ini pada saat liburan santri.

Mereka tampak senang yang terlihat dari raut wajah mereka tapi ada juga yang tampak gelisah karena menunggu orang tua yang akan menjemput tetapi tidak kunjung datang, yang tampak sedih ada santri yang memang tidak pulang dan harus berdiam di pondok biasanya santri yang sudah senior karena keterbatasan biaya dan juga karena jauhnya jarak untuk kembali kekampungnya, ingat dulu saat ayuk masih mondok kami menggunjungi temanya yang berada di pondok karena tidak bisa pulang saat lebaran karena tempat tinggalnya jauh di Batam tampak raut kesedihan karena harus berdiam di pondok sedangkan yang lain dapat berkumpul dengan orang tua.

Tapi di situlah mental mereka terbentuk Mental anak pondok pesantren umumnya terbentuk menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, sabar, dan memiliki kemampuan bersosialisasi yang kuat akibat lingkungan yang terstruktur dan jauh dari orang tua walaupun pada awalnya santri sering mengalami fase adaptasi yang sulit, seperti kecemasan, kesepian, atau perasaan tidak betah, terutama pada tahun pertama di pondok pesantren, yang memerlukan dukungan kuat dari orang tua.


Setelah sampai di rumah hal yang adik lakukan adalah tidur, entah seperti kurang saja tidur bagi adek entah hari ini selama di rumah sudah beberapa kali kulihat ia tertidur.

“Hari ini kita buka di luar saja yah” celetuk kakak
“Berbuka di mana kak ?”tanya ku
“Kalau di seafood atau KFC gimana ... dek?”tanyak kakak ke adek
“Terserah .... tapi pingin ke makan nasi padang saja sudah lama nggak makan itu soalnya”jawab adek

Akhirnya kuputuskan untuk berbuka di salah satu rumah makan padang yang terkenal di kawasan Jalan basuki rahmat, pukul 5:30 kami berangkat dari rumah dan benar saja ternyata setelah sampai di sana sudah ada meja yang di siapkan bagi pengunjung tinggal kami di arahkan untuk menuju meja yang mana.

Hari ini kami memenuhi keinginan adek dahulu setelah setahun bergelut dengan ketatnya pondok dan banyaknya hafalan ilmu maka nasi padang ini mudah-mudahan menjadi obat bagi adek untuk relaksasi jiwa, dan ternyata saat pulang kali ini ia sudah berani memakai motor entah belajar dari mana ia naik motor di pondok.

Sahabat Dunia Akhirat, Insya Allah

 

Tidak terasa sejak pertama kali mengikuti kegiatan kegamaan ini saat ini sudah berjalan hampir 12 tahun banyak sekali suka duka yang ku alami di dalam meniti ilmu agama ini, ilmu yang di anggap oleh sebagian orang adalah ilmu yang tertinggal dari zaman, tapi justru d sini banyak hal baru yang selama ini aku tidak tahu akhirnya aku menjadi tahu, begitu juga sahabar yang silih berganti selama ini, semoga ini menjadikan kami sahabat selamanya, ternyata di sini yang bertahan bukan yang paling pintar atau yang paling kuat tetapi yang tetap istiqomah, semoga persahabatan ini tidak hanya di dunia ini tapi sampai di akhirat.

Majelis yang bernama Al-Mubtadi ini memiliki beberapa tempat belajar baik di 3 Ilir ataupun di sekojo dan 11 ilir, awalnya kami belajar di daerah 5 ilir tepat di belakang kaki jembatan musi 4 tetapi karena sesuatu hal akhirnya majelis tersebut di pindahkan di wilayah sekojo ini, begitu juga majelis yang berada di lorong damai 3 ilir tepat di belakang SPBU Penyaringan lemabang merupakan pindahan dari majelis 10 ilir yang di gusur untuk pembuatan kolam pengendalian banjir. Dengan jumlah jemaah keseluruhan hampir mencapai 1.000 orang dengan metode pembelajaran kelas perminggu yang menitik beratkan pada pengajaran ilmu tauhid, akidah dan ahlak.